
Menjalani hariku dengan status yang berbeda, tak ada halangan yang berarti. Makan ku normal kini, karena setiap hari akan ada kurir yang mengantarkan masakan ibu setiap paginya. Lengkap dari sarapan pagi sampai makan malam. Aku pun makan dengan sangat lahap sampai tak terasa di kehamilan yang kini menginjak usia empat bulan berat badanku sudah naik banyak. Ah, rasanya malu juga untuk mengatakannya berapa, pipi ini sudah seperti bakpao saja. Bahkan, celana ku banyak yang sudah tidak muat, Arga harus banyak membeli pakaian daster atau baju tidur terusan agar aku nyaman tanpa menggunakan celana.
Bukan hanya aku saja. Ibu juga sering membuatkan Gara makanan, entah itu untuk teman nasi atau makanan ringan serta kue. Takut Gara cemburu katanya, begitu pesan ibu.
Seperti pagi ini, makanan telah ada yang mengantarkan. Aku yang lapar sedari semalam makan terlebih dahulu karena tidak tahan, sedikit saja dulu, nanti aku sambung lagi makan bersama dengan yang lainnya.
"Mama!" teriakan Gara terdengar dari lantai atas. Aku yang sedang memasukkan makanan ke dalam mulut kini mengunyah sedikit lebih cepat.
"Buku Abang hilang!" terdengar teriakan kembali. Aku mengambil minum dan segera meninggalkan makanku, sedikit berjalan dengan cepat menaiki tangga.
Terlihat Gara sedang menangis di kamarnya. Dia mengacak buku yang ada di rak, mencari sesuatu.
"Ada apa? Kenapa Abang menangis?" tanyaku panik. Tidak pernah anak ini menangis seperti ini.
"Buku Abang gak ada," ucap anak itu dengan tangisnya yang semakin kencang. Dia tidak mengalihkan tatapannya dari buku-buku yang ada di depannya. Tangannya terus mencari dan mencari.
"Buku apa? Yang mana?" tanyaku seraya mendekat ke arahnya.
"Buku gambar. Di sana ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini," ungkapnya lagi. Sesekali dia menyusut basah di wajahnya.
Aku iba melihatnya, tahu akan tugas apa yang dia kerjakan di hari kemarin sampai menangis karena menganggapnya selalu jelek.
__ADS_1
"Kemarin, di mana Abang menyimpannya?" tanyaku.
"Gak tau! Di tas, tapi tidak ada!" rengek anak itu. Tas sudah kosong di atas ranjang, isinya berserakan di sana. Buku dan pulpen sebagian ada di lantai yang dingin.
"Ya sudah, jangan menangis. Ayo, Mama bantu cari." Kuusap wajah Gara dari air mata yang terus keluar dari mata bulatnya. Daripada terus bertanya, lebih baik membantu dia mencarinya. Tugas itu sangat penting bagi dia. Kemarin selama menggambarnya, banyak sekali cerita yang Gara ingin lakukan nantinya. Gambar tersebut terdiri dari kami berempat, aku, Arga, Gara, dan calon adiknya di dalam sebuah mobil dengan atap terbuka, di sisi kanan dan kiri terdapat pemandangan hamparan rumput yang luas, di belakang mobil adalah pemandangan gunung dan juga hutan. Setelah adiknya lahir, Gara ingin kami berempat melakukan perjalanan seperti apa yang ada di dalam gambar.
Aku membantu Gara mencarinya di segala tempat, buku juga tak luput dari penglihatanku, takut jika benda tersebut terselip di dalamnya. Bawah lemari, bawah meja, kursi dan sebagainya. Buku gambar itu tidak kami temukan.
"Bagaimana ini? Abang harus kumpulin hari ini?" tangis yang sudah reda kini terulang kembali, semakin keras karena panik aku rasa.
Aku mengulurkan tangan, meminta dia untuk datang ke pelukanku. Gara menangis dengan keras, bahunya naik turun.
"Tapi tugasnya dikumpulkan hari ini, Mama!" ucapnya kesal. Dia menenggelamkan kepalanya kembali ke dalam pangkuanku.
"Iya, tapi jangan nangis, ya. Ada buku gambar lain tidak? Bikin yang baru, yuk!" ajakku. Dia menggelengkan kepala.
"Waktunya gak akan cukup. Gambar itu lama. Sebentar lagi Abang sekolah!" serunya dengan tangis keras di pangkuanku.
"Abang gak mau sekolah!" teriaknya.
"Hei, kok gak mau sekolah? Nanti Bu guru tanya loh, nilai Abang gimana dong kalau gak mau sekolah? Bintang yang ada di papan nanti hilang satu, sayang 'kan?" bujukku. Rambutnya yang lembut aku usap pelan, membujuk anak ini memang harus sabar dan harus banyak akal.
__ADS_1
"Yuk, mending gambar lagi. Daripada gak sekolah. Mama bantu gambarnya."
Gara menggelengkan kepala. Sedikit keras kepala seperti ayahnya, terkadang sedikit ada sifatnya yang ingin pasrah.
"Jadi Abang gak mau gambar lagi? Gak mau sekolah? Nanti kalau gambarnya gak jadi, gak bisa lihatin gambar itu dong kalau dedek bayi lahir. 'Kan, Abang bilang kemarin kalau udah di nilai, mau dipasang frame kan? Buat hadiah kalau dedeknya lahir nanti?" tanyaku, tak hilang akal untuk membujuknya, sehingga kini Gara mengangkat kepalanya dan menatapku.
"Tapi bantuin gambar, ya?" pinta Gara dengan tatapan sendunya. Aku tersenyum, menganggukkan kepala, dan meraih wajahnya, mengusap basah di sana.
"Iya, Mama bantuin. Yuk, mana buku gambar yang lain. Kita harus cepet gambarnya," ucapku, lalu mencium keningnya dengan lembut. Gara terlihat memaksakan senyum, dan segera pergi untuk mengambil buku gambar yang lain.
Jam yang ada di dinding aku lihat, masih ada waktu sekitar satu jam lagi sampai masuk jam sekolah. Kurang dari waktu itu, kami harus menyelesaikan gambaran milik Gara, agar dia tidak sedih lagi. Entah, kemana buku gambar miliknya kemarin.
Pintu diketuk dari luar saat kami berdua sedang sibuk dengan gambar dan goresan krayon.
"Kalian sedang apa? Papa tunggu di meja makan kok gak turun juga?" tanya Arga, kini dia mulai melangkah masuk dan menghindari buku-buku yang ada di lantai. "Berantakan sekali."
"Kami sedang menggambar, buku gambar Abang hilang, Pa." Sementara aku bicara, Gara tidak mengalihkan tatapannya dari coretan tangannya. Terlihat sangat serius sekali dengan gerak tangannya.
"Kok bisa hilang? Memangnya disimpan dimana?" tanya Arga. Suamiku kini duduk di tepi ranjang dan melihat Gara yang menggambar.
"Tidak tau, kemarin di dalam tas, tapi sekarang gak ada!" ucap Gara kesal.
__ADS_1