
Pulang dari bidan, nyatanya Azka belum juga sembuh dari sakitnya. Meski badannya tidak terlalu panas seperti tadi pagi, tapi rewelnya masih mendominasi. Dia tidak mau makan, tidak juga mau minum ASI, diajak rebahan tidak mau, digendong juga masih menangis. Duh, benar terasa sekali mengurus anak kecil seperti ini sangat sulit, repot dan juga membuat bingung. Aku benar lelah, tapi semua ini adalah resiko seorang ibu yang menginginkan anak, bukan? Rasanya ingin menangis saja di pojokan, jika istilah anak muda zaman sekarang.
"Kamu capek, ya? Tidur dulu, biar Kaka Ibu yang urus," ucap ibu seraya mengulurkan tangan hendak mengambil alih Azka dari gendonganku.
"Gak apa-apa, Bu? Ibu juga capek, kok."
"Sudah, Yu. Kamu itu harus jaga kesehatan juga, ingat kamu bukan cuma sendirian. Ada adik Gara dan juga Azka," ucap ibu lagi, lalu memaksa untuk mengambil Azka. Azka juga nyatanya tidak menangis saat beralih ke tangan ibu. Dengan jarik kain batik yang panjang ibu menggendong Azka.
"Kaka sama Nenek aja, yuk. Lihat sapi, mau?" tanya ibu dengan nada membujuk. Azka diam, tidak rewel.
"Sudah, kamu makan dulu, terus tidur. Istirahat yang baik. Jangan khawatir soal Azka. Ibu pergi dulu," ucap ibu kemudian.
Aku mengangguk, memang badan ini lemas sedari tadi, tapi anehnya menjadi kuat saat ada Azka. Sekarang Azka ada di gendongan ibu, malah aku kembali merasa diri ini lemasnya minta ampun.
"Mbak Sari! Tolong buatkan madu hangat ya buat Kaka! Bawa celana ganti sekalian, makannya juga. Kita ke rumah Bi Sari!" teriak ibu pada Mbak Sari yang aku lihat melongokkan kepalanya di pintu dapur.
"Siap!" Kedua wanita itu saling berteriak menyebutkan segala keperluan yang harus dibawa ke rumah Bi Sari. Azka memang tidak suka dengan susu formula, aku sedikit khawatir dengan hal itu, saat aku melahirkan nanti rasanya tidak mungkin untuk membagi ASI dengan dua anak. Apakah bisa membagi ASI untuk mereka?
"Ibu pergi ya. Mbak Sari, nyusul ya nanti!" teriak ibu lagi pada Mbak Sari setelah berpamitan padaku.
"Iya. Nanti saya nyusul!" teriak wanita muda itu dari dapur.
Ibu kemudian pergi sambil menimang Azka dan menggandeng tangan Gara keluar. Terdengar suara ibu yang berbicara dengan seseorang, entah siapa. Akan tetapi, tak lama kemudian terlihat suamiku masuk ke dalam rumah sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Kamu lapar, gak?" tanyanya lalu memberikan kantong kresek padaku. Aku membukanya, aroma bumbu kacang tercium di bawah hidung.
"Lapar, dong," ucapku sambil tersenyum senang. Memang sedari tadi mengurus Azka aku jadi tidak napsu makan.
"Aku bawa piring dulu."
__ADS_1
"Gak usah, makan gini aja lah," ucapku membuat Arga yang akan bangkit kini kembali duduk di kursi. Dengan gigitan kecil aku menyobek plastik tersebut di ujungnya dan mulai menikmati batagor setengah pedas.
"Enak, gak? Aku nemu tadi di ujung jalan, pas sudah isi bensin" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk, merasakan ikan tenggiri yang khas ada di dalam adonan batagor.
"Enak, beda sama yang di kota kita," ucapku. Ah, menyebutkan kota asal kami jadi kangen juga.
"Pa, kamu sudah telepon Mbak Sus belum? Aku gak tau kabar Ibu," tanyaku padanya.
"Sudah. Ibu baik, kok. Cuma ya sering tanyakan kita di mana. Gak ada di rumah soalnya." Arga mengambil gorengan yang ada di dalam plastik lain dan memakannya.
"Kapan kita akan pulang?" tanyaku.
"Kamu sudah gak betah di sini?"
"Bukan gak betah. Suka banget tinggal di sini, tapi aku kepikiran ibu juga," ucapku.
"Aku juga sama. Nanti, tunggu Azka sembuh dulu. Baru kita pulang. Apa kamu mau ke air terjun lagi?" tanya Arga.
"Gak tau. Azka aja lagi sakit gitu."
"Bisa kita titipin ke ibu sama Mbak Sari juga, kita bisa pergi sebentar kalau kamu mau," ucapnya lagi. Aku menggelengkan kepala, membuat keningnya mengkerut.
"Gak lah, aku malah khawatir kalau tinggalkan Azka. Masih sakit gitu masa ditinggal. Lagian juga perjalanan ke sana kan jauh. Gak cukup dua jam pulang pergi," ucapku lagi. Memang ingin, tapi jika harus meninggalkan Azka rasanya tidak tega juga.
"Beneran? Gak mau?" tanya Arga lagi. Aku menggeleng lagi. "Ya, sudah. Lain kali aja. Kalau nanti ada waktu luang bisa tahun baru kita kesini, tau pas lebaran nanti," ujarnya.
"Sudah, habiskan makannya. Setelah ini tidur, ya. Aku mau susul ibu, takut Azka rewel kasihan ibu. Istirahat yang baik," tuturnya, lalu berdiri dan mengecup kepalaku dengan lembut.
"Iya, kalau Azka rewel kamu bawa pulang aja, ya." Arga mengangguk dan pergi dari dekatku.
__ADS_1
Selesai dengan makan, aku pergi ke kamar. Memang rasanya lelah sekali, sehingga saat baru saja merebahkan diri tak lama aku tertidur.
...***...
Aku terbangun dengan sedikit kaget, jam yang ada di dinding menjadi fokus tujuanku. Astaghfirullah, aku tidur sudah tiga jam ternyata. Hampir sore hari dan tidak ada yang membangunkan aku.
Aku tadi berpikir akan tidur satu jam saja, setelah itu akan menyusul Arga dan yang lainnya, tapi kenapa sampai bablas seperti ini? Duh ....
Gegas aku memakai kerudung dan berjalan keluar, tujuanku hendak menyusul ibu. Akan tetapi, ternyata mereka kini berada di ruang tamu dengan Azka yang terlihat sudah mandi.
"Eh, sudah pulang. Kok gak ada yang bangunkan Ayu?" tanyaku kesal. Aku mendekat ke arah mereka yang duduk dan mengajak Azka bermain.
"Sudah pulang dari tadi, gak bangunin Mama karena Mama tidurnya pulas banget. Ya kan, Ka?" ucap Arga mengajak bicara Azka. Anak itu hanya berteriak keras, seolah tahu akan maksud yang dibicarakan ayahnya.
"Azka gak rewel, Bu?" tanyaku pada ibu.
"Rewel dikit, tadi sudah dibalur sama asem, kayu putih, dan bawang merah. Tidur di sana juga sesudah makan," ucap ibu sambil memberikan mainan Azka. Terlihat di sebelah Azka ada sebuah mangkok dengan potongan bawang merah dan buah asem.
"Oh, pake ini bisa reda?" tunjukkin pada benda tersebut.
"Ini katanya pengobatan zaman dulu, kalau anak lagi demam. Ibu baru tau tadi kata Bi Sari," ucap ibu lagi. Aku menatap ibu heran, ibu juga orang zaman dulu, tapi kenapa tidak tahu?
"Ibu dulu sudah menikah sama bapakmu langsung dibawa ke kota, jadi gak tinggal sama nenek kamu. Mana tau pake kayak gituan biar demam anak reda. Gak ada yang ajarkan," ujar ibu lagi. Sepertinya melihat keningku yang berkerut tadi sehingga menjelaskan tanpa aku minta.
"Oh, tapi gak bikin panas dan iritasi?" tanyaku dengan hati-hati, takut jika kulit Azka menjadi ruam dan sebagainya.
"Kayaknya gak ada, sih. Tadi aku mandikan dia, gak ada kulit kemerahan. Ini kan alami, Ma. Mungkin Azka cocok pake ini. Sudah gak panas lagi badannya," sambar Arga. Aku menempelkan punggung tangan di kening Azka, memang panasnya sudah jauh berkurang dari tadi pagi. Entah apakah ini dari obat yang bidan berikan, atau dari minyak oles alami yang ibu beri. Akan tetapi, patut untuk dicoba juga pengobatan alami ini, agar tidak tergantung dengan obat.
Adakah yang sama dengan kayu putih, bawang dan asem untuk demam si kecil?
__ADS_1