Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
246. Hilman Setelah Bercerai 2


__ADS_3

"Mas sudah selesai. Gih, sana kalau mau ke mushola." Agus mendekat sambil menadahkan tangannya, kertas nomor aku pulangkan kepadanya, termasuk milikku aku titipkan.


Adzan telah berkumandang sedari tadi, gegas aku pergi ke masjid yang ada tak jauh di seberang jalan.


Selesai dengan beribadah, aku memasuki warteg yang sedang sepi, memesan makanan seperti biasanya.


"Makan, Mas?" tanya ibu penjual warung padaku.


"Iya, Bu Dhe. Biasa, ya." Pintaku.


"Siap."


Tak menunggu berapa lama, makanan telah berpindah di tanganku.


"Loh, Bu Dhe. Kok ada telur?" tanyaku bingung. Biasanya si ibu paham aku hanya memesan tempe kering dan kuah sayur nangka saja dan sedikit sambal.


"Gak pa-pa. Kamu itu loh, kerja keras masa makan sayur tempe kering aja. Sesekali makan itu yang baik, yang bergizi. Lihat, semakin hari kok semakin kurus saja. Apa ibumu gak kasih makan, toh?" tanya ibu itu padaku sambil mengelap piring di tangannya. Aku hanya tersenyum, tanpa aku menjawab pun beliau sudah tahu bagaimana keadaan diriku.


Ibu Murti, pemilik warteg ini adalah tetangga kami juga, masih satu kampung. Beliau hidup hanya dengan anak lelakinya. Berjualan di sini sudah sejak lama. Dari mulai tempat ini mereka sewa sampai sekarang ini adalah tempat milik sendiri, dengan nekat menjual tanah di kampung dan membeli tempat ini dan berjualan nasi sebagai mata pencaharian.


"Bu Dhe, minta plastik lah. Ini telur buat Vita aja," pintaku pada beliau. Rasanya sedikit bersalah jika di sini aku makan dengan enak sedangkan di rumah entah ibu masak apa untuk makan malam ini. Tadi pagi saat aku belum berangkat ke pasar masih ada sayur tahu sisa kemarin yang aku hangatkan dan aku bekal untuk sarapan di pasar.


"Sudah dimakan saja di sini. Buat Vita dan ibumu, biar nanti Bu Dhe bungkuskan," ucapnya. Jujur terharu aku dibuatnya. Masih ada orang baik yang masih peduli kepada kami.


"Wes toh, itu di makan saja. Biar, harganya kayak biasa," ucap beliau lagi.


Aku mengangguk dan makan dengan rasa haru, sedikit panas mata ini dan hampir menetes air mata. Di mana dulu aku selalu makan enak buatan istriku, sekarang aku hanya makan dari tangan orang lain. Itu pun aku tidak bisa makan seperti dulu lagi. Semua harus menyesuaikan dengan uang yang ada.


"Vita sehat, kan?" tanya Bu Murti.


"Alhamdulillah sehat."


"Alhamdulillah. Man, mas mu gak ada kabar sampai sekarang?"


Menyebut Mas Dirga, aku jadi menghentikan gerakan tanganku yang sedang menghantarkan makanan ke mulut. "Gak ada, Bu Dhe."


"Duh, itu si Dirga kemana ya. Mbok yo bantu di rumah gitu. Kerja di sini. Kok malah pergi dan gak ada kabar. Saya kasihan sama kamu, Le. Jadi tulang punggung keluarga. Usaha sendiri," ucapnya dengan nada iba.


Aku tersenyum perih. Mungkin ini memang sudah nasib diriku. "Gak apa-apa, Bu Dhe. Doakan saja supaya Hilman jadi lebih kuat dari sekarang. Sehat terus biar bisa dapat uang yang banyak," ucapku.

__ADS_1


"Aamiin."


...***...


Lelah diri ini, dengan motor butut yang aku punya aku kembali ke rumah. Jarak yang lumayan jauh ke rumah ibu cukup membuat bensinku cepat habis. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Rumah ibu yang ada di pinggiran dan jauh dari keramaian kota tidak memungkinkan aku untuk hanya mencari pekerjaan di rumah. Hanya buruh tani, dan itu pun tidak setiap hari. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi dan pulang ke tempat kerjaku.


Motor yang aku kendarai perlahan berhenti dengan sendirinya. Aku tidak tahu apakah ini mesinnya yang mati lagi atau kehabisan bensin. Jalanan sudah mulai sepi dan gelap, aku putuskan untuk mendorongnya hingga ke bawah lampu jalanan yang temaram.


Pertama yang aku cek adalah bensin. Semoga saja tidak perlu masuk ke bengkel, karena akan membutuhkan uang yang cukup banyak untuk memperbaikinya. Syukurlah, benar hanya bensinku yang habis.


Lelah, tapi mau bagaimana lagi? Hidup harus terus berjalan, tidak bisa begitu saja menyerah. Tidak ada gunanya sama sekali. Motor aku dorong hingga sampai ke sebuah warung, bensin eceran menjadi penyelamatku meski harganya sedikit lebih mahal dari pada membeli di pom bensin.


Setelah hampir perjalanan tiga puluh menit akhirnya aku telah sampai di rumah.


"Assalamualaikum." Masuk ke dalam rumah, suasana sudah gelap. Ini sudah jam sepuluh malam, biasanya ibu sudah tidur di kamar.


"Bu." Ku ketuk pintu kamar ibu dengan sedikit keras. Pintu terbuka dan terlihat ibu yang susah payah membuka matanya di sana, menguap dengan lebar tanpa ada niatan menutup mulutnya.


"Sudah pulang, Man?" Basa basi yang tidak perlu sesungguhnya.


"Vita sudah tidur?" tanyaku. Saat tadi aku ke kamar tidak ada Vita di sana.


"Mana ibu tahu. Masih sama Dewi tuh," ucap ibu lalu menutup pintu kamar. Segera aku menahan pintu itu dengan kaki.


"Ibu ketiduran," ucapnya lagi. Tak peduli dengan aku yang masih ada di sana, ibu malah membaringkan dirinya dengan nyaman di atas kasur, menarik selimut sampai ke lehernya. Aku tidak mau lagi berdebat, percuma juga. Ibu tidak akan mendengarkan!


Gegas aku kembali ke luar menuju rumah Mbak Dewi. Tidak berani mengetuk pintu karena aku takut mengganggu yang lain, aku hanya menunggu di depan pagarnya saja. Sedikit takut sebenarnya dengan keadaan kami. Mbak Dewi adalah perawan tua yang belum mendapatkan jodohnya, sedangkan aku duda anak satu yang sering meminta pertolongan dia untuk mengurus Vita jika ibu sedang pusing seperti tadi. Takut jika ada fitnah dari seseorang Nyang tidak suka pada kami.


Nomor Mbak Dewi aku telepon, tak lama terdengar suaranya yang lemah khas baru bangun.


Pintu rumah terbuka, Mbak Dewi mendekat padaku. Akan tetapi, masih menjaga jarak beberapa meter dari pagar.


"Vita lagi tidur. Gak apa-apa malam ini tidur di sini saja. Kasihan kalau di bawa pulang," ucapnya.


"Tapi takut repotin, Mbak."


"Gak apa-apa. Nanti kalau tengah malam Vita mau pulang, aku telepon deh, ya?" ucapnya sekali lagi.


Dengan berat hati aku terpaksa setuju. Mbak Dewi masuk ke dalam, sedangkan aku kembali ke rumah. Suasana di kampung sini sudah sepi, sesekali kendaraan motor lewat maupun orang yang berjalan kaki dengan membawa alat pancing.

__ADS_1


"Dari rumah perawan tua, nih?" goda salah satu laki-laki tukang usil. Dia berjalan dengan cepat dan mengimbangi langkahku, tangannya yang besar dia lingkarkan ke belakang leherku. "Man, nikahin aja napa sih? Kan lumayan ada yang bisa asuh anak kamu," ucapnya.


"Bener tuh, Man. Lumayan juga buat temen tidur. Gratis, bisa begini" tambah yang lain sambil memperlihatkan tangannya yang membentuk sesuatu yang tak patut di tiru atau diperlihatkan kepada yang lain.


Aku mendengkus sebal mendengar ucapan kedua laki-laki ini. Jika saja mereka orang lain, tentu sudah aku hantam mulutnya. Sayang sekali, dia adalah sepupuku yang usil dan suka ceplas ceplos.


"Heh, kalian mikir gak sih. Anak orang mau dikasih makan apa? Aku aja kerjanya cuma jadi juru parkir," ungkapku kesal.


"Memang masuk kantoran gak bisa lagi?" tanya yang lain.


"Susah. Mereka maunya yang masih muda."


"Nanti deh, kalau aku punya perusahaan sendiri aku akan rekrut kamu sebagai manajer," ucap Ardian dengan banyolannya. Rasanya kali ini aku ingin menghantam benar-benar, gak pake perasaan lagi.


"Huh. Ngopi rokok aja masih nebeng sama bini, sok-sok'an mau bikin perusahaan? Modal dari mana?" tanyaku dengan kesal.


"Nanti, kalau nomernya tembus," ucapnya sambil tertawa kecil. Aku menggelengkan kepala mendengarnya, tidak kapok juga bermain nomor seperti itu, padahal lebih sering kalah dari pada menang. Sering dimarahi istri pula.


"Dah lah, pulang aja. Ngobrol sama kalian malah nanti ikutan gila!" ujarku sambil melepas tangan Ardian dari pundakku.


"Eh, mau beli nomor gak? Ada satu slot lagi tuh. Kemarin beli tiga nomor, tapi bini marah, aku mau jual satu nomor cantik kali aja beruntung," tawarnya.


"Murah, cuma lima puluh rebu aja."


Aku menjauh dan menggerakkan tangan, meminta kedua orang itu pergi menjauh.


"Yee, di tawarin kagak mau. Lumayan loh kalau menang dapat banyak."


"Gak, mending buat beli susu Vita." Aku pergi masuk ke dalam pagar.


"Kalau menang lumayan loh, bisa buat beli baju baru anak kamu." Ardian gigih sekali.


"Duitnya kagak ada," jawabku enteng. Dia tidak lagi berbicara, hanya bergumam tidak jelas sambil pergi dari hadapanku.


Aku mengeluarkan uang yang ada di saku, uang yang aku dapatkan hari ini. Hampir seratus ribu. Empat puluh ribu akan aku berikan pada ibu untuk membeli sayur besok dan jajan Vita, dua puluh ribu untuk bekal makan dan bensinku, sisanya ditabung untuk pengobatan Vita dan juga membeli susunya.


Kasur yang sudah keras menjadi tempatku beristirahat malam ini. Sedikit tidak nyaman karena sudah lama tidak ada yang menjemurnya. Jika saja terpapar sinar matahari satu atau dua hari juga sudah lumayan membuat kasur berisikan kapuk ini menjadi empuk. Aku tidak ada waktu untuk istirahat dan berlibur di rumah.


Sebelum subuh harus sudah bangun dan pergi ke pasar, menjadi kuli angkut sayuran dari parkiran menuju lapak penjual di tengah pasar. Begitu juga saat setelah matahari keluar dari peraduannya, membantu beberapa ibu rumah tangga yang kesulitan membawa belanjaan yang banyak. Disambung siang hari, sebelum dhuhur, aku beristirahat sejenak di mushola pasar. Mengistirahatkan tubuhku yang lelah sebelum pergi ke mall dan mengganti shift menjadi tukang parkir di sana. Tak mungkin untuk pulang setelah dari pasar, akan menghabiskan banyak waktu di jalan dan juga menambah uang jajan bensin motorku.

__ADS_1


Terkadang aku rindu dengan masa lalu dan berharap jika ini hanyalah mimpi. Berdoa ketika sebelum tidur dan akan membuka mata di kamarku dengan Ayu yang selalu tersenyum di sampingku. Hidup dengan bahagia meski tanpa adanya anak yang menemani kami.


Aku rindu kamu, Yu.


__ADS_2