Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
310. Liburan Dadakan Dengan Ibu


__ADS_3

Kami pergi ke pantai, jarak dari rumah ke tempat ini hanya sekitar satu jam lebih. Jalan yang mulus memudahkan kami untuk bisa sampai ke sini dengan cepat.


Vita hanya terdiam saat melihat ombak di laut. Pantai yang luas terhampar beberapa kilometer jauhnya memperlihatkan pasir dengan warna hitam yang berkilau. Putriku ini tidak mau turun dari gendongan, mungkin saja tadi saat kakinya terkena pasir di tempat parkir dia sedikit merasa geli sehingga tidak mau lagi turun. Dia hanya menatap dengan diam ombak yang berdeburan di sana.


Pantai menjelang sore ini terlihat ramai, rasanya menyesal sekali kenapa tidak sedari pagi kami datang kemari. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu liburannya di sini.


"Ibu ingat waktu ngajak kamu ke sini sewaktu kecil. Kamu sama Dirga nggak mau pulang sampai-sampai berguling di pasir dan kotor lagi. Kalian akan pergi ke dalam ombak untuk membersihkan diri. Begitu terus berkali-kali sampai Ibu kesal waktu itu," ucap Ibu sambil menatap ke arah ombak yang bergulung di depan sana. Terlihat wajah yang bahagia tadi kini berubah menjadi sendu.


Aku mengingat momen waktu itu. Jelasnya tidak ingat waktu aku berusia berapa, tapi sepertinya tidak lama setelah masuk SD. Kami berenang dan dipanggil ibu, karena tidak mau pulang terus-terusan saja saling melempar pasir ke arah satu sama lain. Berkejaran hingga berguling-guling di pasir sehingga membuat pakaian kami kembali kotor. Akhirnya bapak yang turun tangan sampai menyeret kami ke toilet umum untuk membersihkan diri.


Aku tertawa kecil, mengingat momen manis tersebut. Jelas tidak akan bisa terulang lagi, itu hanya akan menjadi kenangan manis saat kita tua nanti. Dulu adalah dulu, sekarang adalah sekarang. Waktu jelas tidak bisa diputar kembali. Apalagi aku sangsi jika semua akan kembali seperti semula. Bapak sudah tidak tahu kemana, Mas Dirga juga tidak pernah ada kabar, seakan kedua orang itu kini sudah hilang ditelan bumi. Ah, betapa tega sekali bapak dengan Yana. Meskipun ibu dengan sifatnya yang seperti itu, tapi ibu cukup baik untuk melayani suaminya di rumah. Dan Yana … rasanya menjadi istri laknat yang tidak tahu diri setelah Mas Dirga banyak berkorban untuk dia, ternyata wanita itu malah bermain gila dengan bapak mertuanya sendiri.


"Sudahlah jangan diingat lagi, sekarang semua sudah beda," ucapku kepada ibu.


"Tunggu di sini, Hilman mau sewa tikar dulu," pintaku. Vita aku berikan pada ibu. Deretan warung yang ada di pinggir pantai ini memang menyewakan tikar untuk para pengunjung yang tidak membawanya. Mereka bebas untuk menggelar tikar di manapun asalkan saat pulang nanti dikembalikan benda tersebut kepada pemiliknya.


Kami menggelar benda tersebut di bawah sebuah pohon yang rindang, mencoba untuk menghindari sinar matahari yang masih akan tenggelam beberapa jam lagi. Matahari masih bersinar dengan cukup terik, tapi untungnya rindangnya daun menghalangi cahaya matahari tersebut.

__ADS_1


Ibu mendudukkan Vita di atas tikar. Tidak lama dua orang datang membawa minuman yang aku pesan. Kelapa muda yang sempat membuatku tergiur tadi. Vita aku belikan air putih karena tak yakin anak ini mau minum air kelapa.


Aku membawa Vita ke tepian ombak, tapi dia sepertinya takut sehingga memegangi bajuku dengan cukup erat. Dia tidak berbicara hanya menatap gulungan ombak besar yang ada di depan. Angin menempa tubuh kami sehingga menerbangkan rambut Vita yang sudah mulai panjang.


"Mau berenang apa tidak?" tanyaku kepada Vita sambil menunjuk orang-orang yang tengah berbaring dan menunggu ombak. Beberapa anak kecil juga sedang berlarian di sana bersama dengan yang lainnya. Vita tidak menjawab, masih tetap diam memperhatikan orang lain. Perlahan aku berjongkok saat ombak datang dan sengaja membasahi kaki putih Vita dengan ombak yang datang. Pelukannya erat di leher, dia juga mengangkat kedua kakinya ke atas menolak untuk dibasahi.


"Kenapa? Vita takut?" tanya ku kepada anak itu sambil tertawa geli. Pasalnya wajah Vita terlihat aneh, seperti sedang bingung dan menahan tangis. Aku membujuknya lagi, mendekat kepada anak-anak lain yang sedang seru menepuk-nepuk air yang kembali ke laut. Berharap jika Vita berani seperti anak-anak itu.


Vita tetap tidak mau turun, padahal jika di rumah dia tidak mau berhenti mandi. Tadinya aku pikir mengajaknya kemari agar dia bisa bersenang-senang, tapi sepertinya dengan air yang bergerak itu dia menjadi takut.


"Nggak jadi berenangnya?" tanya ibu kepadaku.


"Gak jadi, kayaknya Vita takut sama air. Ombaknya lumayan gede," jawabku. Ibu hanya mengangguk kemudian meneruskan pekerjaannya berbalas pesan.


Aku membiarkan Vita duduk sendiri, buah kelapa milikku dia tepuk-tepuk, sesekali menyesap airnya dari sedotan.


"Ah!" Suaranya terdengar sangat menggemaskan sekali. Mulutnya terbuka lebar, lagi-lagi menyesap air kelapa dan melakukan hal tersebut. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya, sangat lucu sekali.

__ADS_1


"Eerrgh!" Kali ini dia bersendawa dengan cukup keras sehingga membuat ibu menolehkan kepala.


"Kenyang, ya?" tanyaku pada Vita, anak itu tertawa dengan keras dan melakukannya lagi, sendok yang ada di sana dia pakai untuk mengambil lembaran daging kelapa muda yang mengapung.


Kami tak lama di sana, hanya duduk diam dan menikmati pemandangan alam yang sesungguhnya, rasanya damai sekali sehingga tidak ingin pulang ke rumah. Angin sore masih terasa panas, sedikit lengket dengan aroma laut yang khas. Kami memesan makanan khas yang ada di sana, ikan bakar dan ayam bakar dengan lalapan sambal, minuman es jeruk membuat segar tenggorokan ini. Untuk Vita dia menunjuk ke arah bakso yang ada di dekat kami. Tak lupa aku menyuapinya dengan nasi juga.


Jam empat sore, kami pulang ke rumah, di perjalanan Vita tertidur dan ibu menyuruhku memindahkannya ke pangkuan ibu. Hampir magrib kami sampai di rumah, lelah rasanya, tapi bahagia dan pikiran ini segar setelah berwisata dadakan tadi.


Vita aku pindahkan ke kamar.


"Man," panggil ibu dari ambang pintu.


"Ya, Bu?"


"Ini baju kamu sama Vita." Ibu memberikan tas karton berisi pakaian kepadaku, kemudian tanpa bicara lagi ibu pergi dari sini.


Aku membersihkan diri. Mandi dan langsung beristirahat. Perut masih kenyang, tidak ada lagi urusan setelah ini, maka selepas magrib aku memilih untuk menutup mata bersama dengan Vita.

__ADS_1


__ADS_2