
Setelah kepergian mama rumah ini menjadi sepi, memang mama sering berada di dalam kamar, jarang keluar sekedar di ruang tamu atau di ruang keluarga. Akan tetapi, tetap saja rasanya berkurang satu di rumah ini.
Arga masih dalam suasana berkabung meski mama sudah hampir satu bulan meninggalkan kami. Siapa yang tidak akan sedih jika ditinggal sang ibu meski dulu sosok itu pernah meninggalkannya?
Seringkali Arga terlihat melamun saat sedang sendiri, di sana lah perananku untuk selalu menemaninya.
Gara sudah lebih baik, meski dia sering berlari ke kamar mama dan menyimpan gambarannya yang sudah semakin bagus, gambar kerinduan dia terhadap neneknya. Dia terlihat tegar daripada ayahnya.
Sedari tadi Arga tidak keluar dari ruang kerjanya, sedari pulang dari kantor dan mandi, serta menyapa dua anak kami singkat. Dia terlihat sangat lelah, tapi pekerjaan sangat menumpuk sehingga memaksa untuk dibawa pulang, itu sudah dia lakukan selama tiga hari ini.
"Pa, masih sibuk?" tanyaku setelah membuka pintu, dia sedang mengetik sesuatu di laptopnya. menolehkan kepala kepadaku.
"Eh, aku masih belum selesai. Ada apa? Butuh bantuan?" tanyanya. Dengan langkah pelan aku mendekat ke arahnya. Sedikit malu dan menundukkan kepala.
"Gak ada sih, masih lama?"
"Lumayan, palingan satu jam lagi."
"Oh."
"Kenapa?" tanya Arga lagi dengan kening mengerut dalam. Aku menggeleng lagi dan semakin mendekat, menyingkirkan tangan Arga dari laptop dan duduk di pangkuannya. Arga semakin terlihat bingung melihat kelakuanku.
"Aku masih kerja, Sayang." Senyum dia paksakan dari wajah lelahnya.
__ADS_1
"Bisa skip dulu, gak?"
Senyum itu kembali mengembang.
"Kenapa? Ada apa? Mau diusapin punggungnya pake kayu putih?" tanya dia. Aku menggeleng pelan, sedikit kesal dengan pertanyaannya. Tidak peka!
Tangan besar itu aku tempatkan di perutku, gerakan bayi yang ada di dalam sana sudah kuat dan menendang tangan besar itu.
"Kuat banget gerakannya. Sakit gak?" tanya Arga.
"Linu."
Dia menyibak dasterku hingga perut besar terlihat dengan jelas, garis stretch mark bekas hamil Azka terlihat samar karena perut besar ini. Tendangan dan gerakan bayi kuat dan terlihat dengan jelas, lucu menurut suamiku. Arga senang jika melihat pergerakan bayi tanpa terhalang pakaian.
"Dia gerak terus ih, kayak lagi caper sama ayahnya. Kalau di tengokin dia senang kali, ya," ucapnya dengan kekehan dan kerlingan nakal matanya. Aku senang dengan dia yang kini paham.
Dengan perlahan dia membaringkanku di atas kasur, memastikan terlebih dahulu jika Azka sudah terlelap di tempatnya. Kasur Azka ada di dekat kami, masih memakai pagar agar dia tidak terjatuh ke lantai saat tertidur.
"Aman lah ya?" ucap Arga lalu menaikkan selimut hingga menutupi kepala kami berdua.
Di dalam selimut kami bergumul, keringat jelas membasah di sekujur tubuh kami, dia sangat lihai sekali dalam bergerak tanpa menyakitiku maupun bayi kami, rasanya pergumulan di kehamilan ini sangat menyenangkan dan sering kami lakukan daripada saat aku mengandung Azka. Lebih terasa nikmat juga sampai aku puas berkali-kali dalam satu pergumulan. Terkadang jika aku merasa belum puas sehingga pada menjelang subuh aku yang naik di atasnya. Hehe 🙈
Suara lelah napas yang tersendat terdengar dengan sangat jelas, beberapa kali menyebutkan namaku hingga akhirnya kami berdua sepakat dan mendapatkan kenikmatan yang sama.
__ADS_1
"Aku mau kerja lagi, ya."
"Jangan, lah. Tidur aja, masa mau kerja, udah malam juga." Aku ketus, berharap dia mau menemaniku tidur.
"Ya udah, aku tunggu kamu tidur, tapi aku nanti balik ke ruang kerja, ya?" pintanya, aku mengangguk. Tidak bisa memaksa juga jika kerjaan dia sangat mendesak dan harus segera diselesaikan.
Hampir sepuluh menit lamanya aku mencoba untuk menutup mata, ada rasa sakit pada bawah perutku. Suara dengkuran halus terdengar jelas di belakang. Arga, yang katanya mau balik kerja sudah tertidur dengan pulas. Aku menarik selimut, lebih dekat lagi dengan suamiku dan memeluknya.
"Akh!" desisku menahan sakit. Jika biasanya efek dari pertarungan kami tidak akan sesakit ini, rasanya pinggang ini juga terasa panas dan pegal.
"Sayang," panggilku pada Arga.
"Hem, apa? Gak bisa tidur ya? Sini aku peluk," ucapnya dengan suara yang lemah, tangannya meraih tubuhku dan memeluknya seperti bantal guling.
"Bukan, aku sakit. Perutnya," bisikku. Arga langsung membuka mata dan terlonjak bangun.
"Eh, sakit apa? Apa aku terlalu kenceng ya tadi?" tanya Arga takut dan khawatir, aku menggelengkan kepala.
"Kayaknya bukan, sih. Apa aku mau lahiran ya?" Aku bingung, rasa sakit ini persis seperti waktu akan melahirkan Azka kemarin.
"Eh, bukannya masih ada dua minggu lagi?" tanya Arga, mengelus perut yang bergerak kuat.
"Ya namanya lahiran mau kapan juga bisa, Azka aja ambil star duluan sebulan," ucapku kesal. Aku mengambil daster yang ada di lantai.
__ADS_1
"Ayu, ini darah!" seru Arga yang membuat aku cepat mengalihkan tatapanku pada kasur. Benar. Ada bercak darah di sana.
"Kita ke rumah sakit!" ucapnya, lalu dengan cepat turun dari kasur dan mengambil piyama nya.