Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
209. Kemana Arga?


__ADS_3

Aku tersadar pada keadaan di pagi hari. Matahari sudah terlihat tinggi sehingga sinarnya menyorot dengan sangat kuat ke dalam kamar. Aku terperanjat oleh karena hal itu.


Melihat jam yang ada di dinding kamar ini sudah sangat siang sekali. Sudah hampir jam sembilan pagi.


Kenapa tidak ada yang membangunkan ku?


Aku segera bergegas turun dari atas kasur udah menuju ke kamar mandi. Arga juga sudah tidak ada di kamar ini. Entah dia sudah pergi kemana.


Selesai mandi aku pergi keluar kamar dan menemui asisten rumah tangga. Mereka sedang sibuk bekerja sama membersihkan rumah.


"Arga pergi pagi sekali?" Tanyaku mengulang saat assistant mengatakan jika Arga pergi di pagi buta. Aku sungguh tidak sadar sampai tidak tahu jika dia pergi di pagi hari. Semalam dia juga tidak mengatakan apa-apa. Yang aku ingat aku tertidur saat dia memijatku.


Ah betapa payahnya aku menjadi seorang istri dan juga Ibu.


"Apa gara tadi tidak menanyakanku?" Tanyaku kepada asisten.


"Nanya sih, tapi tahu ibu masih tidur nggak lagi nanya," ucapnya lagi.


"Mau sarapan biar saya siapkan," ucap wanita itu kepadaku. Aku tentu menganggukan kepala karena rasanya perut ini sangat lapar sekali.


Makanan sudah tersedia dan akupun makan sarapan pagi yang sudah terlambat.


Selesai sarapan Aku pergi ke sekolah Gara, tidak peduli meskipun Arga melarangku untuk pergi ke sana tapi aku ingin melakukannya lagi. Seperti kemarin saja aku akan menunggunya di luar sekolah.


Sebelum aku pergi aku menemui ibu mertua terlebih dahulu. Ibu berada di kamarnya sedang dimandikan oleh Nira dengan cara dilap tubuhnya.


"Apa Ibu sudah makan?" Tanyaku kepada Nira. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan mengatakan jika Mama tidak ingin makan sama sekali. Aku melihat ke arah jam yang ada di dinding. Seharusnya Mama sudah makan dua kali dengan menggunakan bubur.


"Biar aku saja yang menyuapi Mama, tolong ambilkan makanannya ya biar saya melanjutkan ini." mintaku kepada Nira. Gadis itu menganggukkan kepalanya selalu pergi ke arah dapur untuk mengambil makanan mama..


Aku memakaikan baju kepada Mama dengan perlahan. Pakaian daster yang sangat mudah untuk digunakan.


"Haifa, Haifa," ucap Mama memanggil nama itu lagi sambil menepuk-nepuk lenganku.


Aku tersenyum kepada Mama. "iya, Ma?" Meski rasanya aku tidak suka dengan panggilan itu tapi aku tidak boleh mengabaikan wanita tua ini.


"Ada apa?"


"Nanti kita pergi," ucapnya masih memukul-mukul tanganku dengan lembut.


"Pergi ke mana?" Daster itu aku kancingkan dengan benar.


"Nanti kita pergi," ucapnya lagi.


Nira masuk ke dalam kamar sambil membawakan makanan untuk mama. Aku mengambil alih mangkok tersebut darinya dan menyuapi mama sedikit demi sedikit.


"Kenapa mama belum sarapan?" Tanyaku pada beliau. Wanita tua ini tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya dan terus-menerus menyebutkan nama Haifa.


"Nenek dari tadi nungguin Ibu, makanya tidak mau makan," ucap Nira padaku.


Aku terdiam lalu mengambil satu sendok kecil bubur tersebut dan meniupnya dengan hati-hati. Sedang berpikir bagaimana jika aku tidak ada di sini, sedangkan setiap kali Mama makan lebih sering aku yang menyuapi.


Kusodorkan makanan tersebut ke arah mama. Wanita tua itu dengan senang hati membuka mulutnya dan menelan makanan tersebut. Aku senang mama bisa menerima makanan ini.


"Mama harus makan yang banyak biar sehat." Bagai memberitahu anak kecil, itulah aku sekarang kepada Mama. Tidak ada bedanya dengan Gara. Aku sayang sama orang yang ada di sini. Meskipun ini adalah mertuaku, tapi tanpa beliau tentulah tidak ada suamiku.


"Ayo makan lagi," ucapku kemudian menyodorkan suapan kedua, ketiga dan seterusnya sehingga bubur yang ada di dalam mangkuk ini berkurang setengah.


"Sudah, sudah."


"Kenyang," ujar wanita tua itu. Dia mengangkat tangannya tanda untukku berhenti menyuapinya.


"Mana obatnya Mbak?" Tanyaku kepada Nira. Wanita itu segera mengambil obat yang ada di dalam laci dan memberikannya kepadaku. Mama tidak sulit untuk memakan obatnya.


"Mama, Ifa jemput Gara dulu, ya?" Pamitku pada mama.


"Nanti pulang ya," ucapnya lagi masih mengelus tanganku.


"Iya nanti pulang Ifa ke sini lagi, pergi dulu ya takut telat." Kuambil punggung tangannya dan menciumnya dengan khidmat.


Mama mengganggukan kepalanya sambil menggerakkan tangannya tanda untukku segera pergi.

__ADS_1


"Titip mama dengan baik, nanti setelah pulang dari sekolah saya akan ajak mama ke taman," ucapku kepada Nira.


"Baik, Bu."


Aku pergi dari sana dengan tergesa karena takut terlambat menjemput Gara di sekolahnya.


Aku mencari sopir di rumah belakang, tapi laki-laki itu tidak ada.


"Ke mana Pak sopir?" Dan aku kepada asisten yang lain.


"Tadi menyusul bapak sesudah mengantarkan Gara."


"Ya sudah, saya yang akan menjemputnya sekarang," ucapku pada Mbak asisten lalu pergi mengambil kunci mobil.


Beruntung sekali mobil di rumah ini ada beberapa, aku diserahkan satu mobil untuk kegiatanku pergi ke sana kemari. Meski sangat jarang sekali aku mengenakannya.


Dengan kecepatan yang sedang aku mengendarai mobil ini. Sudah lumayan lama tidak membawa mobil sendiri, SIM rasanya juga percuma ada tapi seringkali tidak terpakai.


Sampai di sekolah hampir saja aku terlambat tidak lama setelah aku sampai bel pulang sekolah berbunyi. Tidak lama pula Gara dan pengasuhnya keluar dari sana.


"Papa mana?" tanya Gara padaku.


"Eh bukannya Papa sedang bekerja?"


"Tadi bilangnya mau jemput," ucap anak itu sedikit kecewa di raut wajahnya.


Aku tidak tahu sama sekali karena kesiangan bangun.


"Memangnya tadi Papa bilang begitu?" Tanyaku lagi padanya dan dibenarkan oleh pengasuhnya. Rasanya sedikit aneh juga mendengar Arga yang sudah berjanji tapi dia ingkar. Ada apa dengan laki-laki itu?


"Ya sudah sekarang kan ada mama kita pulang yuk." Dua orang itu masuk ke dalam mobil. Segera aku melajukannya membaur di jalanan untuk pulang.


Terpikir olehku apa yang terjadi, sampai dia ingkar janji seperti itu. Apakah ini ada hubungannya dengan hal yang terjadi semalam?


Pikiranku sedang kacau tidak bisa berkonsentrasi, sampai-sampai Aku membawa mobil ini dengan kecepatan yang pelan. Gara yang memanggilku juga aku tidak bisa mendengarnya, baru setelah pengasuhnya menepuk pundakku aku tersadar.


"Eh, iya ada apa?" Tanyaku kepadanya.


"Oh, di mana?" Tanyaku padanya.


"Di belakang sana, Bu," tunjuk Gadis itu di belakang.


Aku bertanya kepada asisten apa yang Gara inginkan, dia menyebutkan sebuah gerobak makanan yang berada sudah jauh dari sini. Terpaksa Aku mencari jalan untuk berputar balik.


Mobil berhenti pada sebuah gerobak makanan. Entah kenapa Gara mendinginkan makanan tersebut. Aku bahkan tidak tahu apakah dia diizinkan membelinya atau tidak. Tapi demi senyum anak itu tidak apa-apa lah sekali-sekali.


"Setelah ini kita pulang ya," ucapku padanya setelah kami kembali ke dalam mobil. Gara menikmati makanan yang ada di tangannya. Dia sampai belepotan memakan makanan tersebut.


Sampai di rumah hingga sore hari Arga tidak menghubungiku sama sekali. Di mana biasanya Suamiku itu ketika makan siang akan memberi kabar, atau paling tidak dua jam sekali dia akan menelepon. Akan tetapi, kali ini ke mana dia?


Aku khawatir segera mengambil ponsel dan menghubungi nomornya. Tidak aktif sama sekali. Berkali-kali aku mengirimkan pesan chat kepadanya juga Tidak dia balas. Aku semakin khawatir dengan keadaan dia. Segera aku menghubungi sekretaris yang ada di pabrik.


"Bapak sedari pagi tidak ada ke kantor," ucap wanita itu membuat aku terkejut. Jika Arga tidak ke kantor lalu ke mana dia?


"Kira-kira ke mana bapak pergi? Apa Mbak tahu?" Tanyaku kepada wanita itu.


"Maaf, saya tidak tahu karena saya menghubungi nomor bapak juga tidak aktif sama sekali. Saya juga sedang butuh Bapak karena ada pertemuan dengan seorang pemborong dari kota sebelah," ucapnya membuat getar di dalam dadaku semakin terasa.


Aku sungguh sangat khawatir dengan suamiku. Tidak biasanya ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi.


"Ya sudah terima kasih kalau begitu. Tolong kalau bapak datang ke kantor suruh bapak hubungi saya," pintaku memohon kepada wanita itu.


"Iya, Bu. Saya akan mengabari kalau bapak kembali ke pabrik."


"Terima kasih," ucapku sekali lagi padanya.


Aku memeluk ponselku di depan dada. Rasa khawatir semakin dalam saat mendengar dia tidak bisa dihubungi juga oleh sekretarisnya.


"Kira-kira dia pergi ke mana?" Gumamku dengan pelan. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Mencoba untuk mengusir rasa ini di dalam hati, tetapi tidak bisa sama sekali rasa ini pergi.


Aku pergi ke kamar Mama, janji dengan beliau akan membawanya ke taman sore ini. Dan entah kemana lagi maksud mama menyebutkan akan pergi tadi pagi.

__ADS_1


Mama sudah siap, dengan syal yang menutupi lehernya dengan nyaman. Aku dan Nira membawa Mama berjalan-jalan ke taman yang ada di dekat rumah. Kami hanya berjalan kaki saja, tidak pakai mobil kali ini karena kami tidak bisa menurunkan Mama jika dengan hanya menggunakan tenaga dua orang wanita. Pak sopir juga belum kembali sedari tadi.


Puas dengan berjalan santai di taman, kami kembali ke rumah. Di sana masih belum ada juga Arga yang biasanya telah pulang di jam empat sore hari, juga dengan keberadaan Pak Sopir yang sama belum kembali.


Aku meminta Nira untuk membawa Mama ke kamarnya dan memberinya makan. Sementara aku akan mengurusi Gara.


Saat aku melihat Gara di kamarnya dia sudah selesai mandi dan berpakaian.


"Ada apa Mama?" tanya Gara saat aku mendekat ke arahnya.


"Tidak ada apa-apa hanya ingin lihat kamu saja, ternyata anak mama sudah sangat tampan sekali," ucapku sambil tersenyum ke arahnya.


Jam sudah menunjukkan menjelang malam, aku mengajak Gara turun untuk makan. Akan tetapi, Gara hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa berniat untuk memasukkannya ke dalam mulut.


Aku pun sama seperti dia, rasanya tidak berselera untuk makan malam, merasa kehilangan seseorang yang sangat berarti di dalam hidupku.


Selesai dengan makan malam kami pergi ke kamar masing-masing.


Aku mencoba menghubungi Arga, tapi masih tetap sama ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali. Pesan chat yang aku kirimkan sedari pagi belum dia buka, masih saja centang satu belum berubah menjadi biru.


Aku khawatir selama ini dia pergi keluar dan belum kembali serta tidak mengabari. Ponsel Pak sopir juga sih dari tadi sama tidak aktif sama sekali. Aku bingung harus menghubungi siapa kali ini. Ingin menanyakan kabar tapi pada siapa?


Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Setengah berlari aku membukanya, Aku kira itu adalah Arga. Akan tetapi, itu adalah Gara.


"Hei, Sayang. Ada apa ke sini?" tanyaku kepada Gara.


Dia terlihat sedih masuk ke dalam kamar dan memelukku dengan erat.


"Ada apa?" tanyaku sekali lagi.


"Kenapa Papa belum pulang?" Aku terdiam mendengar pertanyaannya, sebenarnya bingung akan menjawab apa.


"Mungkin Papa sedang banyak pekerjaan di kantornya," ucapku menenangkan Gara.


"Tapi nggak biasanya Papa pergi sampai malam seperti ini," ucapnya padaku.


Memang benar apa yang Gara katakan. Arga tidak pernah pulang sampai malam seperti ini, apalagi dengan ponselnya yang tidak bisa dihubungi.


"Mau tidur?" tanyaku padanya. Gara menganggukkan kepalanya dan mengikutiku melangkah ke atas kasurku.


Aku menidurkan Gara seorang diri. Tanpa adanya Arga yang biasanya menidurkan anak ini berdua. Rasanya kehilangan saat-saat biasanya kami mengurusi Gara berdua kini hanya sendirian saja.


"Ayo cepat tidur, ini sudah malam," ucapku sambil mengelus punggung anak ini seperti biasanya.


Setelah darah tertidur aku kembali menghubungi nomor dua orang yang sedari tadi aku coba memanggilnya. Tetap saja dua nomor itu tidak aktif sama sekali. Kulihat jam yang ada di dinding kamar ini sudah hampir menunjukkan jam sepuluh malam. Rasa hati semakin takut. Banyak yang aku takutkan. Terkadang aku memikirkan sesuatu hal buruk terjadi.


Astagfirullahaladzim.


Kenapa aku menjadi suudzon seperti ini? Perasaan takut itu membuat aku berpikir tentang sesuatu hal yang buruk, yang lebih besar kemungkinan adalah kecelakaan.


Tidak!


Jangan sampai. Semoga saja tidak ada hal yang buruk terjadi kepada suamiku dan juga Pak sopir.


Aku membuka jendela kamar menatap ke arah luar, menikmati udara malam ini yang bersemilir dengan dinginnya. Udara di malam ini terasa dingin, jika biasanya saat harga ada di sini dia akan menyuruhku untuk menutup jendela dan menyuruhku memakai jaket apabila aku tetap ingin melihat ke arah luar. Akan tetapi malam ini aku tidak bisa mendengar suaranya dan tidak bisa menikmati sentuhannya.


Aku bingung, satu hal yang terpikir olehku sekarang adalah menghubungi papa. Kenapa tidak terpikirkan olehku dari siang untuk menghubungi beliau? Mungkin saja beliau tahu di mana keberadaan suamiku.


"Halo, assalamualaikum." Aku nekat menghubungi Papa di jam malam seperti ini.


"Waalaikumsalam, ada apa Ayu?" Tanya suara dari seberang sana terdengar sedikit lelah.


"Maafkan Ayu sudah mengganggu ketenangan istirahat Papa, tapi Ayu ingin bertanya apakah Arga ada di sana atau mungkin Papa tahu di mana dia?" Tanyaku kepada beliau.


Sejenak tidak terdengar suaranya, tapi kemudian saat aku ingin berkata lagi Papa menjawab, "Tidak tahu. Apa tidak bilang dia mau pergi ke mana?" Tanya Papa kepadaku.


"Tidak! Arga tidak kasih kabar sama Ayu dari semenjak pagi. Pergi bekerja pun Ayu tidak dibangunkan," ucapku dengan jujur.


Papa tidak memiliki jawaban di mana Arga berada sekarang membuat aku semakin bingung di mana dia. Aku meminta maaf kepada papa karena sudah mengganggu jam istirahatnya.


Aku kembali merasa bingung sendiri, tidak tahu siapa orang yang harus aku hubungi. Sesekali melirik ke arah Gara yang tidur dengan sangat pulasnya.

__ADS_1


Kemana dia?


__ADS_2