Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
177. Tamu Wanita


__ADS_3

"Ya, memang benar. Jika kalian sudah berjodoh maka apapun yang terjadi tidak akan menyangkal jika kalian akan bersama. Begitu juga dengan jodohku nanti. Apapun yang sudah aku rasakan pada Mbak Ayu, dia bukan jodohku. Tapi terima kasih Mbak Ayu. Dengan hadirnya Mbak Ayu selama ini sudah membuat hati ini bahagia sekali. Hanya saja aku tidak menyangka jika kita tidak berjodoh. Padahal aku juga bisa melebihi pria lain dan bisa membahagiakan Mbak Ayu dengan baik," ujar Dokter Wira. Arga melotot melihat ke arah Dokter Wira, terlihat sedikit urat menyembul di wajahnya. Menatap kesal sosok pria berkacamata yang ada di depan kami.


Entah kenapa, aku merasa hawa di sini terasa sedikit ngeri, seperti ada petir dan kilat di mata mereka.


"Tapi sayang sekali, Dokter. Ayu bukan jodoh Anda 'kan? Jika pun Anda diterima cinta oleh Ayu, tapi jika Tuhan tidak membiarkan kalian berjodoh, bukankah Anda hanya akan menjaga jodoh orang lain?" ujar Arga dengan nada dingin.


Aku jadi takut melihat kedua orang ini berdebat. Terbayang jika nanti sampai terjadi hal yang tidak diinginkan di acara ini. Laki-laki berbeda dengan perempuan, tidak bisa menahan diri dari segala emosi, apalagi soal wanita. Ku kira begitu.


"Ya, itu benar sekali Pak Arga. Jodoh memang tidak akan pergi kemana. Doakan saja semoga adikku ini dapatkan jodoh yang baik, yang sedikit bawel supaya dia bisa jadi sosok yang menyenangkan. Dia sangat kaku sekali selama ini. Menyebalkan sekali punya adik yang pendiam seperti dia," bisik Mbak Wanda. Dokter Wira terlihat kesal mendengar ucapan kakaknya. Dia mendengkus sebal karena tadi sempat aku lihat dia ingin bicara tapi terdiam karena Mbak Wanda berbicara mendahuluinya.


"Salahmu. Dulu aku suka berbicara, tapi kamu bilang aku seperti perempuan!" kesal Dokter Wira. Mbak Wanda hanya tertawa kecil dengan wajah yang tidak peduli akan ucapan adiknya itu.


"Mbak Ayu, Pak Arga. Saya pamit. Lebih baik mencari udara segar daripada mendengar kalian terus memojokanku di sini. Mas, ini anakmu." Dokter Wira menyerahkan keponakannya pada sang ayah, yang disambut laki-laki itu dengan tersenyum.


"Pulang bareng sama kami nanti?" tanya suami Mbak Wanda.


"Tidak, lebih baik aku sendiri saja. Siapa tahu keluar dari sini aku akan mendapatkan jodohku," ujar laki-laki itu dengan kesal.


"Mbak Ayu, jika nanti suami Mbak Ayu nakal atau tidak baik, hubungi saya saja, ya." Ucapan Dokter Wira membuat aku terkejut, dia sangat berani mengatakan hal itu di depan banyak orang. Tidak menyangka jika orang yang selama ini kalem akan berkata seperti itu sampai Mbak Wanda menutup mulutnya dengan telapak tangan dan Arga melotot tajam.


"See U." Dokter Wira mulai melangkahkan kaki, melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi pada kami. Arga hanya mendengkus kesal, terlihat akan menyusul Dokter Wira, tapi aku tahan tangannya.


"Sabar. Dia memang seperti itu terkadang. Pak Arga, Mbak Ayu, kami juga turun dulu, ya. Ada beberapa orang yang ingin kami sapa," ucap Mbak wanda.


"Iya, Mbak. Terima kasih karena Mbak dan keluarga menyempatkan datang ke sini," ucapku. Mbak Wanda mengangguk dan tersenyum.


"Dapat salam dari Ibu dan Ayah," ucapnya menambahkan.


"Waalaikumsalam, sampaikan salamku juga sama beliau berdua." Sekali lagi Mbak Wanda menganggukkan kepalanya, kemudian dia dan suaminya turun dari panggung.


Arga masih terlihat kesal, duduk dengan kasar pada kursi, matanya mendelik padaku. Wajahnya masih saja cemberut.


"Kamu sudah dekat dengan orang tua mereka?" tanya Arga setelah aku duduk di sampingnya. Dia menatapku dengan tajam, terlihat kesal.

__ADS_1


"Gak dekat juga. Kami hanya ngobrol biasa," ucapku, sedikit takut jika dia akan marah. Terdengar helaan napas kasar dari mulutnya.


"Kamu ke rumah dia? Ngobrol apa?" tanyanya ketus.


Aku jadi ingin tertawa, wajahnya itu terlihat sangat lucu. Persis Gara kalau sedang marah.


"Bukan ke rumah Dokter Wira, tapi ke ...."


"Jangan sebut nama dia!" ujarnya ketus, aku sedikit terjengkit mendengar nada suaranya yang seperti itu.


"Eh, jadi aku harus bilang apa?" tanyaku bingung.


"Ya pokoknya jangan sebut nama dia. Seneng banget sih dia disebut-sebut!" ketusnya lagi.


Aku jadi bingung. "Iya, gak akan sebut." Akhirnya aku mengalah. Mengalah saja lah daripada dia marah.


"Jadi, ngapain kamu ketemu dia dan orang tuanya?"


"Bukan ketemu dia juga sih, tapi aku diundang Mbak Wanda—" Ucapanku terhenti saat ada beberapa orang yang mendekat kepada kami.


Arga berdiri dan menyambut tamu tersebut, aku pun sama. Beberapa laki-laki dan perempuan itu menyalami kami dan membisikkan doa yang baik.


Alhamdulillah, ada hal yang membuat Arga tidak lagi bertanya akan hal tersebut. Aku sedikit bingung menjelaskan jika dia sampai tidak percaya.


"Akhirnya Pak Arga menikah lagi, ya. Saya ikut senang dengan kabar ini. Saya tidak menyangka jika Pak Arga akan menikah lagi, saya pikir Pak Arga tidak tertarik lagi dengan wanita selain almarhumah istri," ucap laki-laki setengah tua sambil menepuk lengan Arga.


"Ah, iya Pak. Saya sudah menemukan jodoh saya kembali," ucap Arga tersenyum dengan lebar.


"Sebelum ini, maafkan saya ya Nak," ucap laki-laki itu tertuju padaku. "Saya bahagia karena Pak Arga pernah dekat dengan Letta, mengantarnya pulang dan beberapa hal yang lainnya, pernah berharap kalau Pak Arga menikah dengannya. Saya sudah pasti akan sangat senang sekali. Tapi ya ... mungkin bukan jodoh, ya," ucap laki-laki itu dengan tawa kecilnya. Dia kenapa sih? Membicarakan hal yang seperti ini di hadapan istrinya?


Arga pun tertawa, dia melirik takut padaku. Kesal sudah pasti, yang aku lihat wanita yang mesam mesem pada Arga dan menatapku sinis adalah wanita yang semok, bohai, cantik dengan dada yang membusung dan bagian belakang yang padat. tubuhnya juga sangat indah dengan balutan gaun seksi berwarna merah ati.


"Haha, iya Pak. Sayang sekali kami tidak berjodoh," ucap Arga dengan tawa yang terdengar garing. Lagi-lagi melirik ke arahku dengan wajah dan tawa yang aneh.

__ADS_1


"Iya, Mas Arga. Sayang sekali ya kita gak sampai menikah. Padahal saya bisa loh jadi istri yang baik buat Mas Arga."


Mas?


Aduh, manis sekali!


Aku menatap Arga, terlihat dia semakin salah tingkah saat aku tatap. Senyum di bibirnya mendadak kaku. Lihat saja, apa yang akan dia katakan selanjutnya?


"Ya, saya percaya kalau Letta bisa menjadi istri yang baik, tapi sayang sekali kita tidak berjodoh. Mungkin lain kali," ucap Arga yang membuat aku sedikit melotot.


Tubuh Arga menegang saat aku menjepit kulit pinggangnya sedikit keras. Terlihat dia menahan suara yang hampir keluar dari mulutnya.


"Iya, kalau begitu kami pamit, ya. Senang bisa hadir di acara yang bagus seperti ini." Laki-laki itu mengulurkan tangannya lagi pada Arga dan padaku juga, begitu juga dengan putrinya dan wanita yang kukira adalah istri dari laki-laki tersebut.


"Iya, silakan. Nikmati hidangan yang ada," ucap Arga pada ketiga orang itu.


Pria tua itu melangkahkan kakinya, gadis yang bernama Letta mengulurkan tangannya padaku dengan singkat dan dengan tatapan sinis. Aku masih shock dengan perlakuan banyak wanita yang sedari tadi memiliki tatapan yang sama seperti itu terhadapku.


Dia beralih, mengulurkan tangan kepada Arga sambil tersenyum riang. "Mas Arga!"


Arga lagi-lagi melirik ke arahku dengan tatapan aneh, tapi dia tetap mengulurkan tangannya menyambut tangan Letta.


"Selamat ya atas pernikahan kalian!" Wanita itu berjinjit menempelkan pipinya pada Arga kanan dan kiri, aku sampai terkejut melihat betapa beraninya wanita itu melakukan hal yang seperti itu dengan suamiku di hadapan khalayak ramai.


"Kalaupun sudah menikah, tapi jangan sampai lupa sama aku, ya." Terlihat wanita itu sangat genit terhadap suamiku, tersenyum dan berperilaku sangat manis.


"Iya."


"Kalau mau curhat telepon aku saja, ya!" ucapnya, lalu pamit dan pergi dari hadapan kami.


Aku duduk di kursi dengan sedikit membanting tubuhku. Kesal dengan apa yang wanita itu lakukan tadi, dan lagi, Arga tidak menghindar sama sekali.


Dasar laki-laki!

__ADS_1


__ADS_2