Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
103. Orang Tua Yang Ramah.


__ADS_3

“Dokter sudah lama nunggu?” tanyaku. Dokter Wira menghentikan bicaranya dengan Ibu dan menatapku. Terlihat matanya tak berkedip dengan mulut sedikit terbuka. Kacamata yang merosot dia benarkan di depan matanya.


“Oh, ya. Ada apa Dokter kemari? Apa ada perlu dengan Ibu?” tanyaku. Aku mendudukkan diri di samping Ibu.


Dokter Wira menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Tidak, bukan. Saya datang kesini karena disuruh oleh Wanda untuk menjemput Mbak Ayu. Katanya sebagai tamu spesial,” ucapnya.


Aku tersenyum. “Ah, Mbak Wanda ini ... padahal saya juga bisa berangkat sendiri. Kenapa terlalu berlebihan untuk menyuruh Dokter menjemput saya?”


Dokter Wira tersenyum malu. “Saya hanya menjalankan permintaan dari Kakak saya,” ucapnya lagi.


“Sudah siap? Takut macet, kita berangkat sekarang?” tanya Dokter Wira. Aku melihat jam di dinding, ini memang sudah jam satu siang, sedangkan acara di mulai pada jam tiga sore.


Aku dan Dokter Wira pamit pada Ibu, kami berangkat menggunakan mobil milik Dokter Wira. Pria itu sigap membukakan pintu mobil untukku.


“Terima kasih,” ucapku sebelum masuk ke dalam mobil. Dokter Wira tersenyum seraya mengangguk.


Perjalanan lumayan jauh. Aku yang tadinya akan pesan taksi online tak jadi karena Dokter Wira telah menjemput ke rumah. Kami hanya diam selama di dalam perjalanan. Sesekali Dokter Wira terdengar berdehem lalu diam kembali.


Kendaraan di luar sana cukup ramai, malah sesekali kami terjebak macet. Sudah hampir satu jam tapi kami belum sampai juga. Udara juga semakin panas ku lihat dari dalam sini.


“Maaf Mbak Ayu. Apakah Mbak Ayu tidak suka saya jemput? Maaf kalau membuat Mbak Ayu tidak berkenan,” ucap Dokter Wira tiba-tiba.

__ADS_1


Aku menatapnya yang fokus menyetir. “Eh, tidak juga, Dokter. Hanya saja gak nyangka kalau akan ada yang menjemput. Apalagi Dokter, kan Dokter orang yang sibuk,” ucapku. Dokter Wira tertawa kecil.


“Saya memang sibuk, tapi khusus hari ini memang saya sudah jadwalkan dari jauh hari untuk ambil libur. Kalau saya sibuk di rumah sakit, bisa-bisa Wanda ngamuk kalau saya gak datang,” ucapnya lagi, masih dengan tawa kecil di bibirnya yang tipis.


Aku salut dengan Dokter Wira, meskipun dia sibuk, tapi dia bisa meluangkan waktu untuk keponakannya.


Rumah dengan pilar besar yang menjulang tinggi, taman bunga kecil, air mancur yang indah menghias di depan rumah ini. Beberapa mobil terparkir di garasi yang besar di samping rumah, menadakan jika di dalam sana sudah banyak orang.


Aku dan Dokter Wira masuk ke dalam rumah itu dan mendapatkan sambutan hangat oleh Mbak Wanda dan keluarganya. Pesta ulang tahun cukup meriah diadakan di ruang tengah rumah ini. Balon, hiasan dinding, kue ulang tahun yang besar, dan juga beberapa pria dengan kostum Batman dan Superman sedang menemani anak-anak yang lain.


“Terima kasih ya, sudah berkenan datang ke pesta yang sederhana ini,” ucap Mbak Wanda menggiringku ke dekat putraya berda. Dua orang tua laki-laki dan perempuan sedang bersama dengan anak laki-laki yang aku perkirakan adalah anak Mbak Wanda karena duduk di belakang meja dengan kue ulang tahun yang besar itu. Mereka tersenyum ke arahku. Aku balas tersenyum dan menganggukkan kepala pada keduanya.


“Maaf, ya. Mbak gak kabari kamu secara langsung, malah minta batuan sama Wira. Mbak sangat sibuk sekali akhir-akhir ini,” ucapnya lagi.


“Gak apa-apa, Mbak. Saya ngerti kok kalau Mbak Wanda pasti sibuk sekali.”


Aku menyalami kedua orang tua itu, mencium tangannya bergantian. Mereka menyambutku dengan ramah pula. Mbak Wanda membawaku duduk di sebelah kedua orangtuanya.


Ibu dari Mbak Wanda bertanya padaku dengan ramah, siapa namaku, dari mana, dan kenal dengan Mbak Wanda dimana. Pertanyaan khas orang tua yang sangat lumrah. Aku menjawab semua pertanyaan itu satu persatu. Senang rasanya jika bertemu dengan orangtua yang ramah seperti mereka.


"Oh, jadi ini yang Wanda pegang kasusnya? Yang Wira minta kamu tangani itu?" tanya Ibu pada putrinya. Mbak Wanda tersenyum seraya mengangguk.


"Iya, Bu. Alhamdulillah, sudah selesai dan berjalan dengan lancar," sahut Mbak Wanda.

__ADS_1


"Gak apa-apa! Gak apa-apa hidup sendiri juga. Toh banyak kok wanita single yang bisa hdup sendiri, yang bisa sukseskan anaknya tanpa bantan suami," ucap Ibu.


"Saya ... saya belum punya anak, Bu," ucapku sambil menunduk.


Tangan yang masih kencang itu mengelus lenganku dengan lembut.


"Anak memang poin utama dalam pernikahan, tapi jika memang pasangan Mak Ayu bisa menerima Mbak Ayu apa adanya tidak akan perpisahan ini terjadi. Itu tandanya suami Mbak Ayu kemarin tidak tulus mencintai Mbak Ayu. Meski Ibu gak tau apa permasalahan kalian yang sebenarnya, tapi Ibu yakin Mbak Ayu akan mendapatkan yang lebih baik setelah ini," ujar wanita yang masih berparas cantik ini.


"Aaminn. Terima kasih, Bu."


"Hah, Ibu juga gak tau, kapan Wira akan mendapatkan pasangan. Terlalu fokus sama pekerjaan bikin dia jadi jomlo sampai sekarang. Ibu dan Bapak kadang khawatir sama dia. Mau nikah di umur berapa nanti. Takut kalau salah satu dari kami sudah tidak ada Wira masih saja hidup sendiri. Gak bisa lihat istrinya, gak bisa lihat anaknya. Gak mungkin kan dia hidup sendiri terus," ujar Ibu dari kembar ini. Terdengar helaan napasnya yang berat dan lelah. Pandangan matanya lalu tertuju pada sosok Dokter Wira yang kini sedang bermain dengan keponakannya.


Selama pembicaraan kami, pandangan kedua orang itu terus tertuju padaku, sesekali pasangan lanjut usia ini saling menatap satu sama lain dan tersenyum kembali. Aku jadi merasa tak enak dengan pandangan kedua orang tua ini. Mbak Wanda juga sedari tadi pamit untuk menyambut beberapa tamu yang berdatangan.


"Mbak Ayu apa ada niatan untuk menikah lagi?" tanya Ibu padaku.


Aku tersenyum malu. Pemikiran menikah ada, tapi tentu itu masih jauh, tak ada niatan untuk melakukannya di waktu dekat ini.


"Bu, Mbak Ayu kan baru saja berpisah. Kok sudah di tanya seperti itu. Gak sopan loh, Bu!" seru sang suami yang sedari tadi hanya diam. Ibu tersenyum malu.


"Ya kan siapa tau, Pak! Wajar lah kalau Ibu tanya seperti itu. Kan, Mbak Ayu juga masih sangat muda, Pak. Mana cantik lagi!" ujar Ibu.


"Bu, Ayu ini sudah mau kepala tiga, sudah gak muda lagi," ucapku dengan malu.

__ADS_1


"Ah, segitu ya masih muda." Ibu tak mau kalah.


"Ibu yakin, Mbak Ayu pasti akan mendapatkan yang lebih baik lagi dari mantan suami yang kemarin itu."


__ADS_2