Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
155. Kejadian Tidak Terduga


__ADS_3

Hari ini aku pergi ke pasar, warung biasa kami berbelanja sayur dua hari ini tidak berjualan. Ku dengar si pemilik warung sedang pulang kampung. Hari ini aku ke pasar untuk memenuhi stok makanan di kulkas yang sudah habis, hanya menyisakan telur dan kacang panjang. Bingung juga, jika seharusnya aku harus diam di rumah sebelum hari pernikahan tiba, tapi melihat keadaan kebutuhan yang sudah habis masa aku mau diam saja?


"Ayu pakai taksi online Bu, gak pakai motor. Tidak akan apa-apa," ucapku pada Ibu saat Ibu protes karena aku seharusnya diam di rumah menjelang pernikahanku yang tinggal empat hari lagi. Ibu tetap khawatir, tapi aku bersikeras untuk pergi, karena siapa lagi yang akan ku mintai tolong untuk belanja? Lagipula jarak pasar dari sini juga tidak terlalu jauh, cukup dua puluh menit jika menggunakan motor.


Akhirnya aku diizinkan Ibu untuk pergi. Pun itu dengan pesan agar aku banyak berhati-hati.


Arga meneleponku saat aku hampir sampai di pasar.


"Kamu sedang di mana? Tidak di rumah, ya?" tanya Arga saat aku baru saja mengangkat telepon. Memang setiap siang Arga meneleponku setiap hari.


"Di dekat pasar, sebentar lagi mau sampai."


"Siapa yang izinkan kamu pergi?" tanya Arga terdengar nada yang dingin dari suaranya.


"Ibu sudah izinkan. Lagipula aku juga pergi pakai taksi online kok, gak pake motor. Bahan sayur di kulkas sudah habis, warung tutup dari kemarin," jawabku jujur.

__ADS_1


Helaan napas yang kasar terdengar dari mulut Arga. "Kamu kalau mau pergi bilang aku dulu dong, Yu. Aku kan bisa antar kamu atau Pak Sopir yang antar kamu pergi. Kamu tinggal telepon aku dan bilang apa yang kamu butuhkan, aku akan bawakan ke rumah," ucap Arga sedikit kesal.


"Aku cuma ke pasar saja, kok. Kan pasar gak jauh dari rumah. Lagian aku gak mau ganggu kamu hanya karena stok sayur yang sudah habis," jawabku. Apa-apaan Arga ini, hanya karena aku berbelanja sayur saja dia marah seperti itu. Dia jelas bukan pengangguran yang selalu bisa stay saat aku telepon.


"Tetap saja, aku gak mau kamu ada yang lirik atau ada yang ganggu kamu" ucapnya. Aku tertawa kecil mendengar nada suaranya yang cemburu seperti itu.


"Gak akan, aku gak dandan kok. Aku juga pakai masker buat jaga-jaga, jaga kesehatan dari virus dan juga jaga dari pandangan orang lain," jawabku sambil tertawa kecil.


"Tetap saja aku gak suka. Jangan ulangi lagi lain kali, ya. Aku akan menyusul ke sana," ucap Arga, lalu tanpa menunggu aku menjawab, dia sudah mematikan panggilannya.


Ya, ampun. Arga ini ....


Beberapa belanjaan telah aku dapatkan, tidak perlu disebutkan apa saja, apa yang aku lihat dan kami makan di rumah itulah yang aku ambil untuk mengisi kulkas.


Tidak membutuhkan waktu lama, hanya setengah jam aku sudah menyelesaikan waktu belanjaku dan bersiap untuk pulang. Kini aku menunggu Arga di tepi jalan di samping pintu masuk pasar. Arga akan menjemputku di sini.

__ADS_1


Hah, orang itu. Kalau ada maunya gak bisa dilarang.


Panas lumayan terik di siang ini, haus dan juga lapar, asap kendaraan dan bau tak sedap dari sampah yang berada tak jauh dari dalam sana membuat aroma sekitar kurang sedap di hidung. Ku telepon Arga dan meminta dia untuk bertemu saja di jalanan depan pasar, di sana lebih nyaman karena aku bisa ikut berteduh di emperan toko, juga menghindari bau yang tidak sedap ini.


Beberapa stand penjual kaki lima berderet di jalanan samping pasar. Berbagai barang mereka jajakan, makanan dan minuman juga ada bersama dengan mereka. Aku berjalan dengan cepat, Arga bilang tidak lama lagi dia sampai di depan pasar.


Suara klakson mobil terdengar di belakangku, aku kira aku berjalan sedikit ke tengah dan menghalangi jalannya. Jelas kami para pejalan kaki menggunakan badan jalan karena trotoar sudah habis ditempati oleh pedagang kaki lima. Bahkan, jika sedang ramai tak jarang kendaraan akan tersendat lajunya dan juga terkadang macet jika sedang jam pulang bekerja.


Tidak aku sangka, sebuah mobil hitam berhenti di depanku dan ku rasakan jika tanganku ditarik kasar oleh seseorang dan memaksaku masuk ke dalam mobil tersebut. Aku terkejut dan berteriak, tanganku sakit, tubuhku juga sakit karena menubruk kursi dengan jok yang keras. Tas rotan belanjaku terjatuh di jalanan.


Aku masih terkejut saat tiba-tiba seseorang masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan ini dengan kecepatan tinggi.


"Hei, si-siapa kamu?"


****

__ADS_1


Kabur dulu, mau sahur 😁✌️


jangan lupa like dan komen di setiap bab ya 😘


__ADS_2