
Aku masuk ke dalam ruangan, terlihat ibu sudah sadar tersenyum ke arah aku yang baru saja mendekat. Sinta dan Yu Tarni berada disisi ranjang yang lain.
"Hilman, kamu datang, Nak?" Senyum ibu mengembang dengan lebar. Aku melirik ke arah sebelahku, ternyata Mas Hilman ikut masuk.
Mas Hilman berjalan ke dekat ibu dan mengambil tangan ibu untuk dicium nya.
"Iya, Bu. Hilman datang."
"Kapan kamu pulang dari luar kota?" Ibu bertanya. Mas Hilman melirik ke arahku, aku membuang wajah ke arah lain.
"Baru Bu, tadi pagi."
"Syukurlah. Kamu mau jemput Ayu ya?" Ibu bertanya lagi. Mas Hilman terdiam sebentar.
"Iya, Bu. Itu juga kalau Ayu ingin pulang." jawab Mas Hilman.
Aku mendecak kesal dalam hati. Kenapa kalimat itu yang sampaikan.
"Llo memangnya kenapa nggak mau pulang?" Kini Yu Tarni yang bertanya dengan bingung. Ibu juga memandangku dan Mas Hilman bergantian.
"Maksud Mas Hilman, ibu kan sedang sakit. Masa Ayu mau pulang." Aku meringis menjawab pertanyaan Yu Tarni tadi.
"Oh ...." Ibu dan Yu Tarni membulat kan mulutnya, berbeda dengan Sinta yang melirikku tajam.
"Nggak apa-apa kalau kamu mau pulang Yu. Ibu ada Sinta yang menemani. Kamu pulang saja, kasihan Hilman. Baru pulang dari luar kota, kok kamu nggak ada." Ibu berkata seperti itu kepadaku.
"Tidak apa-apa, Bu. Kalau Ayu ingin menemani Ibu dulu Hilman nggak papa." Mas Hilman kini berkata dengan senyum di bibirnya. Aku tidak tahu apa maksud pria ini, tapi sudahlah aku juga tidak bisa meninggalkan ibu sementara ini.
Tidak berapa lama Sinta dan Yu Tarni berpamitan. Sebelum mereka pulang aku memberikan kunci rumah kepada Sinta dan memintanya untuk mengecek dapur.
Mas Hilman kini duduk di sisi ranjang ibu yang lain. Wajah ibu terlihat sumringah menatap ke arah Mas Hilman dan aku bergantian.
"Kamu sudah lama gak datang kesini. Bagaimana kabar ibu kamu? Mereka semua baik kan?" tanya ibu dengan ramah.
Mas Hilman mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
"Baik, Bu. Ibu dan bapak sehat semua baik." jawab Mas Hilman dengan ringan.
"Terima kasih, ya Man. Kamu sudah mau temani Ayu hingga saat ini. Ibu senang Ayu dapatkan suami yang baik seperti kamu, dan juga mertua yang baik seprti orangtua kamu!" Ibu berkata dengan riangnya, sambil tangannya menekan dada. Satu tangan ibu yang lain memegang tanganku dan mengelus punggung tangan.
Andai ibu tahu apa yang terjadi kepadaku sekarang. Masih bisa kan ibu tersenyum terkembang seperti itu? Mereka telah dzolim kepadaku.
Ku lirik Mas Hilman yang kini menundukkan kepalanya. Entah apa yang dia pikirkan, senyumnya terlihat canggung kepada ibu.
Menjelang sore ibu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Aku dan ibu duduk di kursi belakang sedangkan Mas Hilman menyetir dengan perlahan.
__ADS_1
Perjalanan dari rumah sakit menuju pulang tidak memakan waktu lama, hanya 20 menit jika jalanan lancar. Mas Hilman memberhentikan mobil nya disisi jalanan yang sepi. Aku dan ibu menoleh ke arah Mas Hilman yang telah turun dan mendekat ke arah penjual buah di mobil bak terbuka. Tak lama dia kembali dengan dua kresek hitam di tangannya.
Mas Hilman kembali masuk ke dalam mobil lalu dia menyerahkan dua bungkusan itu kepadaku.
"Itu aku belikan mangga, sudah sekalian dikupas sama penjualnya. Mangganya manis, aku juga sudah coba tadi." ucap Mas Hilman dengan ringan dan tersenyum ke arah aku dan ibu pergantian. Mas Hilman memang orang yang selalu pengertian
Ibu menyambut potongan mangga yang sudah ada di dalam plastik mika, lalu mengambil tusukan dan menikmatinya.
"Terima kasih ya, Man. Kamu memang menantu yang baik, beruntung Ayu punya suami seperti kamu." Mas Hilman tersenyum seraya mengangguk lalu kembali pada mudiknya, sedangkan aku menyandarkan diri dan menatap jendela ke arah keluar.
Teringat dengan pesan dokter tadi saat aku bertemu dengannya. Keadaan ibu tidak lebih baik, dokter bilang ibu tidak boleh banyak pikiran dan juga tidak boleh lelah, bisa jadi ibu akan semakin drop.
Aku menghela nafas dengan berat. Bingung. Apa yang harus aku lakukan? Jika aku egois, aku takut dengan kesehatan ibu. Hanya ibu seorang yang aku miliki saat ini.
Mobil telah masuk ke halaman rumah.
Dengan segera Mas Hilman membukakan pintu untuk ibu dan meraih lengan ibu untuk membawanya keluar dari mobil. Aku menyusul mereka keluar dengan membawa tas dan dompet milik ibu, serta dua kantong kresek berisikan buah-buahan yang dibeli mas hilman tadi, lalu kemudian berjalan di belakang mereka. Terlihat Sinta berlari masuk ke halaman rumah dan mendekat ke arahku. Dia menyerahkan kunci rumah.
"Kompor sudah mati kok, Mbak." Lapor Sinta kepadaku.
"Maaf ya Sin, sudah merepotkan. Tadi mbak lupa." Sinta mengangguk.
"Budhe sudah gak papa kan, Mbak?" tanya Sinta dengan khawatir.
"Nggak papa, sudah baikan."
"Ada apa Sin?" tanyaku. Sinta kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Enggak. Bukan apa-apa,” jawabnya, tapi terlihat dia sepertinya tidak puas.
"Ya sudah, kalau nggak ada apa-apa. Mbak mau masuk kalau begitu. Kamu mau masuk?" tawar ku.
"Sinta ada kelas online, Mbak. Nanti saja Sinta balik lagi ke sini malam." tolaknya. Sinta kemudian pulang, aku menatap kepergiannya. Seingatku, tadi Sinta sempat melihat Mas Hilman sedang berlutut di depanku, semoga saja Sinta tidak berkata apa-apa kepada ibu.
Aku kembali berjalan mendekat ke arah ibu yang kini duduk di kursi teras, sedangkan Mas Hilman berdiri disamping ibu. Gegas aku memasukkan anak kunci, kemudian membuka pintu rumah dengan lebar.
Mas Hilman kembali meraih tubuh ibu dan membantunya berjalan.
"Ibu istirahat aja di kamar ya." Ku dengar mas hilman berbicara kepada ibu, mereka berdua berjalan ke arah kamar. Mas Hilman membaringkan ibu di atas kasur sementara aku menyimpan tas dan dompet ibu di tempatnya, tas aku gantungkan di belakang pintu dan dompet aku simpan di dalam lemari.
Aku mendekat kearah ibu, Mas Hilman sedikit menggeser kan tubuhnya, memberikan aku ruang. "Ibu mau makan tidak?" tanyaku kepada ibu. Ibu hanya menggelengkan kepala.
"Tadi bu sudah makan di rumah sakit, kalian saja yang makan berdua." kata ibu kepada kami.
"Ibu mau istirahat saja, kepala ibu rasanya pusing." keluh ibu.
__ADS_1
"Biar Ayu pijat ya?" Aku menawarkan diri.
"Tidak usah, Ibu tidur saja. Sudah tidur juga baikan. Sudah kalian makan saja, sejak tadi siang kalian belum makan kan?"
Aku menarik selimut ibu hingga menutupi lehernya.
"Ya sudah, ibu istirahat aja." Ibu mengangguk lalu memejamkan mata.
Aku dan Mas Hilman keluar dari kamar ibu. Mas Hilman berjalan mengikutiku ke arah dapur. Aku memang lapar sedari tadi. Saat pagi aku hanya sarapan sedikit.
Buah-buahan yang ada di dalam kresek aku pindahkan di atas piring buah lalu menyimpannya di atas meja makan. Setelah itu aku mengeluarkan nasi dari dalam magic com, tidak lupa dengan apa yang tadi siang aku masak.
"Ayu, bisa kita bicara lagi?" tanya Mas Hilman kini mendekat ke arah ku, dia berhenti dua langkah di dekatku. Tatapan matanya penuh harap, membuat aku sedikit merasa bersalah, tapi biarkan saja aku berusaha untuk tidak peduli.
Ku ambil dua piring dan juga sendok, lalu menatanya di atas meja.
"Yu, kita bicara, ya?" Mas Hilman kini bertanya lagi.
"Mau makan tidak?" Bukannya menjawab, aku bertanya padanya. Semarah apapun aku padanya, tapi tidak tega juga jika membiarkannya kelaparan. Dia sudah repot ikut mengurus ibu tadi, mengantar dan juga menguruskan administrasi.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Yu. Kita harus bicara." pinta Mas Hilman.
Aku duduk di kursi mengambil nasi dan juga lauk lalu menggeserkanya ke depan kursi yang kosong.
"Makan saja dulu. Nanti kita bicara!" ucap ku dengan tidak menatapnya. Aku mengambil nasi dan lauk untuk diriku sendiri lalu mulai makan tanpa menunggunya.
Mas Hilman kini duduk di depan piring yang sudah aku siapkan tadi. "Terima kasih." ucapnya. Aku tidak menjawab, meneruskan makan ku. Kami pun makan dengan ditemani kesunyian.
Selesai makan aku dan Mas Hilman berbicara di dalam kamar. Jika di luar takut akan ada yang mendengar, apalagi jika ibu orangnya.
Kami duduk bersisian di tepi ranjang, tapi tetap mengambil jarak agak jauh. Aku lah yang memberi jarak itu, Mas Hilman mengerti dan tidak memaksa untuk mendekat.
"Yu, kamu jangan meminta pisah dari aku. Aku nggak bisa tanpa kamu." terdengar suaranya yang lirih.
"Aku janji, lain kali apapun yang aku lakukan aku akan bicara sama kamu. Aku nggak akan bohong lagi sama kamu. Aku mohon kita pulang, Yu. Maksud aku nanti kalau ibu sudah sembuh. Aku mohon kamu pikirkan tentang pernikahan kita, pikirkan ibu juga, ingat apa kata dokter tadi ibu pasti akan sedih kalau kita berpisah."
Rasanya aku ingin tertawa di dalam hati, kenapa Tuhan sangat memudahkan keinginannya?
"Aku tidak tau lagi harus bagaimana Yu. Sekarang semuanya sudah terjadi. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon kamu mau kembali sama aku. Dan kita hidup bertiga."
Aku menatap Mas Hilman dengan tidak suka. Hidup bertiga. Kenapa rasanya terdengar menyakitkan sekali?
"Ayu bersedia mas kembali sama kamu. Ini Ayu lakukan demi ibu, tapi tidak berarti juga kalau aku maafkan kamu dan juga menerima dengan adanya dia. Kalau kamu mau aku pulang, dia tidak boleh ada di rumah. Terserah kamu mau bawa dia ke mana." Aku berkata dengan tidak meliriknya. Rasanya enggan untuk menatap ke arahnya.
Mas Hilman terdiam beberapa saat. Ku lirik wajahnya yang terlihat bingung, lalu kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arahku.
__ADS_1
"Oke. Aku akan carikan tempat untuk dia." ucapnya. Kini senyumnya mengembang meskipun terlihat tipis.
Entah bagaimana aku akan menjalani kehidupanku setelah ini. Apakah aku bisa menjalaninya dengan baik?