Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
40. Hilman Dan Hana di Tempat Umum


__ADS_3

Kembali pada Ayu.


Aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Ibu selalu saja mendesakku dan bertanya, apa yang sebenarnya terjadi padaku. Bertanya apakah rumah tanggaku baik-baik saja atau tidak. Hal ini membuat aku menjadi sering kali berbohong dan aku tidak mau menambah daftar kebohonganku lagi kepada Ibu.


Mas Hilman tersenyum senang saat melihatku masuk ke dalam kamar. Dia bangkit dan mendekat ke arahku yang kini menyimpan tas dan juga laptop di meja.


"Kamu pulang, Yu?" Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja ku pulang, aku sudah ada di depannya!


"Hem," jawabku dengan malas. Mas Hilman mendekat ke arahku, kedua tangannya sudah melebar tanda ingin memelukku, tapi aku menghindar dengan membawa handuk yang menggantung di pintu dan keluar dari dalam kamar itu.


Selesai mandi, aku kembali ke dalam kamar. Mas Hilman duduk di tepi ranjang dengan memainkan hpnya. Dia menatapku dan menyimpan hpnya di atas bantal.


"Ibu apa kabar, Yu?" tanya Mas Hilman padaku saat aku mengeringkan rambut.


"Baik," jawabku dengan singkat. Terdengar helaan napas dari hidungnya.


"Yu, kamu marah ya sama aku?" tanya Mas Hilman lagi.


"Sudah enggak," jawabku lagi.


"Tapi kenapa kamu kok jadi dingin begini sama aku?" tanyanya lagi dengan nada sedihnya.


"Aku gak dingin, hanya gak mau bicara aja."


"Yu, aku benar benar minta maaf kalau selama ini aku salah. Aku janji aku gak akan gitu lagi. Aku gak akan paksa kamu melakukan yang enggak kamu suka," ucapnya dengan nada yang bersalah.


"Sudah lah, Mas. Bagaimanapun juga aku gak akan benar di mata semua yang ada disini," ucapku dengan tidak peduli lalu meninggalkan dia yang hanya menatapku dengan tatapan sedih.


***


Pagi ini aku memutuskan untuk kembali mencari pekerjaan. Pembicaraan yang terjadi semalam setelah aku pulang dari rumah Ibu belum juga bisa membuat hatiku ini menjadi tenang. Aku masih merasa marah dengan perlakuan Mas Hilman yang tidak bisa adil menurutku, selalu saja aku harus mengalah demi anak kecil itu. Alasannya apa lagi jika bukan karena kehmailannya!


Panas matahari yang menyengat tidak membuat aku menghentikan laju kendaraanku ini mencari pekerjaan. Tidak peduli dengan larangan Mas Hilman tadi saat aku akan pergi mencari pekerjaan. Aku juga tidak mau terlalu sering berada di rumah dan bersama dengan wanita itu.


Satu demi satu perusahaan aku datangi, jawabannya masih sama dengan beberapa waktu yang lalu. Tidak ada lowongan atau baru saja terisi.


Dengan langkah yang lunglai, aku menuju kembali ke arah motorku. Hari ini sangat terasa panas menyengat kulit, botol minum yang ada di dalam bagasi motorku sudah kosong saat aku ingin sekali menenggak isinya. Kuputuskan untuk pergi ke arah sebuah kafe yang ada tidak jauh dari sana.


Aku memesan makanan dan juga minuman, tidak menunggu lama makanan itu sudah berada di dalam mulutku. Kunikmati masa-masa ini sendirian tanpa bersama dengan orang lain. Rasanya sungguh menyedihkan. Dulu jika diingat, aku dan Mas Hilman akan sesekali pergi ke luar untuk sekedar berjalan-jalan atau hanya makan, menghabiskan masa berdua kami dengan sangat menyenangkan, tapi kali ini ....


Aku terisak sekali. Bodohnya aku sampai memikirkan hal seperti ini, tidak tahu apakah orang yang ada disana juga memikirkan aku atau tidak. Segera aku usap air mata yang ada di sudut mataku dan kemudian menghabiskan makananku lalu pergi dari sini.


Ingat dengan stok makanan yang ada di rumah sudah menipis, kuputuskan untuk mampir ke sebuah supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur dan juga yang lainnya.


Menatap semua barang belanjaan yang ada di dalam keranjangku, aku jadi bingung rasa-rasanya sedari dulu aku yang selalu berbelanja kebutuhan dapur dan segalanya. Aku tidak pernah melihat Hana belanja untuk sekedar mengisi kulkas atau stok sabun cuci maupun kebutuhan mandi.

__ADS_1


Terkadang berpikiran tidak peduli membuat aku merasa di bodohi. Setelah ini aku gak akan lagi mau berbelanja untuk dia! Ini semua adalah milikku!


Aku kembali berjalan, bukan untuk menambah belanjaanku, tapi justru untuk menyimpannya kembali ke tempatnya semula. Aku tidak mau rugi sendiri, ini jatah uang bulananku, tapi dia juga ikut makan?


"Enak saja!" gumamku seraya menatap daging beku yang ada di tanganku lalu dengan cepat aku kembalikan ke dalam freezer. Tidak peduli dengan tatapan orang lain yang melihatku melakukan hal itu, aku tetap saja menyimpannya ke dalam sana.


"Kenapa disimpan lagi, Mbak?" tanya seseibu yang ada di sampingku saat aku baru saja menutup freezer dengan permukaan kaca bening.


"Sengaja, Bu. Aku yang beli, maduku yang makan." ucapku terang-terangan kepadanya membuat dia berseru dengan terkejut. Aku pergi ketika dia hendak bertanya lebih lanjut.


Ya ampun, apa yang aku lakukan? Kenapa denganku ini? Kenapa aku mengatakan pada orang lain kalau aku ini dimadu?


Aku merasa aneh sendiri, tapi ada rasa di dalam hatiku yang seperti melepaskan beban berat. Kini menjadi ringan setelah mengatakan hal itu kepada orang lain.


Suara dering telepon terdengar dari dalam tasku, segera aku meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar itu. Diana, sahabatku.


"Waalaikum salam," ucapku menjawab salam darinya.


"Aku lagi lihat kamu ada di supermarket, tapi kamu bukan, ya?" tanya suara di seberang sana.


"AKu lagi di supermarket sih," ucapku. Kuedarkan pandanganku kesana kemari, mencari dimana orang yang melihatku tadi sampai pada akhirnya aku menemukan seorang wanita yang berada tak jauh dari tempatku berdiri melambaikan tangannya padaku.


"Ayu!"


"Diana!"


"Aku gak nyangka kamu ada disini, bisa kebetulan sekali!" serunya sambil tersenyum senang menatapku dari atas hingga ke bawah dan sebaliknya.


"Matikan dulu teleponnya," ucapku mengingatkan.


"Oh, iya." Diana mematikan hpnya. Kami memasukkan hp itu ke dalam tas masing-masing.


"Kamu sama siapa kesini?" tanya Diana.


"Sendiri," jawabku. "Kamu kapan sampai kesini? Kok gak kabarin aku?" tanyaku padanya.


"Tadi sore sih. Aku capek, jadi sampai ke rumah langsung tidur," ucapnya menjawab pertanyaanku. Diana menatap keranjang belanjaan yang aku bawa, sudah berkurang lumayan banyak karena aku kembali menyimpan bahan makanan ku tadi ke tempat semula.


"Belum selesai belanjanya?" tanyanya.


"Sudah sih, tapi gak tau ada yang kurang atau enggak," jawabku.


"Gak pakai list? Tumben?"


"Tadi aku lagi pergi keluar rumah, terus mau pulang ingat kalau stok makanan dah sedikit," jawabku.

__ADS_1


"Oh,"


"Sudah selesai?" tanyaku seraya menatap keranjang yang ada di tangannya.


"Sudah cukup. Mau bayar?"


"Hooh," jawabku


Kami berdua lalu pergi ke arah kasir untuk membayar barang belanjaan kami.


Kami memutuskan untuk ke lantai atas dimana ada beberapa tempat makanan berada. Diana memesan ayam tepung sedangkan aku hanya memesan minum. Sudah cukup aku makan banyak tadi. Memikirkan aku yang di duakan membuat aku merasa marah dan ternyata hal itu membuat selera makanku bertambah.


Diana adalah sahabatku semenjak SMA. Dia dan aku satu bangku dulu, membuat kami akrab. Setelah lulus kuliah Diana melanjutkan S2 dan lalu melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan besar, tapi dia ditempatkan di kantor cabang yang ada di luar kota. Beberapa minggu sekali dia pulang ke sini untuk menengok kedua orangtuanya.


Banyak sekali yang kami bicarakan hingga minuman yang ada di tanganku hampir habis. Suara air yang kusedot sampai terdengar di telinga membuat Diana melotot marah kepadaku.


"Kebiasaan!" tegurnya dengan menepuk tanganku cukup keras.


Aku hanya meringis kepadanya.


"Eh, Yu. Kamu tau kan si Hambali?" tanya Diana padaku, tangannya bergerak memasukkan makanan ke dalam mulut. Hambali adalah seorang teman kami saat kuliah dulu. Dia juga pacar Diana.


"Masa dia bilang mau datang kesini!" serunya dengan kesal.


"Lah emang kenapa? Bagus dong kalau dia mau datang kesini," ucapku dengan bingung.


"Iya. Bagus sih, bagus. Tapi itu loh ... Aku ... itu ..." ucapnya dengan terbata.


"Apa?" tanyaku menatap kepadanya.


"Aku gak tau apa Ibu sama Bapak akan setuju aku sama dia," ucapnya dengan nada lesu, tapi tangannya tidak berhenti untuk menghantarkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Ya coba aja lah, apa salahnya kalau dia datang dan minta izin sama Ibu sama Bapak kamu," ucapku memberi semangat.


"Tapi dia kan maksudku ... Pekerjaannya itu kan guru, Ibu dan Bapak ...." Diana terdiam lagi dengan tatapan yang lurus ke depan. Aku mengunyah kentang goreng yang Diana pesan tadi.


"Emang kenapa kalau dia guru?" tanyaku dengan santai. Diana hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku, dia tetap memandang ke arah depan. Tatapannya itu tidak ia alihkan seperti terkunci disana.


"Kamu lihat apa sih, Di?" tanyaku seraya penasaran dengan apa yang dia lihat di belakangku. Seketika aku terpaku melihat apa yang ada tidak jauh dari sana. Seorang pria dengan wanita hamil baru saja datang dan melakukan pesanan. Si pria itu menggandeng wanita muda yang lebih pantas menjadi keponakannya daripada menjadi istri dengan sangat mesra. Mereka berjalan dengan santai ke arah sebuah meja kosong.


"Ayu. Itu Mas Hilman kan?"


********


waaah gimana kelanjutannya ya... 🤔

__ADS_1


kawan yuk kita mampir juga ke karya author kece yang lainnya



__ADS_2