
Pagi ini aku bangun dengan rasa penuh bahagia. Semalam aku bermimpi sangat indah sekali. Mungkin karena ucapan Arga semalam yang ingin segera membawaku ke dalam hubungan yang halal sampai aku memimpikan jika aku sudah bersama satu rumah dengan dia dan juga Gara.
Hihi, rasanya aneh sekali. Bangun tidur, malah melamun, senyum-senyum sendiri seperti orang stress. Malunya, padahal waktu dulu bertemu dengan Mas Hilman aku tidak pernah merasakan yang seperti ini.
Bagaimana nanti ya? Kalau setiap pagi aku bangun dan di sampingku ada Arga? Sarapan dengan dia dan juga Gara, pergi mengantar Gara ke sekolah bersama, menikmati hari bersama. Bercanda bersama?
Aaaahh, ada apa denganku! Wajahku panas!
"Yu, ini sudah mau siang loh. Kamu gak mandi?" Suara teriakan Ibu dengan ketukan di pintu menyadarkanku. Aku mengambil hp dan melihat jam sudah hampir jam enam pagi.
Astaghfirullah! Aku kesiangan!
Aku melonjak bangun dan segera mengambil handuk. Kasur yang berantakan aku biarkan saja. Biasanya aku tidak pernah bangun sesiang ini. Aduh! Gara-gara Arga ini. Eh?
Beruntung aku sedang ada tamu dan tidak melakukan shalat.
"Tumben bangun siang?" tanya Ibu. Aku hanya tersenyum malu dan masuk ke dalam kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk aku mandi, memikirkan jalanan yang jauh dan juga macet cukup membuat aku menjadi khawatir. Tentu akan menjadi masalah jika terlambat dan malu juga dengan teman yang lainnya.
"Yu!" Suara ketukan di pintu terdengar kembali saat aku sedang membubuhkan sedikit make up di wajah. Pakaian sudah aku kenakan, kerudung juga, untung saja sudah di setrika kemarin.
"Ya, Bu?" Balas aku berteriak, tapi tidak lantas mendekat ke arah pintu, tanggung sedang menggunakan lipgloss.
"Ada sopir Arga di luar. Mau jemput kamu ke pabrik katanya?"
Hah? Sopir Arga?
Gegas aku mempercepat gerak ku dan membuka pintu, terlihat Ibu tersenyum melihatku dari atas hingga ke bawah.
"Yang mau ketemu Arga, cetar membahana!" goda Ibu.
"Apa sih, Bu? Cetar dari mana? Biasa juga begini!"
Ibu tertawa kecil. Apa yang salah? Aku seperti biasanya, hanya sedikit memakai blush on yang aku beli dua hari yang lalu, memang sedikit lebih berwarna daripada milikku yang hampir habis.
"Tuh, sopirnya Arga jemput."
"Kok jemput?" Aku bingung sendiri.
"Iya, disuruh Arga. Sana. Nanti keburu macet. Ini ibu bawakan bekal buat kamu sarapan." Ibu memberikan kotak makanan untukku.
"Makasih, Bu."
__ADS_1
Aku pamit kepada Ibu, mencium punggung tangannya yang semakin kurus.
"Mbak Ayu," sapa sopir dengan ramah saat aku baru saja keluar dari dalam rumah. Pria yang aku tahu namanya Farhan ini berdiri dan mengangguk seraya tersenyum.
"Saya diutus sama Pak Arga untuk jemput Mbak Ayu," ucapnya ramah, menunjukku dengan ibu jarinya.
"Eh, kok pake dijemput segala?" tanyaku bingung.
"Iya, Mbak. Kata Pak Arga minta maaf, karena Pak Arga harus mengurusi Mas Gara dulu pagi hari. Mari," ucap pria itu lagi lalu berjalan mendahuluiku ke mobil yang dia bawa. Pintu mobil dia bukakan untukku masuk ke dalam sana. Aku jadi merasa tidak nyaman dengan perlakuan pria ini.
"Terima kasih, Pak."
Pak Farhan berputar dan duduk di belakang kemudi. "Ini, Mbak. Dari Pak Arga." Pak Farhan memutar tubuhnya dan memberikan aku sebuah buket bunga mawar berwarna putih. Aku terkesima melihatnya. Seumur hidup baru kali ini menerima bunga yang sangat cantik.
Tanpa bisa bicara apa-apa, aku menerima bunga itu. Wangi aroma mawar yang harum tercium di bawah hidung. Sebuah kartu terlihat terselip pada batang mawar di sana.
Selamat pagi, Cinta. Semoga hari mu menyenangkan. Love U.
Day 1.
Tanpa sadar aku tersenyum dengan rasa yang sangat berbeda. Tidak bisa aku ungkapkan bagaimana, tapi tentunya ini pagi yang sangat sepesial di dalam hidupku. Arga bisa membuat aku bahagia dan malu sekaligus.
Sampai di perusahaan, beberapa orang menatap aku yang baru saja keluar dari mobil milik Arga. Aku malu, dan juga tidak terbiasa melihat tatapan mereka yang seperti itu. Jelas mereka tahu ini mobil siapa apalagi Pak Farhan membukakan pintu untukku.
"Waaaah, Mbak Ayu. Cieee dapat bunga!" Desi berseru seraya memasang wajah usilnya saat aku baru saja masuk ke dalam ruangan. Nina menatapku lalu ikut tersenyum.
"Pasti dari Pak Eka ya?"
"Pak Arga, Nin. Mbak Ayu mana kenal Pak Eka! Hihi ...." Desi menutup mulutnya sedangkan Nina tertawa kecil, dan aku semakin malu.
"Sebentar lagi ada yang mau ganti status nih, jadi gak single lagi. Tuh, Nin. Cepetan minta di halalin deh tuh sama doi, nanti keduluan Mbak Ayu, loh!" Amar dari tempatnya berbicara membuat aku merasa bertambah malu sekali.
"Ya gak apa-apa kali. Mau siapa yang duluan, yang penting kan jelas ada pasangannya, dari pada kamu. Jomblo sejati. Cari pacar sana!" cerca Nina. Amar hanya mengerucutkan bibirnya, kesal. Dia melanjutkan sibuk dengan pekerjaan.
"Jadi, udah dapat restu, nih? Kapan dong Mbak Ayu dan Pak Eka ... eh, Pak Arga nikah?" tanya Desi. Aku menggelengkan kepala. Desi dan Nina menatapku dengan bingung. Amar dari tempatnya terlihat memiringkan tubuhnya dan menyimak obrolan kami.
"Belum tau. Baru juga dapat restu semalam," jawabku.
"Waaah, selamat! Sudah aku duga, kalau Mbak Ayu dan Pak Eka itu bakalan bersama," ujar Nina. Mereka memang sudah tahu perihal hubunganku dengan Arga dulu, itu karena keduanya mendesak aku untuk bercerita. Hanya saja aku tidak menceritakan semua, hanya yang mereka tahu aku pernah pacaran bersamanya dan juga putus karena sebab tertentu.
"Doakan saja semoga semuanya lancar," ucapku.
__ADS_1
"Aamiin," sahut keduanya.
***
Semenjak itu aku tidak diperkenankan untuk pergi sendirian ke kantor. Setiap hari Pak Farhan menjemput dan setiap hari pula aku mendapatkan sebuket bunga mawar putih. Pun sama saat aku masuk ke dalam kantor, tatapan orang makin tidak membuat aku nyaman, kali ini bukan hanya satu atau dua orang saja, tapi tentu banyak orang karena Arga adalah sosok pria idaman kaum wanita.
Pernah pada suatu hari ada yang menyindirku. Dia mengatakan jika aku pakai ilmu hitam untuk mendapatkan cinta dari Arga, memakai susuk dan sebagainya agar bisa dilirik dan menjalani hubungan bersama dengan orang kaya. Tentu saja itu tidak benar. Aku tidak pernah memakai hal yang seperti itu untuk menggaet laki-laki.
'Jangan-jangan sering di pakai juga,' celetuk seseorang waktu itu jelas dengan nada yang sinis dan tatapan penuh ejekan. 'Gak nyangka, ya. Padahal berjilbab, loh!'
Desi yang sedang bersamaku dan tahu akan ucapan itu tertuju untukku, marah. Mereka hampir saja bertengkar, Desi yang tidak terima aku dikatakan seperti itu dan wanita muda yang merupakan fans fanatik Arga tidak ingin mencabut kata-katanya dan meminta maaf padaku. Jadilah keduanya saling adu mulut hingga membuat keadaan di kantin menjadi ramai. Hampir saja saling cakar dan tarik rambut jika saja keduanya tidak segera dipisahkan.
Sorenya, desi dan wanita itu dipanggil ke kantor lalu aku dengar jika wanita itu tidak lagi ada di sana. Dia dipecat.
Semenjak itu tidak ada yang berani lagi menatapku atau menyindirku, mereka lebih memilih menghindar daripada nantinya terjadi masalah dan dipecat oleh Arga. Jujur saja aku sedih, orang-orang yang dulu sempat dekat denganku kini satu persatu menjauh, dan hanya menyisakan tiga orang teman satu ruanganku saja yang selalu setia menemani.
"Kenapa kok kelihatan sedih?" tanya Arga saat kami sedang dalam perjalanan pulang.
"Tidak apa-apa," jawabku. Kening Arga mengerut, dia melirik sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Beneran?"
"Iya."
"Ga, mulai besok, jangan jemput dan antar aku pulang lagi, ya." Akhirnya aku bicara.
"Kenapa?"
"Aku gak enak sama yang lain." Jujur lebih baik dari pada muncul suatu masalah atau curiga.
"Memangnya kenapa? Hak aku dong mau antar jemput kamu. Kan kamu calon istriku!" Arga sudah mulai sewot.
"Apa ada yang bicarakan kamu lagi di kantor? Siapa? Biar aku menindaknya!"
"Eh, tidak! Jangan. Tidak ada sih, cuma aku tidak nyaman aja karena kamu terus antar dan jemput aku pulang pergi kantor. Gak ada yang ngomong juga, cuma aku aja yang baperan, sedikit gak enak dilihat orang lain."
Arga menarik napasnya dan menghembuskannya, terdengar cukup kasar.
"Maaf, Yu. Aku gak akan turutin permintaan kamu. Kamu adalah tanggung jawab aku sedari Ibu memberikan restunya. Tidak peduli orang lain mau bilang apa, tapi aku lebih tidak ingin lagi terjadi sesuatu sama kamu. Selama ini aku selalu khawatir kalau ingat kamu naik motor pulang pergi sendirian. Kamu ngerti gak sih dengan perasaan khawatir aku?" tanya Arga dengan tegas dan tidak mau dibantah. Aku hanya menunduk saja. Senang dengan perhatiannya, tapi juga sedih dengan kenyataan di sekitarku yang sepertinya tidak suka akan hubunganku dengan Arga.
"Masih ada yang usik kamu? Aku akan pecat semua orang supaya gak ada lagi yang ganggu kamu, Yu!" ucapnya lagi. Aku tersentak dan memegang tangannya di atas kemudi, terasa tangan itu mengepal kuat hingga urat di tangannya menonjol di permukaan kulit.
__ADS_1
"Jangan!"
"Kalau begitu, kamu saja yang aku pecat!