
"Aku serius, Yu. Kan kalau kamu menikah kamu gak perlu kerja, kamu bisa jagain Ibu di rumah," ucap Diana.
Aku terdiam sejenak, memang benar apa yang Diana bilang, tapi masa aku yang baru resmi menjanda menikah lagi dalam waktu yang secepat ini.
"Percuma ngomong sama jomblo!" ucapku kesal.
"Minta saran untuk bekerja malah menyuruhku untuk menikah lagi!" Diana mendengkus kesal di kejauhan sana.
"Lebih baik kamu bicarakan lagi saja sama Ibu. kalau Ibu setuju, nanti aku akan bantu cari info dari beberapa temanku," ucapnya. Aku tersenyum senang mendengar ucapannya yang akan membantuku.
"Iya, terima kasih banyak, Di."
Tak lama kami mengobrol, karena ada seseorang yang datang membeli rokok dan kopi. Diana juga akan melanjutkan acara menontonnya.
"Mbak Ayu, sudah dapat calon belum?" tanya seorang pemuda yang aku kenal dengan nama Rahman. Dia tersenyum seraya menggerakkan kedua alisnya naik turun dengan cepat, pemuda yang dikenal tengil dan suka mengganggu.
"Mau apa tanya-tanya?" jawabku dengan ketus, ku serahkan beberapa lembar uang kembalian miliknya.
"Sama saya saja mau gak? Kebelet kawin nih, tapi gak ada yang mau. Kan kita sama-sama jomblo nih, bisa dong kita deket!" ujarnya dengan tersenyum meringis. Dari segi wajah memang tidak buruk juga, lumayan menurutku, hanya tinggal di rapikan sedikit rambut dan juga penampilannya. Mata sedikit sipit dan senyum yang manis. Akan tetapi, sifat tengilnya dan mulutnya yang terkadang terdengar menyebalkan bagi kebanyaan orang membuat orang-orang sini abai terhadapnya.
"Gak ah, makasih. Pengen sendiri dulu," ucapku padanya. Rahman mengerucutkan bibirnya, tapi gak membuat dia lucu sama sekali.
"Yah, Mbak Ayu kok gitu sih. Kan daripada kita sama-sama sendiri. Lagian kan juga kalau Mbak Ayu nikah sama saya ada yang ngelindungin, ada yang jagain, ada yang kasih duit juga," ucapnya.
"Rahman, nikah itu bukan hanya sekedar jagain, lindungi, kasih duit, tapi juga masalah hati!" tuturku.1
"Lagian usia kita ini jauh beda. Mbak itu seumuran sama kakak pertama kamu!" ucap ku lagi padanya.
"Memangnya kenapa? Jangan bawa-bawa usia deh, Mbak. Buktinya banyak kok pasangan laki bini yang usianya istrinya lebih tua, tapi bisa harmonis!" ucap Rahman. Aku menggelengkan kepala mendengar penuturan pemuda ini.
__ADS_1
"Ya, Mbak? Mau ya sama Aa Rahman?" tanyanya sekali lagi.
"Dedek, bukan Aa! Lagipula selain usia kita yang jauh, Mbak juga sudah pernah menikah. Gak cocok sama kamu yang bujangan!" cercaku.
"Ya, terserah Mbak Ayu, mau manggil Aa atau Dedek, yang penting kita bisa sama-sama nantinya. Kalau masalah Mbak pernah menikah, emang kenapa sih? Banyak kok artis-artis juga ada yang menikah dengan janda atau duda yang beda usia cukup jauh. Apalagi kalau Mbak Ayu sama aku, kan Mbak Ayu pengalaman tuh, jadi aku bisa dibimbing di malam pertama. Gak usah susah-susah nonton film dulu kalau mau olahraga malam," ucapnya dengan gigih seraya tersenyum malu.
Aku menepuk keningku cukup keras.
"Jangan di pukul napa keningnya, kan sakit. Sini, biar Dedek Rahman yang usapin!" ujar Rahman, tangannya terulur melewati etalase, tapi segera aku tepis pelan.
"Udah, Rahman pulang, ya. Jangan ganggu Mbak. Mbak mau tutup warungnya, udah malam. Udah ngantuk juga!" ucapku mengusirnya dengan halus.
"Oke deh, jangan lupa pikirin tawaran aku ya, Mbak. Aku tunggu jawabannya loh. Jangan lama-lama mikirnya!" ucapnya lalu menggerakkan alisnya lagi naik turun sebelum pergi meninggalkan aku.
Astagfirullah, apa yang harus aku lakukan dengan anak itu?
Setelah Rahman pergi, aku segera menutup warungku. Selain tak ingin dia datang lagi juga karena jalan terlihat sudah sepi. Gegas aku menutup warung dengan menarik pintu lipat dan menguncinya dari dalam.
Satu notif terlihat di hpku. Entah dari siapa, karena hanya nomor dan tak ada gambar profilnya sama sekali.
[Apa kabar?] Hanya itu pesan yang dia kirimkan.
Aku tak lantas menjawabnya. Takut jika itu adalah orang yang iseng lagi, karena memang sedari kemarin banyak sekali orang yang iseng nyasar ke nomorku.
Ku biarkan saja nomor itu tanpa mau membalasnya. Ku lanjutkan pekerjaanku yang belum selesai.
Tring.
Satu notif lagi terdengar membuat aku penasaran.
__ADS_1
Ku buka pesan itu dan mendapati foto seorang anak laki-laki di hp-ku. Gara?
Aku terpaku melihat foto anak itu sedang tersenyum dengan sangat lebar. Terpaku juga karena tidak menyangka itu adalah pesan dari nomor Arga. Bagaimana dia tahu nomorku?
[Maaf, kalau aku ganggu. Gara ingin aku mengirimkan poto ini sama kamu.] Tulis pesan yang ada di layar hp.
Aku masih terdiam menatap tulisan dan foto anak itu yang masih tertera di layar. Senyumnya sangat indah.
[Dari mana kamu tau nomor aku?] tanyaku balas menjawab pesan itu.
Bukannya balasan pesan lagi, tapi panggilan telepon yang aku dapatkan dari nomor asing tersebut. Aku ragu untuk menjawabnya, tapi panggilan itu sangat lama dan seperti sedang berharap untuk aku angkat.
"Ayu? Maaf, ini ... Gara ingin bicara sama kamu. Apa boleh? Dia sedikit rewel malam ini," tanya suara pria di seberang sana. Rasa hati menjadi aneh saat mendengar suara itu. Berdetak lebih cepat.
"Tante!!" Suara anak kecil terdengar sangat riang di seberang sana ketika aku hendak menjawab.
"Gara?"
"Iya, ini Garrllaa!" Teriaknya lagi.
"Tante kapan kita ketemu lagi? Garlla kangen!" serunya. Terdengar napasnya terengah-engah seperti orang yang telah berlari.
Eh, aku jadi bingung menjawabnya. Ini seperti serangan dadakan sekali mendengar suara Gara dari telepon, padahal aku tidak tahu dan merasa tidak menyimpan nomor Arga di hp-ku.
"Iya, Sayang. Tante juga kangen. Kapan kita bisa ketemu lagi?" Aku bertanya. Memang aku kangen sekali dengan anak tampan itu, tapi aku juga bingung untuk mengatakan apa. Aku tidak ingin dekat atau disangka dekat dengan pria lain untuk saat ini. Mungkin sedikit berbohong pada Gara akan membuat anak itu tenang.
Obrolan kami tentu saja khas anak kecil, menyesuaikan dengan pertanyaan dan jawaban yang Gara ajukan padaku. Aku menjawabnya dengan hati yang berdebar. Pasalnya ... entahlah. Apakah karena sekarang aku tahu kalau Gara itu adalah anak dari Arga?
Ah ya ampun.
__ADS_1
"Tante, kapan-kapan Garrlla mau bobok lagi sama Tante ya?"