Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
135. Penuturan Ibu


__ADS_3

Aku mengucapkan kata terima kasih pada Nira. Dia pamit dan meminta maaf karena tidak bisa menemui Ibu, harus kembali ke kamar Oma.


Arga sangat perhatian sekali padaku. Aku salut dengan sikapnya, tidak berubah meski aku sudah menolak dia waktu itu dan juga dengan perlakuan Ibu tadi.


"Bu, ini ada makanan dari Arga. Ibu mau?" tanyaku pada Ibu. Dua kantong kresek berukuran sedang aku simpan di atas nakas. Satu berisi buah-buahan segar dan satu kantong lagi berisi makanan.


Buah-buahan aku keluarkan dari dalam plastik, memindahkannya ke atas piring plastik yang ada di dalam kresek itu. Kantong plastik yang lain aku keluarkan juga, dua boks makanan entah berisi apa, tapi dari aromanya sangat membuatku berselera dan semakin lapar.


Nasi dan sup daging ada di dalam wadah yang terpisah, tercium di bawah hidung. Wangi sekali, gurih dari daging tersebut membuat ku rasanya sangat lapar, apalagi nasi yang masih hangat rasa-rasanya akan membuat selera makan menjadi bertambah.


Aku tersenyum melihat apa yang ada di tanganku. Arga cukup perhatian dengan melakukan hal ini, sup daging terlihat menggiurkan di dalam mangkok.


"Ayu suapi, ya?" tanyaku pada Ibu. Aku duduk di samping brankar dan mulai bersiap menyuapi Ibu. Nasi hangat dan sup yang sama hangatnya, sangat pas untuk dinikmati tanpa harus merasakan panas, beberapa lobak putih dan wortel tenggelam di dalam kuah. Daun seledri berenang di permukaan kuah tersebut.


"Kamu makan saja dulu, Yu. Ibu belum lapar. Kamu kan tadi pagi gak sarapan karena kesiangan bangun," tolak Ibu menggeserkan tanganku dari hadapannya. Pagi tadi memang aku kesiangan bangun karena mengurusi tulisanku sampai jam dua malam.


"Nanti saja. Ibu dulu yang makan, setelah itu Ayu akan makan. Ayu gak tenang kalau Ibu gak makan. Atau ... Ibu gak mau makan karena ini dari Arga? Ayu mohon, Bu. Jangan tolak kebaikan dia." tanyaku pada Ibu. Ku tatap wajahnya yang masih pucat.


"Kalau begitu makan. Ayu yakin, Arga menerima keputusan Ayu dan dia tidak ada maksud lain dengan ini. Semata karena Ayu adalah temannya di masa dulu," tuturku pada Ibu. Meyakinkan orang tua cukup sulit daripada meyakinkan anak kecil, di mana kita sering dianggap tidak sopan atau sok mengajari kepada yang lebih tua.


Aku menyodorkan makanan ke dekat mulut Ibu, Ibu tidak menolak membuka mulutnya dan menikmati makanan yang ada pada akhirnya.


"Sampaikan terima kasih Ibu kepada Arga, Yu. Bilang kalau Ibu berterimakasih atas pertolongan dia dan perhatiannya," ucap Ibu setelah selesai makan. Aku tersenyum dan mengangguk, seketika ingat jika daya baterai hpku habis. Gegas aku mengecas hp dan kembali ke dekat Ibu.


"Ibu mau makan buah?" tawarku. Ibu menggelengkan kepalanya.


"Mau tidur saja."


Aku membantu Ibu berbaring dan menyelimuti tubuhnya.


Ibu diam saat aku makan siang. Menu kwetiau goreng yang sedikit pedas menjadi makan siangku kali ini. Arga masih ingat rupanya dengan apa yang aku suka. Tidak ada sawi di makanan ini, tapi banyak sosis dan baso serta udang sebagai tambahannya. Aku memang suka makanan ini sedari dulu.


Aku menyelesaikan makan dan kulihat Ibu sudah tertidur. Dengan segera mendekat ke arah Hpku, daya baterai masih belum full, tapi cukuplah untuk menyampaikan kata terima kasih ku padanya.


...***...


Dua hari aku tidak bekerja, menunggu Ibu di rumah sakit. Kemarin Yu Tarni datang ke rumah sakit dan meminta maaf karena lalai menjaga Ibu. Kukatakan padanya tidak mengapa, karena ini semua bukan kesalahannya, tapi kesalahan Ibu yang keluar rumah tanpa izin hingga kemudian celaka.

__ADS_1


Selama berada di sini, aku cukup terbantu dengan adanya Arga. Dia sering menghubungi ku dan mengirimkan makanan untuk kami. Aku juga diizinkan untuk mengambil libur tiga hari.


Sudah ku katakan padanya tidak perlu dia sampai turun tangan membantuku, tapi dia bersikukuh, alasannya karena aku adalah karyawannya. Aku bisa apa kalau dia sudah bicara seperti itu?


Sesekali dia juga datang ke ruangan ini. Gara yang memaksa Arga untuk mengunjungi Ibu sebenarnya. Ya sudahlah. Aku juga tidak bisa menolak keinginan anak kecil itu yang begitu tulus. Toh, dengan kedatangan Gara ke sini, Ibu terlihat senang. Bisa tersenyum dan tertawa bersama dengan anak itu.


Hari ini Ibu pulang, aku menyiapkan kepulangan Ibu sendirian. Yu Tarni dan sekeluarga tidak bisa membantu karena harus pulang kampung semalam. Telepon darurat mengharuskannya kembali ke kampungnya. Salah satu kerabatnya telah tiada.


"Yu, Ibu, sudah siap?" Arga bertanya setelah baru saja masuk ke dalam ruangan. "Aku sudah menyelesaikan biaya admin. Kita bisa pulang sekarang atau nanti sore?" tanyanya lagi.


Arga membantuku mengurus biaya admin, sudah pasti jika biaya itu dariku, tapi dia yang membantu menguruskannya karena aku harus disini membenahi barang-barang Ibu yang akan dibawa pulang. Aku tidak mau dia yang mengeluarkan uang dan membuat aku tidak enak hati. Untungnya, Arga juga tidak menolak arena dia menghormati keinginanku.


"Terima kasih, Ga. kamu sudah banyak membantu kami," ucapku padanya, sedangkan Ibu hanya diam, turun dari brankar dan segera aku bantu.


"Sama-sama. Mana barang yang akan dibawa pulang? Biar aku bawakan ke mobil," ucap pria itu lagi dengan senyum di bibirnya.


Aku menunjuk ke atas ranjang. Hanya satu tas berisi pakaian dan juga selimut tambahan dari rumah. Itu selimutku sebenarnya. Aku tidak bisa tidur tanpa menggunakan selimut. Termos air panas juga aku bawa dari rumah, jaga-jaga kalau Ibu ingin minum air hangat dan aku juga untukku menyeduh kopi di malam hari, menemaniku saat harus lembur menulis.


"Hanya ini?" tanya Arga lagi, aku menganggukkan kepala. Tanpa bicara lagi, Arga segera pergi ke luar dan membawa tas dan termos tersebut. Aku dan Ibu berjalan mengikuti langkah kaki Arga, tapi kami hanya berjalan dengan pelan saja, karena kaki Ibu terdapat luka lecet dan masih terasa sakit.


"Silakan, Bu." Sopir Arga mempersilakan Ibu masuk. Ibu melirik ke arahku. Aku menyuruh Ibu masuk ke dalam sana.


Arga mendekat ke arah kami. Dia tersenyum pada Ibu dan mempersilakan Ibu masuk dengan sopan. Akhirnya Ibu mau masuk ke dalam sana.


"Ayo, kamu juga masuk ke dalam sana," ujar Arga dengan senyum yang sama seperti tadi. Jujur saja, aku terpaku melihat senyumannya ini. Arga sedari dulu sangat tampan, tapi semakin hari semenjak aku bertemu dengannya, dia semakin ....


Ah, sudah ah. Aku tidak boleh terlalu banyak memikirkan dia. Tidak boleh!


"Ayo masuk, biar aku tutupkan pintunya," ucapnya lagi.


Aku jadi malu sendiri. Memikirkan Arga membuat wajahku terasa panas.


Pintu mobil dia tutup dengan pelan setelah memastikan aku masuk dan nyaman di tempat dudukku. Sopir pun melajukan kendaraanya dengan kecepatan yang pas. Arga duduk di samping sopir. Kami pulang tanpa ada yang bicara sama sekali.


Aku hanya bisa melihat Arga dari belakang. Hanya rambutnya saja yang bisa aku lihat. Dia terlihat duduk dengan tidak nyaman, sesekali aku lihat jika dia menunduk, terdengar beberapa notif dari hpnya beberapa kali.


"Ini langsung pulang, Bu?" Sopir berbicara mengusir kesunyian di dalam sini.

__ADS_1


"Iya, pulang saja," jawab Ibu.


"Baik, Bu." Sopir itu menjawab.


"Pak Arga. Tadi Mas Gara kan pagi bilangnya mau ikut ke rumah sakit buat jenguk Ibunya Mbak Ayu. Apa Mas Gara tidak akan nangis kalau ditinggal seperti tadi, ya?" tanya Sopir itu pada Arga. Terlihat pria yang usianya di atas kami itu melirik ke arah Arga.


"Eh, itu ... sengaja. Nanti kalau Gara ikut bisa-bisa bikin ulah, gak mau pulang. Malah merepotkan," ucap Arga.


"Haha. Gara itu unik ya." Sopir tertawa dengan renyah. "Saya baru kali ini loh, lihat Mas Gara mau dekat dengan yang lain. Nurut lagi. Biasanya kan Mas Gara itu gak mau sama yang lain. Apalagi sampai nanyain terus setiap hari," ucap pria itu lagi.


"Iya. Gak tau juga dia. Tumben," jawab Gara singkat.


Aku hanya diam mendengar pembicaraan di depan, di dalam hati senang dengan kenyataan tersebut. Ternyata Gara memang tidak biasa denganku.


Hampir satu jam lamanya di perjalanan, kami sampai di rumah. Arga kembali membantu kami, membawakan barang-barang bersama sopirnya sedangkan aku membantu Ibu masuk ke dalam rumah.


Kedua pria itu pamit setelahnya.


"Yu, Ibu mau bicara."


Aku duduk di ranjang sebelah Ibu, menunggu Ibu untuk bicara.


"Kamu ... jika Arga benar mau serius dan sudah berubah ... Ibu setuju."


*


*


*


*


Assalamualaikum semua, para readersnya Ayu dkk. Maafin Othor dah berapa hari gak update. Ini karena real life, sayangku. Bantu-bantu di nikahan. Masak dan bikin kue 🤧.


Selamat menjalankan ibadah puasa untuk yang menjalankan 🙏. Meskipun belum lebaran, Othor pengen minta maaf lahir dan batin ya. Maafkan atas kesalahan dan kekhilafan. Semoga dilancarkan ibadah puasa nya.


Ingat untuk jaga kesehatan dan juga jaga pola makan di saat bulan puasa, cuaca juga sedang tidak menentu. 🙏

__ADS_1


__ADS_2