
Kami melanjutkan perjalanan, mobil kembali melaju menembus jalanan yang telah gelap dan hanya ditempa sinar lampu temaram.
Kami terdiam setelah pembicaraan tadi. Jujur dada ini masih saja berdetak dengan tidak karuan. Semakin terasa cepat saja saat-saat terdiam seperti ini.
Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Desi tadi.
"Aku mau tanya, Ga."
"Ya? Tanya apa?" Arga menoleh sekilas, senyum yang ada di bibirnya sangat manis sekali.
"Itu ... aku tadi dengar Desi sebut kamu Pak Eka?" tanyaku padanya. Kutatap dia untuk mencari jawaban.
Arga kembali tertawa kecil, satu dengan yang lain menggaruk ujung hidungnya.
"Iya. Aku Eka," jawab pria itu.
"Kok bisa? Emm ... maksudku, kok kamu bisa jadi Eka, pemilik RC?" tanyaku dengan heran.
"Loh, apa kamu lupa?" tanya Arga yang membuat aku mengerutkan keningku. "Namaku kan Eka Arga Rama, dan Chandrayudha nama keluarga. Jadi RC singkatan nama Rama Chandrayudha, tapi banyak juga yang tidak tahu dengan singkatan itu," ucap Arga melanjutkan. Dia kemudian terdiam, mengalihkan tatapannya dari jalanan ke arahku.
Aku juga sama terdiam mengingat nama itu. Eka Arga Rama Chandrayudha.
Ya ampun. Aku tidak ingat sama sekali dengan nama itu, tepatnya yang aku tahu hanya Arga Chandra saat kami masih bersekolah.
Seketika Arga tertawa saat aku terdiam dan berpikir.
"Kamu beneran lupa, Yu?" tanya Arga sekali lagi.
Aku tersadar dan tertawa kecil. "Iya, aku lupa. Tepatnya aku gak hapal dengan nama keluarga kamu," ucapku malu.
Dari tawa kecilnya, Arga tertawa semakin keras. Tangan kirinya terulur seperti hendak menyentuh kepalaku, tapi sepertinya dia tersadar. Belum sempat menyentuh kepala, tangan itu sudah dia tarik kembali.
__ADS_1
"Terlalu panjang buat kamu ingat, ya? Aku juga heran, kenapa Papa kasih aku nama sepanjang itu dengan ditambah nama keluarga," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Masih terkejut dengan fakta yang baru kalau mantanku ini adalah pemilik RC tempat di mana ku bekerja selama ini.
"Tapi aku tidak pernah lihat kamu di kantor."
"Aku memang jarang berangkat pagi. Selain aku harus mengurus Gara saat pagi, aku juga mengurus toko pakaian yang ada di mall tadi dan beberapa tempat lain juga," jawab Gara.
Mendengar hal itu, seketika aku terdiam. Begitu hebatnya dia hari ini. Tidak menyangka pemuda pemalas yang hobinya tawuran dan juga bikin onar, hari ini, ada di dekatku sebagai seorang pemilik perusahaan yang lumayan besar di kota ini.
"Ga. Aku jadi berpikir sesuatu," ucapku padanya.
"Apa?"
"Kamu begitu hebat sekarang ini. Aku ... apa pantas untuk jadi pendamping kamu?" tanyaku padanya. Tiba-tiba diri ini merasa minder dengannya. Dia berhasil dengan pencapaian yang bagus, sementara aku hanya menjadi karyawan biasa.
Mobil ini aku rasakan berjalan semakin pelan, tapi tidak ada niatan untuk berhenti sepertinya.
"Apa maksud kamu? Apa kamu berpikir untuk menyerah karena keadaan kita yang berbeda? Bahkan, kita belum mencobanya, Yu. Aku tidak masalah dengan siapa pun kamu," jawabnya dengan nada tidak suka.
Kembali dalam pemikiran bagaimana jika aku dengan dia yang berbeda status tingkatannya dan juga mungkin pihak keluarga yang menuntut akan adanya keturunan dariku.
"Aku sudah bicara sama papa. Papa tidak masalah dengan siapapun yang akan mendampingi aku dan kalau yang kamu maksud soal anak ... Papa juga sudah tahu, dan Papa tidak masalah. Sudah ada Gara di dalam keluarga kami. Kalau kamu ingin mengurus bayi, kita bisa ambil anak saudara atau dari panti asuhan untuk kita urus seperti anak sendiri," ucap pria itu. Aku menatap haru padanya hingga air mata ini hampir menetes.
Ada beberapa yang mengatakan hal itu padaku, menerima aku apa adanya, dan tidak masalah dengan anak angkat. Namun, kali ini perasaanku sangat berbeda sekali. Haru dan bahagia menjadi satu. Rasanya tidak ada beban dalam hatiku mendengar hal itu dari mulut Arga.
Apa artinya ini? Apakah Arga kembali akan menjadi pasanganku yang halal? Apakah hubungan kami akan baik-baik saja di kemudian hari?
"Atau ... kamu tidak mau sama aku karena status aku yang duda beranak satu?" tanya Arga saat aku terdiam.
"Eh, tidak! Bukan itu. Aku senang dengan adanya Gara," ucapku dengan cepat.
__ADS_1
Mobil sudah sampai di depan rumah. Arga bersikukuh ingin mengantarkan aku sampai ke depan rumah. Sopir Arga yang membawa motorku sudah berhenti di depan pagar mungkin sedari tadi, diam duduk di bebatuan besar sambil merokok.
"Yu, kalau kamu ada kesulitan untuk bicara sama Ibu, izinkan aku untuk bantu kamu. Aku sebagai seorang laki-laki ingin berusaha keras untuk mendapatkan kamu dengan usahaku juga," ucap Arga. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Iya, tentu saja. Aku akan izinkan kamu untuk lakukan itu, tapi untuk sekarang ini, aku akan bicara dengan pelan sama Ibu," ucapku.
Aku turun dari dalam mobil, begitu juga dengan Arga. Dia menatapku sebelum aku mulai melangkah.
"Semoga saja Ibu izinkan aku untuk berjuang mendapatkan anaknya," ujar pria anak satu ini terdengar dengan nada yang penuh harap.
"Iya, semoga saja, Ga. Aku masuk dulu, ya." Pamitku padanya.
"Iya. Aku akan pulang setelah kamu masuk ke dalam rumah," ucap Arga. Aku tidak bisa membantah perkataannya. Meninggalkan Arga yang menungguku di sana. Motor aku dorong ke dalam.
Mobil itu kini pergi setelah aku sudah sampai di teras rumah. Hingga mobil itu menghilang dari pandangan barulah aku masuk ke dalam. Ibu sedang menonton tv, menayangkan sinetron yang biasa di lihat setiap malam.
"Siapa yang antar kamu pulang, Yu?" tanya Ibu saat aku baru saja sampai di dekatnya.
Dada ini rasanya langsung berdebar, jika tadi berdebar karena tidak karuan dekat dengan Arga, kali ini tidak karuan karena sedikit takut menjawab pertanyaan Ibu.
"Siapa? Kamu bilang kamu pergi sama teman-teman kantor?" tanya Ibu kemudian.
"I-Iya, Bu. Tadi ... memang Ayu pergi dengan teman kantor," ucapku dengan terbata.
"Terus? Yang barusan siapa? Ibu lihat kamu diantar laki-laki? Teman kantor juga?" tanya Ibu sekali lagi.
"Itu ... A-Arga, Bu," jawabku dengan takut. Ku lirik Ibu yang menatapku dengan tajam. Terdengar helaan napasnya yang keras. Aku menundukkan kepala, menghindari tatapan Ibu yang terlihat menakutkan.
"Kamu bohong sama Ibu?" tanya Ibu. Aku masih berdiri dengan tangan saling bertautan satu sama lain, memainkan jari jemari, telapak tanganku berkeringat seketika.
Kini aku bagai anak TK yang sedang disidang orangtua setelah melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Ayu gak bohong, Bu. Tadi memang Ayu keluar sama teman kantor, tapi ...."
"Lalu kenapa kamu sama Arga?" Ibu memotong ucapanku.