Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
337. Dilema


__ADS_3

Kehidupanku kini sangatlah bahagia, mendapatkan suami yang baik dan juga tiga anak yang sangat lucu sekali. Semua saling menyayangi meskipun Azka seringkali terlihat cemburu dan lebih mendominasi aku dan Arga. Tidak boleh rasanya aku dekat dengan Alma, sampai-sampai kami harus diam-diam membawa pergi Alma agar aku bisa memberikannya ASI atau sekedar membuatnya tidur siang di ruangan lain. Aku dan Arga harus pintar dan bergantian untuk mengurus keduanya.


Aku sedang menidurkan Alma di ruangan bermain, ada sebuah kasur tipis tempat Azka dan Gara tidur di sini, selepas bermain biasanya mereka akan tidur siang hingga menjelang sore hari. Azka sedang bermain bersama dengan Mbak Sus dan Mbak Sari, sedangkan Gara masih di sekolah, biar lah mereka sibuk mengejar Azka yang kini sudah senang merangkak.


Bersyukur sekali karena Azka setelah berusia satu tahun kesehatannya sangat baik, meski belum bisa berjalan. Kata ibu, Azka sepertinya sedikit malas untuk berlatih berdiri atau berjalan, baru beberapa detik saja berdiri dia menjatuhkan dirinya dan lebih memilih merangkak daripada melangkahkan kakinya. Akan tetapi, siapa yang menyangka jika dia akan merangkak dengan sangat cepat sehingga aku saja kadang kewalahan jika dia sudah bergerak.


Lelah, mengantuk, kurang tidur menjaga Alma dan juga Azka bergantian setiap malamnya. Aku dan Arga membeli kasur lain dan kami tempatkan di kamar, salah satu dari kami tidur bergantian dengan anak bayi kami. Jika Alma sedang nyenyak dan Azka mencariku, aku pindah ke dekatnya, sedangkan Alma bersama dengan ayahnya. Begitulah kehidupan bahagia kami setiap malam.


Aku masih belum berani mendekatkan Azka dan Alma saat tidurnya, pernah pada suatu malam saat kami belum terpikirkan untuk membeli kasur baru, kami tidur dalam satu ranjang karena semenjak ada Alma, Azka tidak mau tidur di box-nya. Dia selalu rewel dan menangis sehingga kami harus membawanya tidur satu ranjang.


Tempat tidur itu kami geserkan ke dekat dinding, tidur dengan posisi melintang agar kami semua bisa bersama dan tidak sempit, meski kaki Arga melebihi lebar kasur tersebut, tapi mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa kami lakukan saat itu.


Awal dari ide membeli kasur baru adalah ketika malam itu, saat kami sedang terlelap, tiba-tiba saja Alma menangis keras, aku dan juga Arga terbangun dan melihat Azka sedang meremas pipi Alma. Jelas saja gadis kecilku menangis karena saat aku melihatnya ada guratan dari kuku Azka di sana. Entah lah, bukan hanya satu kali, tapi aku rasa Azka sedikit sering membuat adiknya menangis. Baik itu sebuah cubitan atau pukulan.


Ah, rasanya terkadang aku pusing, bagaimana caranya agar Azka tidak seperti itu kepada Alma yang baru saja berusia dua bulan.

__ADS_1


Kantuk tidak dapat aku tahan lagi saat aku memberikan ASI untuk Alma, rebahan dengan bantal yang aku tumpuk dua di bawah kepala sehingga posisiku lebih tinggi dari Alma, itu posisi ternyaman untuk tiduran sambil memberikannya ASI. Tanpa sadar aku ikut tertidur lelap.


...***...


Suara tangisan keras terdengar sehingga aku terbangun dari tidurku, terkejut karena sudah ada Azka di samping Alma, tangannya sedang memukul wajah Alma sehingga menangis lagi.


"Astagfirullah!" Aku bangun, refleks mengangkat Alma. Dan menjauhkannya dari Azka. Anak lelaki ku itu tidak merasa bersalah sama sekali, tertawa saat Alma menangis. Dia juga mengangkat kedua tangannya, seperti ingin digendong.


"Kaka, gak boleh nakal," ucapku padanya. Rasa pusing di kepala aku abaikan akibat terlelap dan bangun dengan tiba-tiba.


"Aah!" teriak Azka. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang menyusul Azka ke ruangan ini. Alma masih menangis, aku timang dia di atas pangkuan sambil menepuk pahanya.


"Astagfirullah, Kaka ada di sini? Hayoo pasti nakal lagi ya sama Alma?" tanya Mbak Sus segera menyimpan piring dan mengambil Azka, memangkunya.


"Maaf, Bu. Tadi Azka ada di dapur, tapi kok ngilangnya cepet banget," ucap Mbak Sus merasa bersalah. Aku masih membujuk Alma, masih menangis meski tidak lagi kencang seperti tadi. Sadar dengan kancing bajuku yang belum tertutup, dengan satu tangan aku mengancingkannya kembali.

__ADS_1


"Alma dipukul lagi ya? Kaka jangan dong kasihan Alma." Mbak Sus memberi peringatan dengan telunjuknya, mencubit hidung Azka gemas.


"Saya ketiduran barusan, Mbak. Gak sadar kalau Azka ada di sini. Duh, ini anak masih aja galak sama adiknya. Gimana ini nanti? Sampai kapan Azka mau begini sama Alma?" tanyaku khawatir.


"Ya, wajar sih. Namanya anak yang lahir jaraknya gak jauh memang begitu, cemburu, takut kalau sampai gak diperhatikan lagi sama ayah dan ibunya. Semoga aja nanti kalau udah besar gak gitu, ya?" ucap Mbak Sus pada Azka.


"Kaka makan yuk sama Mbak Sus. Ayo makan di luar," ucap Mbak Sus mengajak Azka. Anak itu menepis tangan Mbak Sus kasar dan kembali mengulurkan tangan padaku.


"Sudah, Mbak. Azka sama saya aja. Tolong titip Alma deh, udah minum ASi dia, gak akan minta ASI lagi kayaknya," ucapku meminta. Mbak Sus mengangguk dan mengambil alih Alma yang sudah berangsur tenang. Wanita itu membawanya keluar untuk mengajaknya bermain.


"Kaka mau sama Mama? Sini, Sayang!" Aku mengulurkan tangan, Azka tertawa dan segera merangkak cepat ke arahku. Piring aku raih dari dekatku dan menyuapinya dengan perlahan. Azka terlihat sangat senang sekali disuapi olehku.


Melihat senyumnya yang sangat bahagia membuat aku tiba-tiba merasa sedih. Apakah dia sudah kekurangan kasih sayangnya dariku? Memang aku akui, sekarang ini tidak banyak waktu ku untuk menjaga Azka semenjak adanya Alma. Akan tetapi, aku harus bagaimana? Rasa-rasanya jika Azka terus dekat dengan Alma kasihan dengan adiknya itu.


Tanpa terasa air mataku menetes, aku terisak sambil menyuapi Azka. putraku itu menatapku, memiringkan wajahnya, kedua tangannya menyentuh pipiku dan menepuknya dengan pelan.

__ADS_1


"Aah!" Dia bersuara lagi. Aku tersenyum ke arahnya, matanya kini ikut berkaca-kaca seakan dia juga ikut sedih melihatku yang seperti ini.


Aku memeluk Azka dengan erat, sedih rasanya hati ini, merasa bersalah karena aku belum bisa menjadi ibu yang baik bagi Azka dan bagi anak-anakku yang lain.


__ADS_2