Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
329. Kebahagiaan Hilman


__ADS_3

Kami berbaring saling bersisian setelah pergulatan kami barusan. Suara napas kami terdengar saling bersahutan satu sama lain, terdengar jelas di antara malam yang sepi dan sunyi. Kami saling berpandangan, tersenyum dan mendekatkan diri, seakan kedekatan kami tadi masih saja kurang.


Dewi tidur di lenganku, dijadikannya bantal, satu tangannya memelukku dengan erat. Aku mengecup kening wanita itu dengan lamat, memberikan sentuhan yang sangat lembut di sana dengan bibirku. Dewi hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Makasih, ya. Malam ini kamu sudah mau berkorban buat aku," ucapku padanya. Sangat senang sekali malam ini karena aku telah berbuka puasa dengan hal yang sangat nikmat dan juga indah.


"Sudah jadi tugas aku, Mas," ucapnya sambil tersenyum manis. Aku kembali mengecup keningnya dengan lembut dan mengusap rambutnya perlahan.


"Sakit banget gak?" tanyaku iseng. Dia menunduk dan mengangguk pelan.


"Sakit, tapi awalnya doang," jawabnya malu.


"Sekarang?" tanyaku.


"Masih lah, perih," jawabnya lagi.


"Nanti kalau sudah biasa gak akan sakit. Jadi, kita harus sering lakuinnya biar gak sakit," ucapku dengan kekehan pelan, Dewi mencubit perutku sehingga meninggalkan rasa panas di sana.

__ADS_1


"Aw! Sakit, Yang!"


"Sakit apanya? Cuma segitu aja sakit, aku yang sakit dari tadi, Mas!" cercanya dengan kesal.


"Eh, aku mau mandi, lah. Rasanya gak enak nih keringatan. Mana tadi pulang kerja malah nyangkul lahan anak gadis orang lagi," ujarku sambil berusaha bangun. Dewi lagi-lagi mencubit, kali ini pinggangku yang jadi sasaran. Aku meringis lagi.


"Aku masak air panas deh," ujarnya, lalu berusaha untuk bangun hingga terdengar desisan kesakitan darinya.


"Eh, gak usah lah, aku siapin sendiri aja. Kamu gak usah ke dapur. Aku melarang dia.


"Tapi kamu mau mandi."


"Makasih," ucapnya lalu meminum air hangat tersebut. "Mas gak apa-apa bikin air panas sendiri?" tanyanya.


"Gak apa-apa, cuma bikin air panas sendiri gak susah. Kamu mau mandi? Sekalian aku bikinkan air," tanyaku. Dia mengangguk.


"Mandi. Rasanya gak nyaman kalau gak mandi," ucapnya. Aku kembali ke dapur untuk mengambil panci lain dan mengisinya dengan air dari kran kamar mandi.

__ADS_1


Sepuluh menit menunggu, air sudah panas dan aku panggil Dewi untuk mandi. Air panas tersebut aku simpan di ember sekalian dicampur dengan air biasa.


"Sebenarnya kalau gak mandi juga gak apa-apa," ucap ku.


"Ya, Mas. Tapi aku gak nyaman, keringetan sama basah juga," ucapnya dengan malu.


"Ya, sudah. Itu air sudah aku siapin di ember. Mau aku bantu ke belakang?" Aku bertanya, dia menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk bangun dengan perlahan. Selimut yang tadi kami pakai, dia kenakan menutupi tubuhnya yang polos. Pelan-pelan Dewi berjalan ke luar dari kamar, sangat pelan sekali sehingga aku bisa melihat cara jalannya yang seperti pinguin. Kedua kakinya terbuka lebar.


Ya ampun, aku sudah buat anak orang jadi jalan dengan aneh. Ingin tertawa, tapi berdosa juga karena itu adalah hasil perbuatanku juga.


Aku menunggu Dewi mandi, duduk di kursi dapur sambil menyesap teh hangat yang barusan aku buat. Jaga-jaga juga jika Dewi butuh sesuatu.


"Mandi, Mas. Aku udah selesai," ucap Dewi padaku, dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya serta handuk kecil di kepala. Warna merah terlihat sangat banyak di area atas dada dan juga lehernya akibat lukisan dari bibirku.


"Mau teh hangat?" tawar ku kepadanya, dia mendekat dan meminum teh hangat dari gelasku.


"Aku mandi sebentar, baju tidur sudah aku siapkan, seprai sama selimut juga sudah aku ganti."

__ADS_1


Dewi mengangguk lalu masuk ke dalam kamar sambil membawa gelas teh hangat milikku, sedangkan aku mengambil air panas untuk mandi.


Kembali ke dalam kamar, aku mendekati istriku, dia tidak bicara, kedua matanya terpejam, suara dengkuran halus terdengar dengan sangat jelas sekali, mulutnya sedikit terbuka. Dewi pasti sangat kelelahan akibat permainan kami tadi sehingga saat selimut yang ada di tubuhnya aku naikkan hingga ke leher dia tidak bergerak sama sekali, tak lupa dengan mengecup keningnya dengan pelan. Sebelum aku naik ke tempat tidur dan ikut terlelap bersama dengannya.


__ADS_2