Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
66. Jalan Menuju Kebebasan


__ADS_3

"Ada apa kamu mau kita ketemu disini?" tanyaku dengan secara langsung tanpa menawarinya minum atau makan.


"Ini!" Hana menyerahkan benda kecil di atas meja. Aku terpaku melihat buku kecil berwarna hijau itu. Buku nikahku.


"Aku harap, Mbak segera urus perceraian Mbak dengan Mas Hilman. Aku sudah menemukan buku itu dan membawanya kesini, tidak tau kalau nanti Mas Hilman pasti akan marah kalau tau buku itu aku yang ambil. Membuat repot aku saja!" ujarnya dengan kesal.


Dengan gerakan pelan aku mengambil buku itu dan membukanya, melihat jika isinya itu adalah asli.


"Tanpa kamu minta aku juga akan menguruskan perceraian ini. Dengan atau tanpa persetujuan Mas Hilman," ucapku.


"Heh ... kenapa juga gak dari dulu? Haruskah kamu sakit hati dulu baru bercerai? Bodoh!" ejek Hana dengan tawa kecil di bibirnya.


Aku kesal dengan ucapannya barusan. Dia tidak tahu jika ada hati yang harus dijaga, Ibu. Jika dia ada di posisiku dan dengan kejadian yang menimpa Ibunya sama persis, apa yang akan dia lakukan?


"Terserah. Asal tau saja. Selama ini aku ingin meminta cerai dengan Mas Hilman, tapi dia yang tidak ingin cerai dengan aku. Aku kira kamu juga tau kan, dengan adanya bukti buku nikah ini dia sembunyikan?" tanyaku padanya seraya mengacungkan buku nikah di tanganku.


Hana memutar bola mata malasnya. "Ya, ya. Dia memang cinta sama kamu, tapi itu dulu. Sekarang dia sudah tergila-gila dengan aku," ucapnya dengan keyakinan yang tinggi.


Aku tertawa mendengar ucapannya yang seperti itu. "Ya, memang benar. Selamat kalau begitu. Aku doakan semoga kalian bahagia setelah kepergianku. Aku akan segera melepaskan dia. Dan nikmati saja pakaian bekasku." Kutekankan kata pakaian dengan jelas padanya.

__ADS_1


Hana terdiam mendengar ucapanku, rahangnya terlihat kaku dan mengeras. Dia menatapku dengan tatapan yang tajam.


"Sudah kan? Hanya itu yang kamu butuhkan? Gak ada yang lain lagi?" tanya Hana dengan menatapku tajam.


"He-em, ya, sudah. Hanya ini," jawabku padanya.


Dia terlihat menatapku dengan seksama.


"Kamu berdandan seperti itu apakah ingin mendapatkan kembali simpati dan perhatian dari suamiku?" tanya Hana padaku. Eh, apa lagi ini? Bukankah tadi dia bilang aku harus bercerai dengan Mas Hilman? Kenapa jadi bertanya soal penampilan dan bicara soal itu?


"Apa maksud kamu? Aku berhijab begitu?" tanyaku dengan menunjuk diriku sendiri.


Hana membuang wajahnya ke arah lain, terlihat di wajah itu kesal dan juga merah. Ku tebak dia merasa cemburu dan takut.


Kuputuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini, karena aku kira juga tidak akan ada lagi yang bisa kami bicarakan.


"Terima kasih atas bantuan kamu dengan memberikan apa yang aku punya. Aku masih ada urusan lain. Apakah kamu juga akan pulang? Aku bisa antarkan kamu," tanyaku padanya. Buku nikah itu aku simpan ke dalam tas.


"Tidak perlu, terima kasih. Aku gak bisa kena asap kendaraan," ujarnya dengan sambil mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya.

__ADS_1


Aku menatapnya dengan malas. Hana, seorang gadis desa yang dulu aku tahu kalem, baik, rajin, dan juga sederhana, kini apa yang aku lihat adalah sebaliknya. Perlakuan Mas Hilman yang terlalu memanjakan dia membuat anak ini sekarang berubah 180 derajat. Semoga saja dia bisa menerima keadaan Mas Hilman di saat dia dalam keadaan sulitnya.


"Ya sudah kalau tidak mau. Aku pulang duluan. Bukan bermaksud tidak sopan meninggalkan kamu, tapi aku akan segera mengurus kebebasanku!" ucapku seraya berdiri.


"Hem ... duluan saja. Aku akan makan dulu sebentar sebelum pulang." Hana mengibaskan tangannya padaku.


"Hati-hati saja, perhatikan kehamilanmu. Mas Hilman dan Ibunya sangat menantikan kehadiran anak itu," ucapku memberi peringatan terhadapnya. Dia hanya mengangguk cuek dan melambaikan tangannya memanggil pelayan. Aku terpaku dengan caranya, dia memanggil pelayan seperti yang sering saja masuk kafe.


"Apa kamu gak mau makan siang dulu sebagai syukuran akan mendapatkan kebebasanmu?" tanyanya padaku sebelum aku beranjak. Tak ada lagi kesopanan dengan memanggilku 'Mbak', tapi ya sudah lah, tak apa.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak mau bersenang-senang sebelum mendapatkan apa yang aku mau," jawabku.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu semoga sukses dengan niatmu," ucapnya.


Kini aku benar-benar pergi meninggalkan Hana di sana. Khawatir juga sebenarnya meninggalkan ibu hamil seorang diri di dalam sana, tapi dia tidak mau pulang, ya bagaimana?


Segera aku mengambil motorku yang kepanasan di tempat parkir. Seperti biasa aku akan mengambil air minum dari dalam bagasi dan mengelap jok motor agar tidak terlalu panas saat aku duduki.


"Alhamdulillah," ucapku setelah motor menyala, tak lupa aku panjatkan doa dan syukur pada Yang Maha Kuasa dengan kemudahan yang aku dapatkan hari ini.

__ADS_1


Dengan hati yang riang aku menuju ke sebuah tempat untuk mengurusi perceraianku.


__ADS_2