
Kami pulang setelah makan siang bersama. Dengan berat hati melepaskan kedua ibu dan anak itu untuk pulang. Sangat menyenangkan sekali bertemu dengan mereka. Bukan hanya ibunya, tapi Selvi juga merupakan anak yang sangat ceria sekali. Dengan gadis kecil itu Gara selalu tersenyum dan tertawa. Dia juga jadi banyak bicara.
"Apakah kamu senang?" tanya Arga kepada gara.
"Ya. Aku sangat senang sekali. Besok apakah boleh bermain lagi?" tanya anak itu dengan nada penuh harap. Aku menoleh kepada Arga, berharap jika laki-laki itu menolaknya. Tidak akan baik bagi Gara jika semua yang dia inginkan selalu dituruti. Apalagi pergi ke tempat bermain yang seperti tadi.
"Tidak boleh. Papa akan mengizinkan kamu pergi ke tempat bermain minimal 1 bulan 2 kali," ucap Arga yang membuat aku menghela nafas lega.
"Yaaah, gak seru ah!" Ucap anak itu dengan kecewa.
"Tidak boleh sering karena kamu harus banyak belajar. Bermain boleh tapi jangan sampai lupa waktu," ucap Arga lagi.
Gara tidak lagi membantah dengan ucapan ayahnya. Saat aku meliriknya dia hanya diam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Terlihat wajahnya kesal sekali.
"Nanti. Kapan-kapan Mama akan ajak Gara ke tempat yang lebih seru daripada ke tempat bermain tadi," ucapku pada anak itu.
Wajahnya yang tadi menunduk, ini menatap ke arahku dengan pandangan yang berbinar. "Beneran Ma!" Seru anak itu. Aku mengganggukan kepala. Arga menatapku dengan raut wajah yang bertanya-tanya, tapi aku menunggu dia tidak bertanya juga.
Mobil yang kami kendarai kini sudah masuk ke dalam area pekarangan rumah. Aku membukakan pintu untuk Gaara keluar dari mobil. Anak itu berlari begitu saja meninggalkan kami berdua. Dia tidak peduli dengan teriakanku yang khawatir kepadanya.
"Memangnya kamu mau ajak Gara kemana?" Tanya harga kepadaku.
"Ada deh, nanti kapan-kapan kamu harus bisa mengantarkan kami," ucapku padanya. Aku berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan arga yang terlihat kebingungan.
"Yu, kamu nggak mau ngomong sama aku?" Tanya Arga menyusul langkah kakiku.
"Haha, penasaran ya?" Tanyaku sambil menunjuk kepadanya. Dia terlihat semakin kesal.
"Aku cuma mau ajak dia ke panti asuhan yang ada di dekat rumah Ibu. Boleh tidak?" Akhirnya aku mengatakan apa yang aku pikirkan tadi. arga terdiam sejenak lalu senyum. Dia mengambil tanganku dan mencium telapak tanganku dengan lembut.
"Tentu saja boleh. Kalau itu untuk kebaikan gara aku tidak akan melarangnya," ucap suamiku dengan tersenyum bahagia.
"Jadi kita ke dokter sekarang?" Tanyaku pada harga.
"Iya tentu saja. Apa kamu sudah siap?"
"Deg-degan sih, tapi aku harus siap, kan?"
Harga tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut. "Tidak akan apa-apa, kok. Cuma periksa biasa saja," ucapnya.
Aku mengangguk. Benar. Hanya periksa biasa saja.
"Aku akan mandi sebentar dan bersiap," ucapnya padaku.
"Aku akan urus Gara dulu."
__ADS_1
Harga berjalan menuju kamar kami, sedangkan aku menuju ke kamar Gaara memastikan jika dia mengganti pakaian seragamnya.
Masuk ke kamar gara, anak itu baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar karena air.
"Apa perlu bantuan untuk ganti baju?" Tanyaku pada gara.
"Tidak perlu, mama. Aku bisa sendiri," ucap anak itu membuatku takjub.
"Oke baiklah kalau begitu. Gara, mama dan papa akan ke rumah sakit, bisakah kamu tinggal di rumah?" tanya ku dengan hati-hati kepadanya.
"Siapa yang sakit?"
"Tidak ada, hanya pemeriksaan kesehatan saja. Gara mau kan tinggal di rumah?" Tanyaku meminta. Dia menganggukkan kepalanya.
"Gak pa-pa, Garrlla di rrllumah aja. Mau main sama Oma," ucap anak itu lagi. Aku tersenyum, mengusap kepalanya yang lembut.
"Anak pintar. Mama juga mau ketemu Oma dulu sebelum pergi," ucapku lalu keluar dari kamar itu.
Setelah menemui ibu dari Arga, aku pergi ke rumah sakit dengan Arga. Selama di dalam perjalanan, rasanya kepikiran dengan ucapan Ibu tadi saat sebelum berangkat. Beliau memanggil ku Haifa dan Haifa. Meskipun sebelumnya aku mencoba untuk biasa saja dengan panggilan itu, tapi rasanya ... Ada sesuatu yang sakit di dalam hati ini. Kenapa Ibu tidak ingat denganku. Aku bukan Haifa.
"Kamu kenapa?" Tanya harga kepadaku. Aku menggelengkan kepala dan menyandar pada sandaran kursi. Aku tahu dia melirik ke arahku, tapi aku sedikit abai saja dengan dia, takut jika dia merasa tidak enak hati dengan perlakuan ibunya tadi padaku.
"Apa kamu sakit?" Tanya harga sekali lagi.
"Oh, aku kira kamu sakit. Dari tadi kamu cuma diam aja," ucapnya lagi.
Aku menatapnya dan tersenyum padanya, ingin menyatakan jika aku baik-baik saja agar dia tidak khawatir kepadaku.
"Aku belikan es krim mau? Biar kamu bersemangat lagi," ucapnya.
Aku mandiri sebal pada sosok suami yang ada di sampingku. "Memangnya aku ini gara!" Pungkas ku sebal. Harga tertawa terkekeh.
Kami telah sampai di rumah sakit. Harga membawaku ke sebuah ruangan. Kami bertemu dokter obgyn di sana. Dokter wanita itu tersenyum ramah saat kami masuk ke dalam ruangannya.
"Jadi ini Bu Ayu?" Tanya wanita itu kepada Arga.
"Iya benar ini istriku. Seperti saat kemarin ditelepon, aku ingin melakukan tes kesehatan untuknya. Tolong bantu kami dokter," minta harga pada wanita itu. Dokter itu mengangguk seraya tersenyum. Dia meminta catatan medisku yang sebelumnya. Aku sudah mempersiapkannya dari semalam saat harga bilang jika hari ini kami akan pergi ke rumah sakit. Catatan ini sudah sangat lama sekali, sejak usia pernikahanku dengan Mas Hilman baru dua tahun. Kening dokter itu mengerut setelah melihat catatan yang ada di tangannya.
"Di sini hasilnya bagus tidak ada masalah," ucap dokter itu sambil menunjuk kertas yang ada di tangannya.
Harga tersenyum senang. Akan tetapi tidak denganku. Jika catatanku bagus tapi kenapa sampai saat ini aku masih belum mempunyai anak?
"Tapi dokter, sebelumnya saya sudah menjalani pernikahan selama 7 tahun dengan mantan suami, kami belum dikaruniai anak," ucapku padanya. Tangan Arga mengelus lenganku. Takut takut aku melirik kepadanya, tapi dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Belum mempunyai anak itu bisa terjadi oleh beberapa faktor. Bisa jadi karena kondisi ****** dari laki-laki yang tidak bagus, atau bisa jadi dari pihak perempuan yang bermasalah. Tapi menurut catatan ini tidak ada yang salah dengan ibu Ayu," ucap dokter itu.
__ADS_1
Aku pun tahu hal itu karena dokterku yang sebelumnya juga mengatakan hal yang sama. Akan tetapi kenapa aku masih belum memiliki anak?
"Dokter, jika masalahnya pada laki-laki. Mantan suami saya memiliki anak dengan istri keduanya. Tapi kenapa tidak dengan saya?" Tanyaku lagi dengan bingung.
"Ayu, daripada bertanya seperti itu. Lebih baik lakukan saja pemeriksaan lanjutan dengan dokter," ucap Arga.
Dokter yang tadi terlihat ingin menjawabku tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Iya, untuk lebih jelasnya lagi kita lakukan pemeriksaan saja. Ini pemeriksaan yang sudah sangat lama, kondisinya tentu berbeda dengan sekarang ini," ucap dokter itu.
Aku setuju saja. Memang sepertinya tidak baik jika aku meneruskan pertanyaanku tadi. Akan ada seseorang yang terluka di sini.
Dokter membawaku ke sebuah ruangan pemeriksaan. Di sana aku beri periksa dengan baik dan juga teliti. Sesekali dokter menerangkan apa yang terjadi padaku. Aku mendengarnya dengan patuh. Di sana juga ada harga yang menemaniku selama dalam masa pemeriksaan.
"Apa saya juga harus diperiksa?" Tanya harga kepada dokter.
"Jika keluarga mau tentu saja boleh," ucap dokter itu dengan tersenyum ramah.
"Oke, aku juga ingin diperiksa," ucap arga kepada dokter.
Pemeriksaan telah selesai memakan waktu yang lumayan lama bagiku. Tanganku juga sedikit pegal akibat dokter mengambil sedikit darahku untuk pemeriksaan lanjutan. Apakah aku memiliki penyakit lain atau tidak.
Aku menunggu di ruang ini. Meski sudah terbukti arga tidak ada masalah dengan reproduksinya, tapi laki-laki itu bersedia untuk diperiksa kembali. Bagaimana aku tidak meleleh melihat apa yang dilakukan untukku?
Pemeriksaan sudah selesai, kami kembali ke ruangan dokter untuk menerima kertas laporan kami.
"Apakah mbak Ayu dan pak arga akan mengikuti program kehamilan?" Tanya dokter itu kepada kami berdua. Jujur aku mau, sangat mau sekali, karena sadari dulu aku juga ingin memiliki anak sendiri. Tentu saja jika memungkinkan dan diriku dinyatakan sehat.
Harga menoleh kepadaku, dia tidak bisa memutuskan jika aku tidak mau. Itu yang dia semalam bicarakan denganku.
"Aku mau dokter," jawabku. Semakin bersemangat diri ini untuk menggapai apa yang aku inginkan sedari lama. Jika mungkin Mas Hilman seperti harga tidak menyia-nyiakan waktunya tentu saja kami mungkin kini sudah memiliki anak. Akan tetapi laki-laki itu sama sekali tidak pernah mau ikut denganku untuk pemeriksaan. Bisakah aku berharap jika bukan aku yang bermasalah?
Harga tersenyum dan mengganggukan kepalanya. "Tolong lakukan yang terbaik untuk kami dokter," ucap laki-laki itu meminta kepada dokter.
Dokter menganggukan kepalanya seraya tersenyum. "Iya tentu saja saya akan membantu dan melakukan yang terbaik yang saya bisa. Tapi saya harap bu ayu dan pak Arga juga bersemangat melakukan program ini. Mungkin juga dirasakan sedikit berat, tapi itulah perjuangan yang harus kita lakukan demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan," ucap dokter itu.
"tentu akan bersemangat. jika memang masih memungkinkan kami sangat ingin sekali memiliki anak," ungkap arga. Meski dulu dia berkata akan menerimaku apa adanya, tapi mendengar dia berkata seperti ini sekarang hatiku sedikit merasa kacau juga. Jadi benarkah dia menerimaku apa adanya?
"Baiklah kalau begitu, saya akan tuliskan pada kertas apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama dalam masa program," ucap dokter itu lagi.
Tak lama kami di sana, kami keluar dengan perasaan bahagia. Tapi mungkin aku tidak sebahagia itu. Semua masih menjadi misteri. Tentunya kami manusia hanya harus berusaha dan menunggu hasilnya. Tuhan yang maha kuasa yang bisa menjadikan hal itu nyata.
Selesai dengan dokter Obgyn, kami menemui dokter yang lain untuk memeriksa kepalaku. Kebetulan sekali jam prakteknya kosong, kami ke sana tidak lama untuk diperiksa.
Luka yang ada di kepala sudah kering, sudah boleh terkena air, itu artinya jika mandi wajib pun aku sudah bisa. Asal, tidak sakit saja, katanya. Arga tersenyum senang mendapati aku yang sudah sembuh.
"Berarti nanti malam bisa dong!" ucap laki-laki itu sambil tersenyum terkekeh saat kami keluar dari ruangan dokter.
__ADS_1