
Warning: Ini adalah bab penjelasan kenapa Ibu Ayu gak suka Arga. Yang gak suka part ini mohon lewati saja daripada komen bertele-tele (tapi emang iya sih sebenarnya π€£), daripada membuat author badmood, (Ish author galak bener!). Terserah!! Daripada mogok gak updateπ π€£π€£.
...ππ ...
...*************...
"Bye. See you tomorrow. Siapkan mental untuk aku bully lagi besok!" Kulihat dia melambaikan tangannya sambil berjalan meninggalkanku.
Aku menatapnya dengan kesal. Terkadang ingin seperti salah satu tokoh dalam serial di TV. Dengan tatapanku, aku bisa membuat lubang di punggungnya seperti Nyai-Nyai berbaju putih yang sering kelayapan terbang-terbang malam-malam. Ish, aku kok memikirkan hal itu. Serem juga memikirkan si Nyai.
Aku masih terdiam di trotoar selepas kepergian Arga. Aku mensugesti pada diriku sendiri agar aku bisa sembuh tanpa menggunakan obat. Entah sampai kapan, tapi aku harus tetap mencobanya.
"Nih!" Suara itu kembali terdengar. Aku masih menunduk, kini menatap sepatu yang sama seperti beberapa saat yang lalu aku lihat. Sebuah kantong kresek plastik transparan dia sodorkan kepadaku.
"Apa ini?" tanyaku seraya mengangkat kepala.
"Permen," jawabnya asal. Dia menggerakkan tangannya lagi, lalu mengisyaratkan dengan dagunya agar aku menerima apa yang dia beri.
"Terima kasih," ucapku padanya sambil meraih plastik itu dari tangannya, terlihat ada dua benda di dalam sana. Satu lembar obat berwarna hijau dan sebungkus roti.
"Em ... Aku gak ada uang. Besok aku ganti, ya."
"Gak usah. Kamu besok-besok mana ada uang untuk gantiin obat itu! Buat saja bekal doubel biar kamu gak kelaparan!" ujarnya lalu dia kembali meninggalkan aku disana seorang diri.
Aku terpaku mendengar ucapannya tadi. Aku mengerti dengan apa yang dia maksud, seperti berkata 'karena besok kami akan mengambil uang jajanmu lagi'. Mungkin seperti itu maksud dari artian yang tadi.
Mata ini masih menatap langkah kakinya yang mulai menjauh.
Bibir ini menyunggingkan senyum. Tidak aku sangka si anak arogan yang selalu jahil itu baru saja memberikan aku makanan dan obat. Dari mana dia tahu ini obat yang sering aku makan? Dan bagaimana dia tahu aku sakit apa?
Aku tidak mau ambil pusing. Segera aku makan obat itu dengan menyesapnya. Lebih enak dan dianjurkan disesap dari pada dikunyah atau langsung di telan. Lagipula aku juga sudah kehabisan air minum, sedangkan roti yang dia berikan aku masukkan ke dalam tas. Tidak aman bagiku untuk makan di saat perut ini masih terasa sakit.
Tak selang berapa lama, perut ini lebih enakan. Sakitnya berangsur hilang meski tidak seratus persen sembuh. Aku bisa melanjutkan perjalanan pulangku. Beruntung rumah tidak terlalu jauh dari sini. Hanya berjarak satu kilo lebih sedikit, aku bisa berjalan kaki pulang ke rumah. Dasar Arga dan kelompoknya! Selalu saja membuat aku pulang berjalan kaki hampir setiap hari!
__ADS_1
...Β *...
Kembali pada kenyataan jika itu tadi hanya ingatan. Rasanya tidak menyangka jika aku akan mengingat kejadian di masa lalu dengan Arga lagi.
Aku menatap Ibu yang semakin terlelap. Dengkuran halusnya terdengar dengan jelas di malam yang sunyi ini. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tapi rasa kantuk sepertinya enggan untuk menghampiriku.
Kembali aku menatap layar di hpku, begitu banyaknya fotoku dengan Arga kembali menyeretku ke masa lalu.
...Β *...
Semenjak kejadian itu, Arga menjadi lebih baik terhadapku. Sedikit.
Setiap hari, bukan hampir, tapi memang setiap hari dia akan datang ke kelasku untuk mengambil jatah bekalnya. Ya setelah kejadian itu aku tidak mau lagi merasakan sakit dan berakhir telat pulang ke rumah. Ibu sempat khawatir saat menjelang sore aku baru sampai di rumah.
Aku tidak mengerti kenapa dengan dia. Apakah dia tidak pernah sarapan di rumah? Dia sangat lahap memakan bekal makananku.
Risih sebenarnya dia selalu saja datang setiap pagi ke kelas dan makan makanan milikku, jatah dia. Tatapan orang lain kepadaku mulai berubah karena dia yang seenaknya saja masuk ke dalam kelas dan tiba-tiba membuka tasku dengan tanpa permisi. Sungguh orang yang tidak punya sopan santun! Dia duduk di sampingku dan tak peduli dengan pandangan orang lain dia mulai makan dengan perlahan.
Bisik-bisik dengan nada sindiran kerap kali terdengar, terutama dari siswi yang menjadi idolanya. Arga mempunyai fans tersendiri. Bahkan, aku dengar mereka membuat sebuah grup di aplikasi pesan berwarna hijau dengan nama Arga Lover.
"Aku suka sama kamu, Ayu!" Dia berteriak dengan lantang di hadapan banyak siswa waktu itu. Aku sempat terpana mendengar dia yang mengatakan hal itu. Tidak percaya, tapi dia meyakinkan aku di hadapan banyak orang.
Manis?
Romantis?
Hal yang banyak siswi inginkan ketika seseorang yang mereka suka menyatakan cinta, tapi tidak denganku. Aku malu. Malu sekali waktu itu. Tidak menyangka juga jika dia suka terhadapku dan menyatakan perasaannya di hadapan semua orang.
Beberapa saat lamanya aku mengenal dia, memang aku juga memiliki rasa tapi aku kira masih sedikit. Hanya saja aku senang dekat dengan dia. Cinta monyet, mungkin. Haha. Dan aku pikir karena seringnya kami bertemu. Diana sering mengejekku, benci jadi cinta. Mungkin saja. Aku belum mengerti cinta waktu itu, hanya senang dekat dengan dia. Sebatas itu.
Arga bilang dia suka menjahiliku karena aku seringkali menyendiri di dalam kelas, jika bukan dengan Diana aku lebih suka sendiri. Dia juga menjelaskan dengan perasaannya waktu itu, ingin dekat denganku dan ingin mengenalku, tapi karena dia melihat aku yang sering menghindar dari para siswa jadi dia mendekatiku dengan cara menggangguku. Aneh!
Hubungan kami baik selama hampir satu tahun. Ibu juga cukup mengenal Arga karena pernah beberapa kali mengantarku pulang.
__ADS_1
Kami berencana akan melanjutkan hubungan ini sampai lama, sampai kuliah dan juga sampai menikah. Setidaknya kami pernah punya impian yang sama waktu itu. Sampai tiba waktu itu ....
Seorang teman Arga menjemputku, dia bilang Arga yang menyuruhnya. Kami pergi ke sebuah apartemen dan benar saja Arga ada disana, ternyata temannya itu berbohong padaku. Arga tidak menyuruhnya, tapi temannya itu mengatakan pada kami, ini kejutan karena Arga terlihat bersedih beberapa hari ini dan dia bilang ingin mengembalikan mood Arga dengan mendatangkanku.
Beberapa orang ada di sana, aku tidak terlalu mengenalnya. Laki-laki dan perempuan kini bersama dengan beberapa minuman ada di atas meja.
Mereka menawariku, aku tidak mau. Sebodohnya aku, melihat botol yang seperti itu, aku menaruh curiga jika itu bukan minuman biasa. Aku juga menolak apa pun yang mereka tawarkan.
Aku dan Arga akhirnya hanya mengobrol biasa, tidak peduli dengan orang lain yang aku sendiri malu melihatnya. Meski kontak fisik sebatas berciuman, tapi mereka tidak malu terlihat oleh yang lainnya.
Pintu ruangan itu tiba-tiba dibuka paksa dari luar, membuat kami semua menoleh ke arah yang sama. Beberapa orang berseragam polisi masuk ke dalam ruangan seraya mengacungkan pistol ke arah kami membuat gaduh isi di dalam ruangan ini.
Beberapa yang lain masuk dan menangkap kami semua, termasuk aku. Aku terkejut dan juga takut, aku mencoba berontak, tidak tahu dengan apa yang terjadi. Hanya ucapan polisi itu yang jelas menyebutkan jika disini sedang ada pesta narkoba.
Singkat cerita, kami dibawa paksa ke kantor polisi. Meski aku bilang tidak ikut serta dengan pesta itu, tapi aku berada di sana. Percuma aku menangis sampai lelah, mereka tidak mendengarkanku.
Wali kami datang satu persatu, tak terkecuali Bapak dan Ibu. Waktu itu Bapak masih ada, belum terkena sakit. Bapak tentu marah, Ibu juga sama. Tidak menyangka jika putrinya berada di dalam pesta seperti itu. Aku menjelaskan pada Ibu dan Bapak, tapi tak lantas mereka percaya sebelum ada bukti. Barulah setelah bukti hasil tes urine negatif Ibu dan Bapak bisa bernapas dengan lega, tapi akibatnya Ibu dan Bapak tidak memperbolehkanku berhubungan dengan Arga lagi. Dia adalah pengaruh buruk untukku.
Aku menangis saat Ibu dan Bapak berbicara dengan Arga mengenai hal itu, menyuruh dia untuk menjauhiku. Sungguh ini adalah hal yang berat untuk aku. Kulihat Arga juga sampai berkaca-kaca menatap aku dengan diam. Sorot matanya seakan mengatakan maaf.
Sampai di rumah, Ibu dan Bapak menasehatiku. Tentang apa yang akan terjadi jika aku masih berhubungan dengan Arga. Pemuda yang baik itu ternyata buruk kelakuannya di belakang, tapi aku yakin dia melakukan itu karena dia kesepian, kekurangan perhatian yang seharusnya masih dia dapatkan.
Hari-hari di sekolah aku jalani dengan sepi. Arga tidak pernah terlihat lagi. Ada yang bilang kalau dia dikeluarkan. Ada juga yang bilang kalau dia direhabilitasi. Juga ada yang bilang kalau dia dibawa ayahnya ke luar negeri. Semenjak itu aku tidak tahu kabarnya lagi. Hanya sepi dalam hati yang aku ratapi dan selalu teriring doa untuk dia, semoga saja dia bahagia dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Tidak ada kabar apapun dari dia dan aku juga tidak berusaha menghubungi dia, demi permintaan Ibu dan Bapak yang memohon padaku untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Aku mencoba melupakan dia yang sulit untuk aku lupakan, hingga akhirnya aku bertemu dengan sosok Mas Hilman saat memasuki bangku kuliah.
Mungkin itu sebabnya tadi saat Ibu mendengar aku bertemu dengan Arga, Ibu takut aku akan seperti dulu. Takut jika Arga akan mempengaruhiku, meski aku sudah menjelaskan dulu, jika Arga tidak pernah membawaku ke tempat itu. Dia tidak pernah mempengaruhiku dengan hal yang negatif. Bahkan selama kami berpacaran, dia selalu menghormatiku. Tidak pernah melanggar batas.
Sudah lah, semua itu hanyalah masa lalu. Arga tidak nyata, karena kini dia tidak ada di depanku, tapi Ibu nyata ketakutannya akan menjadi rasa bersalahku. Lagipula kami juga sudah punya kehidupan masing-masing sekarang ini.
...****************...
Sekian bab penjelasan ini. Mohon maaf lahir dan batin
__ADS_1
...ππ...