Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
303. Semua Lelah


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan yang panjang akhirnya kami sampai di rumah. Ibu kami minta untuk tidur di sini malam ini karena aku sedikit khawatir dengan kesehatannya, tadi sempat mengeluh pusing sebelum sampai di rumah.


Gara dengan perlahan berjalan ke dalam rumah, terlihat sekali anak laki-laki itu sepertinya sangat kelelahan akibat perjalanan yang panjang. Di belakangnya mengikuti Mbak Sari yang membawa koper pakaian miliknya dan juga milik Gara.


"Abang, capek ya?" tanyaku saat mendekat padanya. Gara mendudukkan dirinya dengan kasar di atas sofa, berbaring dengan nyaman di sana.


"Ngantuk, Ma. Pegel juga duduk terus," ucapnya lagi. Aku mendekat dan mengelus kepalanya dengan sayang. Kasihan sekali anak ini, beginilah jika bepergian ke tempat yang jauh. Rasanya lumayan lelah sekali, terbayang sudah jika setiap tahun saat hari raya orang-orang mudik ke kampungnya yang jauh.


"Sana tidur di kamar, jangan lupa mandi dulu," titahku.


"Nanti lah, Ma, capek mau ke atasnya juga," ujarnya terdengar malas. Aku menggelengkan kepala mendengarnya.


"Ya sudah, nanti kalau sudah gak capek pindah ke kamar terus mandi ya?" pintaku. Gara mengangguk dan memiringkan tubuhnya ke arah sandaran sofa.


Ibu masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa barang oleh-oleh yang diberikan kerabat dan tetangga di kampung, terlihat susah payah dengan kedua benda yang ada di tangannya itu.


"Bu, istirahat saja, biar nanti itu semua yang lain yang bantu keluarin," pintaku pada ibu.


"Gak apa-apa, sekalian masuk ke rumah kok," ucap ibu. Ya begitulah, dasar yang namanya orang tua, tidak bisa diberi tahu, kalau pun menjawab hanya sekalian, tidak capek juga.


Mbak Sus masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa barang yang bisa dia bawa, sisanya oleh pak sopir seperti koper dan juga beras, atau barang yang berat lainnya.


Azka aku titipkan kepada Mbak Sari, rasanya ingin mandi karena badan ini lengket setelah perjalanan tadi.


Arga juga kini masuk, tak luput di tangannya membawa oleh-oleh dan juga tas kerjanya. Arga memberikan oleh-oleh tersebut pada Mbak Sus yang baru akan keluar kembali.


"Mama sehat kan, Mbak?" tanya ku pada Mbak Sus.

__ADS_1


"Sehat, Bu, Cuma ya nanyain Ibu sama Bapak terus sih," jawabnya.


Aku mengangguk dan memutuskan untuk pergi ke kamar ibu. Seperti biasa Mbak Nira sedang mengurusi ibu sore ini, mengelap tubuhnya dengan kain basah.


"Mbak." Nira menoleh dan tersenyum.


"Eh, Ibu sudah pulang?" tanya Nira dengan senang.


"Sudah, baru saja. Mama sehat?" tanyaku lagi padanya.


"Alhamdulillah, sehat, tapi ya gak banyak makan sih," ucapnya menerangkan.


Mama menoleh dan tersenyum, menggapaikan tangannya memanggil. "Haifa!" Lagi-lagi, Haifa, tapi tidak apa lah, sudah aku anggap biasa, hanya sebuah nama yang terpenting kasih sayang Mama nyata untukku.


Aku mendekat pada mama, mengecup tangannya yang mulai keriput.


"Baik. Kemana saja? Mama cari Ifa sama Gara," tanyanya.


"Ke rumah saudara, Ma. Maaf kalau lama, Mama sehat kan? Makan yang bener kan?" tanyaku lagi.


Mama mengangguk, tapi kemudian Mbak Nira berkata, "Nenek susah makan, Bu. Itu aja yang tadi pagi gak dimakan," lapornya padaku seraya menunjuk pada mangkok yang ada di atas meja.


Aku menatap pada mama dengan tidak suka.


"Kenapa Mama tidak makan? Makan itu penting, loh, katanya gak mau ke dokter terus?" tanyaku pada beliau.


"Gak ada Gara," bisiknya dengan lirih. Aku sedih juga mendengarnya. Betapa mama sangat sayang sekali dengan cucunya ini, meski kadang saat aku membawa Azka tidak seantusias pada Gara, mungkin memang karena Gara sudah lebih lama menemani mama sejak dulu sehingga mama selalu memanggil Gara.

__ADS_1


Mama selesai dibersihkan, kali ini aku yang akan menyuapi mama makan, tidak tega rasanya jika terus menolak saat Mbak Nira yang menyuapinya. Bisa-bisa mama tambah sakit jika tidak makan dengan benar.


"Kamu di sini?" Aku menoleh. Arga baru saja masuk ke dalam kamar, mendekat ke arah mama dan mengecup pipi wanita yang telah melahirkannya.


"Apa kabar, Mama?" tanyanya.


"Sudah makan?" tanya mama balik pada suamiku. Seorang ibu yang sudah tua dan sakit kini terlihat sangat khawatir dengan keadaan anak semata wayangnya. Di elusnya pipi Arga dengan tatapan sendu.


"Sudah. Mama lagi makan ya? Biar Arga suapi ya? Ayu di cariin Azka," ucap Arga lalu mengambil alih mangkok berisi bubur yang ada di tanganku dan menggantikan menyuapi sang ibu. Dengan pelan dan telaten Arga menyuapi mama dan menyuruhku untuk kembali ke kamar.


"Azka nangis tuh, sana. Ambil Azka, kasihan ibu," ucapnya.


Aku mengangguk dan pamit pada mama, lalu berjalan keluar dari kamar tersebut untuk menemui Azka yang terdengar tangisnya dengan keras.


"Kamu dari mana? Katanya mandi kok masih pakai baju ini?" tanya ibu setelah melihatku.


"Dari kamar mama." Azka aku ambil alih dan aku pangku. Duduk di sofa lalu mengeluarkan sumber nutrisi untuknya. Dengan lahap anak laki-laki ku minum dengan sangat kuat, sesekali menarik ujungnya sehingga terasa sakit dan perih. Kadang juga bukan untuk diisap, tapi hanya di gigit kecil, benar apa kata ibu jika Azka akan tumbuh gigi, gusinya sudah terasa keras.


"Ibu ketemu mama dulu ya," ucap ibu.


"Iya, ke sana aja. Ada Arga lagi suapi mama," ucapku. Ibu pergi ke kamar mama, Azka yang melihat kepergian ibu memanggil dengan menggapaikan tangan, sepertinya tidak berkenan jika ibu pergi dari sampingnya.


"Mau sama nenek, ya? Gak usah ya. Kamu lagi mimik, diam di situ, anak kecil!" ucapku mengajaknya untuk bicara. Dia menatapku dan menghentikan gerakan mulutnya. Tidak berbicara, tapi hanya menatapku tajam seakan marah dengan ucapanku tadi.


"Apa, hem? Cepetan, sudah belum? Kita mandi." Anak ini kembali menggerakkan rahangnya dan mengisap dengan kuat. Lama-lama matanya menjadi sayu dan kemudian tertidur.


"Astaghfirullah, suruh mandi malah tidur. Capek, ya?" Kepala Azka yang berkeringat aku usap, tak lupa juga mendaratkan kecupan di kening tersebut. Dia tidak terganggu sama sekali, sangat pulas karena sedari tadi saat di mobil lebih banyak bangun daripada tidur. Berteriak dan tertawa karena digoda ayahnya.

__ADS_1


Aku memindahkan Azka ke kamar, memasukkannya dalam box dengan sangat hati-hati, tak lupa dengan box tersebut yang aku kunci dengan baik. Kembali ke ruangan keluarga, Gara masih ada di sana, semenjak tadi dia berbaring di sofa ternyata dia tertidur dengan pulas. Terlihat sekali lelah yang mendera pada wajah tampannya. Tidak tega aku membangunkan dia, sehingga aku memutuskan untuk membiarkannya saja tidur di sana. Selimut yang dari dalam kamar aku bawa dan memakaikannya pada tubuh kecil Gara.


__ADS_2