Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
169. Lupa Kunci Pintu


__ADS_3

Kami saling berbaring bersisian setelah kegiatan yang kami lakukan barusan. Deru napas kami naik turun, pelan terdengar satu sama lain. Arga menatapku dengan tersenyum, mengelus pipiku, mendekat dan mengecup keningku lembut.


"Terima kasih, kamu sudah buat aku jadi suami yang bahagia," ucap Arga terdengar sangat lembut di telinga. Aku tersenyum, menganggukkan kepalaku dengan pelan.


"Aku juga, terima kasih. Karena kamu sudah mau jadi suamiku," balasku.


Kurebahkan kepala ini di tangan Arga, menjadikan lengannya sebagai alas kepala. Arga membelai helaian rambutku, mencium pucuk kepala. Kulit tubuh kami saling menempel satu sama lain, menghantarkan rasa hangat yang sangat menyenangkan tanpa terhalangi satu apapun. Rasanya senang sekali, hangat, membuat berdebar dada ini dan tidak ingin lepas dari pelukan Arga, suamiku.


"Besok kita harus bangun pagi dan bersiap ke hotel, acara akan dilakukan di jam sepuluh siang sampai sore." ucapnya mengingatkan.


"Iya. Ga, apa bakalan banyak tamu yang datang?" tanyaku, sedikit berdebar jika mengingat Arga yang dari kalangan atas, pastinya akan banyak sekali tamu besok hari.


Arga menggerakkan bahunya, tanda tidak tahu. "Papa yang mengurus soal undangan," ucapnya. "Kenapa?" tanya Arga padaku. Ku gelengkan kepala ini dengan pelan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, aku hanya takut kalau besok aku bakalan gugup," ucapku dengan senyum tipis. Arga tertawa kecil, lagi-lagi mengecup keningku dengan lembut.


"Jangan takut. Kan ada aku yang ada di samping kamu." Tangan Arga terulur dan mengecup punggung tanganku. Berdesir aliran darahku di dalam tubuh. Senang, bahagia karena sudah ada dia, si pemilik hati, orang yang akan melindungi aku dan Ibu di kemudian hari.


Arga tiba-tiba terdiam, menolehkan kepalanya ke arah lain. Tangannya terhenti mengelus rambut.


"Yu."


"Hem," jawabku. Aku melesakkan kepalaku di lehernya, merasakan kehangatan kulit tubuhnya yang wangi.


"Astaghfirullah!" Terkejut aku mendengar Arga mengatakan hal itu sehingga terbangun dan duduk di samping Arga dengan memegangi selimut di depan dada, menutupi sedikit bercak merah di sana. Ku tatap pria itu dengan mata yang sedikit membesar, sedangkan Arga menatapku dengan wajah yang terbengong juga.


"Aku sepertinya lupa gak kunci pintu kamar, Ga," ucapku padanya. Kami saling bertatapan sebelum akhirnya Arga bangkit dan memakai celananya kemudian pergi ke arah pintu dan memutar anak kunci. Tidak berapa lama dia kembali lagi, ku palingkan wajah ini ke samping, rasanya malu dan dada ini berdebar dengan sangat kencang sekali saat melihat begitu indahnya tubuh yang kini mendekat ke arahku. Kulitnya putih, seksi, dengan otot-otot tangan dan dada yang terlihat pas dengan tubuhnya, tidak berlebihan. Dan lagi ... sesuatu yang ada di balik kain yang dia pakai terlihat jelas kini ukurannya. Seperti itu saja sudah 'wow', pantas saja sakit sekali tadi saat dia masuk ke dalam lorong milikku.

__ADS_1


"Kamu memang belum kunci pintu, Yu. Bagaimana kalau ada orang yang tiba-tiba membuka pintu? Bukankah dia akan melihat tontonan gratis gerakan er*tis kita berdua?" bisiknya di telingaku. Hangat napasnya sangat terasa sekali, membuat jantung ini berdebar tidak karuan dan juga desir jantungku tidak bisa aku tahan lagi.


Ku dorong dadanya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain masih menahan selimut di dada. Sepertinya akan sangat bahaya jika dia melorot ke bawah.


Terlihat senyum di bibir Arga, menyeringai bak seorang penjahat.


"Kenapa?" tanyanya lembut, lebih kepada nada suaranya yang terdengar nakal.


"Kamu bersemu kayak gitu. Malu, ha?" tanya Arga lagi.


Aku malu, masih memalingkan wajahku ke arah lain. "Kamu terlalu dekat, dan lagi ... cepat pakai baju sana!" Masih menahan dadanya, tapi dia menggelengkan kepalanya. Terlihat jelas di ujung mataku.


"Untuk apa aku pakai baju? Aku gerah kalau dekat sama kamu," ucapnya. Dia mencium pipiku dan kemudian berbaring dengan nyaman di sampingku tanpa berniat untuk menutupi tubuhnya yang terbalut kain mini. Dia berbaring dengan satu kaki menyilang di atas kaki yang lain, sedangkan kedua tangan dia lipat di bawah kepalanya.

__ADS_1


Apa yang ada di tubuhnya tidak bisa menutupi yang mencuat dari bawah sana. Dan lagi, kenapa juga mataku nakal sekali, melirik dan tidak bisa berhenti merasakan debaran dada ini yang berpacu cepat memikirkan jika nanti akan ada sesi kedua kami melakukan ....


Ahh! Tidak!


__ADS_2