
"Mau gimana rajin seminggu dua kali. Saya dekati aja malah digebuk bantal, Bu!"
Bu dokter tertawa mendengar ucapan Arga, sedangkan aku malu bukan kepalang. Kenapa juga dia bilang seperti itu.
"Haha, dimaklumi aja. Mungkin mood Bu Ayu sedang naik turun, biasa lah kalau empat bulan pertama itu rasanya suka malas kalau HB, saya pun mengalami dulu. Ada yang cuma sebulan, dua bulan, atau sampai hampir lahiran, tapi ya kalau mood bagus dan suami bisa bikin selera bercinta istrinya naik, bisa jadi mintanya berkali-kali dalam semalam," bisik dokter di akhir kalimatnya sambil menutup mulutnya yang tertawa.
"Oh, begitu ya? Jadi, saya harus bagaimana?" tanya Arga, dia bertanya dengan nada yang biasa, aku saja yang mendengarnya malu sekali.
"Nanti saya bisikin. Mari ikut saya, saya buatkan resep obat untuk Bu Ayu."
"Resep senang bercinta, Dokter?" tanya Arga dengan bersemangat dengan mata yang berbinar.
Dokter menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli. "Bukan. Resep obat untuk penguat kandungan," jawab dokter itu masih dengan tawanya yang semakin menjadi-jadi.
Terlihat suamiku malu dengan wajah sedikit memerah. "Oh, saya kira ... obat untuk senang bercinta, hehe."
Duh, astaghfirullah! Ingin aku bersembunyi saja saat dokter itu melirik ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum dengan kaku. Malu.
"Bu Ayu, selalu ingat untuk minum obat dan vitamin ya, saran saya jangan terlalu berat bekerja. Olahraga ringan saja, berjalan ringan ke luar rumah sambil nunggu cahaya matahari pagi, bagus buat kesehatan. Istirahat cukup, makan juga harus diperhatikan gizinya. Banyak makan buah dan minum air putih, hindari minum yang manis banyak-banyak dan jangan berpikiran yang membuat stress," ujar dokter itu padaku.
"Baik, Bu."
"Mari ikut saya, Pak Arga." Dokter berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Arga di belakangnya.
Diam-diam setelah kepergian mereka, aku membuka ponselku. Mencari tahu di laman web bagaimana untuk menaikkan moodku dalam bercinta. Memang semenjak hamil rasanya aku tidak ingin disentuh, harus saat moodku baik barulah aku mau diajak berolahraga malam. Entahlah, rasanya dekat dengan Arga aku tidak mau. Panas, meski di kamar terdapat AC yang menyejukkan. Tidak ingin dekat dengan dia meski hanya duduk bersebelahan. Lebih banyak malas daripada rajin, tidak seperti dulu.
Tak lama Arga sudah kembali ke kamar dengan kresek putih di tangannya. Beberapa vitamin dan obat tambahan yang harus aku makan lagi untuk kesehatan tubuh dan janinku.
"Pulang sekarang?" tanya Arga sambil membereskan barang-barang ku.
"Aku ganti baju dulu. Langsung jemput Gara kan?"
__ADS_1
Arga melihat jam yang ada di dinding. "Iya, sekalian pulang. Tapi baju kamu kotor tadi, kena darah." Tunjuk Arga pada kantong kresek hitam di sofa.
Aku bingung, tidak mungkin juga menjemput Gara dengan pakaian rumah sakit.
"Nanti mampir ke toko baju saja dulu. Beli baju, baru ke sekolah Gara," ucapnya sambil tersenyum. Aku senang mendengar keputusannya seperti itu.
Arga membantuku berjalan dengan pelan, sangat hati-hati sekali dan tidak tergesa.
"Aku ambilkan kursi roda?" tanya Arga, aku mengangguk saja. Ingin cepat pergi dari rumah sakit ini. Dari sudut kamar Arga mengambilkan kursi roda dan mulai mendorongku ke luar dari area rumah sakit.
Sopir di luar sudah menunggu kami, membukakan pintu mobil untukku masuk ke dalam sana.
"Sudah baikan, Bu?" tanya Pak Sopir kepadaku.
"Alhamdulillah, sudah baikan, Pak."
Sopir kemudian menutup pintu setelah aku masuk ke dalam sana. Arga sedikit berlari berputar dan menyusul masuk ke dalam mobil.
Selesai memakai pakaian aku menurunkan jendela dan memanggil suamiku. Perjalanan kami lanjutkan kembali ke sekolah Gara. Beruntung kami telah sampai sebelum anak itu keluar dari area sekolah.
Gara telah keluar dari kelasnya, dia dengan cepat berlari dan berteriak memanggilku dan ayahnya. Pintu mobil Arga buka, sehingga Gara bisa masuk dan duduk di dekatku sedangkan Arga duduk di samping Pak Sopir. Mobil kembali berjalan untuk menuju ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Gara terus saja mengoceh, bercerita tentang apa yang tadi dia lakukan di sekolahnya. Riang sekali, dia juga memperlihatkan gambar tadi pagi yang sudah dinilai, mendapatkan A+.
"Abang tadi juga bilang sama ibu guru kalau tugas ini dibantu Papa!" seru anak itu. Kakinya bergoyang tidak mau diam, tanda senang di hatinya.
"Terus? Bu guru marah, gak?" tanyaku padanya.
"Enggak! Bu guru cuma bilang kalau Abang harus lebih hati-hati simpan barang, kalau sudah selesai disimpan di tempatnya lagi!" serunya sambil menatap kagum pada kertas gambar di tangan.
"Nah, kan. Apa Mama bilang. Bu guru gak akan marah asalkan Abang mau berusaha dan bicara dengan jujur. Lain kali perhatikan lagi ya, jangan sampai simpan barang sembarangan," ucapku sambil mengelus kepala Gara. Gara mengangguk dengan semangat, dia mendekat ke arahku dan sedikit membungkuk.
__ADS_1
"Dedek, ini nanti dipasang di kamar Dedek, ya!" ucap anak itu dengan nada riang sambil mengusap perutku lembut, tak lupa juga dengan ciuman di sana, membuat perasaan ini menjadi hangat.
"Eh, Mama! Gerak!" teriaknya dengan keras. Arga sampai menoleh ke arah kami berdua.
"Apa yang gerak?" tanya Arga penasaran.
"Perut Mama, ada yang gerak!" seru Gara lagi.
"Itu dedek bayi lagi bilang halo kayaknya sama Abang," ucapku. Gara semakin melebarkan senyumannya, terlihat tidak percaya. Dia kembali menyimpan tangannya di perutku, mencoba untuk mencari komen di mana adiknya mungkin bergerak lagi.
"Yaaah, gak gerak lagi!" ungkapnya sedikit kecewa.
Kuambil Gara dan memeluknya erat. "Dedeknya masih sangat kecil, belum sampai segede bola tenis, makanya kalau gerak juga gak akan kerasa banget. Nanti sebentar lagi juga bakalan banyak gerak," terangku padanya.
"Kapan?"
"Nanti, sabar!" Hidung mancung itu aku jepit. Gara tertawa dan menyingkirkan tanganku.
Mobil telah sampai di rumah. Gara berlari ke dalam rumah, tas dia tinggalkan begitu saja di mobil. Salah satu kebiasaan anak itu yang tidak sabar ingin bertemu dengan Mama di kamarnya. Kali ini dia ingin memperlihatkan karyanya pada mama.
"Sini aku bawakan, berat." Arga mengambil tas milik Gara dan membawanya. Dia juga memapahku masuk ke dalam kamar.
"Istirahat, ya. Makan siang aku buatkan apa? Bubur?" tanya suamiku penuh perhatian. Selimut dia naikkan ke atas tubuhku hingga ke dada.
"Belum mau makan, belum lapar."
Tangannya yang halus mengusap pipiku. "Aku sediakan roti, ya?" tawarnya. Aku hanya mengangguk saja, tidak baik juga banyak menolak apa yang dia tawarkan. Arga sangat perhatian sekali dan aku tidak ingin banyak mengecewakan dia.
Tak lama Arga kembali dengan roti di atas nampan, lengkap dengan selai coklat dan juga susu kental manis di dalam kemasan.
"Mama!" teriak suara Gara dari luar.
__ADS_1