
"Kamu itu dari kemarin kenapa sih, Yu? Kok kelihatannya kamu sedih dan suka melamun," tanya Ibu saat kami akan makan siang. Aku tersadar dan mengalihkan pandanganku kepada Ibu. Ibu menatapku dengan tajam. Makanan yang ada di depannya baru sedikit dia makan.
"Ayu nggak apa-apa kok Bu," ucapku seraya tersenyum ke arahnya. Sinta dari tempatnya melirikku dengan diam. Dia melanjutkan makannya kembali.
"Kamu beneran gak ada masalah sama Hilman kan," tanya ibu lagi.
Aku melirik ke arah Sinta. Rasanya tidak pantas kalau membicarakan hal ini di depan dia.
"Tidak ada, Bu." Aku menegaskan. "Sudah deh. Ibu kenapa sih kok nanya gitu terus dari kemarin? Ayou ini pulang ke sini untuk menengok ibu, kok ibu bertanya terus seperti itu!" jawabku dengan seruan.
"Syukur deh kalau nggak ada apa-apa. Kalau kamu ada masalah, kamu cerita ya sama ibu. Jangan dipendam sendirian," ucap Ibu lagi. Aku menganggukkan kepalaku lalu kami kembali melanjutkan makan.
Makan siang telah selesai, Ibu pergi ke kamar untuk beristirahat sedangkan aku dan Sinta membereskan meja makan.
"Mbak beneran gak ada masalah sama Mas Hilman?" tanya Sinta tiba-tiba yang membuat aku menoleh kepadanya. Air yang mengucur dari wastafel mengalir begitu saja melewati tanganku.
"Aku kemarin sempat ke rumah Mbak. Waktu itu ada seorang wanita hamil di rumah. Dia bilang Mbak nggak ada di rumah. Mbak lagi cari kerjaan. Siapa dia Mbak?" tanya Sinta yang membuat aku terkejut. Aku terdiam mematung. Tubuhku menegang mendengar pertanyaannya.
"Dia nggak mungkin adiknya Mas Hilman kan?" tanya Sinta lagi tanpa menoleh ke arahku. Tangannya sibuk menyabuni piring dan menyerahkannya kepadaku.
Dadaku berdebar mendengar dia bertanya seperti itu.
"Aku sudah bukan anak kecil lagi Mbak." dia berkata lagi.
Aku menghembuskan nafasku dengan kasar.
"Maaf kalau aku lancang bertanya seperti ini. Cuma aku takut kalau suatu saat nanti aku salah bicara atau mungkin Budhe melihat atau mendengar hal ini dari orang lain. Aku akan menjawab apa kalau Budhe bertanya seperti itu?" ucap Shinta yang mengandung pertanyaan.
__ADS_1
"Kenapa kamu ke rumah Mbak?" tanyaku. Kugerakan tangan ini kembali membersihkan piring dan gelas.
"Waktu itu aku terpaksa ke sana untuk mencari Mbak Ayu. Budhe sedang sakit, tapi Mbak nggak ada di rumah. Aku nggak mau ganggu Mbak, jadinya aku pulang lagi." Sinta menjawab. Kami kemudian terdiam sambil melakukan aktivitas.
"Jangan bicarakan hal itu sama ibu ya," pintaku kepadanya. "Tolong jangan bilang kalau ada wanita lain di rumah Mbak. Mba takut ibu akan syok."
"Jadi dia itu siapa? Apa benar dia juga istri Mas Hilman?" tanya Sinta lagi. "Jangan bohong sama aku Mbak aku dengar dari tetangga Mbak kalau dia itu istri Mas Hilman juga," ucap Sinta.
Akhirnya apa yang aku sembunyikan selama ini, tidak bisa aku sembunyikan lagi. sepandai dan serapatnya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya.
"Benar. Dia juga istri Mas Hilman. tolong Sinta, jaga rahasia ini dari Ibu." pintaku kepadanya.
"Tapi kenapa harus dirahasiakan sih, Mbak? ini hal yang besar loh. Kenapa Mba harus merahasiakan ini dari kami," tanyanya.
Aku membilas piring terakhir. "Kamu tahu sendiri kan kalau ibu sedang sakit. Apa yang akan terjadi kalau ibu tahu Mbak didua?" tanyaku dengan menoleh kepadanya.
"Untuk apa? Untuk apa Mas Hilman menikah lagi" tanya Sinta lagi.
Aku menoleh ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Tidak berbicara sama sekali dengan apa yang terjadi. Hanya memeluknya saja dan menumpahkan rasa sedihku selama ini.
Shinta hanya mengelus punggungku dengan lembut dan menepuknya beberapa kali.
Hal itu membuatku menangis dengan hebat. Aku tidak ingin membebaninya dengan permasalahanku. Dia sudah cukup tahu tanpa aku berbicara kepadanya. Semoga saja di masa depannya nanti dia tidak trauma melihat aku yang seperti ini.
"Aku turut sedih Mbak. Mbak yang kuat ya," ucapnya. Aku hanya mengangguk seraya mengusap air mataku.
"terima kasih," ucapku kepadanya. Hati ini rasanya lega sekali. Selama ini aku hanya memendam perasaanku sendirian, tapi kali ini ada seseorang yang mengerti tentang hidupku. Aku merasa senang sekaligus sedih.
__ADS_1
Sinta menatapku dengan iba. Dia memberikan senyum terbaiknya.
"Hapus air mata Mbak. Biasanya Budhe nggak akan tidur lama kalau siang," ucapnya memperingati ku. Aku hanya mengangguk lalu membasuh wajahku.
***
"Yu, boleh Ibu bicara sebentar?" tanya Ibu saat kami sedang makan malam.
"Bicara apa, Bu?" Aku balik bertanya.
"Itu ... Ibu mau bertanya soal tanah kebun almarhum ayah kamu," ucap ibu yang membuat aku menatapnya.
"Tanah kebun yang mana?" tanyaku bingung. Aku tidak tahu perihal tanah kebun. Jika sawah milik ayah aku tahu dari dulu. Tidak luas, tapi cukuplah untuk menghasilkan gabah setiap panen. Kami hampir tidak pernah membeli beras. sawah itu dikelola oleh adik dari ayah, –pamanku–. dibayar dengan menggunakan hasil panen. dibagi dua dengan si pemilik lahan.
"Dulu ayah kamu membeli sebuah tanah kebun di desa, tadinya itu akan ibu berikan sama kamu nanti. Siapa tahu kamu ingin punya rumah di desa, tapi Ibu minta maaf. Ibu akan meminta keikhlasan kamu untuk menjual lahan kebun itu. Uangnya akan Ibu gunakan untuk biaya operasi. Kamu tidak keberatan kan? Kamu masih ada rumah ini dan juga sawah. Ibu sudah meminta Mamang kamu untuk menawarkan tanah kebun itu kepada orang lain," ucap Ibu dengan pelan. Terlihat wajahnya sedih saat mengatakan hal itu.
Aku menatap ibu lalu menganggukan kepalaku dengan cepat. Tidak menyangka jika kami masih punya yang lain untuk bisa mendapatkan uang. Beberapa hari yang lalu aku memikirkan untuk menjual sawah saja, tapi belum aku bicarakan dengan Ibu. Aku juga takut Ibu menolak karena itu adalah peninggalan ayah selain rumah ini.
"Tidak apa-apa, Bu. Tidak apa-apa Ibu menjualnya. Lagi pula Ayu juga sudah punya rumah kok. Lebih baik gunakan saja untuk kesehatan ibu, kalau itu masih kurang sawah juga nggak apa-apa ditawarkan. Ayu juga ada tabungan sedikit kalau itu masih kurang!" jawabku dengan cepat.
Ibu menatapku dengan mata yang sudah membasah. dia mengambil tanganku dan mengelus punggung tangan ini dengan lembut.
"Terima kasih," ucap Ibu kepadaku. Aku menggelengkan kepala. Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih kepada Ibu.
"Jangan berterima kasih kepada Ayu. Ayu bahkan belum bisa membahagiakan ibu."
***
__ADS_1
Mampir juga kesini ya....