Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
39. Rasanya Berpoligami


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahanku. Aku bingung selama ini aku belum bisa mengatakan apa-apa kepada Ayu. Ibu dan Bapak ingin menyampaikan pada Ayu tapi aku larang mereka. Bisa jadi kalau Ibu dan Bapak yang bicara pastinya akan terjadi hal luar biasa dan membuat Ayu semakin drop.


Aku pergi ke luar kota meninggalkan Ayu yang tadi mengantarku sampai mobil dengan senyum semringah. Entah apa yang akan dia lakukan jika tahu aku pergi untuk menikahi gadis lain.


Sampai di kota yang di tuju, dengan hati dan pikiran yang kacau karena memikirkan Ayu. Aku belum tahu bagaimana rupa dari orang yang akan dinikahkan denganku. Aku hanya tahu nama dia saja, Hana.


"Kamu pasti akan suka dengan dia. Dia itu cantik. Ayu sih kalah!" Ibu bicara dari kursi depan, di sampingnya Ardian -sepupuku- yang menyetir sedangkan Bapak sedang tertidur akibat obat anti mabuk. Aku sudah memakai jas hitam lengkap dengan peci yang ada di kepalaku.


"Kamu pasti gak akan menyesal menikah dengan dia. Dia itu cantik. Nanti kalau anak kalian lahir, pasti akan sangat cantik atau ganteng seperi ayah dan ibunya," ucap Ibu dengan riang dari tempatnya.


Aku tidak peduli dengan apa yang Ibu bicarakan, aku menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi dan menatap ke arah luar. Ingat jika aku belum menberi kabar kepada Ayu. Aku mengeluarkan hp dan memberi kabar Ayu lewat pesan.


Tidak lama berselang, kami sudah sampai di tempat yang dituju dimana pernikahan dengan sederhana itu akan dilakukan. Rumah yang kami masuki ini terlihat kecil, tidak seperti rumah kami. Hiasan kain di dalam rumah terlihat menjulang menutupi dinding-dinding di dalam rumah ini.


Kami disambut dengan ramah oleh si pemilik rumah, yang baru aku tahu kalau mereka adalah ibu dan juga ayah dari calon istri keduaku.


Kami duduk di ruang tamu yang telah dihias. Duduk menunggu pengantin wanita yang sedang dirias di dalam kamar. Ruangan yang kecil ini seketika menjadi sempit karena kedatangan keluarga kami. Bapak, Ibu, aku, Mas Dirga beserta istri dan putranya, dan juga beberapa kerabat kami yang lain termasuk sepupu.


Seraya menunggu, banyak pertanyaan yang dilontarkan padaku oleh keluarga wanita, terutama ayah dan ibunya. Aku hanya menjawab seadanya, tidak mau terlalu berlebihan atau terlihat cuek.


Seorang wanita dengan baju kebaya putih dengan lengan panjang keluar dari dalam kamar, digandeng oleh sang ibu dengan pelan ke dekat kami.


"Nah ini dia, Hana." Ibu berkata menaggil nama yang selama ini selalu saja menjadi pembahasan di keluarga. Ibu bangkit berdiri dan mengambil Hana dari Ibunya dan lalu membawanya ke dekatku.

__ADS_1


Aku terdiam melihat tubuh ramping itu kini duduk di sampingku, wajah yang berseri ayu dengan make-up yang tidak berlebihan, tertunduk malu saat aku memindainya dari atas sampai bawah. Alis mata yang sedikit melengkung, tidak terlalu tebal. Riasan mata cocok menurutku. Hidung mancung yang mungil, dan juga bibir dengan polesan lipstik berwarna pink. Pipi sedikit merah merona, tapi aku yakin jika itu bukan blush on, karena apa yang ada di wajahnya tidak nampak berlebihan.


"Hei! Kamu ini kok diam saja. Sapa dong calon istrinya. Jangan cuma di lihatin teruus!" seru Ardian sepupuku seraya menyenggol lengan. Aku tersentak dengan perlakuannya. Ibu, Bapak dan orang-orang yang ada disana tersenyum melihatku. Aku berdecak sebal seraya membuang wajah ke arah lain.


Acara berjalan dengan khidmat dan juga lancar. Dengan satu kali tarikan napas aku bisa melafalkan ijab qabul dengan baik. Aku kira aku akan kesulitan dalam mengucap kalimat itu, tapi nyatanya tidak.


"Selamat ya, Mas. Kamu dah jadi suami dari istri yang kedua. Hebat sekali kamu, bisa punya dua istri, semoga saja mereka akur nanti di rumah," ucap Ardian seraya menepuk bahuku, ucapannya itu membuat aku tediam.


Suami dari dua istri.


Astaga, suami dari dua istri!


Begitu juga dengan ucapan selamat yang diberikan beberapa orang lain terhadapku, membuat diri ini serasa berdosa sekali. Aku menikah tanpa izin dari istri pertamaku.


Apa yang akan Ayu lakukan kalau tahu aku menikah lagi?


"Cari apa? Hp ada di Ibu," ucap Ibu seraya melengos dari depanku.


"Mana, Bu? Aku mau telepon Ayu," ucap ku kepadanya seraya menadahkan tangan.


"Gak bisa! Kamu kalau menelepon Ayu pasti akan minta pulang! Ingat Hilman, kamu juga suami dari Hana, kamu gak boleh meninggalkan dia apalagi di malam pertama kalian!" seru Ibu lalu melangkahkan kakinya ke arah lain. Aku hendak menyusul Ibu, tapi panggilan dari ayah Hana membuat aku urung menyusul Ibu.


Beberapa hari aku harus tinggal di rumah Hana. Sedangkan keluarga yang lain pulang saat sore hari setelah hari pernikahan itu.

__ADS_1


Benar kata Ibu, Hana memang cantik, meskipun dia tanpa memakai riasan seperti saat pernikahan itu. Tubuhnya yang ramping dan juga tidak terlalu tinggi, menjadikan dia gadis yang mungil seperti anak SMA yang baru saja lulus, padahal usia Hana sudah dua puluh dua tahun.


Dia juga baik, sigap dengan pekerjaan yang ada di rumah ini. Apapun dia kerjakan, membantu sang Ibu di rumah. Kopi panas selalu tersedia untukku di pagi dan sore hari dan juga sarapanku dia perhatikan dengan baik.


"Tidak apa-apa, kalau Mas Hilman belum bisa dengan Hana. Hana ngerti, kok," ucapnya saat malam itu aku dan dia berbicara berdua di dalam kamar dengan canggung. Saat aku bertanya kenapa dia mau menjadi istri keduaku, dia hanya bilang jika menikah denganku adalah kebahagiaan untuk orangtuanya, maka dia tidak keberatan melakukan hal itu.


***


Aku merasa tidak enak karena telah meninggalkan Ayu terlalu lama. Hari ini aku pulang kembali ke kota asalku.


Baru saja masuk ke dalam rumah, Ayu menjadi marah terhadapku. Teryata dia sudah tahu perihal pernikahanku ini dengan Hana. Dia memperlihatan padaku apa yang ada di dalam hpnya. Aku merutuki apa yang terjadi di sana. Bagaimana bisa ada yang mengambil gambarku dengan Hana saat ijab kabul terjadi.


Aku meminta maaf terhadap isriku, tapi Ayu sudah terlanjur marah kepadaku, hingga dia mengurung diri di dalam kamar dan tidak membiarkan aku masuk ke dalam sana.


Ayu marah, dia pergi ke rumah Ibunya saat aku datang kembal dengan membawa Hana ke rumah ini. Aku memintanya untuk menjadikan dia sebagai adiknya. Dia tidak bisa terima. Dia juga memintaku untuk mencarikan kontrakan untuk Hana tinggal.


Aku bingung sekali saat ini. Mencarikan rumah kontrakan untuk Hana berarti pengeluaranku semakin bertambah banyak. Uang yang ada di dalam tabunganku sudah menipis karena acara kemarin, dan juga gaji yang aku dapat dari kantor harus aku bagi kesana kesini. Aku harus menyisihkan untuk Ibu dan juga untuk kedua mertuaku.


Ya Tuhan, ternyata seprti ini rasanya berpoligami.


Hingga terjadilah saat itu, saat Ayu pulang ke rumah Ibunya karena sakit. Hana meminta pertolonganku. Lampu dikamarnya tidak menyala. Aku masuk ke dalam sana setelah membeli lampu baru, memasangnya dengan hati-hati. Hana memegangi tangga di bawahku agar tidak bergeser dan menyebabkan aku terjatuh.


Malam itu entah kenapa setelah turun dari memasang lampu aku malah mendekati Hana tanpa sadar. Dia terlihat imut dengan menggunakan baju tidur tipis yang mencetak tubuh mungilnya. Terlihat berlekuk di bagian yang pas.

__ADS_1


Hana terdiam, wajahnya terlihat memerah saat aku semakin mendekat dan menciumnya, dan malam itu ... kami menghabiskan malam untuk pertama kalinya.


Wangi aroma tubuh yang menguar membuat aku lupa segalanya, apalagi sikapnya yang kaku dan juga sangat malu, tidak bisa mengimbangi ciumanku, yang aku sangka bahwa dia tidak pernah merasakannya sebelum ini. Lalu kemudian, teriakan dan tangisan saat aku mengambil mahkotanya membuat aku semakin lupa akan dunia ini.


__ADS_2