Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
234. Meminta Maaf


__ADS_3

"Kenapa? Kamu lapar? Waktunya minum obat." Ucapannya barusan seakan tanpa sadar mengingatkanku. Mendengar kata obat, aku jadi ingat dengan apa yang tadi aku alami. Makin aduh lah rasanya jiwa ini.


"Aku ambilkan nasi?" tanyanya lagi.


"Gak usah. Mau roti saja," ucapku.


Arga mulai mengambil lembaran roti dan bertanya, apakah aku ingin selai atau susu.


Duh, nyesek sekali rasanya. Hal yang sangat jarang aku dapatkan dan bisa aku berikan kepada Arga, tiba-tiba saja terhalang oleh keadaan diriku yang sekarang ini. Ya sudah lah, nanti setelah aku sembuh aku akan berikan yang terbaik untuknya. Semoga saja mood-ku bisa lebih baik nanti.


"Ini." Dia menyodorkan roti itu padaku, segera aku bangkit, menyandarkan diri dengan nyaman pada kepala ranjang dan memakan roti itu dengan keadaan kesal.


Aaaah! Rasanya ingin berteriak. Ingin nangis juga. Memang mood wanita hamil begini, ya?


"Mau tambah?" tanyanya.


"Sudah." Tolakku. Obat kini Arga berikan dan juga air putih, aku menenggaknya sekali minum, obat kecil itu bukan halangan bagiku untuk memakan semuanya sekaligus.


"Ya, sudah. Tidur. Istirahat. Aku mau lihat Gara dulu," ucapnya sambil menaikkan selimut ke atas tubuhku yang sudah kembali berbaring.


"Pa, nanti ke kantor gak?" tanyaku padanya sebelum pergi.


"Maunya sih di rumah, kalau boleh." Dia tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya.


"Ya sudah. Jangan pergi deh kalau memang gak terlalu banyak kerjaan. Temenin Mama tidur saja, ya?" pintaku. Arga tersenyum senang mendengar ucapanku. Dia kembali mendekat dan mencium pipi ini. Semakin sedih dan ingin menangis saja karena perlakuannya tidak bisa membuat sesuatu tersalurkan.

__ADS_1


"Oke. Aku ke atas dulu."


Arga pergi dari hadapanku. Ku tatap punggungnya yang lebar, kini menghilang di balik pintu kamar yang tertutup.


Bantal aku ambil dan kututup wajah ini. Berteriak dengan kencang, tapi aku masih tahu juga batasan suaraku. Tidak ingin membuat yang lain panik dan berlari ke sini.


"Aaaakhhh!!!" Puas dengan beberapa teriakan, aku menghentikannya. Air mata membasah di sudut mataku.


Kenapa rasanya seperti ini? Tidak suka sama sekali! Tidak enak saat apa yang aku mau tidak bisa aku dapatkan. Padahal, selama ini aku tidak pernah merasakan seperti ini. Kesal! Pokoknya kesal!


Pintu terbuka, Arga masuk lalu disusul Gara di belakangnya.


"Mama, Abang mau tidur siang di sini, boleh?" tanya Gara meminta izin saat sudah ada di depanku. Aku bergeser sedikit dan menepuk tempat kosong di sampingku. Dengan senyuman lebar anak itu naik ke atas kasur, menghadap ke arahku dan memeluk dengan erat. Rambut lembut itu aku elus pelan. Lantunan sholawat seperti biasa menemani Gara di saat tidurnya.


"Papa juga mau tidur, boleh?" tanya suamiku sambil tersenyum. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa menghentikan lantunan sholawatku. Dia mulai membuka jas, kemejanya, serta sepatunya, lalu mulai naik di belakangku, sedikit jauh karena biasanya aku yang meminta dia jauh seperti malam-malam sebelumnya.


Arga terlihat sedang memainkan hp sambil bersandar di kepala ranjang, laki-laki itu tidak memakai baju. Tidak tahukan dia, tubuhnya yang seksi membuat aku semakin susah payah menahan diri?


"Pa, gak bisa tidur," ucapku dengan nada manja. Ya, aku akui barusan aku bicara dengan nada seperti itu. Entahlah. Inginnya kali ini dia manjakan aku.


"Kenapa?" tanyanya, hp yang ada di tangan dia simpan di meja nakas. Dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku.


"Mau dipeluk," pintaku. Arga tersenyum dan menepuk lengannya, aku jadikan bantal dan segera memeluk tubuhnya dengan erat. Aroma wangi tercium di bawah hidungku dari kulitnya yang putih bersih. Semakin membuat diri ini galau.


"Perut kamu masih sakit?" tanya Arga.

__ADS_1


"Sudah enggak, sih."


"Syukurlah kalau begitu. Kamu harus banyak istirahat. Kata bu dokter tadi, aku harus puasa seminggu ke depan," ucapnya dengan kekehan di bibir.


Haaa! Lama sekali!


Ingin ku berteriak, aku yang sedang ingin malah sepertinya kena karma sendiri karena telah menolak dia dan sering membuatnya kecewa.


"Maaf, ya. Kamu pasti sering sakit hati gara-gara sering aku tolak, ya?" tanyaku takut. Aku tidak berani menatap wajahnya.


"Sakit hati kenapa?"


"Soal aku yang sering tolak kalau kamu sedang ingin bercinta."


Arga tertawa kecil. "Gak, lah. Wajar kok. Aku juga gak terlalu mikirin soal itu, memang mood wanita hamil itu berbeda. Aku juga ngerti tadi dokter jelaskan apa. Maaf, ya. Kalau aku sering bikin kamu kesal," ucapnya sambil mencium pipiku dengan gemas.


Aku jadi tidak enak hati padanya. Semenjak hamil, aku sendiri kadang sering tidak paham dengan diriku. Terkadang setelah Arga dan Gara pergi, aku jadi sedih sendiri. Mengunci pintu dan menangis di dalam kamar. Tidak tahu karena apa.


Sering juga jika aku merasa kesal tanpa sebab, dan aku hanya bisa menangis setelah mereka berdua pergi.


"Sudah. Tidur, yuk. Aku ngantuk," ucapnya lalu mengeratkan pelukannya padaku.


"Kamu belum makan, kan?" Aku ingat jika Arga belum makan siang. Rasanya, pagi pun belum. Entah jika saat aku pingsan tadi, tapi rasanya tidak mungkin juga dia makan di saat waktu seperti itu.


"Belum, nanti saja. Aku lebih ingin tidur siang sama kamu," ucapnya lagi.

__ADS_1


Aku tersenyum senang. Kini lebih mengeratkan pelukan ku pada tubuhnya dan mulai memejamkan mata ini.


__ADS_2