Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
261. Rumah Sakit


__ADS_3

Taksi telah datang, aku segera masuk ke dalam sana bersama dengan Mbak Sus. Sari aku minta untuk menjaga Gara begitu juga dengan Nira, ku minta dia tidak bicara ini dengan Mama karena takut beliau akan ribut dan meminta menyusul ke rumah sakit. Meski sampai saat ini aku masih dipanggilnya Haifa, tapi aku sudah tidak mau memikirkan hal itu lagi. Nyata yang aku butuhkan dari beliau adalah perhatiannya.


"Bu, saya telepon bapak ya?" tanya Mbak Sus sudah bersiap untuk menghubungi Arga.


"Jangan dulu, Mbak. Biar nanti saya telepon sendiri, takutnya masih ada pekerjaan atau di jalan, biar nanti saya yang akan hubungi," ucapku kepadanya.


"Tapi, Bu. Nanti Bapak marah lagi kalau gak dikasih tau," ucap Mbak Sus lagi.


"Nanti aja, Mbak. Lagian juga ini meski tanda mau lahiran, tapi kan belum tentu juga. Mau diperiksa dulu sama dokternya, jadi belum tentu," ucapku. Kini Mbak Sus diam, meski terlihat sekali ingin melanjutkan protes.


Sakit yang aku rasakan pada perut kini datang lagi. Aku menarik napas dan menghembuskannya, berusaha untuk tetap tenang. Terkadang tanpa sadar aku mengejan sampai Mbak Sus memperingatkan ku untuk bertahan.


"Sakit ya, Bu?" ucapnya dengan iba. Tangannya mengelus pinggangku dengan lembut, membuat nyaman.


Aku hanya tersenyum, ini memang sakit, tapi jangan juga disebut sakit karena ini adalah sesuatu yang sangat indah yang bisa di dapatkan oleh seorang wanita normal. Keringat dingin mengalir di keningku, Mbak Sus membantu mengelapnya dengan tisu.


Taksi membawa kami ke rumah sakit dengan cepat, beruntung jalanan sudah sepi sehingga tidak ada halangan yang berarti. Rasa sakit yang aku tahan sudah membuatku ingin mengejan lagi dan lagi. Meski tanpa sadar aku sudah melakukannya beberapa kali dan lagi-lagi Mbak Sus mengingatkan.


Sampai di rumah sakit dokter yang biasa menanganiku kini sudah menunggu di loby, bersama dengan seorang perawat perempuan yang bersiap dengan kursi roda di depannya. Pak sopir membantuku turun dari dalam taksi, begitu juga dengan tas yang telah aku siapkan tadi. Dia turunkan dan disambut oleh Mbak Sus.


Dengan segera dokter dan perawat itu membawaku dengan kursi rodanya, membawa ke ruangan untuk diperiksa.


"Bu, apa bapak saya telepon aja ya?" tanya Mbak Sus sekali lagi sambil mengikuti kami ke ruang perawatan. Aku menggelengkan kepala, meminta dia menyerahkan hp milikku.


"Nanti, kalau sudah yakin. Mau diperiksa dulu. Kalau yakin akan lahiran saya juga akan telepon bapak. Mbak Sus duduk tenang aja di luar."


"Duh, Ibu nih. Bercanda aja. Mana bisa saya duduk tenang di luar sedangkan Ibu mau lahiran!" ucapnya terdengar nada gemas pada kalimatnya. Aku mencoba tersenyum meski rasa sakit ini semakin hebat.


Mbak Sus menunggu di luar, sedangkan aku bersama dokter masuk ke dalam ruangan. Dengan segera dokter memeriksa keadaanku, menggunakan sarung tangan dia memintaku yang kini berbaring untuk melebarkan kaki.


Rasanya sedikit perih saat tangan dengan sarung tangan itu masuk ke dalam sana. Meski dokter pamit permisi terlebih dahulu untuk melakukannya, tapi memang tidak siap untuk itu.


"Ini sudah benar, Bu Ayu sudah pembukaan ke lima. Memang tanda mau melahirkan," ucap dokter itu. Aku sedikit bingung, padahal perkiraan kelahiran masih bulan depan.


"Dokter, bukannya saya seharusnya lahiran bulan depan, ya?" tanyaku bingung.


"Seharusnya begitu, tapi kalau memang bayinya ingin keluar hari ini saya bisa apa?" ucapnya dengan gurauan sambil tertawa.

__ADS_1


"Pak Arga tidak dihubungi?" tanyanya padaku sambil menekan perutku di bagian bawah, biasanya menerka posisi jabang bayi di sana.


Aku hanya mengangguk, lalu melakukan panggilan kepada Arga. Tak lama suaranya terdengar, di belakangnya terdengar suara yang berisik juga teriakan dari beberapa orang yang menyuruh yang lainnya melakukan pekerjaan dengan cepat.


"Pa, kamu di mana? Apa masih lama pulangnya?" tanyaku dengan pelan. Dokter menatapku sekilas dan kembali dengan pemeriksaannya.


"Ini baru selesai mengawasi buat ekspor, sudah mau pulang sebentar lagi," ucapnya.


"Oh, iya kalau begitu."


"Ada apa? Apa kamu kangen aku?" tanya Arga padaku dengan nada yang setengah menggoda.


"Iya, bisa jadi kangen bisa jadi tidak," ucapku padanya.


"Ih kamu ini, sekali-kali kamu bilang kangen aku kenapa sih?" ucapnya dengan sedikit kesal.


"Bukan aku yang kangen kamu, Pa. Tapi si adek nih yang kangen." Aku menahan kekehan, juga dokter yang senyam senyum melirikku.


"Eh, si dedek mau dijenguk kah?" tanya Arga, terdengar semangat di nada suaranya.


"Hah? Rumah sakit?" Suaranya terdengar terkejut dan juga keras. "Ka-kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanyanya dengan cepat.


"Bukan sakit, tapi perutku yang sakit karena si dedek dah nyesek pengen keluar," ucapku menerangkan.


"Kamu mau lahiran? Bukannya ... bukannya harusnya ...."


"Sudah jangan banyak bicara, kamu bisa susul aku ke rumah sakit atau tidak?" tanyaku lagi.


"Eh, iya. Aku akan segera ke rumah sakit, kamu tunggu, ya. Jangan dulu melahirkan tanpa aku!" Teriaknya dengan kencang lalu menutup teleponnya sepihak.


"Wah, Pak Arga bersemangat sekali ya?" Dokter bertanya, kini memasang infus pada lenganku.


"Iya, Dokter. Masih ada di pabrik sekarang."


"Oh, pantas saja tidak barengan datangnya. Perutnya terasa sakit tidak?" tanya dokter kini mengelus perutku yang terus bergerak dari dalam.


"Kadang-kadang, Dokter."

__ADS_1


"Kalau sakit nanti boleh tiduran miring ke kanan atau ke kiri, atau jalan kaki pelan-pelan di ruangan ini juga boleh, pokoknya nyamankan diri saja," ucap dokter itu lagi. Dokter pamit untuk kembali ke ruangannya dan aku meminta kepada dokter untuk Mbak Sus masuk ke dalam ruangan ini.


"Sudah di telepon bapak nya, Bu?" tanya Mbak Sus mendekat kepadaku. Tas berisi pakaian bayi dia simpan di sofa.


"Sudah, lagi perjalanan ke sini."


"Jadi beneran mau lahiran?" tanya Mbak Sus. Aku menganggukkan kepala.


"Alhamdulillah, tuh kan saya bilang juga apa. ibu pasti akan melahirkan. Ibu mau saya buatkan apa? Teh manis? Atau minum air biasa?" tanya Mbak Sus lagi.


"Saya gak mau apa-apa, cuma mau diusap aja, pinggangnya sakit," ucapku.


Mbak Sus mendekat dan mengusap pinggangku, aku tiduran miring menghadap ke arahnya.


"Ibunya gak ditelepon, Bu?" tanya Mbak Sus membuat aku yang menutup mata kini menatapnya. Bingung apakah aku akan memberi kabar ini pada ibu atau tidak. Ibu pasti akan sangat bersemangat sekali sehingga membawakan banyak barang seperti kemarin saat mengajakku ke rumah sakit untuk menjenguk tetangga yang melahirkan.


"Nanti lah, aku tunggu bapak dulu. Bingung juga kalau diberi tahu sekarang apa ada kendaraan dari sana. Biar nanti Pak Sopir yang jemput ibu," ucapku yang diangguki oleh Mbak Sus.


"Iya, sih. Bener juga."


"Mbak waktu Mbak melahirkan begini juga, ya?" tanyaku.


"Iya, lah. Sama aja rasanya mungkin. Sakit pinggang, panas, rasanya pengen buang air besar, mules," ucapnya.


"Kalau Ibu sih bisa tenang kayak gini, Mbak dulu mana bisa. Sakitnya gak tahan, sampai seisi rumah heboh. Ya maklum lah anak pertama jadi gak pengalaman. Tapi Ibu hebat loh kok bisa tenang seperti ini?"


Aku tersenyum, tidak mengerti juga. Masih bisa membereskan kamar, masih bisa membereskan pakaian bayi, dan juga tenang saat pergi ke rumah sakit.


"Gak tau, saya mikir kalau panik juga buat apa sih. Malah kasihan orang lain."


"Iya sih, bener sekali."


Rasa kantuk menyerangku kini, tidak tahan sampai beberapa kali aku menguap karenanya. Usapan lembut dari Mbak Sus juga seakan mendukungku untuk memejamkan mata dengan nyaman.


"Mbak, saya tidur dulu boleh gak sih? Ngantuk, nih," tanyaku.


"Ya, boleh saja. Gak ada yang ngelarang. Tidur saja dulu, Ibu kan dari siang juga gak istirahat, kan?" tanyanya, aku mengangguk dan memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2