
Hilman.
Aku semakin kagum pada sosok Dewi, wanita yang sangat sabar dan juga penyayang, baik padaku dan juga pada Vita. Ibu, meski ketus juga sayang kepada Dewi.
Sudah satu bulan ini aku keluar dari pabrik, sebenarnya sayang keluar dari sana karena gaji sudah lumayan, tapi mendengar keinginan bapak mertua yang ingin aku mengikuti jejaknya, membuat aku tidak bisa menolak keinginan tersebut.
'Maaf ya. Bukannya Bapak mau merendahkan kamu, Hilman. Tidak ada sama sekali, tapi Bapak mau tanya. Mau sampai kapan kamu kerja di pabrik? Dengan penghasilan kamu dan pengeluaran yang banyak seperti itu, berapa yang bisa kamu berikan kepada Dewi? Sama ibu kamu? Berapa uang yang bisa kamu simpan sebagai tabungan? Lihat, Vita sudah besar, inginnya sudah banyak, juga kamu harus mempunyai tabungan bilamana Vita harus menjalani pengobatan. Cukup?' tanya bapak waktu itu saat kami sedang duduk di ruang tamu ruah ini.
Aku hanya menunduk dalam, memikirkan jika apa yang bapak katakan adalah hal yang benar. Aku berkata jika tidak punya modal, jangankan untuk membeli bahan dagangan sembako, untuk sewa lapak saja aku tidak mampu. Bapak bersedia memberi modal untuk itu semua, hal yang sudah dipersiapkan untuk Dewi, tapi rasanya aku tidak enak hati jika semua dari bapak. Resepsi saja semua biaya bapak yang menanggung, aku hanya mengeluarkan uang delapan juta, itu pun hasil dari ibu menjual emas yang ada di tubuhnya. Tidak enak hati rasanya jika aku sebagai laki-laki tidak sama sekali mengeluarkan uang untuk pesta resepsi.
Akhirnya, meskipun dengan berat hati bapak mengiyakan keinginanku, modal berdagang sembako aku pinjam dari bapak, lebih dari seratus juta. Rasanya berat karena aku saja masih punya tanggungan ke bank bekas waktu itu, masih cukup lama sampai utang itu lunas.
__ADS_1
Bapak juga mengatakan jika untuk sementara, utang ke bank beliau yang akan tanggung selama aku babat. Setelah aku berhasil merintis, utang dibayar dengan mencicil setiap bulan kepada bapak. Ragu, tapi bapak terus meyakinkan jika delapan dari sepuluh rezeki datang dari berjualan,
Aku termenung di toko, seorang karyawan laki-laki sedang membereskan barang di rak, memasang kopi di tempatnya. Seperti bapak, aku membuka toko sembako, jual grosir dan eceran. Tentunya, harga tersebut dibedakan jika membeli dengan harga eceran. Karyawan yang ditunjuk bapak sudah berpengalaman, sudah ikut dengan bapak sekitar tiga tahun. Dia berada di sini karena untuk membantuku yang masih awam soal berniaga.
Toko sedikit sepi selama seminggu ini, padahal waktu awal bulan sampai minggu lalu pembeli masih banyak. Baik bapak, Dewi, maupun Heru -karyawanku-, mengatakan jika wajar berjualan sepi seperti ini, pembeli datang karena mencoba dan ingin tahu apa saja yang dijual di tempat ini. Mereka tak berhenti mensuport aku yang sering kali memikirkan hidupku jika dagangan tak laku.
Suara dering telepon terdengar nyaring membuyarkan lamunanku. Aku mengambil hp dan menempelkannya di telinga.
"Mas. Pulang, Mas!" ucap Dewi tanpa mengucap salam, terdengar suaranya seperti panik.
"Pulang, Mas. Kalau bisa sekarang!" ucap Dewi lalu menutup teleponnya sepihak. Aku takut, biasanya Dewi akan menelepon jika ini berhubungan dengan Vita, atau jika dia menginginkan makanan dari luar hanya akan mengirim pesan saja.
__ADS_1
Gegas aku bangkit dan mengambil jaket serta tas.
"Her, titip toko sebentar ya. Saya mau pulang dulu, Mbak Dewi telepon. Kamu gak apa-apa, kan jaga toko sendri?" ucapku pada Heru.
"Iya, Mas. Silakan," ucapnya sambil menolehkan kepalanya, tapi tangannya tidak berhenti menggantungkan sampo rentengan ke tempatnya.
Aku bergegas mengambil motor, padahal ini masih jam satu siang. Beruntung jalanan sepi dari kendaraan dan aku bisa mengebut.
Rumah Dewi telah banyak orang, aku bisa melihatnya dari kejauhan. Hati ini rasanya langsung tidak karuan. Ada apa di rumah? Dewi tidak mengatakan apa-apa tadi.
Aku menyibak kerumunan setelah memarkirkan motor di halaman, beberapa orang memberikan jalan untukku lewat.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapku dengan cepat.
"Waalaikum salam, Mas." Dewi menoleh ke arahku, yang aku lihat di sana membuat ku terkejut.