Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
236. Meminta Persetujuan


__ADS_3

Arga kini membersihkan tubuhnya sementara aku kembali dengan pekerjanku. Sebentar saja sampai Arga selesai dengan mandinya. Sebenarnya, tanggung juga tadi aku belum selesai, sebentar lagi.


Pakaian tidur aku siapkan di atas kasur, aku telah selesai dengan pekerjaanku tepat saat Arga keluar dari kamar mandi. Langkah kakinya teratur, aroma sabun menguar dari tubuhnya, terasa wangi khas sabun yang dia pakai.


Arga telah memakai pakaiannya, aku bertanya apakah dia sudah makan malam atau belum dan dia menjawab sudah tadi.


"Benar sudah makan?" tanyaku penuh curiga. Orang sibuk mana ingat dengan makan.


"Sudah. Aku sudah makan kok tadi."


"Gak bohong?" tanya ku lagi.


"Enggak. Kok kamu gak percaya?" tanyanya balik.


"Ya kali aja kamu bohong. Orang sibuk kan kayaknya gak bakalan ingat makan," ujar ku menyelidik.


Arga tertawa kecil. "Sudah, Sayang. I swear. Aku sudah makan tadi," ujarnya sambil mengangkat dua jarinya di samping wajah.


"Beneran?" tanyaku tak mudah percaya.


"Bener, ih. Kamu gak percaya sih? Lihat tuh, perut aku saja masih isi kayak gini!" tanganku dia bawa ke perut. "Gendut, kan?" tanyanya lagi.


Perut yang kotak itu mana bisa aku sebut gendut, tidak sama sekali.


"Ya sudah, kalau kamu bilang sudah makan. Asal gak bohong saja. Aku gak mau kamu sakit, Pa."


"Haha. Aku sudah makan, Sayang. Mana mungkin aku gak makan tadi. Aku kan juga lapar," ucapnya sambil menarikku ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tidur, yuk. Ini sudah malam."


Kami berbaring bersisian.


"Pa, tadi ibu telepon. Ibu mau adakan acara ngupati, boleh gak?" tanyaku saat sedang berbaring dengan kepalaku di atas lengannya.


"Ngupati itu apa?" tanya Arga, tangannya yang besar tidak berhenti mengusap rambutku.


"Acara empat bulanan ibu hamil. Tujuannya untuk mendoakan ibu dan bayinya," terangku.


"Oh."


"Kamu gak tau acara yang seperti itu?" tanyaku bingung. Dia menggelengkan kepala.


"Gak tau."


"Gak tau. Aku sempat tinggal jauh dari mulai kehamilan Haifa tiga bulan sampai enam bulan. Yang aku tau pas acara tujuh bulanan aja," ujarnya tanpa membuka mata.


"Oh, kenapa kamu jauh?" Aku memulai kepo.


"Urusan pekerjaan. Sudah, jangan bahas masa lalu lagi. Nanti jadi sensitif kalau bahas masa lalu. Tidur, yuk," ucapnya. Aku didekapnya semakin erat.


"Aku kan cuma penasaran."


"Aku gak tau, Sayang. Selama aku gak ada ibunya Gara tinggal sama orang tuanya. Lagi pula, komunikasi kami gak sebagus kita sekarang ini. Mungkin dia yang sering telepon atau kirim pesan, tapi aku ...." Dia terdiam sejenak, membuka mata. Helaan napasnya terdengar sangat kasar. Aku sangka kan jika ada penyesalan di helaan napasnya itu.


"Sayang. Kapan-kapan kita ke makam ibunya Gara, ya." Aku meminta. Arga menatap kedua mataku, hembusan napasnya lembut mengenai hidung ini. Dia kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Oke. Apapun yang kamu minta, asalkan setelah itu jangan sampai kamu merasa sensitif atau marah gak jelas. Ingat, kamu ini lagi hamil," ucapnya mengingatkan.


"Iya, Sayang. Bukan apa-apa, tapi aku cuma gak ingin Gara sampai lupa dengan ibunya. Di kamar Gara gak ada foto Haifa. Apa ada di gudang? Atau di tempat lain? Besok aku mau pasang foto itu di kamarnya kalau ada," ucapku.


Kini Arga terdiam, sedikit berubah air mukanya.


"Kamu gak setuju?" tanyaku pelan saat di tidak menjawab, sedikit waspada kalau-kalau aku membuatnya tersinggung.


"Enggak, sih. Boleh saja. Apa yang kamu bilang benar. Cuma, selama ini aku gak pernah pajang foto Haifa karena aku gak tahan, dulu Gara selalu tanya soal ibunya. Jadi semua yang berhubungan dengan Haifa aku simpan di gudang," ucapnya sendu.


"Maaf ya kalau kamu mungkin gak setuju soal ini. Tapi, aku pikir sedikit takut kalau Gara sampai lupa dengan ibunya sendiri. Setidaknya dia tau wajah Haifa. Aku sebagai ibu, meski putraku belum lahir tapi sudah berpikir, jika aku gak selamat seperti Haifa tentu aku akan sedih juga kalau anakku tidak kenal dengan ibunya ...."


"Hei, kok bicara gitu sih?" Arga memotong ucapanku. "Aku gak suka ya kamu pesimis seperti itu. Meski kita gak tau ke depannya bagaimana, tapi aku gak mau kamu ngomong kayak gitu. Ucapan adalah do'a. Jangan kamu sembarangan berucap, Yu! Aku gak suka!" ucapnya dengan nada tegas, tatapan matanya tajam menatap tidak suka.


"Itu kan cuma semisal, Pa. Aku ...."


"Semisal juga gak boleh! Apapun yang terjadi di kemudian hari, ucapan kita harus bagus dari mulai sekarang. Jangan mengada-ada dan jangan berandai-andai! Mau pemikiran kamu sedang sensitif juga gak boleh bicara kayak gitu. Aku gak suka!" tegasnya. Aku tersenyum dan mengangguk untuk meredakan marahnya.


"Iya, aku salah. Maaf! Gak akan bicara kayak gitu lagi." Tubuh yang masih harum dengan sabun itu aku peluk dengan erat. Wangi dari kulitnya aku hirup dalam-dalam.


"Tapi boleh, kan, aku pasang foto Haifa di kamar Gara?" tanyaku meminta izin.


"Boleh, asal kamu gak sensitif aja kalau lihat Haifa. Jaga mood kamu dengan baik. Jangan sampai kamu punya pemikiran buruk atau cemburu karena ingat aku pernah dengan yang lain. Aku katakan sama kamu mulai dari sekarang dan juga pernah dari sebelumnya. Aku jauh lebih baik dan jauh lebih perhatian sama kamu daripada sama Haifa. Jadi ...."


"Iya, aku ngerti. Aku gak akan ingat soal itu. Yang aku akan ingat dari kamu dan Haifa, aku punya anak laki-laki yang sangat manis. Gara!" ungkapku dengan senyum. Arga pun sama tersenyum dan memeluk semakin erat.


"Nah, begitu saja. Baru istriku yang paling aku cinta!"

__ADS_1


"Sudah, yuk tidur. Dari tadi ngobrol terus kapan tidurnya. Aku ngantuk!" ucapnya. Dengan senang hati aku memeluknya dan memejamkan mata, meski rasanya belum mengantuk tapi usapan lembut tangannya di kepalaku mampu membuat mata ini terpejam pada akhirnya.


__ADS_2