Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
140. Gombalan Untuk Calon Istri


__ADS_3

"Gak gombal, memang aku gak ingin makan, karena selera makanku sudah hilang. Aku lebih ingin memakan kamu segera," ucap Arga dengan seringaian nakal di bibirnya. Ucapannya itu membuat aku tersedak salivaku sendiri.


Uhuk-uhukk !


Sakit sekali rasa di tenggorokanku, tidak menyangka jika dia akan mengatakan hal yang seperti itu dan entah kenapa juga malah aku tersedak seperti ini.


Dasar nakal!


Arga segera mendekatkan dirinya pada meja dan mengambilkan minumanku. Wajahnya terlihat khawatir dan merasa bersalah. Segera aku menerimanya dan minum dengan rakus.


Ah, lega rasanya. Rasa sakit yang tadi membuat perih tenggorokan kini tidak ada lagi setelah air yang ada di gelas mengalir melenyapkan rasa sakit yang ada.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Arga.


"Tidak apa-apa, terima kasih," ucapku padanya. Aku terpaku kemudian tatkala Arga mendekat dan mengelap sudut bibirku yang basah dengan menggunakan tisu. Sorot matanya yang tajam, tapi teduh membuat aku membeku dan tidak bisa bergerak. Bibirnya yang berwarna merah tersenyum tipis.


Tiba-tiba saja, aku membayangkan adegan dalam sebuah film dengan setting yang sama seperti ini, menyusut bibir yang basah, kemudian semakin mendekat dan mendekat dengan bunga-bunga bertebaran atau gambar dengan bentuk hati yang melayang-layang yang di udara, lalu ....


Dug-dug.


Aah. Jantungku! Tolong!

__ADS_1


"Bibir kamu basah," ucapnya menarik aku yang barusan entah ada di mana. Sekilas aku seperti Aang, pemeran utama di film Avatar, yang bisa masuk dan keluar dari dunia lain, kini aku tersadar jika tadi aku masuk ke dalam dunia yang sangat menyenangkan. Sudah jelas Arga sudah kembali ke tempatnya, tapi aku tidak tahu kapan dia kembali duduk di kursinya.


Ah, jadi itu tadi hanya khayalanku saja? Oh tidak! Dasar aku. Apa karena sudah cukup lama menjomlo aku jadi berpikiran kotor seperti itu?


Aku melirik ke sekitaran, beberapa orang tersenyum malu melihat ke arah kami. Duh, ingin menghilang saja rasanya!


"Kamu kenapa?" tanya Arga dengan tawa kecil. "Wajah kamu merah," sambungnya.


"Mana ada! Enggak!" Aku malu, memalingkan wajahku ke arah lain. Duh, apa yang aku pikirkan tadi membuat aku salah tingkah. Sudah jelas Arga tidak akan melakukan hal itu, apalagi ini di tempat umum yang ramai seperti ini.


"Beneran gak ada? Gak memikirkan apa-apa?" tanya Arga sekali lagi. Aku menunduk, menggenggam ujung bajuku hingga kusut.


"Gak ada," jawabku dengan pelan. Arga lagi-lagi tertawa kecil.


"Ya sudah, Calon Istriku. Ayo lanjut makan. Ini sudah terlalu malam. Nanti kalau kamu pulang malam, Ibu bisa marah sama aku dan mencabut restunya. Gawat kalau kita gak jadi nikah, puasaku bisa makin lama ini," ujarnya yang membuat aku semakin merasa panas di wajah. Mendengar dia mengucapkan hal itu dan panggilannya tadi padaku membuat aku tidak percaya sekaligus banyak sekali bunga yang bermekaran di dalam hati ini.


Refleks aku mengambil alat makanku kembali dan memasukkan makanan. Jujur saja, bagai orang yang bodoh atau karena aku grogi, aku menurut dengan ucapan dia. Aku mengakui itu, dekat dengan Arga selama ini membuat aku menjadi sedikit bersemangat.


Kami sudah menyelesaikan makan malam. Makanan yang tadi tidak Arga makan dibungkus dan di bawa pulang, dia bilang akan dihangatkan dan diberikan pada asisten atau satpam nanti. Dia juga pesan beberapa makanan yang lain untuk asisten yang ada di rumahnya.


"Makanya, kalau pesan itu ingat-ingat bisa makannya atau tidak!" Aku meracau saat masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa motorku akan dibawa sopir Arga.

__ADS_1


"Iya. Tadi kan aku memang lapar, tapi setelah dengar berita baik dari kamu, rasa laparnya menghilang," ujar pria itu sambil menyalakan mobilnya.


Aku ingat tadi saat dia gombal terhadapku.


"Kamu ini, tadi bilang kayak gitu aku kan malu. Dilihatin orang lain, loh!" ucapku.


"Yang mana?" tanyanya.


"Yang itu ... tadi ...."


"Yang mana, Sayang?" tanya Arga dengan nada yang lembut di pada panggilannya. Dia menatapku dengan tatapan lembutnya.


Dadaku makin tidak karuan melihat sorot mata itu, di kedalaman matanya terlihat kelembutan dan kehangatan yang sangat tulus.


"Yang ... Iih, kamu!" Aku malu untuk menegurnya. Hanya bisa memalingkan pandangan ini ke arah lain.


"Hehe, gombal sama calon istri sendiri tidak salah, kan?" Arga tertawa, terdengar sangat renyah sekali.


"Memang tidak, tapi aku malu," ucapku kesal. Ingat tadi beberapa orang lain mesam-mesem melihat dia menggombal.


"Nanti kalau kita sudah menikah aku akan berikan kamu gombalan setiap hari, biar kalau aku gombalin kamu di hadapan orang banyak kamu gak akan malu lagi," ucapnya. Refleks aku menatap Arga dengan tidak percaya. Aku pikir dia mau meminta maaf, tapi kok malah lebih parah!

__ADS_1


__ADS_2