
"Waalaikum salam, Mas." Dewi tersenyum saat aku masuk ke dalam rumah. Di pangkuannya terdapat seroang bayi mungil sedang menggeliat di dalam selimut, mulutnya berdecak, sesekali lidahnya menjulur keluar.
Aku terpaku, tidak mengerti.
"Hilman. Bayi, Man!" seru ibu saat aku mendekat ke dalam rumah sambil menunjuk bayi yang ada di pangkuan Dewi. Di atas meja terdapat keranjang bayi beserta susu formula, botol, dan juga sepucuk surat. Vita yang ada di pangkuan ibu turun dan berjalan tertatih mendekat ke arahku, dia tersenyum dan menunjuk makhluk mungil itu. Sangat cantik sekali, hidungnya yang mungil sangat mancung, matanya sipit, dengan rambut tebal kulitnya juga putih.
"Ada bayi disimpan di depan rumah, Mas. Boleh aku asuh dia?" tanya Dewi dengan sumringah.
"Sini dulu, Man. Duduk," ucap Bu RT yang menepuk tempat kosong di sampingnya. Aku menurut saja, masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Ini, Man. Tadi saya dapat laporan dari Dewi, di teras ada bayi sama ini." Bu RT menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Segera aku membaca surat tersebut yang isinya adalah permintaan maaf dari seseorang yang menitipkan anak ini pada kami. Dari tulisannya, aku kira ini adalah tulisan seorang wanita, sangat rapi sekali, juga ada beberapa titik bekas basah. Apakah dia menulis sambil menangis?
"Mas, boleh ya kita asuh dia? Di sana dia suruh kita rawat bayi ini dengan baik." Dewi menatapku, dari sorot matanya terlihat penuh harap, menunggu jawaban dariku. Aku menatap ibu, ibu hanya tersenyum saja.
"Iya, Man. Asuh saja. Toh Dewi kan juga mau, tuh bayi laki-laki. Cocok tuh, kalian punya anak sepasang," ucap salah satu tetangga yang disetujui oleh yang lain juga.
Aku tersenyum, masih belum menjawab setuju atau tidak. Aku menatap Dewi, menggerakkan kepalaku, mengisyaratkan dia untuk ikut.
Bayi yang ada di pangkuannya dia alihkan pada ibu. Dewi kemudian mengikutiku ke dalam kamar.
"Bayi siapa itu?" tanyaku pada Dewi, pertanyaan yang bodoh, aku lupa jika di surat itu tidak ada namanya.
"Gak tau, Mas. Tadi waktu pulang dari rumah ibu, bayinya udah ada di teras. Boleh gak, Mas? Aku pengen asuh bayi," ucap Dewi.
Jujur aku bingung. Dalam keadaan yang seperti ini mengasuh bayi bukanlah hal yang mudah. Banyak biaya yang harus keluar untuk susu dan sebagainya. Sedangkan, aku saja kini masih bingung dengan usahaku yang masih sepi.
"Mas, kasihan dia. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan asuh, Mas? Orang tuanya sudah menitipkan dia sama kita, bukankah itu amanah yang harus dijalankan sama kita?" ujar Dewi masih membujuk.
"Bukan gitu, Wi. Aku bingung untuk mengasuh anak ini, kita sedang dalam masa sulit."
"Rezeki sudah ada yang atur, Mas. Aku percaya kok kalau Allah Maha Adil, Maha Tahu yang kita gak tau. Aku mohon, Mas," ucapnya dengan menghiba sambil memegang tanganku. Matanya kini sudah berkaca-kaca. Aku tidak tahan melihatnya.
__ADS_1
"Kamu yakin sanggup asuh bayi itu?" tanyaku akhirnya, melihat Dewi yang memelas membuat aku tidak tega. Seketika dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya, wajah itu terlihat sangat bahagia.
"Kamu bakalan capek ngurus Vita sama bayi itu."
"Aku gak apa-apa, aku gak masalah asuh Vita dan Vano."
"Vano?" Keningku mengerut mendengar nama itu.
"Aku kasih dia nama Vano. Boleh gak?" tanya Dewi tersenyum malu.
Aku mengulurkan tangan mengelus kepala Dewi yang tertutup hijab.
"Boleh, kalau memang kamu sanggup dan bahagia aku izinkan. Bagaimana dengan ibu dan bapak, sudah kamu hubungi?" tanyaku.
"Aku sudah telepon, ibu dan bapak lagi di jalan. Bener kamu mau, Mas? Boleh aku asuh Vano?" tanya Dewi dengan senang menggoyangkan tanganku yang dia pegang.
"Iya, aku izinkan. Lagi pula, dia mau sama siapa? Mungkin memang Allah memberikan kita anak dengan jalan lain," ucapku kepadanya. Dewi tersenyum sumringah dan memelukku dengan erat.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, segera aku membuka pintu tersebut.
"Kalian gak apa-apa?" tanya ibu menilik ke arah dalam.
"Gak apa-apa. Ada apa, Bu?" tanyaku.
"Mertua kamu datang. Wi, ibu dan bapak kamu datang, tuh," ucap ibu. Dewi segera keluar dan menemui kedua orang tuanya. Beberapa tetangga sudah tidak ada, tapi Bu RT masih ada di sini berbicara dengan ibu mertuaku.
"Aduh, gantengnya anak ini. Kalau emang gak ada yang asuh sudah buat saya aja, biar di rumah ada anak kecil." Ibu mertua menimang anak bayi yang ada di pangkuannya.
"Jangan dibawa, Dewi yang akan asuh anak ini," ucap Dewi ngan cepat, terlihat wajah itu tidak rela. Ayah mertua menatap anak kecil itu dengan senyum merekah di bibirnya, semua orang terlihat bahagia. Apakah aku akan tega membiarkan kebahagiaan yang ada di sini menghilang?
Ibu menyenggol lenganku. "Kamu izinkan Dewi?" tanya ibu dengan berbisik.
__ADS_1
"Iya, Bu." Aku jawab dengan berbisik pula.
"Kamu yakin? Urus bayi gak gampang loh," ucap ibu.
"Gak apa, apa, Bu. Dewi juga katanya sanggup, kok."
"Haduh, alamat ibu lagi yang nanti direpotin," ucap ibu dengan nada lelah. Aku tertawa kecil.
"Tolong bantuan Ibu, ya. Kan daripada Ibu kesepian juga di rumah, gak ada kegiatan, kan? Dewi udah bantu kerjaan di rumah, Ibu cuma bantu perhatikan anak-anak aja. Ya, Bu. Minta tolong Ibu, ya." Pintaku membujuk ibu. Ibu menghembuskan napasnya.
"Ya lah, iya," ucap ibu kemudian. Aku merangkul ibu dan mencium pipinya yang mulai berkeriput.
"Jangan cium-cium, banyak orang!" cerca ibu sambil menyusut pipinya yang basah karena ulahku.
"Memang kenapa, sih Bu? Gak apa-apa juga kali," ucapku sambil tertawa kecil.
Bayi yang ada di pangkuan ibu mertua menggeliat, membuat gemas. Jadi teringat saat Vita kecil dulu, sama kecilnya seperti itu. Dewi dan mertua tidak henti tersenyum dan menyentuh tangan bayi mungil itu.
"Man, sini dong. Nih Vano mau sama ayahnya," panggil ibu mertua. Aku mendekat dan duduk di samping Dewi. Anak itu kini berada di pangkuanku. Mulutnya terbuka, menguap, matanya mengerjap kecil.
"Bilang halo Sayang sama Ayah," Dewi menggerakkan tangan anak itu melambai ke arahku.
"Dewi, anak bayi belum bisa ngomong," ucap ibu mertua. Dewi terkekeh pelan, menutup mulutnya dengan tangan yang lain.
"Gemes, Bu. Vano gemesin, pengen gigit rasanya!" ucap Dewi. Vita yang ada sama ayah mertua Dewi ambil.
"Vita, ini dedek Vita. Vita harus sayang sama dedek ya, ucap Dewi mengajarkan Vita. Tangan putriku itu mengelus lengan adik barunya.
Lengkap sudah kebahagiaan kami sekarang ini. Meskipun keduanya bukan putra putri kami, tapi mereka adalah kebahagiaan kami untuk ke depannya nanti.
Semoga saja, di masa depan nanti orang tua anak ini tidak serta merta datang dan mengambil Vano dari kami.
__ADS_1