Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
295. Bawa Ke Ustadz


__ADS_3

Rencana pulang juga dibatalkan, mundur menjadi empat hari dari rencana kemarin. Arga tidak tega jika membawa pulang Azka padahal kemarin baru sembuh dari sakitnya.


Beberapa tetangga dan saudara menjenguk Azka, mengatakan kalau Azka baiknya dibawa ke dukun, takut jika ada sesuatu menempel padanya saat kami baru ke sini atau waktu kami ke sawah, pasalnya memang ada kuburan besar di tengah jalan menuju ke pesawahan. Juga, mereka menyebutkan untuk mengundang ustadz kemari. Harus pasang ini lah, harus pasang itu lah sebagai penolak bala dari seseorang yang mungkin berniat jahat atau makhluk halus kiriman.


Aku tidak tahu pasti dan juga tidak mau begitu saja percaya dengan hal seperti itu, meski memang ada makhluk yang berdampingan dengan kita, tapi aku rasa ... entah lah. Kali ini yang aku percaya Azka sakit dan rewel karena sakit, bukan karena apa yang dipikirkan oleh warga yang lain.


"Kalau mau, Ibu antarkan ke rumah ustadz," ucap seseibu saat kami duduk nyaman di teras. Lagi-lagi ada yang bilang seperti itu.


Kami memang sedang duduk di teras sambil menggelar karpet, menyaksikan Gara dan Widi yang sedang bermain sepeda di halaman. Tetangga kami, entah siapa namanya, datang dan bergabung dengan kami. Azka yang sedari kemarin ada di dalam gendonganku dan juga ibu ditanya olehnya, beliau juga menyarankan untuk pergi ke rumah ustadz di kampung sini, takut jika ada yang menempel pada diri Azka.

__ADS_1


"Sudah gak apa-apa kok, Bu. Azka sudah baikan, tinggal rewelnya aja," ucapku padanya.


"Ya, itu karena berat, ada yang ngikutin. Kan anak segede gini mah masih rawan sama yang begituan," ucapnya sambil mengelus lengan Azka yang sedikit kurus. Azka memang menjadi lebih kurus jika sedang sakit, kelopak matanya menjadi cekung dan pipinya tidak terlalu gembil.


"Iya, Bu. Nanti saja. Kalau besok masih rewel juga bakalan ke sana, kok. Ada Bi Sari, nanti saya minta bantuan sama Bi Sari buat antar ke sana," ucapku.


"Oh, iya. Segera ya, Yu. Jangan ditunda, kasihan Azka kalau sampai rewel terus, ketakutan dia tuh karena lihat sesuatu," ucap ibu itu lagi. Aku mengiyakan, meski dai dalam hati menolak keras hal itu, jika anak yang diikuti bukankah dia akan rewel terus dan menatap sesuatu dengan takut? Juga dengan waktu-waktu tertentu yang sering membuat anak rewel, sedangkan Azka tidak seperti itu. Dia rewel seperti biasa saat dia tidak nyaman badannya.


"Iya, jangan khawatir, saya ikut juga bantu temani kok. Apalagi di saat yang seperti ini. Mana tega saya tinggalkan mereka sendiri?" jawab ibu sambil mengangguk padanya.

__ADS_1


"Iya, bagus itu. Nanti sore kalau ada apa-apa, datang saja ke rumah saya ya. Saya antar ke rumah ustadz," ucapnya keukeuh. Padahal sudah jelas aku bilang iya tadi. Entah apakah akan memanggilnya atau tidak, yang terpenting jawab saja dulu.


Wanita itu pergi. Aku dan ibu saling berpandangan.


"Ibu percaya gak kalau Azka ada yang ngikutin?" tanyaku pada ibu. Ibu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Enggak, sih. Tapi tadi ibu iyain aj. Takut tersinggung orangnya," ucap ibu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


mampir yuk gaes.



__ADS_2