
"Tidak apa-apa," jawab Arga.
"Kamu yakin?" tanyaku padanya. Dia terlihat sangat berbeda dari yang tadi. Terlihat di wajahnya jika dia sedang sedikit menahan kesal. Kenapa? Apakah aku melakukan kesalahan?
"Kamu kenapa? Kenapa berhenti?" Aku mendekat dan menatapnya dengan bingung.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ... besok acara penting kita. Tidak seharusnya aku meminta, kamu akan kelelahan besok kalau aku meminta hakku sekarang, dan lagi luka kamu juga masih belum sembuh, kan?"
Aku salut dengan dia. Di saat keinginannya yang menggebu, dia masih bisa menahan dirinya dan juga memperhatikanku.
Kuambil tangan kiri Arga, membuat dia menatapku. Kuberikan senyuman hangat dan terus menariknya sehingga kami berada di posisi seperti tadi dengan Arga ada di atasku.
"Aku gak apa-apa, lagian kalau aku capek, aku kan bisa duduk besok. Lakukan pelan saja. Ayo kita cari pahala," ucapku. Ku tuntun tangan itu kembali ke atas dadaku.
Awalnya Arga terlihat ragu, kurasakan hal itu pada raut wajahnya. Dia masih terdiam, tidak bergerak sama sekali. Kuambil wajahnya dengan kedua tangan dan menarik wajah itu perlahan sehingga kami saling menyatu kembali dengan decakan yang halus dan memabukkan dalam permainan bibir kami.
Malam yang dingin kembali kami rasakan hingga berubah panas. Dari sekedar ciuman yang pelan dan hangat kini menjadi ciuman yang panas dan menggebu, menuntut lebih. Satu persatu tangan itu membuka jilbab dan juga pakaianku, aku pun sama, membantu membuka kancing kemeja dan juga celananya. Sudah tanpa malu dan jual mahal. Aku wanita normal, tidak lagi harus malu saat ada pria halal, suamiku, yang bisa memberikan kedamaian dan kebutuhan batin ini. Lagipula menyenangkan suami sendiri adalah ladang pahala buat istri, bukan?
Selimut tebal menutupi tubuh kami berdua, menyembunyikan tubuh polos tanpa helai pakaian. Merasakan hangat dan lembut kulit yang saling bersentuhan. Arga masih sibuk bermain dengan area di bawah leherku, memberikan kecupan lembut dan sesekali mencubitnya dengan mengunakan bibir. Memberikan sentuhan di antara dua benda kenyal milikku dan memanjakannya dengan pijatan lembut dan permainan bibirnya. Semakin membuat aku gelisah dan batin ini berteriak untuk cepat dilakukan eksekusi.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, dengan mengucap bismillah, Arga mulai menuntun, memasuki ku dengan gerakan pelan.
"Ah!" Tanpa sadar aku sedikit bersuara saat rasa sakit dan perih terasa di bawah sana akibat gesekan.
Arga berhenti sejenak, menatapku degan rasa iba dan juga rasa bersalah. Meski bukan yang pertama, tapi hampir satu tahun hidup dalam kesendirian membuat aku merasa bagai anak gadis yang baru melakukan malam pertama. Sakit, perih, dan rasanya ingin menangis. Rasa-rasanya ukuran di bawah sana tidak akan muat di dalamku.
"Apa sakit?" tanya Arga khawatir. Aku mengangguk.
"Sakit, tapi teruskan saja. Aku hanya belum terbiasa," ucapku. Dia kembali ragu. Aku mengambil wajahnya dan kembali mencium bibirnya, mengusir keraguan yang kini ada di dalam dirinya.
Kembali Arga menggerakkan dirinya, semakin dalam dan semakin dalam dengan perlahan tanpa melepaskan ciuman kami berdua. Aku tahan rasa sakit itu, membiarkan bola masuk ke dalam gawang. Toh, rasa sakit ini hanya sebentar, setelah berhasil bukankah akan merasakan hal yang lain?
Arga menggeram, ku lihat matanya terpejam sedikit kuat, mendesis seperti ular saat kesulitan mencapai lorong terujung. Bergerak naik dan turun dengan intens.
"Ah!" Tanpa sengaja aku sedikit berteriak saat rasa sakit yang kemudian itu adalah tanda keberhasilan kami. Arga segera membungkamku, membuat aku membuka mata. Satu tangannya dia tempelkan di depan bibir.
"Jangan berisik. Banyak orang lain di luar," bisik Arga. Aku melirik ke arah pintu, tidak sadar dengan dimana kami. Tersenyum dengan malu, sehingga wajah ini terasa panas.
Arga mendekat dan mengecup bibirku dengan lembut dan singkat. Aku kecewa, maunya kan lama. Hehe.
__ADS_1
"Sudah berhasil. Aku lanjutkan ya?" tanya Arga dengan tersenyum dan kerlingan di mata genitnya.
"Jangan banyak bicara, aku lebih suka dengan perbuatan daripada hanya dengan pernyataan," jawabku yang membuat dia menatapku. Dia tersenyum kembali.
"Oke. Mulai saat ini aku tidak akan banyak bicara, aku akan ...."
"Lakukan, Ga. Dari tadi kamu hanya bicara saja!" ungkapku kesal. Arga tertawa kecil. Banyak bicara membuat feel akan menjadi hilang dan rasanya tidak akan menyenangkan lagi.
Arga mengecup bibirku. Dia tidak bicara, hanya mengangguk dan terseyum. Kini kembali menggerakkan tubuhnya naik turun. Sudah tidak ada lagi rasa sakit, yang tersisa hanya rasa nikmat yang tiada tara.
Terbuai. Dalam perlakuan lembutnya, aku tidak menyangka dekat dengan dia, menjadi istrinya, dan kini berada di dalam kungkungan tubuhnya yang seksi adalah hal yang sangat menyenangkan sekali. Sungguh ini adalah kado terindah dalam hidupku setelah apa yang terjadi selama ini kepadaku.
Entah berapa lama kami bergulat, sehingga peluh bercucuran di kening dan tubuh kami. Rasa lelah dan juga linu di bawah sana terasa jelas, tapi rasa bahagia menutupi rasa lelah dan sakit tersebut.
Ladang yang telah kering selama hampir satu tahun kini sudah disirami.
****
Ahay deuh!
__ADS_1
Eh, ini masih siang ya?🙄
Kabur dulu ah. 😁✌️