
"Suara teriakan keras terdengar dengan lantang dari belakangku. Belum juga aku menoleh ke arah asal suara, sebuah tangan mencekal tangan Mas Hilman dan melayangkan satu pukulan telak di wajah suami yang kini hanya milik Hana seorang. Tubuhnya yang kurus kini terhuyung ke belakang dan menubruk tembok dan jatuh ke lantai.
Pria ini menarik tanganku untuk bersembunyi di belakang tubuhnya yang besar.
"Heh, apa masalah kamu! jangan ikut campur dengan masalah kami!" teriak Mas Hilman yang kini sudah bangkit dari lantai. Telunjuknya menunjuk ke arah pria yang ada di depanku. Wajah merah itu semakin marah, sudut bibirnya merah akibat darah yang keluar akibat pukulan kuat pria ini.
"Tentu saja kalau kamu kasar dengan Ayu, aku tidak akan tinggal diam, Hilman!" teriaknya dengan tak kalah lantang. Dada ini serasa terhenti seketika saat mengenali suara ini.
Mas Hilman mendekat setengah berlari, menghambur ke depan Arga dengan satu tangan yang dia angkat di samping kepalanya. Kepalan tangan itu seketika bisa Arga tahan hingga tidak menyentuh wajahnya.
"Baj*ngan! Apa hubungan kamu dengan Ayu? Apa kalian punya hubungan yang aku tidak tahu?" Mas Hilman murka, menatap dengan tatapan yang marah.
"Iya. Tentu saja, kami akan menikah sebentar lagi. Jangan pernah kamu ganggu calon istriku!" teriak Arga. Aku hanya terdiam, terpaku mendengar ucapannya barusan.
Apa? Barusan ... dia bilang apa?
Stop! Jangan memikirkan hal lain, Yu. Arga hanya mencoba melindungi kamu. Jangan baper dengan ucapan dia barusan!
Memalukan! Di saat seperti ini aku malah terpaku dengan apa yang dia katakan tadi.
"Bohong kan, Yu?" tanya Mas Hilman padaku. "Yang dia bilang bohong, kan?" tanyanya lagi dengan tidak percaya.
"Apa kamu pikir ucapanku ini bohong? Asal kamu tau saja Hilman. Jauh sebelum kamu bertemu dengan Ayu, aku sudah jadi pemilik hatinya!" teriak Arga lagi.
Mas Hilman terlihat tidak terima, dia kembali mendekat dan menyerang Arga dengan kasar hingga keduanya kini bergelung di lantai.
__ADS_1
"Mas Hilman. Apa yang kamu lakukan! Arga!" teriakku dengan kencang. Akan tetapi, kedua orang itu tidak kunjung juga menghentikan perbutan mereka, malah semakin terlihat seru dan tidak bisa dipisahkan. Bergelung di lantai, berguling ke kanan dan ke kiri. Masing-masing ingin mendominasi.
Beberapa orang mulai berdatangan. Aku meminta tolong pada mereka, tapi mereka hanya diam melihat kejadian tersebut, seakan ini adalah tontonan yang seru untuk mereka nikmati.
"Mbak Ayu!" seru salah seroang suara perempuan. Desi mendekat dan bingung melihat kejadian ini.
"Mbak Ayu gak apa-apa? Kenapa Mbak Ayu di sini. Kami cemas menunggu Mbak Ayu di sana," ujar Desi.
"Amar. Tolong pisahkan mereka!" Aku bicara pada Amar, belum sempat menjawab pertanyaan Desi.
"Amar, tolong!" teriakku lagi. Amar segera mendekat dan menarik Mas Hilman yang ada di atas tubuh Arga. Dengan segera Amar mengunci pergerakan tangan Mas Hilman di belakang punggungnya.
"Lepaskan!" teriak Mas Hilman tidak terima. Dia menggerakkan tubuhnya dan mencoba melepaskan diri dari Amar yang bertubuh lebih tinggi darinya.
Aku berlari, membantu Arga untuk bangkit dari lantai. Penampilannya terlihat sangat kacau dengan rambut dan pakaian yang tidak teratur sedangkan Desi mengambil barang milik Arga yang terjatuh.
Eh, Pak Eka?
"I-ini ...." Desi menyerahkan tas kepada ARga.
"Terima kasih," Arga menerima tas kerjanya dan mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku kemeja, mengelap sudut bibirnya yang merah karena darah.
"Lepaskan!" teriak Mas Hilman lagi.
Dua orang sekuriti mendekat dan segera mengambil alih Mas Hilman dari tangan Amar.
__ADS_1
"Ayu, aku mohon. Pulang sama aku, Yu!" ucap Mas Hilman dengan nada menghiba.
"Dengar Hilman! Sekali lagi kamu mendekati Ayu. Kamu akan terima akibatnya!" teriak Arga dengan marah seraya menunjuk ke arah Mas Hilman.
"Bawa dia dari sini!" teriak Arga lagi kepada kedua orang dengan seragam putih itu. Mereka berdua sangat patuh dan membawa Mas Hilman pergi menjauh dari kami. Satu persatu orang-orang yang ada di sini mulai membubarkan diri.
"Kamu gak apa-apa, Yu?" tanya Arga padaku. Dia menyentuh kedua bahu dan memindai ku dari atas sampai bawah dengan raut wajah khawatir.
"Ti-tidak apa-apa. Aku baik. Kamu yang luka, Ga," ucapku. Ku lihat wajahnya sedikit memar di beberapa bagian, juga ada sisa darah di dekat pelipisnya.
"Kamu berdarah, Ga." Refleks aku menyentuh luka itu. Tidak sadar dengan apa yang aku lakukan di depan ketiga temanku yang tak terdengar suaranya.
"Tidak masalah. Kamu baik, kan?" tanyanya lagi. "Apa ada yang sakit? Kita pergi ke rumah sakit!" serunya semakin khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik," ucapku meyakinkan dia. Terllihat dia menghembuskan napasnya dengan lega.
"Syukurlah," ucapnya. "Aku senang kamu baik-baik saja. Kalau sampai Hilman buat kamu celaka, aku gak akan ampuni dia!" ucapnya dengan nada yang terdengar mengerikan, sama seperti di masa lalu saat ada orang yang menggangguku.
"Pak Eka, maaf. Ini ... sebaiknya segera diobati." Desi menyela dan menunjuk keningnya sendiri.
Arga menyentuh keningnya yang masih mengeluarkan darah segar. Aku lihat tadi, Arga tidak banyak melawan. Dia malah jadi bulan-bulanan Mas Hilman, padahal tubuh Arga lebih besar dari pria itu.
"Ah, lupakan saja. Ini tidak seberapa," ucapnya.
"Ga, luka itu jangan kamu sepelekan. Bisa infeksi kalau tidak segera diobati," ucaku padanya.
__ADS_1
Pria itu akhirnya menurut dan mengikutiku untuk duduk di sebuah bangku yang ada di dekat sana. Salah seorang pegawai food court mendekat dengan kotak obat di tangan, menyerahkannya padaku.
Aku mulai membersihkan luka yang ada di wajah Arga, sedangkan Desi, Nina, dan Amar hanya diam duduk di belakangku.