Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
146. Lamaran Part 1


__ADS_3

Aku sudah ikut dengan Arga ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Awalnya aku takut, gemetar tubuh ini saat akan bertemu dengan beliau, tapi Arga meyakinkan pada diriku jika tidak apa-apa.


Alhamdulillah, tanggapan dari Papa sangat baik terhadapku. Dia malah meminta maaf dengan sikapnya yang dulu saat kami masih SMA, juga meminta maaf jika keadaan Arga saat ini sudah berbeda, memiliki Gara. Papa mengakui jika setelah menikahkan Arga, tidak pernah melihat Arga yang bahagia seperti sekarang ini. Apalagi melihat Gara yang sangat bahagia dan antusias terhadap diriku. Dari sana aku tidak lagi takut dan khawatir bertemu dengan Papa. Papa sosok pria yang menyenangkan juga ternyata.


Aku katakan jika tidak mengapa dengan kehadiran Gara, aku justru senang dengan hadirnya Gara di antara kami. Segala kekurangan yang ada padaku aku beritahukan pada Papa, beliau juga tidak mempermasalahkan hal itu, justru malah menitipkan Arga dan Gara kepadaku, memintaku untuk membimbing Gara memberikan kasih sayang ku sebagai seorang ibu untuk dia. Menemani dan menjadi istri yang baik untuk Arga.


'Jangan kamu anggap kalau kamu adalah Ibu sambungnya, anggap Gara adalah anak kandung kamu sendiri. Sayangi cucuku. Aku mohon.' Itu lah yang diucapkan Papa waktu itu.


Jujur saja aku jadi ingin menangis karena permintaanya. Sangat dalam sekali ucapannya itu dan tidak pernah aku dapatkan dari ayah mantan suamiku yang dulu.


Selain bertemu dengan Papa aku juga bertemu dengan Oma, Oma adalah nenek Gara, Ibu dari Arga. Keadaan Ibu Arga seperti hari-hari sebelumnya, masih sering sakit-sakitan karena usia yang sudah menginjak tua. Papa dan Ibu Arga berbeda usia yang lumayan jauh. Aku perkirakan usia mereka terpaut lebih dari sepuluh tahun. Papa Arga menikahi janda tanpa anak yang usianya jauh di atasnya. Jadi itulah mengapa saat aku bertemu dengan papa Arga, beliau terlihat jauh lebih muda dari pada Oma. Arga hanya tersenyum sedih saat menceritakan kondisi Oma yang seperti sekarang ini.


Aku memanggilnya Oma juga, mengikuti panggilan Gara pada wanita tua itu. Pikun karena suatu sebab sakit yang aku sendiri tidak tahu nama penyakitnya apa. Meskipun sering lupa dengan Arga, tapi Oma ingat akan Gara dan juga masih sering memanggilku Aifa. Aku tidak masalah dengan panggilan tersebut. Bagiku yang terpenting Oma senang.

__ADS_1


Gara, saat tahu aku akan jadi ibunya, dia sangat senang sekali. Begitu juga dengan pengasuh dan pekerja yang ada di rumah itu. Mereka semua bersorak sorai dan ikut bahagia. Gara semenjak itu tidak mengizinkan aku pulang jika berkunjung ke rumah, tapi beruntung Arga bisa mengatasi anak itu, mengatakan jika setelah kami membuat pesta besar tentu saja setiap malam dia akan ditemani tidur olehku.


Raut wajah yang penuh bahagia terpancar pada anak itu dan membuat aku menjadi senang juga.


***


Alhamdulillah, Papa tidak lama di rumah sakit. Arga bilang beberapa hari yang lalu, Papa akan datang bersama dengan beberapa kerabatnya untuk memintaku pada Ibu.


Ibu sedikit bingung, pasalnya tidak ada yang bisa menyambut kedatangan calon besan dan menantu. Jadilah, Ibu menelepon Mamang, Adik Bapak di kampung. Beliau jelas lebih berhak akan diriku, orang yang sangat berhak untuk menjadi wali hakim menggantikan Bapak.


*


Suasana rumah sedikit ramai hari ini, untuk menyambut kedatangan tamu, Ibu telah menyiapkan beberapa masakan khas rumahan saja. Tidak ada masakan yang spesial, tapi cukuplah untuk tidak membuat malu disuguhkan kepada tamu nanti.

__ADS_1


Yu Tarni dan Bibi Sari, Istri dari Mamang membantu di dapur. Bi Sari dan Mamang baru saja datang tadi pagi dan langsung membantu di dapur. Tamu akan datang pada sore menjelang malam. Aku membantu sebisa mungkin, tapi lebih banyak hanya diam karena baru saja memegang sesuatu, sudah direbut oleh Yu Tarni atau Bi Sari.


"Sudah, calon pengantin mah diam aja di kamar. Luluran sana!" titah Bi Sari dengan nada mengusir sekaligus menggodaku. Yu Tarni yang ada di sana tertawa kecil, menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Kan baru juga mau lamaran, Bi. Belum dipinang," jawabku malu.


"Ya kan nanti dipinangnya. Sudah dipinang kan jadi pengantin. Sudah sana istirahat saja, maskeran, luluran, mandi yang bersih, biar wangi!" Bi Sari menggodaku lagi.


Malam menjelang, setelah selesai waktu salat Maghrib aku segera bersiap. Baju yang Arga kirimkan kemarin aku pakai, gamis dengan bordiran indah terdapat banyak di atas kain. Pas di tubuhku, serasi dengan hijab besar yang menutup kepalaku kini.


Ku dengar beberapa kendaraan datang dan parkir di depan rumah. Suara ketukan di pintu terdengar dengan sangat jelas meski aku berada di dalam kamar. Dadaku berdebar dengan kencang, keringat dingin mulai mengganggu di kening, membuat lengket.


Kini terdengar dari ruang tamu sayup-sayup orang lain berbicara. Aku mendengarnya dengan seksama, sesekali mengenali jika itu adalah suara Arga, Pak Rt, atau Mamang, yang lainnya aku tidak bisa menebaknya. Tawa riang, lalu kembali serius aku dengarkan dari balik pintu.

__ADS_1


Aaaahhh, aku harus bagaimana sekarang ini?


__ADS_2