
Ayu
Aku bahagia saat mendengar dari Arga jika mas Hilman datang ke pabrik dan menerima posisi yang Arga berikan untuknya. Alhamdulillah, dia memang sepertinya sudah berubah, tidak seperti dulu yang suka menyanjung pekerjaannya yang kantoran. Mungkin memang bangga tersendiri bekerja di perusahaan besar, tapi menurutku terlalu berlebihan juga dia seperti itu.
Aku tengah berada di kamar Gara, hari ini Gara mendapatkan tugas kesenian untuk menempelkan berbagai macam biji-bijian pada gambar. Pola ditentukan oleh guru dan anak-anak di rumah wajib menyelesaikan kolase tersebut untuk dibawa keesokan harinya. Gambar yang ada pada Gara adalah rumah, beberapa biji dengan warna warni aku bantu terapkan di sana.
"Ma, ini susah loh lem nya," ucap anak itu mengeluh, dia tidak terlalu bisa menempelkan biji di atas lem, tangannya malah lengket karena lem tersebut mengenainya.
"Pelan-pelan saja, coba pake cotton bud deh, Sayang." Perintahku padanya. Aku juga baru pertama kali membantu Gara membuat kolase ini, seru tapi juga kalau tidak bisa dengan baik menempelnya hasilnya akan jelek juga.
Kami berkutat selama lebih dari satu jam hanya menempelkan biji-bijian tersebut. Ada beberapa biji yang kami gunakan, biji jagung kering, biji kopi, kacang kedelai, dan juga kacang hijau. Sementara hanya ini saja yang bisa Mbak Sus dapatkan di warung terdekat, jika saja tugasnya tidak dadakan pastilah Mbak Sus bisa ke pasar dan mencari biji yang lain yang akan bisa menghiasi kolase ini semakin cantik.
Perutku sedikit tidak enak, serasa sakit di area bawah, rasanya seperti ada sayatan kecil saat bayi yang aku kandung bergerak dengan kuat.
"Ah." Aku menahan rintihan, sesekali rasa sakit itu membuat aku menutup mata sejenak untuk menahan rasa sakitnya.
"Mama kenapa?" tanya Gara kepadaku. Dia terlihat khawatir dan menghentikan kegiatannya menempel.
"Tidak apa-apa, cuma sakit perut saja," ucapku menenangkan dia.
"Apa Mama mau lahiran?" tanya Gara. Aku menggelengkan kepala.
"Masih bulan depan," ucapku padanya.
"Oh, kirain mau sekarang lahiran," ucap anak itu lagi.
Aku mengusap kepalanya, sedari kemarin dia terus bertanya kapan adiknya akan lahir. Tidak sabar sehingga dalam sehari bisa saja bertanya dua sampai tiga kali.
"Ma, kalau lahiran sakit gak?" tanyanya sambil melanjutkan pekerjaan rumahnya.
"Tidak tau, kan Mama belum rasakan. Kenapa?" tanyaku padanya.
"Enggak, mau tau aja. Nanti dedek bayi keluar dari mana?" tanyanya.
Aduh, pertanyaan macam apa itu? Haruskah aku menjawab jika bayi akan keluar dari lubang bawah wanita?
Aku menggaruk keningku bingung, sedangkan dia kini menatapku meminta jawaban.
"Mama tidak tau, coba tanyakan Mbak Sus, Mbak Sus kan sudah pernah melahirkan," ucapku. Aku takut salah, masalahnya yang aku hadapi ini adalah anak usia hampir enam tahun yang bisa saja mengingat suatu hal atau peristiwa sampai besar nanti. Seperti pernah aku rasakan dulu saat tetangga mengatakan sesuatu dan sampai aku besar aku mempercayai apa yang dia ucapkan sampai aku membuktikannya sendiri.
"Masa Mama gak tau?" tanyanya.
Aku hanya meringis, dia memang suka sedikit memaksa jika ada maunya.
"Sudah ah, selesaikan kolase nya, nanti sudah ini tidur, Mama ngantuk," ucapku seperti biasa jika menghindari pertanyaannya.
Dia tidak menjawab, hanya melanjutkan apa yang dikerjakannya kini.
Rasa sakit itu semakin lama semakin terasa dengan jelas. Aku bingung ada apa, jika mungkin akan melahirkan rasanya tidak mungkin juga, HPL ku masih pertengahan bulan depan, sekitar empat minggu lagi.
"Mama kok pucat?" tanya Gara, kolase yang dia buat masih belum selesai, tapi anak itu memilih menyingkirkan kertas dan mendekat ke arahku.
"Eh, pucat ya?"
"Iya, Mama sakit?" tanyanya lagi. Aku menggelengkan kepala.
"Gak sakit kok."
__ADS_1
"Kalau begitu Mama istirahat, tidur yuk," ajaknya sambil menarik tanganku ke atas kasurnya. Aku menurut saja, sedikit sakit di bawah perut membuat aku berjalan dengan pelan.AKu tidur di kasur Gara, anak itu memintaku untuk memeluknya. Dia juga mengusap punggungku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Perutnya masih sakit?" tanyanya.
"Sudah gak sakit. Kan Abang yang urusin Mama." Dia tersenyum dan kembali mengusap punggungku lembut.
"Mama bobo, biar gak pucat lagi."
Aku menutup mata, tapi tidak benar-benar tidur karena rasa sakit di perut ini semakin terasa saja. Saat aku membuka mata, Gara terlihat sudah terlelap dalam tidurnya.
Perlahan aku menyingkirkan tangan Gara dari pundakku, sedikit bergeser untuk turun dan memutuskan kembali ke kamarku saja. Kasihan Gara kalau sampai terganggu tidurnya, aku takut juga jika dia menendang perutku. Tidur Gara tidak tenang.
Perlahan turun ke lantai bawah, setiap kali aku melangkah rasanya ada yang menyayat perih di dalam sana. Sangat hati-hati sekali aku dalam melangkah, karena takut akan sesuatu. Rasanya seperti akan ada yang jatuh dari dalam tubuhku.
"Gara sudah tidur, Bu?" tanya Sari saat aku sudah sampai ke lantai bawah.
"Sudah, kamu tolong bantu bereskan kamar Gara, ya. Tadi saya belum sempat bereskan sisa kegiatan Gara di atas," pintaku.
"Iya, Bu." Sari mengangguk paham dan pergi ke lantai atas.
Aku melanjutkan langkahku ke kamar untuk berbaring.
Dengan nyaman aku menyimpan bantal di bawah pinggang dan bersandar pada kepala ranjang. Rasanya sedikit pegal pinggang ini, seperti biasanya hanya saja ini sangat terasa sekali padahal aku sudah mengoleskan kayu putih di sana.
Aku memutuskan untuk tidur saja dalam posisi seperti ini. Baru saja terlelap aku kembali terbangun karena rasa tidak nyaman di bawah perutku. Bayi ini terus saja bergerak seakan ingin keluar dari dalam sana, membuat area bawah sana menjadi sakit.
"Mbak Sus!" Aku berteriak, berharap ada seseorang yang mendengarku dan membantu ku di sini.
"Mbak Sus! Sari!" teriakku lagi.
"Mbak Sus. Sari!" Tak lama Mbak Sus datang dengan langkah kaki yang cepat.
"Iya, Bu? Ada apa?" tanyanya dengan menghela napas mengaturnya dengan baik.
"Anu ... bisa saya minta tolong? Urutkan pinggang, Mbak. Sakit banget, nih," ucapku meminta.
"Oh, oke. Sebentar ya. Mbak tadi lagi masak air panas buat Nyonya mandi, mau bilang dulu sama Nira nitip air," ucapnya lalu pergi setelah mendapat jawaban berupa anggukkan kepala dariku.
Aku menunggu Mbak Sus kembali, berbaring dengan miring di atas kasur.
"Bu, permisi. Kenapa? Ibu sakit kah?" tanya Mbak Sus khawatir.
"Sakit pinggang, Mbak. Panas," ucapku sambil memejamkan mata.
"Kok tumben, apa mau lahiran? Rasanya gimana? Maaf, ya Bu" tanya Mbak Sus, satu usapan hangat terasa di kulit pinggangku.
"Panas, pegal aja, Mbak. Sakit banget," ucapku padanya.
"Biasanya sih kalau panas pegal di pinggang itu tanda mau lahiran." Mbak Sus berkata lagi.
"HPL masih bulan depan, Mbak."
"Oh, ya hati-hati aja, Bu. Kan kalau perkiraan itu cuma perkiraan. Kalau lahir bisa lebih cepat atau lebih lama," ucapnya lagi tidak menghentikan usapan lembutnya pada pinggangku.
Aku mengangguk paham, memang hanya perkiraan saja. Siapa yang tahu jika lahir cepat atau lambat.
"Selain pinggang mana lagi?" tanya Mbak Sus lagi padaku.
__ADS_1
"Sudah sih, pinggang aja," jawabku.
Mbak Sus melakukannya dengan sangat baik.
"Maaf ya, Mbak. Merepotkan Mbak Sus."
"Lah, ya gak apa-apa toh, Bu. Cuma sekedar usapin aja, kok. Bukan kerjaan yang berat," ucapnya dengan ramah.
"Ibu yakin gak ada rasa sakit yang lain? Di area pembukaan mungkin?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala, memang tidak lagi sakit saat aku berbaring, hanya rasa tidak nyaman di pinggangku saja.
***
Malam menjelang, Arga belum pulang juga karena tadi telepon dan pamit untuk pulang terlambat, tapi aku tidak menyangka jika jam sepuluh malam dia belum juga kembali. Rasa sakit di perutku semakin sering aku rasakan. Aku sedikit tidak yakin, tapi memutuskan untuk membuka buku panduan kehamilan dan juga setelah melahirkan. Membaca materi dengan ciri-ciri akan melahirkan. Gejalanya mirip, selang sepuluh menit terasa sakit di perut bagian bawah juga semakin lama semakin sering aku rasakan sehingga kini lima menit sekali aku merasa sakit di bawah sana. Rasanya seperti tengah sakit sebab sering menahan pipis. Ya, aku hanya bisa menggambarkan rasa sakitnya seperti itu.
Aku kembali membaca, jika akan melahirkan maka akan ada flek merah bersamaan dengan lendir, hal itu aku rasakan juga tak nyaman pada area bawahku/ Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan mengecek, ternyata, memang benar di dalam celana ku ada hal yang seperti itu, cairan dan juga flek merah. Aku mencoba untuk tetap tenang, sama seperti yang dokter katakan padaku waktu itu. Di saat yang seperti ini panik bukanlah menjadi solusi. Harus tetap tenang dalam menghadapi sesuatu hal.
Aku mengganti celana ku, mencucinya sendiri. Malu jika mencuci pakaian dalam harus sama orang lain, tidak terbiasa. Meski selama ini Mbak Sus yang mengurus cucianku, tapi aku tidak pernah membiarkan dia atau yang lain mencuci celana dalamku, sudah bisa dipastikan jika saat mereka mencucinya sudah aku sikat terlebih dahulu olehku sendiri.
Pakaian bayi yang ada di lemari aku keluarkan, ku masukkan ke dalam tas bayi yang telah kami beli beberapa saat yang lalu, beruntung pakaian bayi dan segala sesuatunya telah lengkap. Sambil merasakan sakit aku terus menggerakkan tubuhku, tidak ingin dulu mengabari ibu atau yang lainnya karena aku yakin ini masih jauh dari pembukaan.
Pakaian bayi aku masukkan beberapa, juga dengan sabun, minyak telon dan sebagainya. Aku juga membawa pakaian tidur untukku sendiri.
Rasa sakit ini semakin sering, sudah mulai terasa lima menit sekali. Ku putuskan untuk menghubungi dokter yang sering menanganiku.
"Assalamualaikum ," ucapku salam saat dia mengangkat panggilanku.
"Ada apa, Bu Ayu?"
"Dokter, apa saya mau lahiran? Ini kok rasanya kayak yang ada di buku ya?" tanyaku.
"Keluar flek dan sakit pinggang?" tanyanya dengan nada sedikit terkejut aku dengar.
"Iya, tadi keluar lendir dan juga flek merah, ini sakit pinggang sudah sekitar lima menitan sakitnya," terangku.
"Oh, kalau begitu segera ke rumah sakit, saya juga akan segera bersiap. Kita lakukan pemeriksaan dulu, kalau dari yang Bu Ayu bilang ini memang itu ciri-cirinya akan melahirkan," ucap dokter itu. Aku mengucapkan terima kasih dan menutup teleponnya.
Dengan sedikit kesusahan aku berjalan ke kamar Mbak Sus. Rasa sakit itu membuat aku tidak bisa berjalan dengan benar. Pelan yang terpenting sampai di depan kamarnya.
Pintu yang tertutup aku ketuk dengan sedikit keras, aku juga memanggilnya. Tak lama, Mbak Sus keluar dari sana dengan wajah yang lelah mengantuk.
"Mbak Sus bisa minta tolong?" tanyaku.
"Kenapa, Bu? Lapar? Mau saya buatkan makanan?" tanyanya setengah mengantuk.
"Bukan, tolong carikan taksi. Kita ke rumah sakit."
Mendengar hal itu mata Mbak Sus langsung terbuka lebar dan terlihat hilang rasa kantuknya.
"Eh, I-Ibu mau melahirkan?" tanyanya.
"Sepertinya begitu. Tolong carikan taksi, ya." pintaku sekali lagi. Wanita itu menganggukkan kepalanya dan segera menutup pintu, dia membangunkan Sari dan meminta gadis itu untuk menemaninya ke luar.
Kalau saja sopir ada di rumah, aku tidak akan meminta mencarikan taksi sama Mbak Sus. Aku juga tidak mungkin mengendarai mobil sendirian menuju ke rumah sakit.
"Ibu tunggu, ya. Kami akan carikan taksi secepatnya!" seru Mbak Sus lalu dengan Sari mereka pergi dengan tergesa.
__ADS_1