
Siapa ya?
Aku masih menatapnya kini, tapi ....
Ah, sudah lah! Siapa sih?
Aku berusaha untuk tidak perduli. Kini kembali masuk ke dalam kamar mandi hanya untuk mencuci mukaku. Ya aku emang ke kamar mandi bukan untuk melakukan sesuatu, tapi hanya untuk mencuci muka agar aku tak berdosa pada Dokter Wira karena membohonginya. Aku tidak menipu loh, ya!
Ku hela napas lega saat masuk ke dalam kamar Ibu dan tidak mendapati Dokter Wira di dalam sana. Yu Tarni sedang mengobrol dengan Ibu, entah meraka membicarakan apa, tapi saat aku mendekat mereka hanya berbisik lalu diam.
"Kamu sudah pulang, Yu? Gimana sidang kamu? Lancar?" Yu Tarni memberondongku dengan pertanyaan.
Aku duduk di kursi lain dan menggelengkan kepala saat kedua wanita paruh baya itu menatapku meminta jawaban.
"Mas Hilman tidak datang." Aku menjawab pertanyaan Yu Tarni tadi.
"Loh, kok gak datang? Terus gimana persidangan kalian tadi?"
"Ditunda. Ayu harus datang lagi ke persidangan beberapa hari lagi," jawabku.
Terdengar helaan napas sedikit berat dari Ibu.
"Gak apa-apa, Bu. Sidang selanjutnya kalau Mas Hilman gak datang, kata Mbak Wanda, itu akan jadi keuntungan buat Ayu."
"Kalau dia datang?" tanya Yu Tarni dengan cepat bertanya.
Aku tersenyum kepada Yu Tarni. "Tenang saja. itu semua sudah ada yang mengaturnya."
Ibu dan Yu Tarni menganggukkan kepala.
"Kamu sudah makan, Yu?" tanya Yu Tarni padaku. Aku menggelengkan kepala. Memang setelah sidang tadi aku belum makan siang. Mbak Wanda ada urusan, menolak ajakan ku untuk makan siang bersama.
"Itu, di sana. Ada nasi. Sengaja tadi bawa banyak. Kamu makan sana!" titah Yu Tarni padaku sambil menunjuk ke arah rantang yang ada di meja.
__ADS_1
...***...
Sidang kedua dilaksanakan, hari ini aku cukup lega karena Mas Hilman datang, tapi entahlah. Apakah dia mau menyetujui atau malah menolak.
Selama dalam persidangan Mas Hilman hanya diam, tidak membantah ucapan yang hakim jabarkan, tentang kesalahannya yang mendua tanpa izin, dan juga pengajuan ku yang mengatakan dia tak bisa adil. Aku sempat menahan napasku saat Mas Hilman kemudian berkata.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau, Yu. Aku akan ceraikan kamu."
Aku bernapas dengan lega setelah mendengar ucapannya itu. Syukurlah karena Mas Hilman tidak menolak apa yang aku mau, meskipun rasanya tidak percaya karena aku kira akan mendapatkan drama darinya.
Sidang telah diputuskan, Mas Hilman memberikan talak saat itu juga padaku dihadapan Hakim dan para saksi. Terlihat dari sorot matanya yang tak rela dan juga suara yang bergetar, saat itu juga aku bebas dari belenggu rumah tangga yang selama tujuh tahun ini mengikatku.
Sidang telah selesai. Aku berucap syukur pada Yang Maha Esa karena ternyata tak ada halangan yang berarti dalam perjuanganku ini. Dan mengenai harta gono gini yang aku ambil surat tanahnya, Mas Hilman mengatakan terserah jika mungkin aku akan menjualnya dan memilikinya sendiri. Dia sudah ikhlas sebagai pembayar atas rasa sakit dan tidak ikhlasku selama ini karenanya.
"Maaf karena sudah menduakan kamu, Yu. Maaf juga jika selama ini kamu sudah merasa aku yang tidak adil. Memang aku yang salah. Aku ternyata tidak bisa adil untuk kalian," ucapnya setelah kami keluar dari ruangan itu.
Mata Mas Hilman sudah merah, wajahnya terlihat sedih. Di belakangnya terlihat seorang wanita yang berjalan mendekat. Wanita itu adalah Hana, sejak sidang tadi dimulai, dia hanya menunggu di luar.
Mas Hilman mengulurkan tangannya, pandangannya tak teralihkan dariku.
Aku menyambut uluran tangan itu, terasa hangat sekali. Beda dengan selama ini yang aku rasakan.
"Semoga kamu bahagia setelah ini, Yu. Aku akan doakan kamu," ucapnya sekali lagi. Tangan besarnya terlepas tatkala Hana menarik tangan Mas Hilman dengan kasar. Terlihat wajah itu tak suka saat suaminya bersalaman denganku.
"Sudah cukup, Mas. Ayo kita pulang!" Sentak Hana, menatapku dengan tatapan tak suka.
Tanpa berkata apa-apa lagi, kini Mas Hilman berjalan menjauh dari ku. Sekali waktu dia menolehkan kepalanya, terlihat raut wajah yang sedih di antara langkahnya. Dia hanya menurut pada istri satu-satunya itu.
"Mbak Ayu. Apakah Mbak Ayu mau pulang?" tanya Mbak Wanda kepadaku. Aku tersentak mendengar pertanyaannya. Melihat Mas Hilman tadi kenapa rasanya jadi kasihan juga? Seperti tak ada raut bahagia sama sekali.
"Iya, Mbak Wanda. Terima kasih karena Mbak Wanda sudah membantu saya selama ini. Saya ucapkan terima kasih banyak. Saya gak tau, kalau gak ada Mbak Wanda yang membantu saya, saya pasti akan kesusahan," ucapku padanya.
Mbak Wanda tersenyum padaku sembari mengangguk.
__ADS_1
"Mbak Wanda apakah ada waktu siang ini? Saya ingin mengajak Mbak Wanda makan siang bersama."
Wanita cantik itu mengangkat tangannya melihat jam yang ada di pergelangan tangan. Keningnya sedikit mengkerut, tapi tak lama berubah biasa lagi.
"Baiklah, saya masih ada waktu satu jam sebelum menjemput anak saya," ucapnya dengan senyuman.
Aku senang mendengarnya.
"Kalau begitu kita cari tempat yang tak jauh dari sini," ucapku. Dia mengangguk.
Kami berjalan bersama ke tempat parkir. Mbak Wanda menuju ke mobilnya dan aku mengambil motorku.
Mbak Wanda sudah masuk ke mobilnya dan menungguku, sedangkan aku kini memakai helm. Samar ketika aku memakai helm, dari spion yang ada di depanku terlihat bayangan tak terduga.
Aku menolehkan kepala ke arah belakang, pria berjaket biru yang ku lihat dari spion tadi kini telah menjauh.
"Mbak Ayu, ada apa?" tanya Mbak Wanda dari mobilnya yang kini sudah dia nyalakan.
"Eh, gak ada," jawabku.
"Benar tidak ada?" tanya Mbak Wanda lagi dengan raut wajah yang bingung.
"Benar gak ada, Mbak. Tadi cuma salah lihat saja sepertinya," ucapku lagi.
Segera ku kunci helm dengan baik dan kemudian melaju mendahului Mbak Wanda yang kini mengikuti dari belakang.
Aku masih memikirkan orang yang tadi ada di sana. Berpikir juga kalau aku mungkin salah melihat.
Ah, sudahlah!
****
Nah ayo loh, terfokus sama sidang yang berhasil atau sama yang lain?
__ADS_1