Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
326. Aku Siap!


__ADS_3

Bel tanda pulang bekerja sudah berbunyi. Semua karyawan sudah bersiap-siap untuk pulang, termasuk aku yang baru saja selesai mengecek barang. Barang-barang yang aku bawa dari rumah bersiap untuk kembali aku bawa pulang. Tidak pernah lupa dengan wadah nasi yang selalu aku bekal setiap hari.


"Pak Hilman jangan dulu pulang ya, ada barang satu mobil lagi mau datang sebentar lagi," ucap seseorang tiba-tiba. Dia adalah orang yang ada di kantor sana. Biasanya dia yang menerima informasi jika barang sedang di jalan atau telah sampai di tempat tujuan.


"Banyak apa tidak?" tanyaku kepadanya.


"Paling cuma sekitar dua puluh karung saja. Suruh dua orang aja buat lembur," ucapnya lalu dia pergi dari gudang ini. Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Sudah lelah dan ingin rebahan, malah disuruh lembur. Aku yakin bukan hanya satu jam, mobil juga katanya masih di jalan tidak tahu nanti sampai ke sini jam berapa.


"Ridwan!" Panggilku pada seorang pemuda bawahanku.


"Iya, Pak."


"Si Dani sudah pulang belum? Kalau dia masih belum pulang suruh balik lagi kita ada job satu mobil lagi sekitar dua puluh karung," ucapku kepadanya.


"Gak bisa besok aja gitu Pak? Nanggung banget sih datangnya orang mau pulang barang baru datang," ucapnya dengan kesal.


"Ya salahkan saja suppliernya yang ngirim, jangan ngomelnya sama saya," ucapku sama-sama kesal. Tadinya ingin cepat-cepat pulang dan rebahan di paha istri tersayang, tapi apalah daya jika harus kembali berjuang.


Hp aku ambil dari dalam tas, aku menghubungi Dewi. Dengan cepat terdengar suara wanita itu di seberang sana.


"Yang, sore ini aku pulang terlambat. Ada barang yang masih di jalan, harus aku selesaikan malam ini juga. Kamu nggak apa-apa kan di rumah sendirian?" tanyaku kepada Dewi dengan penuh rasa sesal.


"Nggak papa kok. Kira-kira nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Dewi kemudian.


"Kayaknya sih jam delapan. Bisa lebih cepat bisa lebih lambat juga. Kamu ke rumah ibu aja, tidur di sana kalau mau. Soalnya aku juga nggak tahu ini bisa cepat atau enggak," pintaku.


"Enggak lah aku tidur di rumah saja, Vita ada di sini."


"Oh ya sudah. Kamu tidur duluan saja enggak usah nunggu aku, jangan lupa makan malam dulu."


"Iya," jawab Dewi, aku mematikan telepon dan kembali menunggu bersama dengan dua bawahanku.


"Pak, ini mobil kok lama banget sih? Udah setengah jam belum datang juga. Tau gitu tadi mangkir aja. Mana perut lapar lagi!" ucap Dani sambil memainkan hp-nya. Terdengar nadanya sangat kesal.


"Hooh, Sama aku juga lapar." Keluh Ridwan.


"Saya keluar deh belikan makanan, kalian mau makanan apa biar saya yang bayarin," ucapku yang kasihan kepada mereka berdua. Diantara yang lain mereka yang paling rajin, maka dari itu aku sering memberikan lemburan kepada mereka.


"Apa aja deh Pak yang penting kenyang," ucap Ridwan. 


"Kamu Dan mau apa?" Kali ini Ridwan yang aku tanyai.

__ADS_1


"Mie ayam aja sama bakwan," ucap Dani. Jika Ridwan terserah denganku, berbeda dengan anak yang satu ini. Mentang-mentang ditawari dia menyebutkan apa yang dia mau.


"Oke saya ke depan dulu sebentar, Awas jangan kelayapan, bentar lagi mau magrib!" tunjukku kepada mereka berdua.


"Enggak Pak di sini aja main ML, lagi seru juga." ucap Dani.


Aku mengambil sepeda yang ada di parkiran depan gudang. Memang sepeda tersebut diperuntukkan untuk para pengawas dipakai dari divisi satu ke divisi yang lain. Karena pabrik ini sangat luas, sehingga jika hanya berjalan kaki rasanya sangat capek sekali.


Di luar gerbang banyak orang yang berjualan, dari ujung ke ujung menjajakan makanan. Jika pada hari gajian tiba mendadak di depan sini menjadi pasar tumpah, sehingga menjadikan jalanan macet parah.


Setelah mendapatkan pesanan aku kembali ke dalam dan memberikan kepada mereka masing-masing makanan, juga minuman kopi kemasan yang dingin. Kedua anak muda itu kemudian makan bersama denganku sangat lahap sekali.


"Pak mau izin deh, nanti kalau sampai jam barang nggak ada juga mau pulang aja, meskipun ia di sini dibayar tapi badan capek mau istirahat," ucap Dani.


Aku mengangguk mengiyakan, memang kami dibayar tapi jika harus menunggu dua jam tanpa melakukan apa-apa sia-sia juga badan capek juga iya.


Di bagian gudang tidak ada shift, berbeda dengan bagian produksi yang mempunyai tiga shift, pagi, siang, dan malam. Maka sebelum kami pulang, barang-barang harusnya sudah diantar ke divisinya masing-masing, membuat stok sampai cukup besok hari.


Satu jam kami menunggu selepas magrib mobil datang, dan benar saja karung yang ada di sana jumlahnya hampir dua puluh. Aku tidak berdiam diri saja menyaksikan kedua anak buahku bolak-balik mengangkut barang tersebut, tapi juga ikut turun tangan membantu mereka. Supaya cepat bisa meluncur pulang.


Akhir dari pekerjaan bagian catat mencatat, menuliskan kode reproduksi di dalam buku catatan.


"Mau izin ke mana? Kalau tunangan atau nikah saya izinkan," jawabku sambil tertawa. Pemuda itu hanya mengerucutkan bibirnya, kemudian terdengar gumaman yang tak jelas.


"Ini namanya kerja rodi, dipaksa buat kerja lagi," ucapnya mengeluh.


"Ya bukan kerja rodi lah. Kalau namanya kerja rodi itu nggak dibayar," ucapkan dengan santai.


"Coba kalau uang lemburnya ditambahin, ini cuma sepuluh sejam. Capek Pak," ucapnya.


Aku terkejut mendengar dia menyebutkan kata sepuluh ribu. "Serius sepuluh ribu? Bukannya lebih?" tanyaku bingung. Seingatku memang nominalnya lebih dari sepuluh ribu.


"Iya, segitu aja, gak nambah-nambah dari tahun lalu," ucap pemuda itu dengan kesal.


"Ya sudah terima kan saja, namanya juga kita cuma kuli di sini. Semoga aja tahun depan memang naik."


Selesai dengan pekerjaan kami bertiga pulang tidak lupa menyerahkan kunci kepada satpam. Aku yang memang sudah lelah dari kemarin ingin pulang saja ke rumah. Tidak mengojek hari ini.


Pintu rumah aku buka. Lampu-lampu sudah dimatikan, tumben sekali rumah ini sudah sepi. Biasanya Dewi akan menungguku sambil menahan kantuk di depan TV. Aku melirik ke teras, sandal Dewi ada di sana. Yakin sekali jika dia tidak ke rumah ibu.


"Assalamualaikum." Aku mengucap salam saat masuk ke dalam rumah. Meskipun tidak ada yang menjawab tapi sebuah kewajiban untuk mengucapkan salam jika baru saja dari luar rumah.

__ADS_1


Sepatu yang aku pakai aku bawa dan menyimpannya di dapur, mencuci kaki dan juga membuang cairan yang sedari tadi mengendap di bawah perut.


Pintu kamar aku buka, kulihat di dalam sana beberapa cahaya lilin menerangi kamar. Kelopak bunga tersebar di atas ranjang. Kamar ini juga wangi dengan aroma yang lain.


"Wi?" tanyaku saat mendapati Dewi dalam keremangan malam, perlahan mendekat ke arahnya. Dewi mengambil lilin dari atas meja dan terlihat cahaya dari sebuah korek api yang menyalakan lilin tersebut. Aku terpana, melihat Dewi yang seperti itu. Pakaiannya ….


Glek! 


Susah payah aku menelan saliva, melihat dia malam ini dengan keadaan yang sangat cantik meski dalam remang cahaya lilin. Rambutnya yang sebahu tergerai mengembang.


Wanita itu datang mendekat ke arahku, dengan lincah melewati cahaya lilin yang ada di lantai. Senyumnya mengembang tidak pernah surut. Dia kini berhenti di hadapanku, menatap dengan tajam.


Aku tidak kuasa mengalihkan tatapanku darinya, bahunya yang telanjang membuatku merasa sakit kepala. Tidak bisa berkata apa-apa sehingga mulut ini hanya terbuka tanpa mengeluarkan suara. Bingung dengan keadaan yang seperti ini, siapa gerangan yang mengajarinya untuk memakai lingerie dengan warna merah?


Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludahku, baru kali ini ku lihat tubuhnya yang ramping meski di dalam remang cahaya lilin.


"Mas, malam ini aku sudah siap," ucapnya dengan ada suara yang lembut.


Dia mengambil satu tangan ku, menarikku ke arah ranjang. Tas kerja yang aku bawa aku jatuhkan begitu saja di lantai, mengikutinya melangkahkan kaki hingga kini dia menyimpan kembali lilin tersebut di atas meja. Tanpa aku duga Dewi menatapku dan memelukku dengan erat, kepalanya disandarkan pada dada.


Aku tetap tidak bisa berbicara apa-apa, keadaan ini membuatku menjadi bisu seketika. Dewi yang aku kenal kalem, dan juga pemalu, apakah dia siap malam ini?


Dewi menarik kepalanya dan menatapku dengan lembut. Dia tersenyum, kedua tangannya kini mulai nakal membuka kancing bajuku. Lagi-lagi aku dibuatnya terpana, tidak menyangka dengan keberaniannya. Padahal baru kemarin dia mengatakan bahwa takut jika aku berubah menjadi singa. Tidak tahukah dia jika aku sebentar lagi akan berubah?


"Kamu yakin akan melakukannya malam ini?" tanyaku mencari kebenaran. Tidak ingin jika ini hanya prank semata.


Dewi menganggukkan kepalanya. "Aku yakin, kenapa tidak? Bukannya kamu juga sudah terlalu lama menunggu?" tanya Dewi lagi.


Aku tersenyum senang, sangat bahagia sekali jika benar memang dia menginginkannya malam ini. Dewi tidak menghentikan tangannya membuka kancing pakaianku. Kulit telapak tangannya yang bergesekan dengan dada membuat aku sedikit sulit menahan diri.


Aku menghentikan pergerakan tangannya membuat dia menatapku tajam dengan penuh tanda tanya.


Tanpa berbicara aku menunduk dan mengangkat tubuhnya di depanku. Perlahan membawanya melangkah dan merebahkannya ke atas kasur. Dengan gerakan cepat aku menindihnya. Ku tatap wajahnya yang terlihat berbeda, lebih cantik daripada hari biasa. Aku kira dia memakai riasan di wajahnya. Sangat cantik sekali sehingga aku lagi-lagi terpana.


"Yakin tidak akan mundur lagi? Aku tidak akan segan-segan membuat kamu berteriak!"


...*****...


Nungguin ya? Wkwkwk


Besok lagi yee, Othor capek, tangan pegel nih, dah kasih banyak bab hari ini, 😘😘

__ADS_1


__ADS_2