Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
208. Tempat Terselubung


__ADS_3

Benar saja apa yang aku perkirakan sejak tadi. Mobil yang membawa kami kini berhenti di sebuah bangunan dengan tuliskan sebuah nama hotel.


"Kita mau apa ke sini?" Tanyaku kepadanya


Orang ini hanya meliriku sambil tersenyum. Nah kan, sepertinya akan ada hal yang menyenangkan terjadi kepada kami setelah ini.


Eh, kenapa juga aku berpikiran jorok seperti ini? Bukankah belum tentu kalau kami datang ke sini juga akan menginap? Bisa saja ada seseorang yang ingin bertemu dengan harga di restoran hotel ini. Klien yang bermalam di tempat ini.


Kami berjalan masuk ke dalam sana. Harga mendekat ke arah resepsionis, dan ternyata dia memesan sebuah kamar.


Ah ya ampun ternyata pikiran kotor ku itu benar-benar akan terjadi.


Setelah mendapatkan kunci Arga menarik ku ke dalam sebuah lift. Dia menekan angka di lantai paling atas. Lift naik dengan sangat cepat sehingga kami hanya beberapa detik saja berada di dalam sini dan kini sudah berada di lantai atas. Pintunya terbuka Arga segera menarikku ke kamar yang telah dia pesan.


"Hei, apa kamu menyuruhku datang ke pabrik untuk hal yang seperti ini?" Tanyaku kepadanya, curiga pasti saja karena sepertinya tidak mungkin jika bertemu dengan klien dia sampai memesan kamar segala.


"Kalau iya memang kenapa?" Tanyanya sambil tersenyum.


Aku ingin sekali kabur dari sini. Ini masih siang, apakah pantas jika kami melakukannya? Rasanya berdosa meninggalkan Gara di rumah sementara kami bersenang-senang di sini.


Arga menarik tanganku masuk ke dalam kamar itu dengan cepat dia menguncinya kembali. Belum saja tak sadar dengan apa yang terjadi aku sudah dia pojokan pada dinding. Menekan pinggangku dan mel*mat bibirku dengan rakus.


Aku yang belum siap, belum menarik nafas sehingga diri ini tidak bisa bernapas dengan baik. Hanya satu hal yang bisa aku lakukan yaitu memukul dadanya agar dia menjeda ciumannya supaya aku bisa menarik nafas.


Mengerti dengan apa yang aku lakukan dia melepaskanku sebentar, tapi bukan hanya untuk menarik nafas. Laki-laki ini malah menarikku ke atas kasur.

__ADS_1


Ya, kalian tahulah setelah ini apa yang terjadi. Bermain permainan menyenangkan di tengah siang seperti ini. Apa perlu aku jabarkan lagi? Sepertinya jangan ya. Cukup bayangkan jika kami sedang bermain kuda-kudaan dengan pasangan.


Seperti biasa bukan hanya sekali, seakan menggunakan kesempatan ini untuk sebaik-baiknya. Jika mungkin aku yang jadi dia, rugi telah membayar biaya kamar yang mahal sementara kami hanya melakukannya satu kali. Aku pun sampai bersemangat saat mengingat hal itu. Dari siang sampai sore, dari pinggang ini sehat sampai sakit, kami melakukan berbagai gaya dan di beberapa sudut kamar hotel ini. Bahkan, di atas meja di depan sofa. Kami menikmati masa-masa berdua kami seperti seorang pecandu.


Menjelang malam kami pulang ke rumah. Bahkan barusan saat kami membersihkan diri pun, kami melakukannya sekali lagi.


"Kamu itu kenapa?" Tanya Arga saat kami sedang dalam perjalanan pulang. Aku hanya meliriknya tanpa berbicara, rasanya kesal karena pinggang ini hampir rontok.


Melihat ke arah tanganku berada dia tertawa kecil. "Nanti malam aku akan memijat kamu," ucap laki-laki itu sambil mengedipkan matanya.


"Oh tidak! Mendingan jangan aku lebih baik dengan sakit pinggangku ini," ucapku dengan cepat. Tahu akan artian dari kalimat suamiku tersebut. Bukan hanya memijat pinggang, tapi pasti akan tambah dengan yang lain, yang lain, dan lain lagi.


"Memangnya kenapa? Aku benar hanya akan memijat saja tidak ada yang lain," ucapnya lagi dengan cepat. Akan tetapi, aku tidak akan percaya dengan laki-laki ini. Dia itu penipu! Sudah beberapa kali aku ditipu olehnya, dia bilang akan memijitku, tapi nyatanya dengan yang lain-lain.


"Mama Papa kalian sudah pulang! Kalian ke mana saja kenapa tidak ajak aku?" Tanya anak itu dengan cemberut. Arga mengambil Gara di gendongannya dan membawa anak itu bersama kami.


"Kami ada suatu pertemuan dan papa butuh Mama di sana," ucap laki-laki itu melirik padaku dengan tanpa rasa bersalah. Juga berbicara kepada putranya hal kebohongan.


"Iya, kan, Mama?" Tanyanya kepadaku sambil melirik Dan tersenyum.


'iya! Pertemuan penting antara dua tubuh yang polos!'


Ingin aku mencerca dia tapi urung aku lakukan karena ada Gara di sana.


"Apa anak papa ini sudah makan malam?"

__ADS_1


Gara menggelengkan kepalanya. "Aku tunggu mama dan papa pulang."


'lihat, Ga. Betapa anakmu ini sangat soleh dan juga baik, tapi kamu sebagai ayahnya malah meninggalkan dia dan berbohong padanya!'


"Kalau begitu ayo kita makan malam. Papa sangat lapar sekali."


Kami berjalan menuju ke ruang makan dan mendapati berbagai hidangan di sana.


Perutku seketika berbunyi nyaring. Setengah hari digempur olehnya, dan tidak mendapatkan makan. Bukan karena dia tidak membelikannya tapi karena aku yang tidak mau. Aku ingat dengan Gara di rumah.


Segera kami duduk di sana dan aku membawakan nasi untuk suami dan juga putraku. Kami makan dengan sangat lahap, tidak ada yang berbicara satu sama lain. Semua berkonsentrasi pada makanannya.


Malam ini aku tidak bisa tidur dengan tenang. Rasa sakit pada pinggangku terasa menyiksa. Sampai-sampai aku menghadap kanan dan kiri membuat Arga juga tidak bisa tidur karena ulahku.


"Mari sini aku obati," ucap laki-laki itu kini mengambil kayu putih dari laci nakas.


"Nggak mau kalau kamu cuma modus aja."


"Aku nggak modus Aku beneran mau obatin kamu."


"Beneran jangan macam-macam ya?"


"Iya."


Dia menarik pakaian belakangku ke atas, mengolesnya dengan kayu putih banyak-banyak. Terasa sangat nyaman sekali, apalagi dengan pijatan halusnya di sana. Mataku perlahan jadi mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2