
Dia mendekat pada Arga, sedikit membungkukkan tubuhnya, seperti ingin melakukan hal yang sama seperti semalam. Akan tetapi, Arga lebih dulu beringsut dan menggeserkan kursinya lebih dekat padaku. Wanita itu terlihat sangat tidak suka, raut wajah yang tadi tersenyum berubah masam.
"Iya, aku makan siang di sini bersama dengan istriku tercinta." Jari-jemari tangan harga menelusup ke jari tanganku. Dia membawanya ke depan wajah dan mencium punggung tanganku dengan lembut. Aku tidak menyangka dengan apa yang Arga lakukan, membuat wanita itu hanya melongo dan menatap kami tidak suka.
"Apakah Nona Letta mau makan siang juga?" tanya Arga. Dia tidak berhenti mengelus punggung tanganku di depan dadanya. Wanita itu terlihat semakin kesal, tatapan matanya tertuju pada tangan kami. Akan tetapi, apa maksud Arga bertanya seperti ini? Apakah dia akan mengundang gadis itu untuk duduk dan makan siang bersama kami?
"Ya. Aku juga mau makan siang, tapi akan aku akan meminta mereka mengantarnya ke kamarku saja," jawab gadis itu terdengar kesal.
"Oh. Sayang sekali. Aku pikir Nona Letta akan makan siang di sini dan ikut merayakan kebahagiaan kami," ujar Arga terdengar sedikit tawa kecil dari bibirnya.
Hey. Apa maksud Arga mengatakan hal itu. Apakah dia serius akan mengajak wanita itu untuk makan di sini?
Mata bulat wanita itu melirik sedikit kesal.
"Ah tidak terima kasih. Sebenarnya aku ingin, tapi aku punya banyak kerjaan lain," ujar wanita itu dengan senyuman yang masih tampak manis menjawab ucapan Arga.
Terbersit sebuah ide. "Iya Mbak Letta, lebih baik anda bergabung bersama kami daripada Anda makan sendirian di kamar. Kami akan sangat senang sekali jika anda makan siang bersama kami. Iya kan, Sayang?" Aku melirik pada Arga tersenyum dengan lebar. Arga terkesiap, lalu dia tersenyum membalasku.
"Ya tentu saja, pasti akan sangat seru sekali."
"Tentu saja seru, siapa tahu Mbak Letta juga bisa memberi masukan untuk kita, Sayang."
Arga terdiam dengan kening yang mengerut. Dia menatapku dengan tidak mengerti.
__ADS_1
"Maksudku untuk honeymoon kita besok. Aku yakin Mbak Letta punya beberapa tempat yang menjadi rekomendasi untuk kita honeymoon. Pasti di sana sangat indah," ucapku kemudian. Arga menganggukan kepalanya mengerti.
"Iya benar sekali. Kamu tahu, Sayang, Letta ini sering sekali bepergian ke tempat yang sangat indah. Bukan begitu Letta? Em ... apakah kamu tahu sekiranya tempat yang cocok untuk kami berbulan madu? Aku tidak sabar ingin menghabiskan waktuku bersama dengan istriku," ucap Arga menambahkan.
Aku tersenyum melihat wajah wanita itu yang semakin kesal. Warnanya hampir sama dengan blush on yang dia pakai. Wanita muda itu terlihat mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuh. Aku tahu jika dia sangat kesal dengan pembicaraan ini.
"Ya tentu saja. Aku tahu banyak dengan tempat-tempat yang sangat indah, tapi sayang tempat itu sangat jauh dari sini. Apakah anda akan tahan berada di dalam pesawat dengan waktu yang sangat lama?" tanya wanita muda itu dengan angkuh. Sorot matanya menatapku dengan senyum sedikit mengejek.
"Oh, aku tidak masalah dengan penerbangan. Baik udara maupun laut aku pernah merasakan sensasinya, sangat menyenangkan sekali. Apalagi jika di sampingku ini ada suamiku tercinta." Kutarik Arga mendekat dan menempelkan kepalaku pada bahunya. Arga tertawa senang dan mengelus kepalaku yang tertutup jilbab, lalu ciuman hangat terasa di sana.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah membuat kamu bosan di sana. Perjalanan jauh kita tentu saja akan kita lewati dengan sangat menyenangkan," ujar Arga.
Aku menjauhkan kepalaku darinya dan menatap bola matanya, meskipun itu hanya ucapan belaka tapi jujur saja aku senang mendengarnya.
"Sayang sekali. Padahal kita bisa mengobrol banyak di sini," ucapku pada gadis itu.
Dia tersenyum. "Lain kali. Permisi!" Ucapnya lalu pergi meninggalkan kami dengan langkah yang kasar. Kami mengabaikan dia yang berjalan ke arah meja resepsionis untuk memesan. Aku heran, kenapa dia ada di sini? Apakah dia menginap di hotel ini? Untuk apa?
Aku menjauhkan diriku dari Arga, sedikit menggeserkan kursiku ke arah lain setelah kepergian dia.
"Kenapa menjauh seperti itu?" tanyanya kepadaku.
"Dia sudah tidak ada."
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau dia sudah tidak ada? Sudah bagus seperti tadi, nempel di sini," ucap pria itu sambil menepuk bahunya di mana tadi kepalaku bersandar di sana. Bibirnya tersenyum dengan nakal.
"Tidak ada! Aku cuma nggak suka dengan wanita yang centil seperti dia," ucapku singkat.
Arga tertawa kecil, dia menarik tanganku dan juga kursi yang aku duduki sehingga kami saling duduk bersisian kembali. Aku hendak bangkit tapi dia menahan pergerakanku dengan melintangkan tangannya pada pegangan kursi, menahan tubuhku untuk tidak berdiri.
"Bilang saja kalau kamu itu cemburu!" Dia menatap ke kedalaman mataku. Tatapan dari mata sipitnya justru membuatku tidak bisa bergerak.
"Aku tidak cemburu. Cuma gak suka aja sama dia." Kusingkirkan tangan Arga agar bisa berdiri dan pergi dari sana.
"Hei, Sayang. Tunggu aku!" teriak Arga dari belakang. Beberapa orang yang ada di dekat kami menolehkan kepala melihat Arga yang kini berlari di belakang sana. Suara langkah kakinya sangat cepat dan juga teriakannya semakin mendekat.
Aku masuk mendahului Arga ke dalam lift, hampir pintu itu tertutup, tapi Arga menahan pintu lift sehingga kembali terbuka. Napasnya tersengal saat dia masuk ke dalam lift denganku.
"Kamu tega sekali tinggalkan aku sih, Yu!" ujarnya dengan napas yang terengah.
"Oh, aku kira kamu masih mau makan siang," ucapku cuek.
"Tidak enak kalau gak sama kamu," ujarnya. Aku tersenyum kecil hampir tidak memperlihatkannya pada Arga.
Pintu lift mulai tertutup dengan perlahan, lantai ini kurasakan sedikit bergerak setelah Arga menekan tombol angka di mana lantai tempat kami menginap.
"Kamu kenapa tinggalin aku?" tanya Arga sekali lagi. Bukankah aku tadi sudah menjawabnya? Apa dia tidak jelas dengan ucapanku tadi?
__ADS_1
"Aku —," ucapanku terpotong saat Arga mendekat dan memojokanku ke dinding lift.