Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
122. Kejadian Di Mall


__ADS_3

"Sudah pulang, Yu?" tanya suara dari belakangku, cukup mengagetkan hingga aku terkejut. Ibu melihat ke arah jalanan di mana tadi mobil Dokter Wira menghilang.


"Ibu? Kaget Ayu, Bu."


"Ibu khawatir, kamu pulang pake kendaraan umum gitu, tadi Ibu telepon juga tidak diangkat," ujar Ibu. Aku mengeluarkan hpku dari dalam tas.


"Mati ternyata hpnya, Bu. Lupa gak di charge," jawabku.


"Ya sudah. Mandi, terus makan malam."


"Iya, Bu."


...*** ...


Hari ini aku dan Desi akan melakukan inspeksi mendadak di bagian tenun. Rasanya menyenangkan juga pergi ke dalam pabrik setelah sekian lama, sedari pagi sampai sore, hanya berkutat di ruangan dengan komputer di depan mata.


Suara deru mesin tenun menggema di ruangan. Beberapa mesin berjalan bersamaan dengan beberapa operator yang berpengalaman menunggu dan memeriksa kerja mesin tersebut.


Aku bingung dan juga takjub dengan kinerja mesin ini. Bingung, bagaimana caranya lembaran benang yang masuk ke dalam mesin dari ujung satu dan keluar menjadi lembaran kain di ujung lainnya?


"Mbak Ayu, nanti sore ada acara tidak?"


"Gak ada. Kenapa?" tanyaku pada Desi.


"Itu, anak-anak ngajakin hangout bareng. Mau ikut gak?" tanya Desi lagi. Deru suara mesin cukup mengganggu telinga, tapi tidak membuat suara Desi yang lantang tidak terdengar.


"Jam berapa?" tanyaku lagi.


"Sepulang dari sini. Bosan aja rasanya kerja terus, kita kan gak pernah pergi ke luar. Mumpung gak disuruh lembur," ujar Desi lagi sambil tertawa.


"Sebentar lagi kan kita eskpor barang, Mbak. Pasti akan sibuk minggu depan. Mumpung belum terlalu sibuk dan pulang lembur malam terus, kita refreshing dulu, yuk! Ke mall yang ada di dekat alun-alun." ajaknya lagi.


"Oh. Boleh, deh. Siapa aja?" tanyaku. Kami berjalan melewati mesin demi mesin yang terus mengeluarkan satu lembar kain berwarna putih dan otomatis menggulung hingga membentuk gulungan kain yang besar.


"Kita aja berempat."


"Amar ikut?" tanyaku lagi.


"Dia mah gak pernah ketinggalan. Meski cuma cowok sendiri, tapi dia mah selalu oke kalau kita ajak keluar!" ujar Desi lagi.


Kami melanjutkan acara kami, mengamati kerja para karyawan yang terlihat sangat cekatan mengecek dan melakukan tugasnya dengan baik.


Sore hari, kami pulang bersama. Aku membonceng Nina, sedangkan Amar membonceng Desi di belakangnya. Kebetulan mereka berdua membawa helm masing-masing, jadi tidak khawatir akan diberhentikan oleh polisi.


Mall yang kami tuju lumayan jauh, hampir setengah jam perjalanan, tapi ini lebih dekat jika aku melanjutkan perjalanan untuk pulang.


Sebelumnya aku sudah mengabari Ibu jika aku pergi dengan yang lainnya dan akan pulang terlambat. Ibu mengizinkan.


Tempat yang paling utama kami tuju adalah bioskop. Akan tetapi, film yang sepakat kami tonton ternyata tayang di jam delapan malam. Tidak memungkinkan bagi kami untuk menunggu film itu tayang di jam seperti itu. Akhirnya, kami berbelanja saja.


Nina dan Desi, keduanya terlihat ribut saat kami memasuki toko pakaian wanita. Mereka saling meminta pendapat dengan pakaian yang mereka ambil dan kenakan di depan tubuh keduanya.

__ADS_1


"Mbak Ayu, bagus gak sih?" tanya Nina padaku. Baju kemeja berwarna biru muda dia tempelkan di tubuhnya.


"Bagus."


"Kalau ini?" Dia menempelkan kemeja berwarna soft pink.


"Bagus," jawabku lagi.


"Ih, Mbak Ayu mah. Ini bagus, itu bagus. Nina harus pilih yang mana, dong!" seru Nina cemberut.


Aku tertawa kecil. "Dua-duanya juga bagus," ucapku. Aku memang tidak bisa memilih. Nina, gadis manis dengan wajah imut dan tubuh yang tidak terlalu tinggi, tapi semok, memang bagus dengan pakaian apapun yang dia pakai.


"Em ... pilih ini aja deh!" Nina mengembalikan kemeja warna soft pink ke rak gantung dan memegang kemeja biru muda di tangannya.


"Mbak gak belanja?" tanya Desi.


"Enggak ah. Gak ada yang mau dibeli juga," jawabku.


"Gak ada yang mau dibeli atau gak bawa duit?" bisik Nina. "Kalau Mbak Ayu gak bawa uang, aku bayarin sekalian. Gampang kalau balikinnya, potong pas gajian, hehe." Nina tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Dia tidak tahu saja, di dompetku juga ada kartu ATM berisikan uang sekitar 37 juta, sisa dari penjualan tanah di kampung.


"Uang mah ada, tapi memang lagi gak pengen beli apa-apa." Nina dan Desi mengangguk mendengar ucapanku.


"Cepetan belanjanya, kasihan Amar tuh nungguin." Aku menunjuk Amar yang duduk di salah satu kursi yang disediakan di toko ini.


"Iya," jawab kedua wanita itu bersamaan.


Aku mendekat ke arah Amar yang sedang memainkan hpnya. Wajahnya ditekuk seperti tidak bersemangat. Tidak seperti biasanya pria ini selalu ceria.


"Kenapa sih?" tanyaku.


Amar tidak langsung menjawab. Kepalanya tertunduk masih menatap hpnya yang memperlihatkan gambar dia dan seorang wanita.


"Bingung, Mbak."


"Bingung kenapa?"


"Orang tua Cia ... kemarin kan aku mengntar Cia pulang ke rumah, Orang tua Cia tanya, kapan aku mau melamar Cia." Amar terdiam lagi. Dia menyalakan hpnya yang mati, mengusap layar itu tepat di wajah sang kekasih.


"Terus? Bagus, dong. Kapan kamu mau melamar Cia?" tanyaku pada Amar. Pria itu lagi-lagi menghela napasnya cukup keras dan berat.


"Amar bingung, Mbak. Soal lamaran itu, Amar sih bisa saja dalam waktu dekat ini. Itu Amar juga sudah ada rencana dan sudah bilang sama Ibu dan Bapak di kampung, tapi masalahnya ... Orang tua Cia bilang, ingin acara resepsi di gedung, besar-besaran, hantaran juga sudah disebutkan segala macamnya. Amar bingung. Kalau hanya nikah biasa yang sederhana Amar bisa Mbak, tapi kalau harus di gedung dan menuruti keinginan orang tua Cia untuk pernikahan mewah, Amar sepertinya gak sanggup," ujar pria itu, menundukkan kepalanya semakin dalam. Rona kesedihan terpancar di wajahnya yang tampan.


"Kamu sudah bicarakan ini lagi dengan orangtuanya Cia? Sudah jujur dengan keuangan kamu?" tanyaku padanya. Dia menggelengkan kepalanya.


"Tapi orang tua Cia tau kan kalau kamu masih ada adik yang kamu tanggung biayanya?" tanyaku lagi. Amar mengangguk.


"Tau, Mbak. Tapi gak tau deh, kenapa orang tua Cia pengen pernikahan yang mewah gitu. Ibunya bilang kan Cia itu anak pertama dan satu-satunya, inginnya pernikahan kami nanti berkesan, katanya gitu," ujarnya dengan lesu.


Aku mengelus pundak Amar dengan lembut.


"Sabar. Kamu coba saja bicarakan ini dulu dengan Cia, siapa tau, Cia juga gak keberatan kalau kamu minta nikah yang biasa saja. Biar dia sampaikan sama orang tuanya kalau kamu gak bisa menyanggupi permintaan mereka," ucapku.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Nanti Amar coba bicara sama Cia," ucapnya.


Desi dan Nina sudah selesai berbelanja, satu paperbag di masing-masing tangan keduanya.


"Serius amat kelihatannya. Ngomongin apaan, sih?" Nina si tukang kepo bertanya.


"Ngomongin kalian. Lama banget belanjanya. Aku lapar, loh. Tadi siang gak sempet makan siang!" ujar pria ini dengan nada dibuat marah. Raut wajah tengilnya kembali, tidak seperti barusan saat dia curhat padaku. Sekilas aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Jika tadi dia seperti pria yang patah hati, kali ini dia terlihat amat sangat baik.


"Duh, kasihan. Salah sendiri gak makan." Desi tertawa mengejek Amar.


"Itu karena ada returan dari konfeksi dan aku juga yang harus turun tangan pergi ke luar buat benerin. Yuk lah, makan. Lapar nih!" seru Amar seraya berdiri.


"Iya, Ganteng. Kita makan." Desi melingkarkan tangannya pada pria yang usianya paling muda di antara kami dan menyeretnya ke arah eskalator untuk kembali ke lantai atas, tempat di mana foodcourt berada.


Desi dan Nina memesan makanan, sementara aku dan Amar mencari kursi kosong sambil membawa tas belanjaan milik mereka berdua. Biar lebih hemat waktu katanya.


"Mbak, maaf ya yang tadi. Aku jadi curhat sama Mbak. Jangan sampai dua orang kepo itu tau, ya. Kalau tau, pasti aku diejek!" pinta pria ini melirik ke arah Nina dan Desi yang sedang mengantri makanan.


"Iya, beres. Gak apa-apa, kok," jawabku sambil mengangkat dua jempol.


Kami duduk di dekat jendela yang besar. Dari sini, bisa kami lihat pergerakan yang ada di luar sana. Lampu-lampu jalanan berkelap-kelip di kejauan sana. Titik putih, kuning, dan merah dari lampu kendaraan memenuhi jalanan hingga membuat indah pemandangan menjelang malam.


Tempat ini, waktu menjelang malam seperti ini, mengingatkan aku kepada seeorang. Seorang yang pernah hadir di dalam kehidupanku selama tujuh tahun, dan kini harus menjadi milik orang asing yang tidak aku kenal.


Rasa di dalam hatiku ... sakit, kehilangan, dan mungkin ... ada terselip rindu saat-saat di mana Mas Hilman berlaku sangat manis dan juga romantis.


Senyum, perhatian, dan juga kepeduliannya atas rasa sakit dan sepi yang ada di dalam hati, bisa dia sembuhkan hingga hati ini selalu berdebar dan juga semakin menyukai dan menyayanginya. Naas sekali, keinginan kedua oang tuanya yang membuat hidup kami kini seperti ini.


"Mbak. Kok ngelamun. Makan!" Desi mengagetkan aku yang sedari tadi terfokus ke arah luar. Aku terkejut, tidak mendengar dan melihat kedatangan Nina dan Desi.


"Eh, iy. Makasih."


"Mbak ngelamunin apa sih? Mantan ya? Atau pacar baru?" Nina mulai mengganggu. Desi menyikut lengan Nina dengan cukup keras.


"Gak sopan!" cerca Desi.


"Ya lagian, Mbak Ayu dipanggil gak nyahut. Ini makanan sudah datang." Nina menunjuk makanan yang sama dengannya, nasi dan ayam geprek serta minuman cola di depanku.


"Eh, iya. Lagi menikmati pemandangan malam aja. Maaf," sahutku.


"Oh, Nina kira Mbak Ayu lagi mengenang sesuatu, hehe." Nina tertawa kecil.


Kami menikmati makanan sambil mengobrol ringan.


"Des, Nin. Aku ke toilet dulu, ya." pamitku pada mereka. Desi dan Nina menjawab serempak, sedangkan Amar sedang sibuk makan, hanya mengangkat jempol di tangan kirinya.


Gegas aku pergi ke toilet. Beberapa orang hilir mudik keluar masuk ke dalam sana.


Selesai dengan urusanku, aku segera bergegas keluar. Belum sampai dua langkah keluar dari dalam toilet, tiba-tiba tubuhku tersentak.


Aku terkejut saat seseorang mencekal tanganku dan menarikku ke tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2