Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
112. Bertemu Gara Lagi


__ADS_3

Badanku belum terlalu sehat, padahal semalam sudah meminum obat yang biasa ku konsumsi jika sakit. Untungnya sudah tidak mual muntah lagi seperti kemarin, hanya sedikit pusing yang mendera saja.


Ku paksakan diri ini melajukan motor ke RC, di saat jam lalu lintas yang padat seperti sekarang ini memang lebih banyak menyita waktuku di jalan, beruntung tadi pergi sedari jam enam pagi, memburu waktu supaya sebelum jam delapan aku sudah sampai di sana.


RC termasuk perusahaan yang cukup besar, berjalan di bidang perkainan. Pabrik tekstil yang terbesar yang ada di kota ini. Dari mulai kapas menjadi benang dan kemudian menjadi kain utuh. Disana juga bergandengan dengan pabrik garmen milik RC juga. Singkatnya RC adalah perusahaan pembuatan pakaian dari mulai kapas sampai pakaian jadi.


Merk pakaian dengan logo RC juga cukup terkenal, aku dengar selain di dalam negeri, RC juga mengekspor pakaian tersebut ke luar negeri, Malaysia, Singapura, dan juga ku dengar sampai di negara Eropa.


Perusahaan dengan tulisan RC di depan kantor terlihat berdiri dengan megah, dari luar saja sudah terlihat bagus sekali, aku perkirakan di dalam sana juga pasti tak kalah megahnya.


Ku dekati pos satpam dan berkata datang untuk melamar pekerjaan. Pak satpam itu menyuruhku untuk membawa motor ke dalam, menunjuk tempat parkir yang ada di samping kantor miliknya.


Banyak motor yang berjejer rapi di sana, teduh karena di atasnya terdapat kanopi yang melindungi motor dari sengatan matahari kelak di siang nanti.


"Tunggu sebentar ya, Mbak," ucap salah satu satpam yang ada di sana, sedangkan salah satu orang yng lain melaporkan keadaan sekitar dengan menggunakan walkie talkie.


Aku mengangguk dan duduk di bangku yang ada di luar kantor itu.


Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan kurang. Udara terasa sedikit panas seiring dengan naiknya matahari dengan perlahan. Semilir angin dari kipas yang ada di ruangan satpam itu terkadang keluar dari jendela dan menerpa punggungku. Lumayan sedikit mengusir rasa panas yang mendera.


Kepala ini sedikit pusing sebenarnya, tapi aku paksakan diri ini, tidak ingin melepaskan kesempatan yang datang. Satu dua orang mulai masuk ke dalam gerbang, dengan pakaian yang sama seertiku, baju putih dan bawahan hitam, amplop yang ada di tangan menandakan jika mereka pun akan melakukan hal yang sama.


Menunggu hingga satu jam lamanya, kami masih berada di luaran sini. Sudah ada sekitar delapan orang yang menunggu bersamaku, semuanya sibuk dengan hp masing-masing.


Satu satpam berdiri dan membuka pintu gerbang, mobil berwarna silver masuk ke dalam.


"Silahkan ikuti saya," ucap salah satu satpam yang ada di sana. Kami serentak berdiri dan mengikuti dia berjalan ke salah satu ruangan.


"Tunggu disini, nanti pihak HRD akan panggil satu persatu," ucap satpam itu, amplop berisikan lamaran kerja dia bawa ke dalam salah satu ruangan yang ada di dekat sana.


Kantor ini sangat nyaman kurasakan, ada AC di ruang tunggu membuat badan tidak gerah lagi.


Jam sembilan, satu persatu nama di sebutkan, hingga tiba giliranku yang masuk ke dalam ruangan itu dan menghadap seorang wanita dengan tubuh sintal, cantik dan sangat rapi dengan rambut yang di gulung di atas kepala. Kacamata besar menghias di wajahnya, cocok dengan postur wajah yang bulat.

__ADS_1


Beberapa menit aku ditanyai berbagai hal, nama, usia, pekerjaan yang dulu aku pegang. Padahal semua itu sudah aku tulis dalam lembar riwayat pekerjaan yang ada di tangannya.


"Tolong tuliskan nomor yang bisa dihubungi disini ya, Mbak." tunjuknya pada amplop coklat milikku, ujung jari telunjuk dia arahkan di sudut atas amplop tersebut.


"Nanti tunggu sekitar dua atau tiga hari, kalau Mbak Ayu lolos seleksi sama atasan, saya akan hubungi Mbak Ayu kembali," ujar wanita cantik itu.


"Terima kasih," ucapku seraya menyodorkan amplop coklat itu kembali ke hadapannya.


"Semoga ada kabar baik, ya," ucapnya lagi ramah.


"Iya, Bu. Semoga saja. Saya berharap banyak bisa bergabung dengan perusahaan ini," ucapku lagi.


Aku keluar dari perusahaan ini hampir di jam setengah sebelas siang. Begitu sulitnya sebuah mendapatkan pekerjaan yang belum tentu kita dapatkan. Berangkat dari jam enam hingga pulang hampir tengah sing hanya demi sebuah harapan yang belum pasti.


Sebelum pulang ke rumah, aku mampir terlebih dahulu di sebuah rumah makan, sekedar untuk memesan teh hangat dan membeli lauk untuk makan siang nanti bersama dengan Ibu. Rasa haus sedari pagi aku rasakan di kantor itu tadi sambil menahan rasa pusing di kepala. Lumayan enak setelah mendapatkan teh hangat.


"Gak mau makan!" Seru suara seseorang yang ada di belakangku. Suara khas anak kecil yang sedang merengek.


"Garrlla mau nunggu papa!" teriaknya lagi, cukup mengundang perhatian hingga membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh ke belakangku.


"Garrla mau makan nunggu Papa!" teriaknya dengan lantang, di sampingnya seorang wanita muda –tidak aku kenal– sedang berusaha menyodorkan makanan di tangannya pada Gara.


"Dak mau! Dak mau!" Dia berteriak lagi.


"Aduh, Mas Gara. Katanya tadi mau makan kesini. Yuk makan dulu, mungin Papa juga sedang di jalan. Kan tadi Papa bilang kalau Mas Gara makan duluan," ucap wanita muda itu lagi. Perlakuannya sangat lembut, tapi Gara memang tidak menerima perlakuan dari wanita dengan seragam berwarna biru tersebut.


"Gara?" Panggilku seraya mendekat.


"Tante!!" teriak Gara senang, Dia mengulurkan kedua tangannya, segera aku membungkuk untuk memeluk tubuh mungil itu. Gadis muda itu menatapku dengan penuh curiga.


"Gara sedang apa disini?" Aku duduk di hadapan Gara. "Mbak orang baru ya? Mana Nira?" tanyaku pada dia, wajah yang curiga tadi kini berangsur tenang, tapi terlihat masih berhati-hati.


"Mbak Nira mengurus Oma, sedang sakit," ucapnya.

__ADS_1


"Garrlla mau disuapin Tante!" seru anak itu memotong ucapan pengasuh barunya.


Aku mengisyaratkan pengasuh baru itu untuk menyerahkan piring di tangannya. Dengan pelan dia menggeserkan piring itu.


"Aaaaa ...." Mulut Gara terbuka dengan lebar saat satu suapan besar nasi dengan ikan bakar tertuju ke mulutnya.


"Enak!" serunya lagi. Aku tersenyum melihat Gara yang senang.


"Mbak berdua saja?" tanyaku.


"Iya, Mbak. Tapi ini sedang nunggu Pak Arga. Tadi bilangnya suruh kesini duluan, Pak Arga akan menyusul," ucapnya.


"Papa bohong! Bilangnya tadi kan mau makan sama Garrlla, kok sekarrllang belum datang!" protes anak itu dengan tak peduli, mulutnya penuh hingga ucapannya tidak terlalu jelas di dengar.


"Mungkin Papa Gara sedang sibuk."


"Tapi kan Tante, Papa sudah janji!" ucapnya lagi.


"Gara kan sudah ada Mbak, Kan Mbak yang jagain Gara disini. Kalau Papa sedang bekerja. Gara gak boleh ganggu, ya."


"Kalau Tante sama Garrlla terus, Garrlla dak akan ganggu Papa! Garrlla mau bobo sama tante, mau makan sama Tante, sekolah juga Tante yang antarrll!" serunya engan wajah yang polos.


Eh.


"Iya," ucapku demi membuatnya senang.


"Benerrll, ya. Tante mau tinggal sama Garrlla? Jadi Mama Garrlla?" ucapnya dengan tatapan penuh harap. Aku hanya tersenyum kecil padanya. Rasa di dadaku menjadi berpacu dengan cepat mendengar dia bicara seperti itu.


Kenapa juga aku baper dengan omongan anak kecil? Sedangkan orang yang dibicarakan saja tidak ada perlakuan khusus terhadapku.


Anak itu tidak bicara lagi, sibuk mengunyah makanan dengan mulut yang penuh.


Aku bertanya tentang Oma kepada pengasuh Gara. Penyakit Oma kambuh lagi hingga Nira tidak bisa menjaga Gara, kini dia lah yang menjaga Gara untuk waktu ke depannya.

__ADS_1


"Maaf, Papa terlambat!" Suara seorang pria membuat kami menoleh.


__ADS_2