Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
21. Ucapan Menyakitkan Mertua


__ADS_3

Menjelang sore hari aku kembali ke rumah. Rasanya lumayan lelah setelah selama ini aku hanya berdiam diri tanpa bekerja. Sebuah sandal yang aku kenal terlihat teronggok di teras.


Ah, ya Allah. Tau begini tadi aku diam di taman agak lamaan.


Setelah bertemu dengan dokter memang aku berdiam diri di taman kota sejenak. Memikirkan apa yang akan aku bicarakan dengan Mas Hilman sambil menikmati suasana siang yang terik. Tentunya aku duduk berdiam diri di bawah pohon yang rindang dengan semangkok bakso cuanki yang ada di sekitar sana. Tahu bakso cuanki tidak? Ah tanyakan saja pada Orang Bandung, mereka tahu sekali dengan makanan itu. Salah satu makanan favorit selain batagor. Eh ... Kenapa aku malah melantur? Hehe ....


Aku sudah menduga sandal itu milik siapa. Ibu mertuaku, terlihat dari modelnya yang kuno.


"Assalamu ...."


"Bagus ya. Kamu keluyuran selagi suami mu gak ada di rumah!" Ibu tiba-tiba terlihat ada di ambang pintu, menatapku dengan tajam saat aku membuka sepatuku.


"Kamu ini gimana sih? Mentang-mentang pengangguran, malah keluyuran gak jelas. Lihat tuh, Hana tinggal sendirian di rumah mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Kamu malah enak-enakan main di luar!" Ibu berkata dengan nada suara yang keras. Matanya melotot tajam ke arahku yang bahkan belum masuk rumah sama sekali.


"Ayu gak main, Bu. Ayu ini cari kerjaan," jawabku. Aku tak mau kalah, memang aku keluar hari ini dengan niat mencari kerja. Apa wanita itu tidak bilang kalau hari ini aku keluar mencari pekerjaan? Padahal aku yakin pagi tadi dia mendengar dengan jelas kalau aku akan mencari pekerjaan.


"Hana!" panggilku saat melihat wanita itu ada jauh di belakang ibu. Dia yang dipanggil menatapku dengan takut, merapat ke belakang punggung ibu. "Kamu bilang apa sama ibu? Kamu denger kan tadi pagi aku bilang sama Mas Hilman kalau aku mau cari pekerjaan?" tanyaku dengan emosi. Wanita muda itu tidak menjawab, malah semakin merapatkan diri.


"Maaf, Mbak. Hana cuma bilang Mbak Ayu sedang keluar," jawab wanita itu dengan takut.


"Apa kamu tidak jelaskan kalau aku pergi keluar karena ...."


"Sudahlah, Yu. Jangan marahi Hana. Kamu gak kasihan apa sama dia? Hana itu sedang hamil anak Hilman. Jangan dibuat takut begitu sama kamu. Lagian kamu juga keluar kenapa gak kerjakan dulu semua tugas yang ada? Kan jadi Hana yang kerjakan!" Ibu berkata dengan keras, membuat telingaku sakit saja.

__ADS_1


"Bu, tidak ada pekerjaan lain. Sudah aku lakukan semua sedari pagi. Bahkan, aku juga sudah membuatkan sarapan untuk Mas Hilman dan dia!" Aku tak mau kalah, menunjuk wanita yang ada di balik tubuh gempal ibu mertuaku. Memang benar, sebelum aku berangkat tadi pagi aku sudah membereskan rumah.


"Lalu kenapa Hana masih membereskan rumah?" tanya ibu dengan sewot.


"Ya mana aku tau, Bu. Tanyakan saja sama dia. Biasanya juga cuma rebahan doang!" cecarku lalu pergi ke dalam rumah dengan melewati ibu. Lengannya sedikit tergesek dengan tubuhku membuat ibu melotot tajam.


"Gak sopan kamu sama orangtua!" Ibu berkata dengan nada marah.


"Permisi dan maaf!" ucapku tanpa berhenti untuk sekedar menatapnya. Aku sudah muak, tidak peduli dengan teriakan ibu yang terdengar sangat keras memanggil dan juga mencercaku.


Sebagai gantinya aku protes, aku banting pintu kamar dengan keras. Masa bodoh jika aku dibilang tidak tahu sopan santun. Enak sekali orangtua itu bicara seperti itu, dan lagi wanita itu ...


Aaarrrggghhhttt!!!


Entah apa yang mereka bicarakan di luar tapi terdengar tawa. Beda sekali dengan tadi saat ibu bicara padaku, kali ini suaranya lemah lembut dengan riang menemani wanita itu tertawa.


Sampai makan malam tiba, Mas Hilman belum juga pulang. Tidak ada makanan di meja makan. Aku malas menyiapkan. Dia pikir aku pembantu apa, selalu saja aku yang mengerjakan pekerjaan rumah. Memasak segala macam sampai bajunya pun aku yang mencucikan. Enak sekali hidupnya! Kalian tahu kan siapa yang aku maksud. Sifatnya ini semakin lama semakin keterlaluan. Tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, tapi apa tadi siang itu? Dia mengerjakan pekerjaan rumah saat ada ibu? Hebat sekali dia!


Pintu kamar terbuka, aku tahu siapa dia. Kubiarkan saja tanpa ada rasa ingin menoleh sama sekali. Aku lebih memilih menyibukkan diri dengan hp-ku.


"Aku pulang, Yu." ucapnya.


"Ya, selamat datang." Aku menjawab masih tanpa menoleh. Kesal sekali rasanya, apalagi setelah tadi mendengar ibu saat dia akan pulang.

__ADS_1


Mau gimana Gusti kasih kamu anak kalau sifat kamu saja seperti itu sama orangtua? Tuhan gak akan kasih kamu anak kalau kamu saja tidak menghormati aku sebagai ibumu! begitulah ucapan ibu yang membuat aku semakin kesal. Beliau sepertinya sengaja untuk membuat aku marah. Dia berkata seperti itu sambil mengelus perut Hana.


"Bagaimana hari ini? Apa kamu berhasil mendapatkan pekerjaan?" Tanya Mas Hilman, dia mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"Tidak. Aku belum mendapatkan pekerjaan." Jawabku. Mas Hilman menghela nafasnya dengan berat.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin lain kali kamu beruntung," ucap Mas Hilman.


"Yu, apa kamu tidak masak? Tidak ada makanan di dapur," ucap Mas Hilman lagi. Kulihat dari ujung mata dia sedang membuka sepatunya.


"Tidak sedang malas!" Jawabku dengan tidak peduli. Aku melanjutkan memainkan HP di tanganku.


"Apa Hana sudah makan?" Tanyanya lagi. Aku menghentikan gerakan tangan pada HP, dan menatap Mas Hilman.


"Aku juga belum makan, kenapa kamu hanya menanyakan Hana?" Tanyaku yang mulai terusik dengan perhatian Mas Hilman kepada wanita itu.


"Kamu belum makan?" Kini dia bertanya kepadaku dengan nada yang khawatir, tapi aku sudah merasa sebal kepadanya.


"Sudahlah lupakan saja. Sekarang perhatian kamu hanya untuk dia." Aku merajuk dan berbaring memunggunginya. Rasanya sungguh sangat kesal sekali.


"Aku pikir kamu sudah makan. Maaf. Hana sedang hamil, bagaimana kalau dia dan bayinya kelaparan?" Mas Hilman kini bangkit dan pergi ke arah luar. Aku berbalik dan menatap kepergiannya dengan hati yang terluka.


Begitu khawatirnya kamu dengan dia Mas, siapa yang kamu khawatir kan? Hana atau anaknya? Biasanya kamu selalu perhatian dengan aku, tapi sekarang perhatian kamu sudah mulai terbagi. Itukah yang kamu bilang kamu tidak suka dengan dia?

__ADS_1


Aku kembali membaringkan diriku dengan air mata yang yang kini tidak bisa kutahan lagi.


__ADS_2