
"Mas terlalu memanjakan dia selama ini," ucapku kepadanya.
"Aku memanjakan dia seperti apa, Yu?" tanya Mas Hilman kepadaku.
"Ya kamu terlalu manjakan dia Mas, kamu selalu membiarkan apa yang dia mau lakukan. Kamu nggak pernah larang-larang dia. Sekarang dia ngelunjak sama kamu. Bahkan, bajunya saja dia sudah tidak mau cuci sendiri!" Aku berkata kepadanya dengan kesal.
Selama aku bersama dengan Mas Hilman, tidak pernah aku membiarkan suamiku itu mencuci bajuku. Kurang pantas rasanya jika suami yang mencuci baju istrinya.
"Dia kan sedang hamil yu, aku juga takut kalau ada apa-apa sama dia, sama bayinya juga," ucapnya. Dia terus saja membela Hana. Padahal yang aku katakan ini untuk kebaikannya juga.
"Mas sedang membuka jalan untuk dia semakin berlaku semena-mena sama kamu. Semakin lama dia akan semakin menjadi-jadi Mas. Aku kasihan sama kamu selama ini, dia seperti tidak mengerti keadaan kamu yang sudah capek bekerja siang hari." Aku berkata, semakin kesal kepadanya. Aku harap dia mau mengerti dengan apa yang aku ucapkan ini.
"Sudahlah Yu, jangan membahas ini lagi. Aku capek, aku mau tidur cepat malam ini," ucapnya lalu dia menyimpan laptopnya diatas nakas. Mas Hilman membaringkan dirinya. Selimut yang ada di bawah kakinya dia tarik dengan menggunakan kaki, lalu dia raih dengan tangan dan ia tutupkan hingga ke lehernya.
Aku menghela nafas dengan kasar. "Terserah kamu saja lah Mas, aku bicara juga untuk kebaikan kamu sendiri," ucapku kemudian aku menyusulnya berbaring.
Kami tidur saling memunggungi. Sudah sangat lama sekali kami tidak tidur seperti ini. Biasanya kami tidur saling berpelukan, tapi malam ini rasanya tidak ada lagi keromantisan yang sama seperti dulu. Semenjak adanya Hana hubungan kami seperti merenggang.
Semenjak semalam, Mas Hilman tidak berbicara lagi kepadaku. Entah apakah dia masih marah dengan apa yang aku katakan semalam, tapi aku mencoba untuk tidak peduli. Toh yang aku katakan tidaklah salah. Aku mencium bau sifat wanita ini yang sesungguhnya.
"Mbak aku mau minta tolong dong," Suara yang malas aku dengar dari belakangku, langkah kakinya semakin cepat dan berisik mendekat.
"Aku hari ini mau pergi, tapi nggak punya baju yang bagus. Aku lihat baju Mbak Ayu yang warna putih itu, yang ada rendanya di sini, Mbak jarang pakai kan?" Dia bertanya seraya menunjuk ke arah dadanya, menunjukkan letak renda yang dia maksud. Sepertinya aku tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya.
__ADS_1
"Boleh aku pinjam tidak?"
Sudah aku duga!
"Tidak!" jawabku dengan singkat.
"Tapi hari ini temanku bertunangan Mbak, aku mau ke sana tapi nggak punya baju bagus. Ayolah Mbak, pinjami aku untuk hari ini saja!" PIntanya dengan memohon. Kedua telapak tangannya tertangkup di depan dada.
"Sudah aku bilang tidak!" jawabku dengan sedikit membentak. Dari senyumnya yang mengembang dengan lebar, kini senyum itu perlahan pudar. Berganti dengan wajah cemberut dan mata yang kini berwarna merah.
"Cuma hari ini saja, Mbak," Pintanya sekali lagi dengan gigih. Aku menghentikan laju tanganku dari mengaduk makanan di dalam wajan dan menatap ke arahnya dengan kesal.
"Bukannya kemarin kamu baru belanja baju, ya? Aku lihat baju kamu juga bagus. Kenapa tidak dipakai saja?" tanyaku kepada Hana. Memang beberapa hari yang lalu dia membeli baju dan aku melihat dia memakainya sekali, menurutku baju itu cukup bagus dan aku perkirakan harganya juga lumayan.
"itu ... warna hitam dan biru Mbak, masa aku pergi ke sana pakai warna itu. Kan kalau warna putih kelihatannya bagus Mbak," ucapnya dengan lirih.
"Masa ke acara pertunangan pakai baju warna gelap sih Mbak? Kan rasanya aneh, seperti sedang berkabung saja," Sambungnya lagi.
"Tidak semua warna gelap itu berkabung, pakai saja yang ada jangan rewel!" seru ku lagi. Aku kembali dengan kegiatanku.
"Mbak jangan pelit begitu dong, cuma sekali ini saja lagian nggak seharian kok, kalau sudah selesai aku juga akan mengembalikannya kepada Mbak," Dia mulai merengek lagi.
Aku hanya diam saja tidak menjawab.
__ADS_1
"Mbak! Mbak ini kenapa sih sama aku? Aku cuma mau pinjam baju aja masa enggak boleh! Aku juga kalau punya sendiri nggak akan pinjam sama Mbak!" serunya semakin menjadi-jadi membuat Mas Hilman keluar dari dalam kamar dan mendekat ke arah kami.
"Ini ada apa sih kok ribut-ribut segala?" tanya Mas Hilman.
"Ini Mas, aku kan sudah bilang kemarin sore sama Mas kalau hari ini aku mau ke acara tunangan temanku, aku cuma mau pinjam baju Mbak Ayu saja yang warna putih itu loh, masa nggak boleh Mas!" Hana merajuk dengan manja.
Mas Hilman melirik ke arahku, aku melengoskan pandanganku ke arah lain. Ingin tahu apa yang akan dia katakan kepada Hana.
"Kamu kan ada baju yang lain, kenapa juga kamu tidak pakai punya kamu sendiri?" tanya Mas Hilman kepada Hana.
"Mas, baju aku begitu semua, kamu tahu kan baju aku seperti apa. Yang kemarin aku beli juga warnanya gelap, gak pantas kalau aku pakai untuk ke acara itu." Dia berbicara lagi.
"Hana. Apapun yang kamu pakai sudah pantas. Kamu nggak perlu pinjam baju punya Ayu," ucap Mas Hilman.
"Tapi teman-temanku semua pakai baju warna putih Mas, kita sudah janjian. Lagian kan mbak Ayu juga nggak pergi kemana-mana. Baju itu juga nggak dipakai, 'kan?" wanita itu masih keukeuh dengan keinginannya. Aku hanya diam mendengar pembicaraan mereka berdua. Ingin tahu bagaimana lagi sikap Mas Hilman kepada anak ini.
"Ya sudahlah kalau begitu! mendingan aku nggak berangkat saja!" ucapnya dengan merajuk. Anak kecil itu menjejakkan kakinya dengan kasar ke lantai dan kemudian pergi ke arah kamarnya.
"Yu," Mas Hilman mendekat ke arahku, "kamu kenapa sih tidak mau meminjamkan baju kamu sama Hana." Dia bertanya dengan nada yang lirih.
"kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau!" jawabku dengan sedikit berseru.
"Tapi itu kan hanya sekedar baju, Yu!" Ucapan itu membuat aku menolehkan kepala kepadanya. Sekedar baju, dia bilang begitu?!
__ADS_1
"Mas yang dimaksud Hana itu adalah baju yang kamu berikan saat ulang tahun aku di tahun pertama pernikahan kita, dan meskipun bukan baju itu pun aku juga tidak akan pernah membiarkan orang lain memakai baju ku! Sudah cukup tanpa aku meminjamkannya dia sudah merebut bajuku yang lain!" seruku dengan kesal. Aku mematikan kompor dan berjalan meninggalkan Mas Hilman.
Rasanya sangat kesal sekali Dia berkata seperti itu. Kenapa dia tidak mengerti tentang perasaanku? Dia sudah mengambil yang terpenting di dalam hidupku, dan sekarang dia juga masih ingin mengambil semuanya pelan-pelan?