Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
301. Perjalanan Yang Sulit


__ADS_3

Perjalanan kali ini cukup melelahkan. Jujur aku sedikit tidak kuat karena rasa mabuk yang mendera. Perut ini rasanya bergejolak dan tidak bisa menahannya sama sekali.


Arga terlihat khawatir dan tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah setengah perjalanan. Maju atau mundur sama-sama bukan hal yang mudah.


"Jadi bagaimana ini?" tanya Arga padaku. Terlihat raut wajahnya yang sangat khawatir sekali. Ku lihat dari cermin yang aku bawa, wajah ini pucat pasi. Makanan tidak bisa masuk untuk menggantikan apa yang sudah keluar.


"Lanjutkan pulang aja, lagian kan juga tinggal berapa jam lagi," ucapku padanya.


"Ibu bingung, kalau ibu di sini Gara mau gak ya di mobil sana sama Mbak Sari?" tanya ibu bingung.


Aku menatap Gara yang kini sedang mengajak main Azka, kedua anak itu tertawa bersamaan, terdengar sangat seru sekali.


"Gak apa-apa, Bu. Ibu sama Gara aja, kasihan dia kalau cuma sama Mbak Sari doang," pintaku.


"Terus kamu?"


"Ayu gak pa-pa lah, nanti kalau gak sanggup ya istirahat aja, berhenti."


Aku pasrah, mau bagaimana lagi, jika ternyata harus membuat yang lain repot karena keadaan ini.


"Maaf, ya, Pa. Jadi bikin susah di jalan," ucapku tak enak hati.


"Kamu bilang apa, sih? Bukan ingin kamu juga kan kayak gini. Emang orang hamil itu sedikit beda mau bagaimana?" tanyanya, dia tersenyum membuat ku merasa teduh mendengar dan melihat senyumannya itu.


"Aku gak masalah, kok. Mau nyampe kota besok juga asalkan kamu nyaman. Apa kita mau cari penginapan dulu buat istirahat?" tawarnya.


Aku melihat jam di tanganku, padahal hanya tinggal tiga jam lagi perjalanan, tapi rasanya aku tidak tahan.


"Ah, gak perlu kayaknya. Gara lusa sudah masuk sekolah, kalau cari tempat istirahat dulu kasihan besok Gara capek."


Kami terdiam, sedang mencari solusi untuk masalah ini. Rasanya aku ingin meminum obat anti mabuk, tapi aku juga takut karena tidak diperkenankan untuk mengkonsumsi obat selain dari dokter.


"Aku coba bicara sama Gara deh. Kamu lebih butuh ibu daripada dia," ucap Arga akhirnya.


"Eh, Pa. Jangan. Biarin aja deh Ibu sama Gara, nanti dia ngambek lagi." Aku menahan tangannya, dia kembali duduk di sampingku dan mengelus kepalaku dengan lembut.


"Gak apa-apa, Gara juga pasti akan ngerti keadaan kok, nanti kalau kamu sudah baikan bisa ibu pindah lagi sama Gara. Gak apa-apa kan, Bu?" tanya Arga kini pada ibu.


"Iya, gak apa-apa," jawab Ibu.


"Maaf ya, Bu. Merepotkan ibu," ucap Arga.


"Tidak apa-apa, kita kan keluarga, harus saling menolong," ucap ibu lagi.


Arga kemudian pergi mendekat pada Gara, terlihat dari sini mereka kini berbicara di sana. Gara hanya diam, menatapku dengan tatapan yang entahlah. Seketika aku merasa bersalah dengan keadaan ini.

__ADS_1


Tak lama, kedua laki-laki itu datang ke arah kami, Gara duduk di sampingku dan menggelayut pada lengan.


"Mama sakit?" tanya Gara, matanya yang bulat masih menatapku dengan penuh tanya.


"Sedikit, Bang. Tapi sudah gak apa-apa, kok."


"Gak apa-apa, deh, Nenek sama Mama. Abang di belakang aja sama Mbak Sari," ucapnya. Aku tersenyum dan memeluknya. Berterima kasih karena dia sudah pengertian terhadapku. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju pulang.


Ibu memangku Azka, sedangkan aku berbaring di dekat paha ibu, kaki aku tekuk ke arah pintu mobil. Tak lupa dengan selimut tebal milik Azka kini menutupi sebagian tubuhku.


"Ah!" teriak Azka sambil memukul kepalaku. Aku yang tadi menutup mata kini melihat ke arah Azka.


"Apa, Kaka? Jangan rewel ya. Mama lagi sakit. Kaka sama Nenek aja, ya?" ujar ibu berbicara dengan nada khasnya pada Azka.


"Ah!" Azka kembali berseru, tangannya tidak berhenti memukul kepalaku.


"Azka mau mimik kali, Bu. Tadi pas sebelum di rest area dia mimiknya," ucapku.


"Kaka lapar?" tanya ibu, anak itu tidak berbicara lagi, hanya tertawa sambil memasukkan tangannya pada mulut.


"Makan biskuit aja, ya? Biar mama bisa tidur?" tanya ibu lagi seakan Azka bisa menjawab. Ibu mengambil biskuit yang ada di dalam tas, dan memberikannya pada Azka. Anak itu mengambilnya, memasukkannya ke dalam mulut, tapi tak lama membuangnya ke lantai.


"Kok dibuang? Gak mau kah? Mau mamam?" tanya ibu lagi. Azka menjawab dengan ocehan.


Ibu membuatkan makanan untuk Azka, aku memangku, ibu menyuapi, tapi anak ini hanya makan sedikit saja, sisanya hanya dimainkan dan disembur di mulutnya.


"Aduh, jangan disembur dong. Ayo makan," pinta ibu, mulutnya terbuka meminta Azka untuk makan lagi. Azka menepis tangan ibu dan membuat sendok itu terjatuh terkena ke pakaianku.


"Astaghfirullah, Azka, gak boleh gitu! Jadi kotor, kan?" Aku meradang, menatap putraku tajam, tapi tentu saja Azka tidak paham dengan tatapan mata itu. Hanya tertawa dan berteriak sambil melompat senang. Dikiranya aku sedang mengajaknya bermain apa?


"Heh, jangan dimarahin. Wajar anak kecil begitu. Kamu ini ya, jadi ibu kok gak sabaran!" cerca ibu mengambil Azka, terlihat wajahnya kesal karena ucapanku tadi. Padahal aku tidak sedang memarahinya juga, hanya bicara saja.


"Ayu gak marah, kok, Bu."


"Gak marah apanya. Tadi itu marahin Azka!" ucap ibu lagi.


Eh, aku gak marah juga!


Memang ya, benar apa kata orang, waktu punya anak, disayang. Sekarang punya cucu, yang disayang cucunya, anaknya yang dimarah.


Aku menatap ibu kesal. Kapan aku marah dengan kedua anakku. Bahkan pada Gara saja saat melakukan kenakalan aku tidak pernah marah.


Aku kembali merebahkan diriku seperti tadi, rasanya memang nyaman setelah tadi ibu membalur punggung dengan kayu putih. Mungkin memang aku butuh istirahat supaya tidak mabuk lagi, terbukti ini sudah satu jam perjalanan baru dua kali meminta berhenti untuk bersembunyi di pinggir jalan dan mengeluarkan rasa tak nyaman dari dalam perut.


Arga juga tidak membawa laju kendaraan cepat-cepat, terkesan lambat dan pastinya akan memakan waktu lebih lama lagi sehingga sampai di rumah, tapi jujur itu malah membuat aku nyaman.

__ADS_1


"Sudah kamu tidur saja, mumpung Azka lagi anteng," pinta ibu sambil mengelus kepalaku.


"Gak ngantuk, Bu."


Ya sudah. Mual lagi gak? Mau ibu balur lagi?" tanya ibu sekali lagi. Aku menggelengkan kepala, sudah cukup. Ini masih terasa hangat di belakang sana.


"Iya, Ma. Kamu tidur saja dulu. Biar anakan badannya," ucap Arga tiba-tiba dari depan sana.


"Gak ngantuk, Pa."


"Oh, kamu mau dibelikan apa? Kali aja nanti di jalan ada yang jual makanan?" tanya Arga sekali lagi.


Terbersit di dalam pikiranku, aku ingin makan yang manis dan juga lumer oleh keju. Sepertinya akan enak.


"Martabak coklat keju enak kali, Pa."


"Eh, ini masih siang. Di mana yang jualan martabak siang-siang?" tanya Arga.


Aku cemberut, merengut. Siapa yang tadi bertanya ingin makanan apa? Sekarang malah mematahkan inginku!


Tidak ingin aku marah, akhirnya kami berhenti dan bertanya pada orang sekitar di mana ada yang jualan martabak siang hari. Ya, aku akui memang sepertinya tidak umum sih, yang sering aku lihat martabak itu dijual saat malam hari, tapi aku mau itu!


Dengan bantuan aplikasi Arga mencari keberadaan yang menjual makanan tersebut. "Ma, semua tutup, bukanya nanti jam empat sore," ucapnya sambil memperlihatkan layar di hpnya.


Aku menutup selimut itu di kepalaku. Rasanya lapar, tapi aku tidak mau makan nasi, tadi saja di rest area malah keluar lagi.


"Cari bakso aja gimana? Mau?" tanyanya membujuk, aku menggelengkan kepalaku, tidak mau makanan lain,hanya ingin yang manis dengan coklat dan keju!


"Cari yang lain saja, ya? Roti coklat keju misalnya?" tanyanya membujuk. Aku pasrah, daripada lapar, yang penting manis dan asin keju. Akhirnya kami mencari minimarket, tapi di dalam sana aku tidak menemukan coklat dan keju, mereka terpisah, aku membelinya beberapa untuk ibu dan juga yang lainnya.


Diakali saja, roti dengan jenis yang sama dan beda rasa itu aku gabungkan dan mulai makan, tapi rasanya baru dua suap saja aku tidak mau memakannya lagi, masih teringat dengan martabak yang sangat ingin aku makan.


"Loh, gak dihabiskan?" tanya Arga.


"Gak mau, mau martabak," ucapku keukeuh. Terdengar helaan napasnya, aku kira dia sudah mulai kesal, tapi wajahnya tidak menampakkan hal seperti itu.


"Kamu itu, Yu. Rewel. Makan saja dulu yang ada, yang penting perut ke isi. Kasihan Arga repot, kalau kamu mau yang gk ada," ucap ibu kesal.


"Sudah, Bu. Gak apa-apa. Wajar kan orang hamil maunya aneh-aneh. Kita jalan sambil cari ya," ucap Arga lagi, suamiku ini sangat sabar sekali menghadapi sifatku yang akhir-akhir ini sangat sulit, sering merajuk seperti anak kecil.


"Iya, tapi ya jangan yang susah gitu lah, yang gampang aja kalau mau pengen apa-apa tuh. Kasihan kamu capek cari apa yang Ayu mau." Ibu berkata lagi dengan nada yang kesal.


"Ih, ibu nih. Mana bisa kayak gitu, Bu! Kayak Ibu gak pernah ngidam aja, sih!" Aku jadi kesal, bukannya membelaku malah memojokanku. Aku mana tahu kalau ternyata kehamilan kali ini malah sangat repot, tidak seperti saat hamil Azka.


Aku memilih tidur saja, daripada di marahi ibu terus!

__ADS_1


__ADS_2