
"Boleh aku minta sedikit?" tanya Arga sambil tersenyum meringis.
"Tidak boleh, makanan sudah habis!" ucapku sambil memasukkan semua ke dalam mulut, membuat Arga berdecak dengan kesal.
Aku tersenyum saat Arga mendelik kepadaku. Mana aku peduli!
"Tadi aku tawarin gak mau," ucapku setelah menelan makanan tersebut, jari yang kotor karena remah roti aku jilat, sayang dengan rasa manis yang tertinggal di sana.
Tiba-tiba Arga tertawa kecil, dia mengelus kepalaku dengan lembut.
"Enak, hem?" tanyanya dengan senyum manis di bibirnya. Aku mengangguk.
"Enak, makanya aku habis satu loyang," ucapku. Kotak yang kardus kosong yang ada di depanku Arga ambil dan buang di tempat sampah. Dia kembali duduk di sampingku.
"Tumben kamu makan kue sebanyak itu? Biasanya kalau aku pulang bawa kue juga kamu palingan makan sedikit aja, Gara yang habiskan sisanya."
Aku terdiam, mengingat hal itu. Benar apa kata Arga, tumben sekali. Kok, bisa sampai habis satu loyang?
Arga tertawa sekali lagi. "Apa jangan-jangan karena belum makan malam, ya? Kamu lapar karena tadi kita sudah belanja juga?" Aku mengangkat kedua bahuku bersamaan, bisa jadi seperti itu, sih.
"Mau makan nasi gak?" tanya Arga. Aku menggelengkan kepala, rasanya perut ini kenyang setelah makan kue tadi.
"Aku susul Gara dulu buat makan malam," ujarnya lalu berdiri dan pergi ke lantai atas. Tak lama, dua orang itu datang dan duduk di meja makan. Aku sudah mengeluarkan beberapa masakan yang tadi asisten masak, Semua sayur masih hangat, pas untuk dimakan tanpa harus Gara merasa kepanasan.
Satu piring berisi nasi dan lauk aku berikan kepada Arga, begitu juga dengan piring dengan sayur sop daging, aku berikan kepada Gara.
"Mama gak makan?" tanya Gara yang hampir memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Masih kenyang," jawab ku dengan tersenyum. "Gara mau Mama suapi?"
Anak itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Makan sendiri," ucapnya.
Aku hanya menemani mereka makan. Rasanya senang melihat Gara yang makan seperti itu, sangat lahap sekali jika makan dengan sayur yang dia minati.
Aku memperhatikan, terus memperhatikan anak itu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Terlihat sangat nikmat sepertinya sehingga tanpa sadar aku menelan salivaku sendiri. Potongan daging itu masuk ke dalam mulut Gara dan dia kunyah sambil tersenyum, apalagi suara seruput dari kuah yang dia minum dengan suara yang keras dari sendok miliknya.
Tidak tahan, sepertinya aku ingin makanan yang sama. Aku mengambil mangkok yang ada di rak wastafel, mengambil sayur sop daging dengan kuah banyak-banyak. Rasanya melihatnya saja sudah tergiur.
"Pakai nasi?" tanya Arga padaku. Aku menggelengkan kepala. Tidak ingin pakai nasi, sepertinya akan enak dimakan begitu saja.
__ADS_1
Sop tersebut aku makan, tapi baru dua kunyahan saja rasanya tidak seperti yang aku pikirkan tadi. Hambar.
"Gara, apa makanannya enak?" tanyaku pada Gara, dia menoleh kepadaku dan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.
"Enak, Ma!" seru anak itu.
Ya, tidak mungkin juga jika sop ini tidak enak. Masakan Mbak selalu enak dan cocok di lidahku, tapi kenapa sekarang ini tidak?
Aku hanya diam, menopang daguku dengan telapak tangan. Sebal rasanya, sesuatu yang aku kira enak ternyata tidak sesuai dengan yang aku pikirkan.
"Kenapa?" Arga bertanya.
"Sayurnya kok hambar ya. Padahal kata Gara enak," jawabku. Arga mengerutkan keningnya dan menarik mangkok yang ada di depanku. Dia merasakan makanan tersebut.
"Enak, ah. Gak ada yang salah," ucapnya.
Aku menggelengkan kepala. Arga bilang enak, tapi kenapa aku tidak?
Arga mengambil makanan milik Gara dengan sendoknya, merasakan makanan milik putranya.
"Gak ada yang salah," ucapnya lagi.
Aku juga melakukan hal yang sama, meminta makanan milik putraku. "Sama aja rasanya," ucapku pada Arga. Kesal sekali!
Em ... mungkin juga.
Aku menunggu mereka makan, sambil mengunyah kacang panjang mentah lalapan malam ini dengan daun kemangi dan sambal bawang.
Selesai dengan makan malam, kami menonton film bersama. Jam tidur gara masih satu jam lagi, dia juga sudah belajar pada siang hari. Maka malam ini dia boleh menonton tv, tentunya dengan pantauan kami, dengan apa yang dia tonton.
Aku dan Arga duduk di sofa, sedangkan Gara di bawah, duduk dengan beralaskan karpet, bersila sambil sesekali memainkan mobil truk miliknya dan juga mainan robotnya.
Aku duduk dengan bersandar pada lengan Arga. Beginilah hampir setiap malam kami. Rasa-rasanya tidak ada yang beda, tapi kami tidak bosan melakukan kegiatan yang sama.
Gara menguap, membuka mulutnya dengan lebar.
"Mama, tidur," ucap anak itu sambil mendekat ke arahku. Mainan dia bawa dengan kedua tangan.
"Oke, ayo kita naik." Aku berdiri.
__ADS_1
"Gara, sudah besar kok tidur pengen ditemani. Sendiri dong!" ujar Arga dengan sebal. Selalu saja seperti ini kalau malam hari.
"Gara mau dibacakan kisah pahlawan, Papa!" ucap anak itu dengan terdengar nadanya kesal.
"Oh, ya sudah. Mama, nanti kalau sudah selesai cepat turun, ya. Gantian Papa yang akan jadi pahlawan," bisik Arga dengan menatapku seraya mengedipkan satu matanya.
Aku tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan laki-laki ini.
"Ayo, Mama!" teriak anak itu dengan tidak sabar.
"Iya!" Aku menggandeng Gara menuju ke lantai atas ke kamarnya.
"Cerita pahlawan yang mana?" tanyaku sambil membuka buku tentang pahlawan negeri ini di masa lalu.
"Kapitan Pattimura!" serunya dengan keras.
Aku membuka halaman di mana kisah pahlawan tersebut berada. Dengan segera membacakan cerita tentang pembelaan dan perjuangan beliau.
Aku memang sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan Gara, sesekali menyelingi bacaan dongengnya. Jangan hanya melulu dengan kisah fantasi saja, tapi juga dengan sejarah negeri ini, dengan pahlawannya, dengan dongeng daerahnya, juga dengan hal lain lagi di negeri ini yang sekarang banyak tertulis dalam sebuah buku cerita.
Arga mendengarkan dengan diam, sesekali bertanya, kenapa, dan apa. Bagaimana perjuangan beliau merebut kembali Benteng Duurstede dari tangan penjajah Belanda.
Aku juga tidak tahu banyak, tapi membaca membuat pengetahuanku kini menjadi luas. Jika hanya cerita fiksi saja, aku bisa, tapi sejarah, aku juga sedang belajar bersama dengan Gara setiap malamnya.
"Eh, ternyata Gara belum tidur?" ucap suara yang ada di ambang pintu yang terbuka.
Kami menoleh bersamaan. "Belum," jawab Gara.
"Mau apa Papa ke sini? Denger cerita juga?" tanya anak itu sambil duduk menatap sang ayah.
"Eh, hehe. Iya. Papa ... mau denger juga," ucap Arga lalu mendekat ke arah kami.
Arga melirikku dengan wajah yang aneh, sepertinya aku tahu akan arti lirikan itu darinya, apalagi saat aku melihat ke arah bawah. Di balik celana pendeknya.
Oh, ada sesuatu yang tegak, tapi bukan untuk menegakkan keadilan!
***
Maaf, kemarin gak up. Karena Othor mabok ya, hehe. Tepar setelah kasih 18 bab di akhir bulan, 😅.
__ADS_1
yuk mampir ke cerita temenku, punyanya MamGemoy.