Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
119. Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Senang pasti karena aku diterima bekerja disini. Akhirnya aku punya kegiatan lain dan bisa menambah pundi rupiahku. Uang yang ada di dalam tabungan memang masih lumayan banyak, sisa dari penjualan tanah di kampung dan juga hasil dari menulisku selama ini, tapi aku juga tidak boleh terlalu santai dengan apa yang ada. Masa depan tidak ada yang tahu akan terjadi hal apa pada kita.


Hari ini setelah menandatangani kontrak kerja, aku mulai bekerja. Training selama tiga bulan. Ini mengingatkanku dengan perusahaan pertamaku bekerja.


Gaji yang ditawarkan disini juga lumayan, UMR dan ada beberapa tambahan bonus lainnya, tapi itu nanti, setelah masa trainingku selesai dan lanjut dengan kontrak selanjutnya.


Aku di tempatkan di dalam sebuah ruangan bersama dengan tiga orang yang lain, satu laki-laki dan dua wanita, masing-masing menempati meja dengan komputer di depannya. Tugasku sama dengan mereka, menginput dan output data yang masuk ke perusahaan ini.


"Selamat bekerja, ya. Kalau ada hal yang Mbak Ayu tidak mengerti, Mbak Ayu bisa tanyakan sama Desi," ujar Bu Husna, seorang dari HRD yang mengantarku ke ruangan ini.


"Iya, Bu. terima kasih."


"Saya kembali ke ruangan saya. Semoga Mbak Ayu bisa menyesuaikan diri dengan yang lainnya," ucapnya lagi.


Bu Husna pergi meninggalkan aku di meja yang kosong.


Desi yang tadi ditunjuk oleh Bu Husna berdiri dan mendekat ke arahku, dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.


"Mbak Ayu, ya? Saya Desi. Itu Nina, dan yang paling ganteng sendiri Amar." Desi, wanita yang aku perkirakan di bawah usiaku memperkenalkan diri. Nina, dari tempatnya melambaikan tangan, dan Amar juga tersenyum padaku.


"Iya, Mbak. Saya Ayu, salam kenal semuanya."


Desi memintaku untuk duduk dan mengajari apa saja yang harus aku lakukan di sini. Angka-angka dan tabel yang ada di layar komputer terlihat sedikit rumit, mungkin karena sudah lama sekali aku tidak bekerja.


"Bisa?" tanya Desi setelah mengajariku beberapa saat lamanya. "Mbak Ayu hanya perlu meng-input dan meng-output data saja. Sesekali ikut dengan saya atau Amar untuk ke lapangan. Pengecekan beberapa barang dan laporan," ucap Desi.

__ADS_1


"Baik, Mbak."


"Jangan panggil, Mbak. Desi saja. Lagipula kita kayaknya gak terlalu jauh dari segi usia," ucapnya lagi.


Jam makan siang, Desi, Nina dan Amar mengajakku ke kantin untuk makan siang. Kantin disini khusus untuk orang-orang yang ditempatkan di kantor, sedangkan khusus untuk karyawan pabrik ada di beberapa titik lain di masing-masing bagian.


Baru aku tahu, ternyata bagian belakang sangat luas sekali, gedung-gedung berjejer rapi. Forklift hilir mudik membawa beberapa tumpuk keranjang. Nina bilang itu adalah bahan mentah pembuatan benang. Mereka memindahkannya dari mobil boks ke gudang.


"Nanti sesekali kita adakan inspeksi ke lapangan. Aku paling seneng kalau ada inspeksi kayak gitu," ujar Nina sambil tersenyum.


Aku bingung, apa yang membuat Nina, wanita yang katanya beda usia empat tahun denganku sedang jika sedang inspeksi?


"Ya lah seneng, kan bisa marah-marah kamu di sana!" Amar menjawab dengan sedikit mencibir. Aku semakin bingung.


"Kenapa marah-marah?" tanyaku pada Amar.


"Jadi, ceritanya pengen marah sama atasan tapi gak bisa nih yee? Jadi karyawan lain yang kena omel?" Aku tertawa saat Desi dan Amar menyetujui ucapanku.


"Ya kan, marah juga ada alasannya, Mbak. Selain di kantor, jenuh dengan suasana dan ketemu sama dua orang yang sama terus setiap hari selama tiga tahun, Bu Melda kan juga sering marah-marah kalau laporan salah. Kan kami juga meneruskan laporan dari bagian lain, tahu-tahu, Bu Melda datang sambil marah-marah karena laporan ada selisih," ujar Nina terdengar dengan sedikit kesal. Desi dan Amar kembali setuju dengan apa yang Nina katakan.


"Ooh, lumayan rumit juga, ya."


Tiga orang itu mengangguk bersamaan. "Makanya itu, Mbak. Kita sesekali inspeksi ke beberapa tempat, selain untuk mengurus laporan juga untuk melihat kinerja anak pabrik kalau gak ada kita, apa mereka kerja dengan baik atau malah leha-leha."


"Kadang kan mandor sama aja tuh malah santai kerjanya, anak buah lelet dia biarin aja. Kan kalau mereka bisa mengerjakan dengan maksimal bisa tuh mereka pangkas waktu beberapa detik. Kali saja, berapa detik untuk sepuluh kali angkut tuh karung bahan benang, kan lumayan dalam satu jam bisa nambah tiga kali angkut lagi!" Amar menjelaskan anjang lebar.

__ADS_1


"Eh, Kakak ngerti gak ya aku ngomong panjang lebar?" Amar tersadar saat aku hanya mengangguk mendengar penjelasannya yang sepanjang jalan kereta.


"Ngerti. Kerja harus maksimal, biar gak boros waktu," ucapku. Amar tersenyum senang dan bertepuk tangan. Wajahnya yang tampan semakin tampan saat dia tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.


Makanan yang kami pesan baru saja datang. Kami memulai makan siang kami bersama. Kantin lumayan penuh dengan orang-orang yang berseragam. Desi menunjuk beberapa orang dengan seragam yang sama, tapi warna yang berbeda. Montir, kepala bagian, ada juga pengawas.


Suasana disini sedikit ramai, makan siang seraya berbicara satu sama lain. Pastilah karena di saat jam kerja mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Jam istirahat telah selesai. Waktu satu jam untuk makan dan melakukan solat sudah sangat cukup bagiku. Nina dan Amar mengeluh, jika saja waktu istirahat diperpanjang setengah jam saja lagi, mereka ingin rebahan terlebih dahulu.


Nina dan Amar berjalan di depanku sambil bersenda gurau, aku dan Desi di belakang mereka sambil bertanya bagian apa saja yang ada di dekat sini. Desi dengan senang menjelaskan sambil menunjuk sana sini beserta penjelasannya.


"Mbak, nanti sore pulang dijemput suami?" tanya Desi padaku.


Aku menggelengkan kepala. "Enggak, aku single sekarang ini," ucapku.


"Hah single, maksudnya divorce?" tanya Desi. Amar dan Nina menoleh seketika mendengar seruan Desi.


"Iya, baru beberapa bulan," jawabku.


"Maaf, Desi gak tau," ucap anak ini tidak enak.


"Tidak apa-apa," jawabku lagi.


Kami meneruskan perjalanan kembali ke kantor kami, melewati gedung yang sangat bagus sekali, di dalam sana masuk ke dalam pintu kaca, ada tulisan di dinding dengan nama PT. RC dengan tulisan berwarna silver. Desi bilang, di sana adalah tempat si pemilik perusahaan ini. Eka, namanya, kantornya ada di lantai dua gedung tersebut.

__ADS_1


"Ganteng banget loh, Pak Eka tuh. Aku pernah ke ruangannya beberapa kali. Duh, rasanya lutut lemes lihat dia dari kejauhan apalagi ini, ada di depan dia. Pengen pingsan deh rasanya!" ujar Desi dengan nada lebaynya.


__ADS_2