
"Ibu setuju," ulang Ibu berbicara membuat aku menatap Ibu dengan terkejut tanpa bisa berkata apa-apa. Ibu terdiam, lalu tersenyum menatap ke arahku. Tangan Ibu mengelus lenganku dengan lembut.
"Ibu setuju. Kalau kamu mau sama Arga, tidak apa-apa. Ibu akan restui kamu," ucap Ibu lagi. Aku masih terdiam, tidak menyangka dengan apa yang Ibu katakan barusan. Mulut ini tidak bisa bicara apa-apa, hanya terbuka dan menutup tanpa bisa mengatakan satu patah kata apapun. Lagi, Ibu tersenyum.
"Ibu bebaskan kamu, Nak. Siapapun yang kamu pilih, kamu pasti sudah tau kalau dia akan menjadi orang yang terbaik buat kamu."
"Be-beneran, Bu?" tanyaku pada Ibu, terbata. Ibu mengangguk.
"Maafkan, Ibu. Ibu terlalu takut kamu akan sakit hati lagi dan pasangan kamu tidak baik, Yu. Ibu takut." Mata lbu mulai berkaca-kaca, terdengar nada suaranya yang sedikit bergetar. Ibu menunduk, dan tidak lama kemudian buliran air mata jatuh dari pipinya.
"Maafin, Ibu. Maaf." Ibu mulai terisak, membuat aku menjadi merasa bersalah. Segera aku memeluk Ibu dengan erat.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Ayu ngerti, kok. Ibu cuma menjalankan peranan Ibu sebagai orang tua yang baik. Ibu tidak salah dengan hal itu." Aku mencoba menenangkan Ibu. Ku rasakan pegangan tangan Ibu yang erat, sedikit bergetar. Aku pun ikut sedih dengan apa yang terjadi.
Ibu, sosok yang lemah lembut, tapi juga terkadang sedikit keras kepala. Namun, aku yakin, semua itu Ibu lakukan hanya semata karena rasa takut. Pengalaman yang membuat aku sakit dan juga terluka, tentu tidak ingin suatu saat terjadi kembali.
Aku berhasil menenangkan Ibu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ibu berjalan dengan tertatih, dengan pelan aku membantunya hingga sampai di kasurnya.
Ibu harus meminum obat dan juga beristirahat. Kakinya juga harus diolesi salep agar lukanya cepat kering. Tiga hari lagi, saat obat sudah habis dikonsumsi kami harus kembali untuk mengecek keadaan kepala Ibu.
"Yu. Apa Arga akan bisa maafkan Ibu setelah apa yang Ibu lakukan kemarin-kemarin?" tanya Ibu saat aku membantu menaikkan selimut ke atas tubuhnya. Sorot mata Ibu terlihat sebuah penyesalan.
"Jadi, dia bos kamu di kantor?" tanya Ibu lagi. Aku mengangguk. Tidak ada untungnya juga jika aku terus berbohong, tentu saja kebenaran pasti akan terkuak. lagi pula, aku tidak sering bertemu dengan dia, tahu dia Eka saja baru kemarin saat aku dan tiga yang lainnya pergi.
__ADS_1
"Tapi meski dia bos, Ayu malah baru tahu minggu-minggu lalu, Bu," ucapku pada Ibu. "Ayu gak tau sampai waktu malam itu dia yang antarkan Ayu. Bahkan, kami juga ketemu tidak sengaja karena Ayu bertemu dengan Mas Hilman di sana dan Arga bantu Ayu untuk lepas dari dia."
"Hah? Hilman? Ada apa? Apa yang terjadi sama kamu? Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Hilman? Kamu gak pernah bercerita sama Ibu?" tanya Ibu dengan khawatir dengan menatapku tajam.
Aku ingat di malam itu, saat Ibu tahu aku pulang dengan Arga Ibu banyak bicara dan masuk ke dalam kamar, tanpa sempat aku menjelaskan duduk perkaranya. "Ibu dulu masuk ke dalam kamar. Ayu mana bisa sempat jelaskan. Waktu pagi hari juga Ibu gak kasih Ayu waktu buat menjelaskan, yang Ibu tau, AYu jangan dekat dengan Arga karena Ibu gak suka dengan dia." Aku melirik kepada Ibu, ingin tahu akan reaksinya setelah mendengar penjelasanku. Ibu terlihat merasa bersalah mendengarku.
"Maafkan Ibu, Yu. Ibu gak tau," ucap Ibu.
"Maka dari itu, Bu. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Seseorang yang menurut Ibu tidak baik, nyatanya sudah banyak membantu kita," ujarku. Ibu menunduk dan sekali lagi mengucapkan maaf.
"Lalu orang tuanya?" tanya Ibu. "Keluarga kita berbeda, kita bukan orang yang berada ...."
__ADS_1
"Bu, Arga gak akan kasih harapan kalau dia merasa tidak mampu," ucapku dengan cepat memotong perkataan Ibu. "Dia sudah membicarakan semuanya dengan keluarganya. Meskipun Ayu belum bertemu dengan keluarga Arga, tapi Arga sudah menjanjikan kalau dia sudah mendapatkan izin dari keluarganya mengenai Ayu dan kekurangan Ayu. Di sana sudah ada Gara. Ayu gak terlalu khawatir dengan hal itu. Mereka juga gak akan menuntut banyak karena mereka sudah memiliki penerusnya dari Arga," lanjutku. Ibu kali ini terdiam lalu terlihat kepalanya mengangguk.
"Kalau itu memang benar keputusan kalian, Ibu akan menurut saja. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk Arga membawa keluarganya datang kemari dengan membawa itikad baik."