Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
24. Meminta Pengertian Ayu


__ADS_3

"Kamu mau kemana, Yu?" tanya Mas Hilman saat aku baru saja keluar dari dalam kamar, bersamaan dengan dirinya yang keluar dari kamar Hana. Aku memang sudah bersiap untuk pergi mencari pekerjaan kembali.


"Cari kerja lagi," ucapku sambil menutup pintu kamar.


"Kamu mau pergi lagi?" tanya Mas Hilman. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu yakin, Yu?" tanya Mas Hilman lagi.


"Iya Mas. Lagian aku di rumah juga mau apa? Cuma diam saja. Aku mau cari biaya untuk operasi ibu," jawabku. Aku meninggalkan Mas Hilman untuk menuju ke dapur.


Aku ambil dua lembar roti dan mengoleskannya dengan selai kacang lalu aku masukan ke dalam sebuah wadah. Akan aku buat saja untuk aku makan nanti.


"Kamu nggak sarapan?" tanya Mas Hilman yang kini ada di belakangku.


"Aku nggak sempat masak, kamu kalau mau sarapan siapkan sendiri tidak apa-apa, 'kan?" tanyaku. Mas Hilman hanya menganggukan kepalanya.


"Aku pergi dulu ya. Mas hati-hati berangkatnya," pamitku kepadanya.


"Iya, kamu juga hati-hati. Jangan ngebut!" Peringatnya kepadaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Mas Hilman menahan tanganku saat aku baru saja akan melangkah. Dia mendekatkan dirinya dan mengecup keningku dengan lembut. Aku terpana dibuatnya. Sudah lama dia tidak melakukan hal itu kepadaku.


"Hati-hati. Kalau kamu sudah capek istirahat saja. Segera pulang ya?" pintanya. Aku tersadar, lagi-lagi menganggukan kepalaku.


"Mbak Ayu mau mencari kerja lagi?" tanya suara dari belakangku. Aku menoleh dan mendapati Hana sedang berjalan mendekat dengan handuk yang tersampir di pundaknya. Kulihat kemeja suamiku yang melekat pada tubuh Hana, bagian tangannya tergulung hingga ke siku, bagian bawahnya panjang hingga sampai setengah pahanya. Dua kancing yang terbuka memperlihatkan dua tanda ruam merah di dada wanita itu.


"Iya," jawab ku dengan singkat.


"Aku duluan ya, Mas."


Aku meninggalkan mereka berdua. Tidak mau lagi mata ini terfokus kepada apa yang ada di hadapanku sekarang.


Sampai siang hari aku masih mencari lowongan pekerjaan. Entah kenapa jika kita sedang perlu malah tidak ada pekerjaan.


Aku memutuskan berhenti di sebuah taman kota. Rasanya perut ini sudah sangat lapar sekali. Bekal yang aku bawa tadi pagi belum aku sentuh.


Sambil mengunyah makanan ku, aku memikirkan strategi apa untuk ke depannya. Penghasilan dalam menulisku masih belum banyak. Jika digabungkan dengan uang yang ada di dalam tabungan, ini masih belum cukup untuk operasi ibu.

__ADS_1


Aku segera menghabiskan makananku, daripada melanjutkan perjalanan untuk kembali mencari-cari tempat pekerjaan lebih baik aku menambah bab saja. Pulang ke rumah juga mau apa? Yang ada malah merasa emosi di sana.


...***...


Menjelang sore aku baru pulang ke rumah. Sudah hampir jam lima saat aku sampai di sini. Aku segera masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya saat melihat kondisi rumah berantakan sekali. Banyak tisu bertebaran di lantai, kulit kacang di atas meja berada di sebelah asbak yang sudah penuh dengan sampah-sampah yang lainnya. beberapa bungkus makanan tergeletak di sana, yang sudah kosong maupun masih ada isinya.


Dengan jalan berjinjit aku melewati tisu-tisu bekas yang ada di lantai. Segera kulangkahkan kaki ini ke arah kamar. Tidak sengaja melirik ke arah dapur, aku tercengang dengan apa yang terjadi di sana. Keadaan di dapurku terlihat seperti yang sudah terkena angin ribut. Piring-piring kotor berada di dalam wastafel, wajan dan panci ada di atas kompor. Meja makan juga terlihat berantakan dengan warna merah, entah apa.


Aku mendekat ke sana, rasanya kepala ini mendadak pusing, tiba-tiba berputar melihat kekacauan yang ada di rumah ini.


Gegas aku melangkahkan kakiku ke kamar Hana dan mengetuk pintu kamarnya dengan keras dan cepat.


"Hana!" Panggil ku. Aku menunggu beberapa saat, tapi tidak ada tanda-tanda jika dia kan keluar dari kamar.


"Hana!" Aku berteriak lagi. Kali ini tidak lama menunggu, dia membukakan pintu. Penampilannya terlihat sangat kacau dengan hidung dan mata yang sembab.


"Kamu apakan rumah ini? Seperti kapal pecah saja!" Aku berseru kepadanya. Dia hanya mengucek matanya dengan santai sambil menguap.


"Maaf Mbak, Hana belum sempat membereskan rumah ini. Tadi Hana sudah merasa pusing, jadi tidur sebentar. Tapi ternyata kebablasan," Dia tersenyum meringis dengan malu.


"Kamu ini bisa sedikit rapi tidak sih? Kalau ada tamu yang datang bagaimana? Rumah seperti kapal pecah kayak gini." Tunjukku ke arah di mana sampah sampah bertebaran di lantai.


"Ada apa ini? Kenapa terdengar ribut sekali?" Terdengar suara seorang pria masuk ke dalam rumah. Mas Hilman baru saja masuk sambil melonggarkan dasinya. Wajahnya terlihat lelah dan kusut.


"Lihat rumah ini Mas. Berantakan sekali seperti kapal pecah!" Aku mengadu kepadanya. Mas Hilman mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Dia hanya diam melihat kekacauan ini.


"Maaf Mas, tadi aku mau bereskan, tapi kepalaku keburu pusing. Jadi aku tidur dulu sebentar, tapi ternyata aku kelamaan tidur sampai Mbak Ayu pulang kerja," jawabnya dengan menundukkan kepala.


Aku berdecak dengan kesal mendengar alasannya ini. Tidak biasanya dia seperti ini. Minimal jika hanya piring kotor aku bisa terima, tapi ini ....


"Pinggangku juga tadi sakit, Mas. Rasanya pegal sekali." Hana mengeluh sambil menyentuh pinggangnya.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Mas Hilman dengan khawatir, dia mendekat ke arah Hana.


"Sekarang sudah enakan tadi sudah tidur, tapi aku minta maaf karena aku sudah membuat rumah ini berantakan. Hana akan bereskan semuanya segera," ucap Hana lalu pergi untuk mengambil sapu.


Aku menatapnya dengan tidak suka. Rumahku sangat tidak teratur sekali hari ini, membuat kepala terasa pusing saja!

__ADS_1


"Aduh!" Hana memegangi pinggangnya, dia terlihat merintih dengan wajah kesakitan. Satu tangan yang lain menahan tubuhnya tertopang di atas sofa. Mas Hilman setengah berlari ke arahnya.


"Ada apa Hana?" tanya Mas Hilman dengan khawatir.


"Pinggang aku sakit lagi Mas. Pegal sekali," ucapnya.


Aku tidak percaya, dia baru saja mengatakan tidak apa-apa, tapi kenapa kali ini dia merasa sakit lagi?


"Ya sudah kamu diam saja, berbaring saja lagi di kamar. Biar ini aku dan Ayu yang bersihkan," ucap Mas Hilman yang membuat aku menatapnya tajam.


Enak sekali dia yang mengotori rumah ini, tapi aku dan Mas Hilman yang membereskannya.


Mas Hilman mengantarkan Hana kembali ke kamar.


"Biar ini aku yang kerjakan," ucap Mas Hilman sambil meraih sapu yang tadi dibawa oleh Hana. dia segera membereskan ruangan ini dari sampah-sampah yang ada. Terlihat wajahnya yang lelah semakin lelah. Sebagai seorang istri aku tidak tega juga melihat yang melakukan pekerjaan ini.


"Aku akan membereskan dapur," ucapku lalu pergi dari sana.


Dapur sudah aku bereskan, dari mencucip piring dan mengepel, hanya tinggal mengelap piring basah untuk aku simpan di rak piring.


"Mas!" Suara panggilan terdengar manja dari dalam kamar Hana. Aku melihat Mas Hilman masuk ke dalam kamar itu. Tak lama dia keluar lagi dan menghampiriku.


"Ayu, aku bisa minta tolong sama kamu?" tanya Mas Hilman.


"Minta tolong apa?" tanyaku dengan curiga.


"Itu ... bisakah kamu membuatkan semur ayam buat Hana?" tanya Mas Hilman. Aku mengusap wajahku dengan kasar.


"Tadi aku sudah menawarkan untuk membelinya saja, tapi Hana ingin buatan kamu. Kamu mau kan buatkan?" tanya Mas Hilman dengan penuh harap.


"Tolonglah Yu. Aku harap kamu bisa memaklumi keinginan Hana. Dia sedang hamil dan ingin dibuatkan makanan sama kamu." Mohon nya.


"Kali ini saja Mas. Setelah ini kamu harus mencari asisten sendiri untuk dia," ucapku dengan geram.


"Hari ini dia sudah membuat rumah ini berantakan dan kita yang membereskannya! Benar-benar sangat keterlaluan sekali dia ini," ucapku dengan kesal seraya mengambil bahan makanan di dalam kulkas.


"Tolong maafkan dia Yu, Hana sedang hamil. Tolong mengerti keadaan diam sekarang ini. Dokter bilang hormon ibu hamil memang berubah-rubah," ucapnya.

__ADS_1


"Ya tapi nggak ini juga kali Mas, ini sudah keterlaluan namanya!"


"Maaf ya, kamu jadi repot gini." Mas Hilman mendekat ke arahku dan memeluk pinggangku. Dagunya dia labuhkan di bahuku. Teringat dengan masa lalu, sudah lama sekali kami tidak seperti ini. "Aku merasa bersalah sama kamu Yu, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga saja Hana cepat melewati masa mengidamnya. Dan tidak lagi merepotkan kamu.'


__ADS_2