Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
27. Bertemu dengan Seorang Anak.


__ADS_3

"Kamu mau kemana, Yu?" tanya Mas Hilman saat aku keluar dari kamar sudah mengenakan jaket. Tas ransel berisikan laptop dan dompet aku bawa serta di punggungku.


"Aku mau ke rumah ibu saja! Disini aku sudah gak nyaman!" seruku dengan sambil berlalu. Mas Hilman mengikutiku keluar dari rumah dengan memanggil namaku.


"Yu, kamu kenapa sih? Hanya sekedar baju saja kamu sampai marah seperti itu? Aku akan belikan baju yang lain buat kamu. Kamu jangan gampang marah lah, Yu." Mas Hilman menarik tanganku saat aku akan menaiki motor.


Aku menatapnya dengan kesal. Tetap saja dia menganggap enteng sebuah baju. Dia sudah melewati batas dan melupakan apa yang aku tidak suka.


Aku menggelengkan kepalaku. "Mas lupa kalau aku gak suka berbagi sama orang asing? Mas gak pedulikan perasaan ku selama ini seperti apa dengan adanya dia di rumah ini, dan kamu tetap saja ingin aku selalu mengalah, begitu?" tanyaku kepadanya.


"Bukan begitu, Yu. Aku cuma ...."


"Sudah lah, Mas. Aku pulang saja ke rumah ibu. Gak tau kapan aku pulang. Jangan susul aku kesana!" ucapku dengan kesal.


"Kamu hati-hati berangkat kerjanya. Maaf, aku gak bisa sediakan sarapan kamu dengan benar!" seruku lagi lalu mulai menyalakan motorku dan pergi dari sana. Aku gak peduli lagi dengan Mas Hilman yang terus saja meneriakkan namaku setelah aku keluar dari rumah ini.


Di tengah jalan aku berhenti, hanya untuk menghela nafasku yang sesak ini. Aku perlu menenangkan diri sebelum sampai ke rumah. Tidak mau melihat ibu khawatir dengan keadaanku, aku takut tidak bisa menahan air mataku karena kesal.


Aku memutuskan untuk menenangkan diri ke sebuah taman kota, berada di tengah-tengah antara rumah ku dan rumah ibu. Tempat ini lumayan sepi, aku akan berada disini saja dulu. Jika pun ingin menangis akan lebih baik karena tidak akan ada yang melihat aku yang tengah rapuh.


Aku duduk di sebuah bangku yang ada disana. Rasa hati masih kesal karena kejadian tadi. Suara telepon terdengar berdering dari hp-ku di dalam tas. Mas Hilman, dengan beberapa panggilan dan juga pesan. Aku abaikan saja panggilan itu hingga hp ku berhenti berdering. Kuganti mode silent supaya tidak perlu lagi mendengar dering telepon yang mengganggu. Aku ingin menenangkan diri sejenak disini.


Kukeluarkan laptop yang ada di tasku. Suasana tenang dan juga hati yang marah membuat aku rasanya ingin menangis saja, dan aku tidak mau itu!

__ADS_1


Sebuah bola sepak menggelinding dan berhenti tepat di dekat kakiku, mengganggu konsentrasiku yang baru saja mendapatkan beberapa paragraf.


Seorang anak laki-laki berlari kecil ke arahku dan segera mengambil bola sepak itu. Dia berhenti dengan bola di tangannya dan menatapku dengan tatapan yang lucu. Pandangannya dia alihkan ke arah laptopku.


"Tante! Son Cip!" tunjuknya ke arah laptopku. Anak laki-laki sekitar usia tiga tahun ini kemudian mendekat dan melongokkan kepalanya ke layar laptopku. Bibirnya tersenyum dengan mata berbinar.


"Apa?" tanyaku dengan lembut kepadanya. Jujur aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.


"Son Cip." tunjuknya lagi ke arah gambar yang ada di sisi sebelah kiri laptop. Disana terdapat gambar seekor domba kurus yang ada di tv.


"Oh, Shaun the Sheep. Shaun-the-Sheep." Aku mengejakan nama sosok hewan itu dengan benar


"Son Cip!" serunya dengan sedikit berteriak. Dia tertawa membuat aku terpana. Wajah anak ini sangatlah tampan. Mata bulat, pipi gembil, hidung mancung, dan juga bibir yang merah. Menggemaskan! Ahh ... boleh tidak aku cubit pipinya?


Kuedarkan pandanganku ke sekitaran taman ini, tidak ada orang lain yang ada disini. Apa anak ini sendirian?


Ish ... Ish. Terlalu sekali orangtuanya, kemana mereka sampai membiarkan seorang anak kecil berjalan-jalan di taman sendirian seperti ini!


Bola yang dia pegang, dia simpan di atas bangku dan dengan susah payah dia naik ke bangku ini. Aku membantunya naik dan tak menyangka dia kemudian duduk di pangkuanku.


Dia tidak banyak bergerak, hanya sesekali terdengar tawanya yang renyah saat adegan lucu domba itu mengelabui anjing penjaganya.


Aku terdiam. Ternyata seperti ini rasanya memangku anak kecil. Hangat dan juga menyenangkan. Dia enak sekali untuk dipeluk. Rambutnya juga wangi khas buah-buahan saat aku iseng mencium kepalanya. Aroma sweet khas anak balita dari tubuhnya juga menguar di hidungku.

__ADS_1


Jadi seperti ini rasanya punya anak. Hatiku sangat senang sekali dan aku juga sangat merasa bahagia, meskipun yang aku pangku bukanlah anakku, tapi rasanya sangat, sangat menyenangkan sekali. Apakah jika nanti anak Hana dan Mas Hilman yang lahir aku juga akan merasakan hal bahagia seperti ini?


Ah tidak, aku ingin puya anak sendiri! Aku juga ingin punya anak sendiri, tidak mau anak yang lain. Aku harap aku akan punya anak setampan ini.


"Gara!" Suara teriakan dengan nada khawatir terdengar dari kejauhan. Seorang wanita muda terlihat berlari mendekat ke arah kami. Nafasnya terengah-engah setelah dia berhenti. Di tangannya memegang sebuah mangkok berisi nasi dan sayur bayam. Terlihat masih penuh dan di tangan yang lain dia memegang sebuah botol minuman.


"Aduh Gara, ternyata kamu ada di sini. Dari tadi Tante cari kamu kemana-mana," ucapnya sedikit kesal.


Anak yang ada di pangkuan ku itu hanya tertawa, dia menunjuk-menunjuk ke arah layar laptopku sambil menyebutkan Son Cip, seakan dia tidak peduli dengan kekhawatiran yang ada pada wajah gadis ini.


"Ini putranya Mbak?"tanyaku kepadanya. "Tolong ya lain kali kalau bawa anaknya pergi, dijaga dengan baik. Bagaimana kalau dia bertemu dengan orang yang punya niatan jahat," ucapku kepadanya dengan peringatan.


"Maaf Mbak, ini anak asuh saya. Tadi saya kelupaan ambil minum, sewaktu saya berbalik Gara sudah tidak ada," jawabnya dengan raut wajah penuh rasa bersalah.


"Gara, tadi kan Mbak bilang suruh tunggu. Kenapa kamu lari tinggalin Mbak?" tanya dia kepada anak yang ada di pangkuanku.


Anak itu tidak sedikit pun melirik ke arah pengasuhnya. Matanya terfokus pada layar laptop yang kini berada di atas pangkuannya.


"Maaf ya Mbak, jadi merepotkan. Terima kasih juga sudah menjaga Gara," ucapnya kepadaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Gara Ayo kita pulang, kita makan di rumah saja, ya." Gadis itu mengajak Gara, tapi kepala anak ini menggeleng cepat.


"Ndak mau! Ala mau liat Son Cip!" serunya dengan keras. Dia menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung. Protes tidak ingin pulang.

__ADS_1


__ADS_2